Post Ad Area

Post Home Style

Showing posts with label True story. Show all posts
Showing posts with label True story. Show all posts

Tuesday, February 23, 2016

Maaf, Saya Tidak Tahu Saya Gila.


"Berarti dia gila." Komentar ibu itu sambil menggeser duduknya. Berusaha menciptakan jarak. Dan saya hanya bisa tersenyum pasrah. Waktu itu saya sedang diminta jadi pemateri di salah satu kegiatan komunitas. Ibu itu orang kesekian (yang jumlahnya cukup banyak) dengan reaksi sejenis.

Dan itu karena saya menyebutkan satu hal. Saya orang dengan gangguan kejiwaan.

Saturday, July 25, 2015

Abang Boleh Poligami

Source: mozaik.inilah.com



Mungkin bagi sebagian laki-laki, pernyataan itu adalah sumber kegembiraan, yang bisa jadi alasan buat jungkir balik. Tapi saya termasuk yang sebagian lainnya. Sejak awal berumah tangga, saya punya impian sederhana. Membuktikan bahwa ketika dia, wanita yang saya kagumi menerima pinangan saya, maka akan saya buktikan bahwa pilihannya itu bukanlah satu kesalahan.

Jadi ketika mendengar kata-kata itu, saya terdiam. Apakah saya tak lagi istimewa? sudah bosankah dinda dengan kebersamaan ini? Atau sudah lelah mengarungi rumah tangga bersama sehingga kalimat itu bisa muncul?

"Abang boleh poligami." Istri saya menatap mesra ketika mengucapkannya. Saya terpana. Tapi kok jleb rasanya, bukannya gembira.

Pasti muka saya lebih jelek dari biasanya karena istri mendadak tertawa. Masih tergelak dia menambahkan ucapan yang rupanya belum selesai.

"Tapi ada tiga syarat. Satu, harus yang lebih muda. Dua, harus yang lebih cantik. Tiga, Jangan pulang lagi."

Jujur sejujur jujurnya. Saya malah lega dengan penjelasannya. Saya masih tak ingin dibaginya dengan perempuan lain. Membawa kopi dari dapur saya balik lagi ke meja kecil dekat colokan listrik. Tempat laptop saya yang kondisi baterainya membuat laptop tak boleh jauh dari sumber listrik.

Kami sudah melewati tahap membahas poligami sejak bertahun lalu. Dan saya tahu bahwa istri membolehkan dengan alasan sederhana. Allah saja membolehkan poligami, maka siapa kita manusia ini mengharamkan yang Allah halalkan.

Tapi obrolan kami tidak putus sampai disitu. Diskusi kami masih berlanjut. Kami membahas semua sisi, termasuk fakta bahwa semakin banyak muslimah yang belum menikah pada usia yang sudah semakin matang.

Jumlah perempuan memang lebih banyak dari laki-laki. Ditambah dengan kenyataan yang sering istri lihat di tempat kerjanya. Istri saya bekerja di Mahkamah Syar'iah, pengadilan agama. Dan setiap hari harus berurusan dengan kasus perceraian, KDRT, izin nikah untuk anak di bawah umur, gugatan karena perselingkuhan, masalah warisan, dan banyak lagi.

Kompetisi dalam menikah, maaf sebelumnya karena pakai istilah ini, memang membuat banyak perempuan kebingungan. Perbandingan jumlah membuat lebih banyak lagi perempuan yang belum menikah pada usia matang. Bahkan tak jarang mereka membuka peluang pada siapa saja asalkan baik orangnya, tapi kesempatan masih belum hadir juga.

Kaum feminis-liberal dan kerabatnya, mengangkat isu poligami untuk menunjukkan seolah yang namanya Islam itu sangat tidak melindungi perempuan. Saya malah bingung, banyak dari mereka orang cerdas, kenapa menganggap ikatan pernikahan sebagai sesuatu yang salah. Padahal perempuan juga punya kebutuhan, seperti disayangi, dilindungi, dan juga kebutuhan sexual. Yang kalau terus dipendam, larinya nanti ke hal buruk seperti sex diluar nikah. Kalau itu yang terjadi apa lebih baik bagi perempuan? Aneh logikanya.




Soal poligami ini mencuat lagi. Gara-garanya, film yang diangkat dari novel Asma Nadia, Surga Yang Tak Dirindukan. (Seingat saya dulu novel ini berjudul Istana Kedua).

Meskipun sekilas film ini memberi pemakluman pada pernikahan kedua. Tapi film ini juga sarat dengan kesan perlawanan. Seolah Arini memaklumi pernikahan kedua Pras dengan Mei Rose karena sederet kondisi yang memaksa. Mei Rose yang mualaf, menderita, dan banyak lagi.

Ending yang menggantung malah membuat poligami semakin tersudut. Seolah tidak bisa diberi satu keputusan yang pasti, untuk sesuatu yang sudah pasti. Lagi-lagi poligaminya yang disalahkan, bukan oknum pelakunya.

Mindset yang terbentuk sekarang, adalah lebih baik melajang ketimbang dimadu. Segelintir sih bisa mengesampingkan semua kebutuhan yang sebenarnya memang normal. Tapi banyak yang akhirnya jungkir balik mencari penyaluran, dan tidak sedikit yang berujung pada 'khilaf' atau mengalami gangguan orientasi sexual/perilaku sexual.

Trus, salah siapa?

Saya berpikir yang salah disini adalah paham. Salah paham. Semua kesalahan dalam poligami adalah salah dalam memahami hukumnya. Bukan membela, tapi menegaskan bahwa salah paham menciptakan oknum pelaku yang bermasalah.

Seperti orang yang belajar agama sepotong-sepotong, tapi kemudian mendadak jadi ustadz atau ustadzah. Seperti seorang yang tidak bisa membaca al-Qur'an dengan benar tapi karena mendadak ustadz/ustadzah jadi juri untuk orang lain membaca Qur'an. Kacau jadinya.

Betul dalam Qur'an ada surah an-nisa ayat 3, yang menganjurkan menikahi dua, tiga atau empat. Tapi jangan lupa, di ayat yang sama, juga ada pengingat kalau tidak bisa berlaku adil, maka satu saja.

Yang nyebelin adalah ketika dalil diambil sepotong-sepotong. Giliran haknya di kutip saat bagian kewajiban pura-pura tidak ingat. Poligami itu anjuran, untuk kebaikan dan menjamin hak perempuan. Hak untuk mendapat nafkah lahir batin, hak untuk disayangi secara halal dan dilindungi hukum, hak untuk mendapat jaminan secara agama dan hukum (waris, nafkah, dll).

Melekat juga dalam aturan poligami itu kewajiban, Bukan sekedar suka-suka laki-laki. Aturan yang paling depan, adalah ADIL. Masih banyak lagi aturan lainnya, seperti masalah waktu dan hak setiap istri, masalah nafkah, tidak boleh menikahi perempuan yang bersaudara dalam satu waktu. Soal tempat tinggal yang disunahkan terpisah antara istri-istri. Banyaaaak aturannya, dan berat.

Ada kesepakatan serupa yang menjadi ujung diskusi-diskusi saya dengan istri. Bila satu ketika, keadaan, dan banyak faktor, yang membuat saya tidak lagi bisa berkelit menghindar atau menolak, maka pernikahan kedua itu haruslah untuk kebaikan dan kepentingan yang lebih besar, dan tidak boleh menjadi pemisah diantara kami. Kami sepenuhnya sadar, Allah lebih tahu dari manusia ketika membuat satu aturan, dan implikasi dalam kehidupan. Saya juga paham sepenuhnya, beban berat yang harus dirasakan oleh istri manapun ketika membagi rumah tangga. Seperti juga kami mengerti, pernikahan kedua bukanlah suka ria, namun amanah dan beban tanggung jawab yang lebih berat lagi.

Jujur, bebannya seperti melihat dewa yunani kuno, Atlas, menahan langit di pundaknya.

Thursday, July 23, 2015

Tempat Biasa

Bisa dibilang, ini usaha yang paling melekat dengan nama saya. Beberapa point penting yang mempengaruhi jalan hidup saya juga dimulai di tempat ini.

Warung yang bermimpi jadi cafe. Didesain dengan mimpi idealis. Tempat ngumpul yang menyediakan makanan-minuman kelas mahasiswa, ada section buku/perpustakaan yang boleh dipinjam dan dibaca, plus ruang untuk kegiatan pertemuan sederhana di lantai dua.

Hasilnya, layak disebut 'badai kehidupan'. Disitu saya belajar arti kawan.

Friday, July 17, 2015

Nenek Di Gerbang Mesjid

Sumber. forrerinteriors.com

Nenek itu duduk dengan tenang di gerbang halaman mesjid. Mukenanya sudah agak menguning dimakan usia. Bangku kayu yang didudukinya pun terlihat sama tua dengan dirinya.

Dari barisan jama'ah shalat Ied, saya bisa melihatnya memandang ke arah mesjid. Sesekali saya lihat ia mengedarkan pandangan kesekeliling, lalu kembali memandangi mesjid. Gema suara takbir, dan khutbah shalat Ied terus berkumandang. Saya ingat temanya adalah soal tanggung jawab kepada umat. tanggung jawab yang melekat di pundak kita semua, tak soal kita seorang ulama, atau preman pasar.

Sulit memfokuskan pandangan pada khatib, karena mata ini selalu beralih memandangi nenek di pintu gerbang. Beliau duduk disitu ketika saya baru melangkah masuk ke halaman masjid. Dan ketika khutbah, saya lihat beliau masih duduk di situ. Firasat saya, beliau belum beranjak dari awal.

Saturday, June 27, 2015

Bye Bye Blackbird 2

Source: pinterest.com
Pagi tadi saya bertekad untuk mencari rumah almarhumah Nana. Kemarin saat shalat Jum'at, saya bertemu teman, Aripin, dengan 'p' bukan 'f'. Dan pertemuan itu memang bukti bahwa tak ada yang namanyakebetulan di dunia ini. Segalanya terjadi dengan tujuan.

Saya teringat Arip tinggal di daerah yang setahu saya memiliki ciri-ciri seperti yang diceritakan Nana dalam postingan di blognya. Dekat danau, ada kebun kopi, dan pohon durian. Tidak terlalu banyak daerah seperti itu di seputaran kota Takengon, setidaknya kalau dikerucutkan dengan ceritanya bahwa dia bisa melihat pasar dari lantai dua rumahnya.

Dan saya menyesal kenapa tidak mencarinya dari dulu. Saya menemukannya hanya dengan dua kali bertanya saja. Pertanyaannya pun sederhana. "Maaf, Ine. Saya mau takziah ke tempat teman. Meninggalnya hari kamis. Baru pindah. Anak gadis."

Tapi saya bersyukur saya mencarinya hari ini. Kalau terlambat satu hari, mungkin tidak akan bertemu dengan Ummi. Saat saya datang, beliau sedang berkemas akan berangkat ke Banda Aceh. Rumah itu akan segera dikosongkan.

Friday, June 26, 2015

Bye Bye Blackbird


Source: inspiringwallpapers.net

Tulisan ini, diperuntukkan bagi seorang sahabat, yang telah pergi kemarin.

˜˜˜
-o0o-


Kupejamkan mata. Membiarkan semilir dingin angin pegunungan membelai lembut. Berita kepergiannya seperti badai sesaat di musim gugur. Sekilas lalu berlalu, tapi terkejutnya bertahan lama.

Baru beberapa hari kemarin kami berbagi cerita. Nana melukiskan wajah tersenyum ketika mengabarkan sakitnya yang membuat ia lama tak menulis. "Entah hari keberapa, dan untuk kesekian kalinya, laptopku jadi saksi maju mundurnya seorang Nana. Aku menulis, menulis, nulis, nulis lagi, tapi males banget klik publish. Sakit ini menghirup semua semangat."

Aku membuka mata, lalu melirik Wempy yang duduk menjuntaikan kaki di tembok pembatas rumah. "Dia sudah tidak perlu merasakan cemas yang dibawanya setiap hari, Wem."

Thursday, June 11, 2015

Kreatif Dari Lahir?

Beberapa hari kemarin, saya berkesempatan jumpa dengan salah satu orang muda paling kreatif di Aceh. Dan itu bukan sekedar memuji karena kenal, tapi prestasinya memang menunjukkan bahwa sebutan itu layak disematkan pada seorang Hijrah Saputra.

Terus terang saya tidak kenal dekat dengan Hijrah, tapi jadi lumayan sering berinteraksi sejak saya belajar nge-blog dan bergabung dengan Gam Inong Blogger, itu pun hanya di media sosial. 

Dalam dunia 'training'pun kelas kami berbeda,Hijrah termasuk trainer dengan bintang, bersinar dan dikenal sampai nasional. Saya sih kelas kampus aja. Bukan merendah, atau merasa rendah diri, ini kan bicara fakta.

Dan kalau boleh jujur, sebenarnya selama ini saya sendiri kebingungan dengan jalan yang ingin saya tempuh. Saya trainer, saya graphic designer, saya nulis, saya jadi reporter, saya (sempat) buka cafe, saya pernah usaha sayur mayur, dagang bakso, burger, sampai roti bakar. Semuanya, sebagian besar malah dijalani sekaligus, hasilnya ya serba tanggung.

Saturday, March 8, 2014

Menikmati Waktu Untuk Sendiri: 2 (Tamat)

Setelah Bang Umar pergi. Saya mulai mencoba melakukan apa yang dianjurkan Bang Umar. Pertama-tama tentu saja menyesap kopinya. Aroma kopi yang benar-benar harum membuat perasaan sedikit lebih nyaman. Pahit, tanpa gula. Lalu saya melihat keluar jendela.

Semula yang tampak hanyalah area perbelanjaan di Peunayong dengan barisan pembeli yang tampak sangat gembira. Saya memperhatikan lampu-lampu yang berkelap-kelip, beragam barang mewah di etalase, pembeli-pembeli yang sepertinya berasal dari kalangan berada, mobil mewah di tempat parkir.

Menikmati Waktu Untuk Sendiri: 1

Ketika Saya berada dipuncak kesuksesan dulu dengan sebuah Café, restoran Ikan Bakar, desain studio, Training Centre, dan bisnis sayur dan buah-buahan segar, saya tak pernah merasakan kekurangan teman. Selalu ada banyak orang yang bersedia menemani ketika saya melaksanakan rutinitas ngopi, minum kopi, setiap harinya.

Namun bersamaan dengan hilangnya penghasilan yang bisa dibagikan, satu per satu teman yang biasa menemani saya pun menghilang.

Saya kesulitan mendapatkan bantuan untuk memulai kembali usaha. Tiba-tiba saja banyak teman yang awalnya membantu bisnis saya dulu, atau dengan semangat menawarkan untuk menjadi rekan usaha, merubah kesepakatan dengan menyebut bantuan itu sebagai hutang yang harus segera dilunasi. Dan diatas segalanya, Saya merasa sangat malu pada istri dan anak-anak.

Friday, November 22, 2013

Mestinya Bukan Scary Poster

Semalam kami membawa Fatiya ke dokter, terpicu alergi mengakibatkan luka di telinganya. Sambil duduk menunggu panggilan untuk diperiksa, saya memperhatikan sekeliling. 
source: zazzle.com

Jleb, langsung perasaan jadi tidak nyaman. Mendadak cemas dan jadi nyeri tanpa sebab. Pasalnya, disekeliling ruang tunggu bertaburan poster yang menunjukkan luka infeksi yang memburuk pada anak, poster bertulisan IMUNISASI dengan berbagai anak dalam kondisi yang sakit dan menggenaskan -- juga mencemaskan--dengan wajah yang kuyu dan pucat, poster yang menunjukkan kondisi tubuh anak dengan gembung penyakit ntah apa. Dan banyak lagi poster-poster lain yang layak untuk dijuluki Scary Poster.

Saya tidak mengerti. Mungkin dokter ingin mengingatkan orang tua apa saja resiko penyakit yang mungkin terjadi pada anaknya. Tapi rasanya bukan begitu pilihan bijak untuk mendekorasi ruang tunggu, tempat sekumpulan orang tua datang dengan berbagai perasaan cemas, sambil membawa buah hatinya tercinta. Bahkan orang tua yang datang hanya untuk sekedar check up kesehatan anak pun akan merasa cemas. 

Saya membayangkan, alangkah membahagiakan bagi orang tua yang datang dengan perasaan campur aduk, ketika duduk diruang tunggu yang bernuansa ceria. Dengan warna yang membuat gembira, boneka dan berbagai pajangan yang mewarnai ruangan agar menenangkan bagi anak, dan juga orang tua. Perawat yang ramah dan mengerti psikologi anak. 

Come on, jangan bilang soal dana. Para dokter anak itu punya penghasilan yang besar dari praktek swasta begini. Seperti kata iklan, "Buat anak kok coba-coba.". Tidak ada orang tua yang memilih coba yang murahan tidak jelas buat pengobatan anak. Mahal pun jadi yang penting jelas terjamin.

Mestinya bukan Scary Poster yang menghiasi ruang tunggu. Tapi poster-poster yang ceria dan membuat anak gembira, dan orang tua terhibur. Dokter itu bukan hanya soal 'memancing' pembeli obat. Dokter itu mengobati hati dan fisik.

Thursday, November 14, 2013

Selekong Dua Lekong

Tuhan tahu saya bukan pengecut. Dulu saya termasuk orang yang sangat cepat emosi. Agak mudah untuk meledak dan siap untuk pasang badan berkelahi. Walaupun masa SMA saya anak baik di sekolah, tapi malamnya kami sering nongkrong dan tak segan cari keributan. Saat itu adalah masa rebelion, pemberontakan, nunjukin diri kalau kami eksis, ada, walaupun kurang ganteng dan bukan peraih nilai akademis tinggi.

Walaupun jujur juga kalau saya bandelnya rada aneh. Saya tidak suka bandelnya saya itu dengan teman-teman sekolah. Akibatnya saya hidup di dua dunia. Anak kurus ceking yang banyak bicara ngelawak tapi selalu mundur menjauh kalau teman-teman sekolah ngajak bikin ribut. Dan beberapa malam dalam seminggu ketika saya menghilang dari peredaran teman-teman sekolah, buat ngumpul dengan teman-teman nge-gank di satu tempat yang dulunya gudang ‘robur’, sebutan buat bus penumpang dalam kota. Busnya besar, merek mercedes benz, ronsokan empat buah bus itu jadi tempat ngumpul kami. Nanti suatu saat dimasa depan setelah itu (masa lalu kalau dilihat dari waktu sekarang) saya ketemu dengan salah satu dari teman di rongsokan bus. Jimmi, cewek tomboy yang suka ngomong kasar, tapi sebenarnya paling cepat iba dengan penderitaan orang. Jimmi yang mengompori saya saat jumpa di Jakarta, untuk bikin tatto. Pertama dan terakhir. Tatto kecil, yang saya hapus dengan cara menyakitkan pas menjelang menikah.

Tuhan tahu saya bukan pengecut. Meskipun setelah menikah saya masih emosional, tapi jadi teredam setiap kali ingat sekarang saya sudah punya istri, sudah punya anak-anak. Saya punya kewajiban jaga diri, supaya saya tidak menimbulkan beban buat keluarga. Saya wajib jaga diri, supaya saya (insyaallah) ada bersama mereka.

Lalu apa hubungannya dengan lekong. Bahasa ajaib milik para bencong, lady boy, banci salon, apapun istilahnya untuk menyebut mereka para laki-laki yang merasa dirinya adalah wanita?

Hubungannya adalah karena saya menulis tulisan ini, selepas tadi siang harus duduk disebuah ruangan, karena mengantarkan design nama salon. Duduk diam dengan keringat dingin, karena dikelilingi oleh enam orang banci. Saya kerumah itu, rumah seorang teman yang akan membuka salon. Mereka baik. Sangat baik. Tidak terlihat terlalu menyeramkan. Walaupun dengan tangan kekar berotot, pipi dan dagu yang walau ditutupi bedak dengan baik, masih menunjukkan rona hijau bekar bercukur, agak membuat kesan kontras yang menyeramkan. Mereka baik, tidak menutup pintu. Namun sumpah, saya selalu kurang nyaman, bila berada diruangan tertutup dengan yang namanya banci.

Banciphobia, mungkin itu namanya. Dan itu sudah sejak saya kecil. Saya selalu takut melihat laki-laki berpenampilan perempuan itu. Bukan karena membenci mereka, bukan juga karena merendahkan mereka. I don’t know the reason.

Ga nyaman yang sangat besar, sampai ke level menjadi takut. Lalu satu hal terjadi, dan merevolusi pandangan saya tentang mereka. Naik kelas satu tingkat.

Seorang banci yang sebelumnya bermake-up tebal, keluar dari kamar mandi. Wajahnya bersih dari make up. Sambil tersenyum dia mengangguk ke saya, lalu berkata kepada teman-temannya, “..udah kosong tu.”

Teman-temanya tersenyum dan beranjak meninggalkan saya, satu persatu mereka menghilang ke kamar mandi, dan keluar dengan wajah basah, bersih dari make up. Bergantian. Dan dari tempat saya duduk saya lihat mereka menuju ryuang tengah. Mengenakan baju kemeja rapi, kain sarung, bahkan seorang dari mereka mengenakan baju koko. Lalu berdiri dalam barisan, dan shalat berjamaah. Berjamaah seperti seharusnya laki-laki.
Thai Ladyboy -Treechada Petcharat
Saya terdiam, terlepas dari phobia pada mereka, saya kagum.

Saya pernah membaca, dalam buku berjudul ’75 dosa-dosa besar’. Salah satunya adalah laki-laki menyerupai perempuan, atau perempuan yang menyerupai laki-laki. Artinya berpenampilan meniru yang tidak sesuai dengan kodratnya. Tapi terlepas dari itu, mereka shalat. Shalatnya bukan pura-pura menjadi wanita, bermukena. Mereka shalat sebagai layaknya laki-laki.
Saya tidak ingin menghakimi, pengetahuan agama saya terbatas. Biarlah urusan itu Allah saja yang menilainya.Yang jelas, saya belajar lagi. Tidak ada orang yang sempurna baik, atau sempurna tidak baik. Setiap kita punya kurang lebih. Jadi tak ada alasan untuk berfikir kita lebih baik.

Sayangnya, kita masih sering melakukannya.

Start typing and press Enter to search