Post Ad Area

Post Home Style

Wednesday, December 30, 2015

My 1st WPAP



Pernah lihat gambar profil atau potret diri yang warnanya tabrakan, dan kesannya kotak-kotak? Sering ya. Aliran seni grafis yang sekarang semakin poluler ini, namanya WPAP.

Dan akhirnya setelah sekian lama, saya membuat WPAP pertama saya. Ini juga karena termotivasi melihat gambar profil dari traveler blogger, pecinta budaya, sekaligus owner  http://www.hikayatbanda.com/ yang juga teman bermimpi soal wisata alam Aceh yang profesional, Om Yudi Randa. Juga gambar profil Al-Misky Qanita, penulis muda dari Aceh.

Wednesday, December 23, 2015

Dunia Seribu Cerita


Kapan pertama kalinya mulai aktif di sosmed dan blog? Kalau itu pertanyaan yang diajukan, sejujurnya saya tidak bisa menjawab kalau menyangkut blog. Multiply tempat saya pertama kali menulis serius sudah lama mati. Dan saya tidak ingat mana yang lebih dulu, friendster apa multiply.

Friday, November 27, 2015

Tarian Kabut Pagi


Saya selalu suka dengan kabut di pagi hari. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata, ketika garis hidup membawa saya menjadi penghuni dataran tinggi Gayo. Jauh tinggi di puncak pegunungan, dikelilingi hutan yang sebagian masih belum pernah terjamah manusia. Sebagian lagi adalah deretan berbagai kebun.

Perkebunan kopi mungkin yang paling dikenal. Tapi masih sangat banyak lainnya. Perkebunan jeruk dengan mitos uniknya, jeruk manis yang secara misterius menjadi asam bila dibawa turun melintasi pegunungan, meninggalkan dataran tinggi. Perkebunan tomat, yang ketika panen berlimpah kadang diacuhkan oleh pemiliknya, karena harga tak seimbang dgn usaha. Dan banyak perkebunan lainnya, sangat banyak.

Friday, October 23, 2015

Merindukan Facebook Yang Dulu

Akhir-akhir ini semakin terasa. Rindu. Yang dalam dan terasa menenggelamkan. Dengan segala caci maki politik, agama yang dipelintir, ajaran-ajaran dan ajakan yang memecah belah. Rasanya saya semakin rindu dengan laman Facebook yang dulu.

Friday, August 14, 2015

Memilih PKS

Di sudut sana mencaci maki, di sudut sebelahnya lagi memprovokasi. Baca ke timeline yang itu isinya mengolok-olok Islam, menggunakan ilmunya malah untuk menebar kekacauan. Berbalik ke timeline yang lain jumpa dengan para fanatik.

Giliran baca inbox malah berjumpa dengan kawan yang tanpa mau repot bertanya langsung menghakimi. Pasalnya sangat sederhana. Beberapa status yang menampilkan hal baik tentang pak Jokowi, tak peduli seberapa kebetulannya hal baik itu muncul. 

Politik, kisruh sosial, konspirasi, saling cela, dan maki. Padahal sudah beberapa kali saya jelaskan, posisi saya saat ini adalah memilih PKS.

Thursday, August 6, 2015

Islam Nusantara? Kami di Aceh memilih Islam Internasional.

Source. visitaceh2014.wordpress.com

"Aceh itu santai aja soal gaya. Mau pakai jubah ala arab, afrika, cina, atau hindustan, gak masalah. Mau pakai kopiah hitam nusantara, kain sarung nusantara, baju koko ala cina, atau peci putih gaya arab, diterima.
Eh ada yg bilang liberal.
Loh, kok liberal? Islami donk. Soalnya dalam islam kan aturannya semua dah ada. Mo pake gaya maroko, cina atau eropa, mo pake bahasa pengantar apa, semuanya gak dilarang, asal memenuhi unsur syar'i nya kan? smile emoticon

Yang gak boleh diubah juga jelas. Ngaji pakai bahasa yg digunakan Qur'an, aturannya sesuai aturan baca Qur'an. Shalat pakai bahasa Qur'an, seperti juga hadits. Itu aturannya jelas, itu juga yg disunnahkan. Gak suka? Ya ini cuma wajib buat muslim kok. Keberatan? Balik lagi ke syahadat. Itu aturannya.
Soal bahasa arab, itu memang identitas islam. Bukan krn bangsa arabnya, tp krn itu yg Allah tetapkan. Sama seandainya Islam turun di eropa, trus Allah menetapkan bahasa identitas adalah bahasa Denmark. Nah ini turunnya kan di Arab.
Kenapa arab?

Sunday, August 2, 2015

Suka Melihat Orang Marah? Jangan-Jangan Anda NPD

Narcissus by Caravaggio | en.wikipedia.org
Merasa puas ketika bisa membuat orang lain merasa lebih rendah. Gembira ketika berhasil membuat orang yang dianggap 'mengganggu superioritas' meledakkan amarah. Atau bisa jadi meyakini kalau orang lain sangat tidak memahami betapa bagus dan berkualitas diri anda.

Saya selalu membayangkan yang namanya narsis adalah suka tampil di depan orang lain, atau senang menjadi pusat perhatian. Ternyata suka jadi 'bintang' itu hanya salah satu dari efek Narsis.

Menemukannya secara tidak sengaja ketika mencari data untuk project menulis yang kesekian. Awalnya saya mencari gangguang kejiwaan untuk memperkuat karakter tokoh yang sedang saya bangun untuk tulisan. Seorang laki-laki yang tidak memiliki 'diri pribadi' seutuhnya. Menciptakan peran dan karakter bagi dirinya, dan itu membuatnya bisa hidup.

Wednesday, July 29, 2015

Dihukum Seumur Hidup Karena Diperkosa

Source. jpost.com


Mengejutkan memang. Kenyataan yang pahit. Seorang wanita muda. Tidak bersalah, dan dengan kejam diperkosa. Tapi hukuman justru jatuh pada korban. Dinyatakan bersalah dan mendapat hukuman seumur hidup.

Kenyataan dengan impian memang sering berbeda. Seperti mimpi hukum yang adil untuk semua, kenyataan berbeda, hukum masih tidak adil. Hukum dunia tentunya, karena hukum Allah terbukti melintasi abad, sebagai hukum yang adil.

Tapi dunia yang kita tinggali menerapkan hukuman yang aneh. Masih membawa impian keadilan di satu sisi. Dan di sisi lain, seorang wanita muda dihukum karena diperkosa.

Tuesday, July 28, 2015

Realita Semu Menghina Aceh

Source. hostcake.com, thedasslereffect.wordpress.com 

Tulisan ini memang terinspirasi oleh sebuah postingan 'heboh' yang ditulis oleh Isna Keumala, seorang 'pemula' di dunia blog. Meskipun saya pikir tulisannya malah lebih bagus dari saya.

Tulisan yang menghadirkan perdebatan dikalangan beberapa netizen. Seperti biasa soal mendukung dan tidak mendukung. Pasalnya sederhana, dalam tulisannya Isna menumpahkan kegeraman melihat perilaku yang mulai berkembang di antara perempuan Aceh. Tidak semua memang, tapi secara umum terlihat mulai banyak yang melakukannya.

Kontra muncul gara-gara Isna menuliskan kalimat yang keras. Ada perempuan Aceh yang lebih murahan dari pelacur.

Saturday, July 25, 2015

Abang Boleh Poligami

Source: mozaik.inilah.com



Mungkin bagi sebagian laki-laki, pernyataan itu adalah sumber kegembiraan, yang bisa jadi alasan buat jungkir balik. Tapi saya termasuk yang sebagian lainnya. Sejak awal berumah tangga, saya punya impian sederhana. Membuktikan bahwa ketika dia, wanita yang saya kagumi menerima pinangan saya, maka akan saya buktikan bahwa pilihannya itu bukanlah satu kesalahan.

Jadi ketika mendengar kata-kata itu, saya terdiam. Apakah saya tak lagi istimewa? sudah bosankah dinda dengan kebersamaan ini? Atau sudah lelah mengarungi rumah tangga bersama sehingga kalimat itu bisa muncul?

"Abang boleh poligami." Istri saya menatap mesra ketika mengucapkannya. Saya terpana. Tapi kok jleb rasanya, bukannya gembira.

Pasti muka saya lebih jelek dari biasanya karena istri mendadak tertawa. Masih tergelak dia menambahkan ucapan yang rupanya belum selesai.

"Tapi ada tiga syarat. Satu, harus yang lebih muda. Dua, harus yang lebih cantik. Tiga, Jangan pulang lagi."

Jujur sejujur jujurnya. Saya malah lega dengan penjelasannya. Saya masih tak ingin dibaginya dengan perempuan lain. Membawa kopi dari dapur saya balik lagi ke meja kecil dekat colokan listrik. Tempat laptop saya yang kondisi baterainya membuat laptop tak boleh jauh dari sumber listrik.

Kami sudah melewati tahap membahas poligami sejak bertahun lalu. Dan saya tahu bahwa istri membolehkan dengan alasan sederhana. Allah saja membolehkan poligami, maka siapa kita manusia ini mengharamkan yang Allah halalkan.

Tapi obrolan kami tidak putus sampai disitu. Diskusi kami masih berlanjut. Kami membahas semua sisi, termasuk fakta bahwa semakin banyak muslimah yang belum menikah pada usia yang sudah semakin matang.

Jumlah perempuan memang lebih banyak dari laki-laki. Ditambah dengan kenyataan yang sering istri lihat di tempat kerjanya. Istri saya bekerja di Mahkamah Syar'iah, pengadilan agama. Dan setiap hari harus berurusan dengan kasus perceraian, KDRT, izin nikah untuk anak di bawah umur, gugatan karena perselingkuhan, masalah warisan, dan banyak lagi.

Kompetisi dalam menikah, maaf sebelumnya karena pakai istilah ini, memang membuat banyak perempuan kebingungan. Perbandingan jumlah membuat lebih banyak lagi perempuan yang belum menikah pada usia matang. Bahkan tak jarang mereka membuka peluang pada siapa saja asalkan baik orangnya, tapi kesempatan masih belum hadir juga.

Kaum feminis-liberal dan kerabatnya, mengangkat isu poligami untuk menunjukkan seolah yang namanya Islam itu sangat tidak melindungi perempuan. Saya malah bingung, banyak dari mereka orang cerdas, kenapa menganggap ikatan pernikahan sebagai sesuatu yang salah. Padahal perempuan juga punya kebutuhan, seperti disayangi, dilindungi, dan juga kebutuhan sexual. Yang kalau terus dipendam, larinya nanti ke hal buruk seperti sex diluar nikah. Kalau itu yang terjadi apa lebih baik bagi perempuan? Aneh logikanya.




Soal poligami ini mencuat lagi. Gara-garanya, film yang diangkat dari novel Asma Nadia, Surga Yang Tak Dirindukan. (Seingat saya dulu novel ini berjudul Istana Kedua).

Meskipun sekilas film ini memberi pemakluman pada pernikahan kedua. Tapi film ini juga sarat dengan kesan perlawanan. Seolah Arini memaklumi pernikahan kedua Pras dengan Mei Rose karena sederet kondisi yang memaksa. Mei Rose yang mualaf, menderita, dan banyak lagi.

Ending yang menggantung malah membuat poligami semakin tersudut. Seolah tidak bisa diberi satu keputusan yang pasti, untuk sesuatu yang sudah pasti. Lagi-lagi poligaminya yang disalahkan, bukan oknum pelakunya.

Mindset yang terbentuk sekarang, adalah lebih baik melajang ketimbang dimadu. Segelintir sih bisa mengesampingkan semua kebutuhan yang sebenarnya memang normal. Tapi banyak yang akhirnya jungkir balik mencari penyaluran, dan tidak sedikit yang berujung pada 'khilaf' atau mengalami gangguan orientasi sexual/perilaku sexual.

Trus, salah siapa?

Saya berpikir yang salah disini adalah paham. Salah paham. Semua kesalahan dalam poligami adalah salah dalam memahami hukumnya. Bukan membela, tapi menegaskan bahwa salah paham menciptakan oknum pelaku yang bermasalah.

Seperti orang yang belajar agama sepotong-sepotong, tapi kemudian mendadak jadi ustadz atau ustadzah. Seperti seorang yang tidak bisa membaca al-Qur'an dengan benar tapi karena mendadak ustadz/ustadzah jadi juri untuk orang lain membaca Qur'an. Kacau jadinya.

Betul dalam Qur'an ada surah an-nisa ayat 3, yang menganjurkan menikahi dua, tiga atau empat. Tapi jangan lupa, di ayat yang sama, juga ada pengingat kalau tidak bisa berlaku adil, maka satu saja.

Yang nyebelin adalah ketika dalil diambil sepotong-sepotong. Giliran haknya di kutip saat bagian kewajiban pura-pura tidak ingat. Poligami itu anjuran, untuk kebaikan dan menjamin hak perempuan. Hak untuk mendapat nafkah lahir batin, hak untuk disayangi secara halal dan dilindungi hukum, hak untuk mendapat jaminan secara agama dan hukum (waris, nafkah, dll).

Melekat juga dalam aturan poligami itu kewajiban, Bukan sekedar suka-suka laki-laki. Aturan yang paling depan, adalah ADIL. Masih banyak lagi aturan lainnya, seperti masalah waktu dan hak setiap istri, masalah nafkah, tidak boleh menikahi perempuan yang bersaudara dalam satu waktu. Soal tempat tinggal yang disunahkan terpisah antara istri-istri. Banyaaaak aturannya, dan berat.

Ada kesepakatan serupa yang menjadi ujung diskusi-diskusi saya dengan istri. Bila satu ketika, keadaan, dan banyak faktor, yang membuat saya tidak lagi bisa berkelit menghindar atau menolak, maka pernikahan kedua itu haruslah untuk kebaikan dan kepentingan yang lebih besar, dan tidak boleh menjadi pemisah diantara kami. Kami sepenuhnya sadar, Allah lebih tahu dari manusia ketika membuat satu aturan, dan implikasi dalam kehidupan. Saya juga paham sepenuhnya, beban berat yang harus dirasakan oleh istri manapun ketika membagi rumah tangga. Seperti juga kami mengerti, pernikahan kedua bukanlah suka ria, namun amanah dan beban tanggung jawab yang lebih berat lagi.

Jujur, bebannya seperti melihat dewa yunani kuno, Atlas, menahan langit di pundaknya.

Thursday, July 23, 2015

Tempat Biasa

Bisa dibilang, ini usaha yang paling melekat dengan nama saya. Beberapa point penting yang mempengaruhi jalan hidup saya juga dimulai di tempat ini.

Warung yang bermimpi jadi cafe. Didesain dengan mimpi idealis. Tempat ngumpul yang menyediakan makanan-minuman kelas mahasiswa, ada section buku/perpustakaan yang boleh dipinjam dan dibaca, plus ruang untuk kegiatan pertemuan sederhana di lantai dua.

Hasilnya, layak disebut 'badai kehidupan'. Disitu saya belajar arti kawan.

Friday, July 17, 2015

Nenek Di Gerbang Mesjid

Sumber. forrerinteriors.com

Nenek itu duduk dengan tenang di gerbang halaman mesjid. Mukenanya sudah agak menguning dimakan usia. Bangku kayu yang didudukinya pun terlihat sama tua dengan dirinya.

Dari barisan jama'ah shalat Ied, saya bisa melihatnya memandang ke arah mesjid. Sesekali saya lihat ia mengedarkan pandangan kesekeliling, lalu kembali memandangi mesjid. Gema suara takbir, dan khutbah shalat Ied terus berkumandang. Saya ingat temanya adalah soal tanggung jawab kepada umat. tanggung jawab yang melekat di pundak kita semua, tak soal kita seorang ulama, atau preman pasar.

Sulit memfokuskan pandangan pada khatib, karena mata ini selalu beralih memandangi nenek di pintu gerbang. Beliau duduk disitu ketika saya baru melangkah masuk ke halaman masjid. Dan ketika khutbah, saya lihat beliau masih duduk di situ. Firasat saya, beliau belum beranjak dari awal.

Wednesday, July 15, 2015

5 Warung Mie Aceh Yang Harus dikunjungi di Banda Aceh


Siapapun yang berkunjung ke Aceh, pasti ingat dengan salah satu kuliner terkenal dari Aceh, Mie Aceh. Dan menemukan mie Aceh yang enak di Banda Aceh, jelas menjadi satu tantangan tersendiri. Bukan karena tak banyak yang menjual, tapi justru karena sangat banyak yang menjualnya.
Nama-nama seperti Mie Simpang Lima, Mie Rajali, atau Mie Lala, adalah nama yang standar dikenal oleh para wisatawan. Tapi sebagai salah satu mieholic, dan warga lokal, saya punya beberapa tempat kesukaan untuk menikmati mie aceh. Ya, anda tidak salah baca, beberapa tempat, bukan satu saja. Masing-masing tempat punya andalan varian olahan mie aceh yang berbeda.

Thursday, July 9, 2015

Membenarkan Perkosaan

Source: apnphotographyschool.com


Aceh, wilayah terbarat Indonesia yang sedang berjuang dengan impian penegakan syariat islam dikejutkan dengan tragedi pemerkosaan dan perampokan di Lhoknga, Aceh Besar. Kejadian tragis yang bermula dari dicegat dan dirampoknya pasangan yang sedang melintasi jalanan sepi. Naas, ketika 4 pelaku memukuli sang laki-laki, seorang lagi dari mereka mengambil kesempatan terhadap sang perempuan.

Fakta menyakitkan adalah, meskipun polisi dengan cepat memburu dan berhasil menangkap salah satu pelaku, dan terus memburu pelaku lainnya, hukum yang berlaku hanya mampu memberikan hukuman diatas lima tahun penjara.

Tuesday, July 7, 2015

Mahar (Part.2)

Source : http://www.postgoldforcash.com/


Tulisan ini, dengan penyesuaian, dimuat di majalah Warta Unsyiah, Edisi Juni, 2015.
Dengan judul: Mahar Tinggi Harga Mati ?

(Bagian 2 dari 2 tulisan)




Memberanikan diri bertanya pada orang-orang tua, saya menemukan filosofi menarik dibalik kewajiban mahar emas itu.

Yang pertama adalah mengapa emas?

Jawabannya sangat sederhana. Keyakinan dalam bentuk kearifan lokal, bahwa emas adalah perhiasan yang harganya cenderung naik, dan sangat mudah diuangkan dengan nilai jual yang tidak merugikan. Pasangan yang baru menikah tentu memiliki berbagai kondisi yang sering diluar perhitungan, apalagi bila menyangkut nafkah dan kebutuhan mendesak seperti biaya persalinan atau modal usaha.

Mahar (Part. 1)

Source: http://bestengagementrings.info


Tulisan ini, dengan penyesuaian, dimuat di majalah Warta Unsyiah, Edisi Juni, 2015.
Dengan judul: Mahar Tinggi Harga Mati ?

(Bagian 1 dari 2 tulisan)




Dalam setiap ritual budaya anak bangsa dan berbagai suku, di seluruh penjuru dunia. Ritual pernikahan adalah salah satu ritual yang terpenting. Tercatat dan terdokumentasi dengan baik, beberapa kebudayaan melengkapi ritual pernikahan dengan tugas, ujian, atau bahkan tantangan.

Sunday, July 5, 2015

Mie Aceh Rasa Nostalgia


Saya tidak ingat kapan mulainya. Tapi rasanya sudah sejak lama saya menjadi seorang mieholic, penyuka mie yang nyaris fanatik. Bahkan saya menganggap sebagai satu kewajiban bila berkunjung ke sebuah tempat untuk mencicipi mie ala daerah itu.

Sebut saja Mie Kocok, mie kuning dengan tauge mentah yang ditambahkan sebelum mie disiram dengan kuah kaldu sapi yang gurih. Di beberapa daerah variasi penyajian mie kocok menambahkan acar bawang merah dan daging sapi yang ditumis dengan bumbu dan dirajang halus. Ketika di Bandung, saya ingat saya membujuk Bang Mawardi untuk menemani saya kabur dari 'pelatihan' untuk pergi mencari sajian mie khas Bandung ini.

Saya juga pernah kena 'marah' oleh ketua panitia pelatihan di Palembang, ketika beliau menjemput ke hotel untuk makan malam di sebuah restoran, saya sudah keluyuran dengan anak-anak panitia acara untuk berburu Mie Celor, mie khas Palembang. Mienya seperti mie

Wednesday, July 1, 2015

Pasar Yang Hilang


Pasar Pagi, Takengon. 2011
Ada banyak 'landmark' di Takengon yang menurut saya keren. Kadang-kadang bukan hal yang mewah atau istimewa. Tapi rasanya sudah menjadi ciri khas Takengon.

Arena Pacuan Kuda Blang Bebangka. Tulisan Gayo Highland di Gunung Bur Gayo, yang mirip dengan tanda Holywoodnya amerika. Tulisan besar itu nangkring di puncak gunung, dan meskipun sekarang sudah ditambahi tulisan baru 'Tanoh Gayo' di depannya, tapi huruf 'D' di tulisan Highland masih hilang entah kemana. Dan banyak lagi lainnya.

Salah satu yang paling istimewa bagi saya adalah Pasar Pagi. Semua teman yang datang ke Takengon, pasti menyempatkan datang belanja sayur mayur ke pasar ini.

Tuesday, June 30, 2015

5 Hal Yang Harus Disiapkan Saat Nonton di Laptop

Nonton di laptop/PC adalah satu hal yang sudah menjadi bagian keseharian kita. Entah itu mahasiswa, ibu (atau ayah) rumah tangga, profesional, pedagang, dan banyak lagi. Kesibukan yang lumayan tinggi atau justru tidak adanya kesibukan, membuat aktifitas satu ini jadi pilihan praktis.

Tapi pilihan praktis ini bisa jadi masalah lumayan besar kalau tidak dipersiapkan dengan baik. Dari nonton yang terganggu karena hal 'sepele' sampai ke perang dalam rumah tangga.

Ada beberapa hal yang bisa disiapkan. Membuat nonton jadi menyenangkan, masalah pun bisa diminimalkan.

Saturday, June 27, 2015

Bye Bye Blackbird 2

Source: pinterest.com
Pagi tadi saya bertekad untuk mencari rumah almarhumah Nana. Kemarin saat shalat Jum'at, saya bertemu teman, Aripin, dengan 'p' bukan 'f'. Dan pertemuan itu memang bukti bahwa tak ada yang namanyakebetulan di dunia ini. Segalanya terjadi dengan tujuan.

Saya teringat Arip tinggal di daerah yang setahu saya memiliki ciri-ciri seperti yang diceritakan Nana dalam postingan di blognya. Dekat danau, ada kebun kopi, dan pohon durian. Tidak terlalu banyak daerah seperti itu di seputaran kota Takengon, setidaknya kalau dikerucutkan dengan ceritanya bahwa dia bisa melihat pasar dari lantai dua rumahnya.

Dan saya menyesal kenapa tidak mencarinya dari dulu. Saya menemukannya hanya dengan dua kali bertanya saja. Pertanyaannya pun sederhana. "Maaf, Ine. Saya mau takziah ke tempat teman. Meninggalnya hari kamis. Baru pindah. Anak gadis."

Tapi saya bersyukur saya mencarinya hari ini. Kalau terlambat satu hari, mungkin tidak akan bertemu dengan Ummi. Saat saya datang, beliau sedang berkemas akan berangkat ke Banda Aceh. Rumah itu akan segera dikosongkan.

Friday, June 26, 2015

Bye Bye Blackbird


Source: inspiringwallpapers.net

Tulisan ini, diperuntukkan bagi seorang sahabat, yang telah pergi kemarin.

˜˜˜
-o0o-


Kupejamkan mata. Membiarkan semilir dingin angin pegunungan membelai lembut. Berita kepergiannya seperti badai sesaat di musim gugur. Sekilas lalu berlalu, tapi terkejutnya bertahan lama.

Baru beberapa hari kemarin kami berbagi cerita. Nana melukiskan wajah tersenyum ketika mengabarkan sakitnya yang membuat ia lama tak menulis. "Entah hari keberapa, dan untuk kesekian kalinya, laptopku jadi saksi maju mundurnya seorang Nana. Aku menulis, menulis, nulis, nulis lagi, tapi males banget klik publish. Sakit ini menghirup semua semangat."

Aku membuka mata, lalu melirik Wempy yang duduk menjuntaikan kaki di tembok pembatas rumah. "Dia sudah tidak perlu merasakan cemas yang dibawanya setiap hari, Wem."

Wednesday, June 24, 2015

Grow Old With Some One I Love

Source : gettyimages.com
Awalnya kapan saya tidak ingat, tapi saya jatuh cinta dengan konsep travel dengan megendarai motor. Bukan sekedar naik motor apapun. Tapi motor dengan gaya bobber. Gaya klasik. Dengan ransel dan perlengkapan yang dipack dibelakang.

Jangan tanya kenapa. Tapi selalu menyenangkan membayangkan menyusuri jalanan dengan motor, angin yang berhembus, menikmati pemandangan. Berhenti di pantai atau kaki gunung, kemah, menyalakan api unggun untuk memasak makanan dan menjerang kopi.

Mendokumentasikan perjalanan itu, foto dan catatan. Menikmati kuliner khas atau brewing kopi lokal. Lalu menuliskan naskah dan menjadikan semua itu buku.

5 Tempat Yang Ingin Saya Kunjungi Di Indonesia


Ada banyak tempat yang setiap kita ingin kunjungi. Kadang-kadang alasannya tidak realistis, kadang lagi alasannya hanya sesuatu yang sentimental, kadang malah alasannya tidak jelas. 

Kalau dituliskan mungkin bisa puluhan, bisa ratusan malah. Tapi selalu menarik ketika kita coba mempersingkat menjadi 5 atau 7, atau 10. Membuat kita memikirkam kembali alasan dan prioritasnya.

First of all, semuanya adalah tempat liburan. Santai, bukan tempat yang harus dicapai dengan perjuangan fisik yang sulit dan penuh keringat. Ini tempat tujuan berlibur. Semestinya nyantai.

Karena kalau ingin yang butuh kerja keras, saya punya impian juga. Naik motor bergaya Jap Style, travel keliling sabang. Menjelajah pesisir dan wilayah pegunungan Aceh, lalu menulis buku tentang Aceh dan wisatanya. 

Monday, June 22, 2015

7 Hal Iseng Yang Pernah Saya Lakukan Saat Ramadhan

Source: freewallpaper.com

Bukan, saya bukan ingin nulis soal ibadahnya. Karena Puasa itu ibadah paling intim antara hamba dan Allah. Tak ada yang tahu. Begitu rahasia dan mesranya.

Sunday, June 21, 2015

Ada Waktunya Untuk Tutup Telinga Tutup Mata

Ada Waktunya Untuk Tutup Telinga Tutup Mata


Ada satu kenangan. Kejadian lama yang sebenarnya akan indah, bila bisa dilupakan. Tapi begitulah, kita sering melupakan hal-hal yang ingin kita ingat, tapi malah mengingat dengan jelas hal-hal yang ingin kita lupakan.


Saat itu tahun 2000. Tahun pertama di milenium baru. Demam dan isu Y2K sudah hilang, banyak ramalan tentang kiamat ekonomi terbukti hanya hoax. Dan saya sedang menata lagi kehidupan sehari-hari yang masih berputar pada masalah yang itu-itu saja.


Tahun 2000 saya masih menjadi penyiar di satu radio swasta. Mulai sadar bahwa bahwa meskipun saya berteman dengan para penyiar lain, kami sebenarnya hanya saling kenal. Tidak pernah betul-betul dekat. Yang lain, saya sepenuhnya sadar, teman dekat. Saya? kami teman. Saling kenal. Titik, cukup sampai disitu.


Hari itu saya menikmati buka puasa yang tidak menyenangkan. Ditipu mentah-mentah oleh seorang 'teman' di radio, yang meminta saya pergi ke sebuah acara buka puasa bersama di satu hotel. Diberitahukan disaat terakhir, terbirit-birit menuju hotel itu. Tiba tepat beberapa menit sebelum tanda berbuka puasa, hanya untuk menemukan bahwa nama saya tidak termasuk dalam 'undangan' untuk acara berbuka itu.




Akhirnya saya buka puasa dipinggir jalan, Cuma dengan segelas air mineral kemasan, yangs selalu ada dalam ransel saya. Karena sepanjang jalan itu, tidak ada kedai atau toko yang bisa saya temukan.


Disatu sisi, ingin rasanya marah, tapi disisi lain saya sepenuhnya sadar. Ada salah saya disitu. Meskipun saya tahu teman yang kebetulan memiliki jabatan di radio itu, entah karena sebab apa sangat tidak bisa akur dengan saya, tapi ketika dia memberitahukan bahwa saya diundang atas nama radio, saya percaya.


Meskipun saya tahu bahwa dia pasti akan lebih memilih mengirim petugas cleaning service ke pelatihan (dan itu sudah pernah dilakukannya), dibandingkan mengirimkan saya. Tapi jauh dibalik kesal dan marahnya saya karena diperlakukan tidak adil, karena dibenci, saya masih berharap akan mendapat pengakuan dari dia.


Belasan tahun kemudian, sekarang ini saya teringat lagi kejadian itu. Dan diam-diam saya berterima kasih pada teman itu. Setelah kejadian buka puasa yang menyebalkan itu, saya berhenti berharap akan mendapat pengakuan lagi dari dia (sebagai pejabat radio). Saya berhenti berharap akan mendapat kesempatan dikirim dan mendapat dana mengikuti pelatihan di Jakarta, atau kota-kota keren lainnya. Saya mulai mengumpulkan uang dari usaha kecil yang saya punya, dan membiayai diri sendiri untuk ikut pelatihan ini dan itu.


Bahkan saya menutup mata terhadap caci maki dan sindiran yang dia ucapkan soal kualitas siaran saya. Terkadang terang-terangan di depan penyiar junior yang saya mentori, dikesempatan lain secara halus ketika kumpul para penyiar. Saya hanya fokus untuk menjalani siaran saya.


Dan alhamdulillah. Bukan hanya mendapatkan kesempatan dari salah satu lembaga pelatihan untuk menempuh pendidikan dua bulan di luar negeri. Saya juga mendadak menemukan nama saya terpilih sebagai penyiar favorit, dua tahun berturut-turut. Padahal saya tahu, dibanding penyiar cowok lainnya, saya kalah ganteng.


Ternyata ada saatnya memang. Ketika kita perlu fokus mengerjakan apa impian yang ingin kita capai. perlu untuk jadi 'tuli' sehingga kita bisa jalan dengan tenang menapaki impian kita. Dan karena tak terganggu dengan omongan orang-orang yang mencela dan berusaha menjatuhkan kita, kita malah mencapai keberhasilan.

Saturday, June 20, 2015

Di Antara Dua Titik



Ramadhan kali ini dimulai di Banda Aceh. Dan jujur saja, panasnya suhu udara, teriknya matahari, semua hal yang sebenarnya sangat saya rindukan, membuat awal puasa ini jadi lebih 'berasa'.

Sejak akhir 2013 saya memutuskan pindah ke Takengon. Kota yang berada di tengah pegunungan, tinggi jauh dari permukaan laut, dan udaranya dingin. Dua tahun di Takengon, membuat badan saya mulai tidak terbiasa dengan udara panas khas pesisir.

Padahal saya merindukan udara pesisir. Saya merindukan laut dan pantainya. Saya merindukan wilayah yang bahasa pergaulanannya lebih saya pahami. Saya merindukan Banda Aceh dengan segala kurang lebihnya.

Konyolnya. Walaupun saya sudah tidak terbiasa lagi dengan udara panas khas pesisir, saya belum sepenuhnya beradaptasi dengan udara dingin yang menusuk di pengunungan. Setiap pagi di Takengon saya terbangun dengan hidung mampet, sedikit demam, dan kepala yang sakit. Setiap pagi ritual standar setelah shalat subuh dan mengaji, adalah menyesap secangkir kopi panas. Sambil bergelung dalam selimut atau jaket, dengan kain sarung melingkari leher. Semuanya demi menghadapi udara pagi yang kadang dinginnya luar biasa.

Tiga hari ini, kembali menghadapi panasnya pesisir, membuat saya mulai berpikir tentang hidup. Mungkin karena usia sudah 36 tahun, berpikir tentang kualitas hidup dan kualitas saat mati nanti jadi salah satu hal yang mulai rutin saya lakukan. Terlalu cepat? Bisa jadi. Kata orang barat, life begin at 40. Kata Mantri Puteh, hidup seorang laki-laki dimulai ketika disunat.

Berpindah. Hijrah dari Banda Aceh ke Takengon. Dari pesisir ke pegunungan, dari hidup sebagai trainer dan pembicara menjadi ayah rumah tangga (belakangan ditambah dengan dagang kopi Havennoer, dan kembali ngeblog). Perubahan dan perpindahan. Dan semuanya punya cerita yang sama, penyesuaian.

Hidup juga begitu kan.

Kita selalu berusaha jadi lebih baik. Meningkatkan kualitas diri, atau minimal kualitas isi dompet (atau kuantitas?). Kita mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru, kita merubah kebiasaan, kita membangun kebiasaan-kebiasaan baru. Dan kemudian kita nyaman dengan hal baru itu. Kita jadi terbiasa, dan yang baru itu menjadi sesuatu yang normal. Lalu tanpa sadar kita macet dititik itu. Kita nyangkut di zona nyaman.

Dan hidup tiba-tiba menjadi kehilangan daya tariknya. Semua berubah jadi rutinitas.

Mungkin ini sebabnya dulu para ulama suka melakukan perjalanan. Ketika kita melangkah keluar dari zona nyaman kita, tiba-tiba kita dihadapkan dengan perubahan yang mengganggu kestabilan kita. Kita dipaksa untuk kembali siaga dan berdaptasi. Dan saat itu, tanpa kita sadari, kita mengaktifkan kembali naluri kreatif kita. Penyesuaian selalu lekat dengan kreatifitas. Ah, panjang kalau dijelaskan. Tapi intinya, perubahan selalu membawa kita pada sisi kreatif yang baru. Kita melihat hal-hal baru, atau hal-hal lama yang penting dan terlupakan. Antara kita belajar sesuatu yang baru, atau kembali mengingat hal yang lama.

Pulang ke Banda Aceh, kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan lama, tapi serasa baru karena saya sudah terbiasa dengan Takengon. Dan semuanya menjadi berbeda. Seolah saya melihat satu hal yang sudah lama saya punya, tapi dari sudut pandang baru. Dan itu menyenangkan.

Ternyata kita memang butuh untuk sesekali keluar dari zona nyaman kita. Kita perlu berdiri anatra dua titik. Seperti saya yang untuk sesaat berdiri antara Banda Aceh dan Takengon. Saya yang untuk sesaat, bukan orang Banda, bukan juga orang Takengon. Dan saat itu, saya bisa melihat banyak hal, yang selama ini tidak terlihat padahal terpampang jelas.

Thursday, June 18, 2015

Dimulai Dari Nol, Ya.

Source: 961theeagle.com

Ramadhan kali ini lebih berasa. 

Itu deskripsi yang paling pas untuk menggambarkan apa yang saya rasakan. Bukan saja karena ini Ramadhan kedua saya bisa menghabiskan waktu penuh dengan istri dan anak-anak, tapi juga karena kali ini ramadhan dijalani dengan persiapan yang lebih mapan.

Sejak sebelas bulan lalu, sejak ramadhan tahun kemarin, yang berjalan berantakan jauh dari target yang direncanakan, saya mulai dengan coba membangun persiapan. Iya, persiapan untuk ramadhan tahun ini. Bukan secara materil, tapi persiapan yang lebih difokuskan ke orangnya.

Dimulai dengan jujur pada diri sendiri. Coba melihat siapa diri saya, dari sisi yang sejujur-jujurnya. Kalau dijabarkan, mungkin jadi novelet, tapi intinya saya mulai dengan berdamai dengan diri sendiri.
Akan sulit mempersiapkan diri menghadapi ramadhan, yang sebenarnya adalah perang besar antara saya yang ingin jadi lebih baik dan diri saya yang lebih suka menurutkan ajakan pada godaan demi godaan.

Saturday, June 13, 2015

My Movie List : a Thousand Word

Saya pernah menuliskan -- entah dimana -- bahwa berbicara adalah senjata yang mengerikan. Bisa melipat gandakan kebaikan, atau mengamplifikasi kejahatan. Dan sampai hari ini saya masih mempercayainya. 

Buktinya banyak, sangat banyak. Contohnya saja Hitler, bukan bangsa jerman murni, namun mampu mengangkat dirinya menjadi pemimpin tertinggi. Lihat video orasinya di youtube, tanpa paham apa yang dikatakannya, tapi caranya berbicara memang mampu membakar semangat. Indonesia punya Soekarno, yang kehadirannya diakui dunia, dihormati oleh banyak negara, bahkan setelah tiada, kedekatan dengan namanya saja masih memberikan efek yang kuat.

Film ini, saya suka karena membahas mengenai 'berbicara'. Dan pelajaran tentang bagaimana kita melupakan bahwa setiap kata-kata kita itu sebenarnya berharga.

Ceritanya sederhana. Jack Mc Call (Eddie Murphy) adalah seorang agen penerbitan yang sangat egois. Kemampuan berbicaranya yang sangat baik, dan keahliannya untuk membuat lawan bicara tidak sempat menjawab banyak, membuat sering berhasil mendapatkan perjanjian penerbitan buku. Jack mengincar seorang penulis spiritual, Dr. Sinja, seorang guru New Age, yang dianggapnya akan mampu menjadi sumber kesuksesan Jack berikutnya.

Profit, profit dan profit. Jack hanya memfokuskan seluruh kehidupannya untuk mencari keuntungan. Bahkan mengesampingkan perhatian pada orang-orang terdekatnya. Caroline Mc Call, istri Jack, akhirnya menyerah dan memutuskan pergi.

Apakah ceritanya hanya begitu saja? Jelas tidak. Cerita baru dimulai ketika Jack dalam upayanya mendekati Dr. Sinja, berurusan dengan sebatang pohon di kediaman Sinja. Pohon itu ternyata pohon ajaib, dan mendadak berpindah dari kediaman Sinja, lalu muncul di halaman rumah Jack.
Disinilah cerita menjadi menarik. Pohon itu ternyata memiliki hubungan dengan kebiasaan Jack untuk bicara sesukanya. Setiap helai daunnya senilai satu kata. Dan setiap Jack berbicara satu kata, maka satu helai daunnya gugur. Sinja mengatakan bahwa ketika semua daunnya gugur, maka Jack akan mati.

30 Day Ramadhan Blogging Challenge

Ramadhan sebentar lagi. Semoga diizinkan berjumpa dan lulus dari ramadhan kali ini dengan nilai memuaskan.

Setiap ramadhan, saya sama seperti ribuan orang lainnya, membuat catatan soal apa yang ingin dilakukan dalam ramadhan. Dan sama seperti ribuan lainnya, setiap minggu atau bahkan ada yang hanya berselang hari, catatan itu dikurangi. Selalu saja ada hambatan yang membuat target pencapaian terpaksa dikurangi.

Ramadhan ini inginnya menjadi satu awal yang baru. Salah satunya dengan target pencapaian. Saya bertekad ramadhan kali ini, tidak akan mencoret target dengan alasan tak bisa dilakukan, kecuali kalau memang ada uzur syar'i, alasan yang memang dibenarkan dan memang tak bisa ditawar.

Satu hal yang selama ini saya sadar, terlalu banyak ikut pelatihan motivasi yang (sebagian) hanya menjual mimpi --karena ada sebagian yang memang beneran pelatihan yg bagus -- membuat saya menjadi manusia tidak realistis. Menciptakan target tidak terukur, yang seolah dengan kerja keras semata akan tercapai. 

Thursday, June 11, 2015

Kreatif Dari Lahir?

Beberapa hari kemarin, saya berkesempatan jumpa dengan salah satu orang muda paling kreatif di Aceh. Dan itu bukan sekedar memuji karena kenal, tapi prestasinya memang menunjukkan bahwa sebutan itu layak disematkan pada seorang Hijrah Saputra.

Terus terang saya tidak kenal dekat dengan Hijrah, tapi jadi lumayan sering berinteraksi sejak saya belajar nge-blog dan bergabung dengan Gam Inong Blogger, itu pun hanya di media sosial. 

Dalam dunia 'training'pun kelas kami berbeda,Hijrah termasuk trainer dengan bintang, bersinar dan dikenal sampai nasional. Saya sih kelas kampus aja. Bukan merendah, atau merasa rendah diri, ini kan bicara fakta.

Dan kalau boleh jujur, sebenarnya selama ini saya sendiri kebingungan dengan jalan yang ingin saya tempuh. Saya trainer, saya graphic designer, saya nulis, saya jadi reporter, saya (sempat) buka cafe, saya pernah usaha sayur mayur, dagang bakso, burger, sampai roti bakar. Semuanya, sebagian besar malah dijalani sekaligus, hasilnya ya serba tanggung.

Monday, June 8, 2015

My Movie List : Wonderful Radio (K-Movie, 2012)


Dari tidak terlalu banyak K-Movie yang saya tonton, film ini termasuk yang berada dalam daftar Bagus. Wonderful Radio. Mengangkat kisah dunia penyiar radio, film ini jelas punya nilai sentimentil buat saya.

Saya bukan penggila K-Movie, tapi jujur saya akui, saya kagum dengan beberapa film korea. jangan tanyakan rating atau apa film terbaru 2015. Kalau ada film korea yang saya tonton biasanya karena di copy-kan teman. Itu pun bila dari bagian-bagian awalnya saya tidak merasa film itu menarik, dengan cepat film itu masuk ke recycle bin.

Dan selama ini, naluri saya belum mengecewakan saya. Film-film korea yang saya tonton, semuanya layak untuk disimpan dan ditonton beberapa kali.

Friday, June 5, 2015

Tempat Rahasia Peunajoh Aceh dan Pengalaman Baru.



Entah sejak kapan, wisata kuliner di Banda Aceh jadi baku. Kalau makan mie aceh, umumnya Razali atau Mie Simpang Lima. Ngopi, ya di Solong. Sate pasti di Rex Peunayong. Dan banyak lagi tempat makan yang itu dan itu saja.

Dan jujur saja, itu menyebalkan. Saya seperti melihat orang yang kagum dengan sebutir batu giok padahal saat itu dia sedang berdiri di lembah yang sekelilingnya adalah gunung batu perhiasan.
Persis perasaan saya saat mendengar ada teman yang terkagum-kagum dengan pantai di Bali, padahal wilayah pesisir Aceh punya banyak pantai yang tak kalah indah. Atau mendengar teman cerita tentang makan pizza di gerai Pizza Hut ketika ke Kuala Lumpur (cuma itu sih di Banda Aceh juga ada).

Wednesday, June 3, 2015

Terjebak Romantisme L300




Saya punya satu folder khusus berjudul L300. Isinya lagu-lagu slow rock malaysia 80's-90's. Lagu-lagu yang sepertinya sudah menjadi trademark untuk menemani perjalanan dengan mobil angkutan umum antar kabupaten.

Search, Iklim, Slam, Wings, UK's, Exist, Spoon, Lestari, dan banyak lagi. Lagu-lagu yang sekarang sering di olok-olok oleh generasi 2000'an ke atas. Walaupun kenyataannya, banyak kejadian saya temukan adik kecil kita itu ternyata diam-diam bersenandung ketika mendengar lagu-lagu lama ini.

Sebenarnya bukan cuma dari negeri jiran malaysia sih, tapi kalau yg Indonesia ya tidak jauh-jauh dari Nike Ardila, Inka Christie, Dodi Dores, Anie Carera, dkk. Yang tipe lagunya, ya gitu-gitu juga, sebelas dua belas. Slow rock melow dengan nuansa melayu.

Friday, May 29, 2015

Memanusiakan Mereka

Source: wallpaperno.com
Saya tidak mencatat, atau sejujurnya lupa, tren ini pertama kali dimulai kapan. Tapi kalau mau dilihat lagi, sejak beberapa waktu terakhir, mereka dijadikan lebih manusia. Mereka dimanusiakan.

Bisa jadi karena perkembangan jaman, logika yang semakin tumbuh, dan tuntutan publik yang mulai memintas segala hal itu jadi lebih realistis. Bisa jadi karena kita mulai ingin segala sesuatu itu dekat dengan diri kita. Dalam ilmu public speaking, salah satu cara untuk membangun ikatan adalah adanya keterlibatan. Contoh mudahnya, kita lebih suka kalau membicarakan, menyaksikan, tau bahkan mencela yang ada hubungannya dengan diri kita, atau pengalaman kita.

Dan salah satu pengaruh yang muncul dalam dunia modern ini dengan kebutuhan adanya unsur 'ah iya, gue banget tuh', ya ini. Mereka dibuat semanusiawi mungkin.

Perhatikan semua film tentang mereka. Semuanya tiba-tiba menjadi sosok yang manusiawi, bahkan sering sekali yang ditonjolkan sekarang ini, adalah sisi manusiawinya.

Thursday, May 14, 2015

Situ Juga Sama Saya

Aslinya diniatkan untuk status facebook. Tapi setelah dipertimbangkan lagi, akhirnya dijadikan postingan di blog saja. Selain untuk menjaga kesan blog tetap aktif. Tulisan ini mungkin kepanjangan kalau di status fb.

"Orang gayo juga tidak toleran." 

Komentar saya ini langsung disambut dengan emosi oleh seorang kawan. Tadi kami berjumpa setelah lama tak bertemu. Ngopi di warung milik saudaranya di pusat kota Takengon. Amarahnya kontan tersulut. Pernyataan saya tadi ditanggapinya dengan sangat panas. Bahkan mulai membawa soal suku, dan fakta bahwa saya pendatang dari pesisir yang kini menetap di Takengon.

Sunday, May 10, 2015

Akhirnya, The Lost Kamen Rider Return.

Salah satu serial tokusatsu yang paling saya sukai, adalah serial Kamen Rider. Karakter superhero yang secara literal bisa diterjemahkan namanya jadi Pahlawan Bertopeng. Sejak pertama kali menonton seri Kamen Rider yang paling populer di Indonesia, Kamen Rider Black ( Yang entah kenapa diterjemahkan menjadi Ksatria Baja Hitam), saya mulai menyusuri sejarahnya. Bahkan mulai mengumpulkan film-filmnya.

Karakter favorit saya sampai saat ini adalah Amazon, yang penayangannya hanya 24 episode dan mendapat kritik keras karena material kekerasan yang tinggi. Dan Kuuga, Keduanya menjadi karakter yang palin saya sukai selain karena tampilan yang unik, juga karena ceritanya yang terbilang perih dibanding yang lain. Kedua karakter ini, memiliki kisah dimana mereka selalu menyembunyikan rasa sedih mereka, dan mencoba terlihat kuat dan gembira.

Kata orang, kita cenderung menyukai cerita yang memiliki kedekatan personal dengan kita, entahlah.

Saturday, May 9, 2015

Kenangan 80's : Kikaider & Inazuman

source: captured from youtube
Yang namanya generasi 80's punya banyak kenangan yang unik. Bukan karena kami lebih baik dari generasi lain, sama sekali tidak. Tapi karena periode itu adalah periode peralihan. Teknologi mulai melesat dan berkembang. Di saat yang sama beberapa tahun kemudian negara kita juga memiliki akses yg lebih besar untuk berbagai perangkat yang waktu itu masih sangat baru. Paling tidak, baru untuk kita.

Salah satunya adalah video player. Dan itu membuka banyak akses untuk tontonan dari negara asing. Selain film televisi tentunya.

Mungkin masih banyak di angkatan kami, yang ingat dengan kaset video rental, kaset VHS dengan warna merah. Seperti juga saya masih ingat untuk menonton video itu di rumah tetangga kami harus setor 200 rupiah per anak. Itupun masih bisa di usir pulang sebelum film selesai kalau kebetulan anak yang punya rumah ngambek.

Thursday, May 7, 2015

Sekelas Hollywood

source: galleryhip.com
Saya suka menonton film-film lama. Bernostalgia menikmati kenangan masa kecil. Dan sebagai generasi 80's ada banyak hal menarik yang bisa dikenang.

Bagaimanapun orang berkomentar generasi kami angkatan 80's adalah generasi menarik. Generasi peralihan. Kami adalah titik dimana perubahan trend dan teknologi terjadi. Saya sempat merasakan masa bermain dengan kelereng, galah panjang, patok lele, bola godok, batalion tin. Lalu menikmati permainan 'komputer' seperti atari, lalu spica, nintendo, ding-dong, hingga play station yang sekarang sudah 3rd generation,

Merasakan ngetik dengan mesin ketik, dari yang ukurannya sebesar meja, hingga yang sebesar koper kecil. Mempelajari komputer dari DOS, Word Star, Lotus, kemudian Windows 3.11, lalu ver.95, 98, XP, sampai ke Windows 8 sekarang.

Thursday, April 23, 2015

Protes Mahar Tanda Tak Mampu

"Mahar gadis aceh memang kelewatan." Begitu katanya dengan kesal, membubuhi emoticon marah sebagai penegas kemarahannya. Lalu mulailah berbagai analisis disampaikan tentang betapa indahnya gaya hidup ala eropa, tempatnya menimba ilmu untuk gelar S2-nya. Atau betapa sangat efisiennya gaya pernikahan di amerika yang tidak ribet dengan pesta adat ini itu, dan diatas semuanya, mahar yg tidak merepotkan.

Diskusi tak ilmiah tadi malam dengan seorang teman kembali berujung pada cela dan protes. Awal masalahnya sederhana, ia menilai mahar yang ditetapkan keluarga gadis pujaan hatinya terlalu mahal.

Thursday, March 26, 2015

Takengon, titik persimpangan takdir.

de·cep·tion
dəˈsepSH(ə)n/
noun
noun: deception; plural noun: deceptions
  1. the action of deceiving someone.
    "obtaining property by deception"
    • a thing that deceives.
      "a range of elaborate deceptions"

      synonyms:deceit, deceitfulness, duplicity, double-dealing, fraud, cheating,trickery, chicanery, deviousness, slyness, 
      wiliness, guile, bluff, lying, pretense, treachery; 
      informalcrookedness, monkey business,monkeyshines

***

Sejujurnya, bagi saya pindah ke Takengon adalah keputusan dengan makna ganda. Disatu sisi, itu adalah keputusan paling tepat, karena keluarga memang semestinya bersama, bukan terpisah sana sini dengan berbagai alasan (kecuali memang dalam kondisi yang sangat terpaksa).

Tapi di sisi lain, ini adalah keputusan pengakuan. Ya, saya mengakui sudah kalah, sudah gagal, saya mundur.

Bagi saya, selama bertahun-tahun, Takengon hanyalah kota kecil dengan alam yang indah, tapi sangat tidak terberdayakan. Seharusnya bisa jadi destinasi wisata, tapi tempat wisatanya banyak tidak dikelola dengan baik. Kotanya tidak punya tempat hiburan menarik, dan selepas maghrib, mulai sepi.

Tuesday, March 24, 2015

Kabut Pagi

Kota takengon berada di lembah yang dikelilingi barisan melingkar pegunungan dataran tinggi gayo. Selalu menjadi pemandangan yang mengesankan ketika mata yang selama puluhan tahun terbiasa dengan permukaan datar pesisir pantai, memandangi naik turunnya puncak-puncak gunung yang mengelilingi kota.

Pagi Berkabut di pusat kota Takengon
Selain pohon yang hijau memenuhi gunung, ada satu hal lagi yang selalu saya tunggu-tunggu. Kabut pagi.

Mungkin itu pemandangan biasa, bahkan menyebalkan bagi orang yang tinggal disini, terbiasa dengan kabut yang bergulung, terkadang begitu tebalnya sampai sulit mengendarai kendaraan.

Tapi bagi saya, kabut selalu menjadi sesuatu yang memberi sensasi unik.

Friday, March 20, 2015

Selalu Ada Laut di Ujung Sana


Sejak setahun kemarin, saya memutuskan pindah ke dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Enam tahun menjadi suami dan ayah yang egois, sudah melebihi batas yang saya bisa cari pembenarannya. Istri dan anak-anak menetap di Takengon, dan saya memaksa mengejar mimpi kesuksesan di Banda Aceh. Terselang lima kabupaten dan delapan jam perjalanan.

Selama enam tahun, tumbuh kembangnya kedua gadis kecil saya, terasa seperti menonton pertunjukan sulap. Sebentar mereka masih bayi kecil, berikutnya mereka sudah bisa menegakkan kepala dan berguling, lalu sudah merangkak, dan tiba-tiba mereka sudah berlarian kesana kemari. 

Monday, March 2, 2015

Dulu Kita Bangga

Saya lahir di akhir tahun tujuh puluhan. Tepat dipertengahan tahun 1979. Periode yang istimewa. Karena kami generasi peralihan. Generasi yang sempat merasakan perubahan besar dalam kehidupan. Kami generasi evolusi peradaban. Generasi evolusi gaya hidup. Generasi analog terakhir, dan generasi digital pertama.

Saya sempat merasakan ketika permainan tradisional atau permainan lokal semacam patok lele[1], galah panjang, batalion tin, main godok, dan banyak lagi permainan lainnya, perlahan mulai tergusur dengan permainan generasi baru. Awalnya dari Atari, spica, nintendo, dingdong di pasar, gameboy, hingga ke play station.

Perubahan adalah dunia yang kami generasi awal delapan puluhan rasakan. Hal rutin dalam hidup kami. Ketika berbagai benda baru dan teknologi canggih muncul dan mempengaruhi kehidupan. Hal yang semula keren berubah menjadi ketinggalan zaman. Siklus tanpa henti. Dunia kami adalah dunia yang melompat-lompat.

Dunia Termodifikasi

Source : freewallpaperwide.com 
Saya teringat. Dalam dunia ‘training motivasi’ berlaku aturan ‘dunia yang dikondisikan’. Dunia kecil yang anda masuki, sejak anda mulai melangkahkan kaki ke meja pendaftaran sebelum memasuki ruangan tempat training motivasi dilaksanakan.

Dimulai dengan panitia yang dilatih untuk selalu cerah ceria harum mewangi sepanjang masa. Yang menyambut anda dengan sapaan ramah[1], poster dan banner di dinding dengan kata-kata motivasi yang menguatkan[2]. Hingga mc yang menyambut hadirin dan mengarahkan suasana dengan semangat dan (lagi-lagi) ucapan kalimat terpilih. Jangan lupakan, musik yang menggelegar dan memberi semangat.

Gagal Fokus

source : www.artandesignews.com
Masa-masa sekarang ini, kalimat pendek ‘Gagal Fokus’ adalah salah satu kalimat yang masuk kelompok, sangat populer. One of the most famous word[1] dalam percakapan di dunia maya. Entah itu sebagai hastag atau sekadar bumbu dalam obrolan. Kalimat pendek ini bahkan lebih fenomenal dibanding ‘Cetar Membahana’ atau ‘demi Tuhan’ yang sempat mencetak nama besar dalam ranah percakapan. Yang terbaru adalah 'Disitu kadang saya merasa sedih.' yang agak kepanjangan, sehingga sering terlalu memaksa dijadikan bagian dari percakapan.

Mungkin[2], karena ‘Cetar Membahana’ terlalu lekat dengan seorang artis yang menurut saya sebenarnya cantik, kalau mau mengurangi kuantitas tata riasnya dan fokus pada kualitas. Sedangkan kalimat ‘demi Tuhan’, agak kurang nyaman digunakan. Karena sebagai orang timur, yang berbudaya, beragama, terdidik dan baik akhlaknya, kita semua paham, tidak baik bawa-bawa nama Tuhan sembarangan.

Monday, January 5, 2015

Well, I don't know what to write

source : keribeevis.com
My English was never excellent. But now, it become worst. Never used it for along long time. And I find that I lost a lot. Honestly, its really annoying. Why? simply because i don't like if that 'ability' faded away.

So, I make decision. To keep what still left, I will start to post in English.

I know, it's not a good decision. My English is really horrible. I have 'no good relation' with vocabulary and grammar, and sure enough my post will be a playground for so many unright word.
But, like one of my friend ever said long time ago; You will never find the truth, if you not start your first step of a hundred years journey to find it.

So, here I am. Trying to make some fantastic post, an article that will move the heart of billion people around the globe. Nice dream isn't it?

In reality. I spend almost a hour, stare at a blank white working sheet of office word.

Well, I don't know what to write.

Start typing and press Enter to search