Post Ad Area

Post Home Style

Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Wednesday, November 23, 2016

Berhenti Saja Untuk Apa Kuliah

graduation

Beberapa waktu kemarin lini masa sosial mediaku bertabur foto-foto ceria. Wajah gembira karena telah menjadi peserta perhelatan istimewa, wisuda. Ragam rona dan gaya tersaji. Wajah sederhana yang mendadak meriah penuh pulasan warna. Atau baju sewaan yang menguras tabungan. Jas, dasi, anggaran khusus untuk jamuan selepas acara. Facebook, twitter, instagram. Semua larut dalam selebrasi euforia kelulusan.

Tapi selepas itu apa? Sebagian dari mereka menemukan dirinya tercenung dalam barisan panjang pencari kerja. Atau duduk termenung di balik meja, ketika sarjana Teknik Pertamanan banting stir menjadi pegawai di usaha Laundry milik Pak Mukidi, yang SMP pun tak tamat.

Friday, August 14, 2015

Memilih PKS

Di sudut sana mencaci maki, di sudut sebelahnya lagi memprovokasi. Baca ke timeline yang itu isinya mengolok-olok Islam, menggunakan ilmunya malah untuk menebar kekacauan. Berbalik ke timeline yang lain jumpa dengan para fanatik.

Giliran baca inbox malah berjumpa dengan kawan yang tanpa mau repot bertanya langsung menghakimi. Pasalnya sangat sederhana. Beberapa status yang menampilkan hal baik tentang pak Jokowi, tak peduli seberapa kebetulannya hal baik itu muncul. 

Politik, kisruh sosial, konspirasi, saling cela, dan maki. Padahal sudah beberapa kali saya jelaskan, posisi saya saat ini adalah memilih PKS.

Friday, July 17, 2015

Nenek Di Gerbang Mesjid

Sumber. forrerinteriors.com

Nenek itu duduk dengan tenang di gerbang halaman mesjid. Mukenanya sudah agak menguning dimakan usia. Bangku kayu yang didudukinya pun terlihat sama tua dengan dirinya.

Dari barisan jama'ah shalat Ied, saya bisa melihatnya memandang ke arah mesjid. Sesekali saya lihat ia mengedarkan pandangan kesekeliling, lalu kembali memandangi mesjid. Gema suara takbir, dan khutbah shalat Ied terus berkumandang. Saya ingat temanya adalah soal tanggung jawab kepada umat. tanggung jawab yang melekat di pundak kita semua, tak soal kita seorang ulama, atau preman pasar.

Sulit memfokuskan pandangan pada khatib, karena mata ini selalu beralih memandangi nenek di pintu gerbang. Beliau duduk disitu ketika saya baru melangkah masuk ke halaman masjid. Dan ketika khutbah, saya lihat beliau masih duduk di situ. Firasat saya, beliau belum beranjak dari awal.

Thursday, June 11, 2015

Kreatif Dari Lahir?

Beberapa hari kemarin, saya berkesempatan jumpa dengan salah satu orang muda paling kreatif di Aceh. Dan itu bukan sekedar memuji karena kenal, tapi prestasinya memang menunjukkan bahwa sebutan itu layak disematkan pada seorang Hijrah Saputra.

Terus terang saya tidak kenal dekat dengan Hijrah, tapi jadi lumayan sering berinteraksi sejak saya belajar nge-blog dan bergabung dengan Gam Inong Blogger, itu pun hanya di media sosial. 

Dalam dunia 'training'pun kelas kami berbeda,Hijrah termasuk trainer dengan bintang, bersinar dan dikenal sampai nasional. Saya sih kelas kampus aja. Bukan merendah, atau merasa rendah diri, ini kan bicara fakta.

Dan kalau boleh jujur, sebenarnya selama ini saya sendiri kebingungan dengan jalan yang ingin saya tempuh. Saya trainer, saya graphic designer, saya nulis, saya jadi reporter, saya (sempat) buka cafe, saya pernah usaha sayur mayur, dagang bakso, burger, sampai roti bakar. Semuanya, sebagian besar malah dijalani sekaligus, hasilnya ya serba tanggung.

Friday, November 22, 2013

Mestinya Bukan Scary Poster

Semalam kami membawa Fatiya ke dokter, terpicu alergi mengakibatkan luka di telinganya. Sambil duduk menunggu panggilan untuk diperiksa, saya memperhatikan sekeliling. 
source: zazzle.com

Jleb, langsung perasaan jadi tidak nyaman. Mendadak cemas dan jadi nyeri tanpa sebab. Pasalnya, disekeliling ruang tunggu bertaburan poster yang menunjukkan luka infeksi yang memburuk pada anak, poster bertulisan IMUNISASI dengan berbagai anak dalam kondisi yang sakit dan menggenaskan -- juga mencemaskan--dengan wajah yang kuyu dan pucat, poster yang menunjukkan kondisi tubuh anak dengan gembung penyakit ntah apa. Dan banyak lagi poster-poster lain yang layak untuk dijuluki Scary Poster.

Saya tidak mengerti. Mungkin dokter ingin mengingatkan orang tua apa saja resiko penyakit yang mungkin terjadi pada anaknya. Tapi rasanya bukan begitu pilihan bijak untuk mendekorasi ruang tunggu, tempat sekumpulan orang tua datang dengan berbagai perasaan cemas, sambil membawa buah hatinya tercinta. Bahkan orang tua yang datang hanya untuk sekedar check up kesehatan anak pun akan merasa cemas. 

Saya membayangkan, alangkah membahagiakan bagi orang tua yang datang dengan perasaan campur aduk, ketika duduk diruang tunggu yang bernuansa ceria. Dengan warna yang membuat gembira, boneka dan berbagai pajangan yang mewarnai ruangan agar menenangkan bagi anak, dan juga orang tua. Perawat yang ramah dan mengerti psikologi anak. 

Come on, jangan bilang soal dana. Para dokter anak itu punya penghasilan yang besar dari praktek swasta begini. Seperti kata iklan, "Buat anak kok coba-coba.". Tidak ada orang tua yang memilih coba yang murahan tidak jelas buat pengobatan anak. Mahal pun jadi yang penting jelas terjamin.

Mestinya bukan Scary Poster yang menghiasi ruang tunggu. Tapi poster-poster yang ceria dan membuat anak gembira, dan orang tua terhibur. Dokter itu bukan hanya soal 'memancing' pembeli obat. Dokter itu mengobati hati dan fisik.

Wednesday, November 20, 2013

Hoegeng


Mantan Presiden RI, K.H.Abdurahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa, di Indonesia ini hanya ada Tiga Polisi Jujur. Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Hoegeng.

Hoegeng, saya merasa banyak yg tidak kenal lagi dengan sosok yg pernah menjabat sebagai Kapolri dan Sekretaris kabinet Republik Indonesia ke-2 ini. Dan jujur saja, saya pun tak akan tertarik mencari tahu apa itu (siapa itu) Hoegeng, sampai ayah saya mengatakan, ini polisi paling jujur yang pernah ada di Indonesia.

Dan membaca kisah Hoegeng, pejabat yang kejujuran dan anti korupsinya terbukti. Saya tak bisa tidak, menjadi kagum, bahkan terinspirasi, terutama melihat dedikasi dan kesungguhannya pada jabatan, amanah rakyat, dan ketegasan untuk hidup bersih. Bayangkan, saat menjadi pejabat, bahkan anak-anaknya menjual kue asongan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, pak Hoegeng sendiri bahkan pernah terpaksa menjual sepatu miliknya untuk memenuhi kebutuhan rumah. Pak Hoegeng juga selalu menolak grativikasi atau menolak menggunakan fasilitas negara untuk kebutuhan pribadi. Hingga pensiun pak Hoegeng tidak punya tabungan, hanya mewariskan pensiunnya yang tak seberapa, yang diambil oleh istrinya setiap bulan.

Dilahirkan dari keluarga amtenaar atau pejabat pemerintah hindia belanda, Hoegeng Iman Santoso jelas berada dalam barisan priyayi. Namun sejak kecil Hoegeng tak perduli soal kelas dalam masyarakat, ia berteman dengan siapa saja. Panjang jika ingin membaca biografi umum Hoegeng, namun fokus tulisan saya ini pada beberapa kisah nyata kehidupan jujur yang membuatnya melegenda.

Bagi yang ingin membaca biografinya silahkan klik disini.

Ada berbagai kisah kejujuran dan --sekali lagi -- dedikasi untuk hidup bersih dari Pak Hoegeng. Pria multi bakat ini, pernah menjadi pemain drama radio, bisa karikatur dan jago bermain musik. Namun saat ia menjadi pejabat negara, Kepala Jawatan Imigrasi, ketika itu istrinya memiliki usaha toko bunga, Hoegeng meminta agar toko itu ditutup, karena tak ingin nanti toko bunganya jadi tempat banyak relasi membeli bunga, sehingga mempengaruhi kenyamanan ketika Hoegeng berkerja. Merry, istrinya sepakat, dan dengan sukarela menutup toko itu.

Dikesempatan lain, seorang anaknya suatu ketika ingin menjadi tentara. Ada surat ijin orang tua yang harus ditanda tangani sebelum mengembalikan formulir. Hoegeng tak mau menandatangani, akibatnya anaknya marah besar karena menganggap sang ayah tidak mendukung cita-citanya. Hoegeng menjelaskan kepada anaknya, "Walaupun itu surat ijin orang tua, namun tanda tangan ayah, akan menjadi alasan untuk memudahkan menjadi taruna."
Memang bagaimanapun saat itu, tanda tangan Hoegeng jelas akan menjadi 'jalur khusus' bagi anaknya. Hoegeng saat itu menjabat sebagai Kapolri.

Hoegeng memang terkenal tegas dan jujur. Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).
Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yg diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng bertindak. Kita tidak gentar menghadapi orangorang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng dalam bukunya, Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan.

Kasus lainnya yg menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Begitu berkuasanya si penjamin, hingga kejaksaan mem'peti es'kan.(maaf masih bingung cara tulis memetieskan atau mempetieskan, atau gimana) Tapi, Hoegeng tak gentar. Ketika kasus berikutnya terungkap, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan. Kasus ini diduga melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI.

Kasus ini juga diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Presiden Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Hoegeng sempat ditawari untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi. Hoegeng menerima pemberhentian dirinya secara mendadak itu dengan tanpa ribut-ribut.

Ketika dipensiunkan, Hoegeng kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam. Kata-kata itulah yang terus dipegangnya hingga akhir hayatnya.

Masa pensiun bagi banyak pejabat adalah masa menyenangkan, karena ada banyak kekayaan yang diperoleh selama masa tugas yang bisa dinikmati. Tapi itu tidak berlaku bagi Hoegeng yg anti disogok. Pria yg pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini, pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Bukan hanya sekedar mobil dinas, Hoegeng bahkan mengembalikan perengkat Handy Talkie, dan berbagai barang yang merupakan milik/inventaris negara.

Belakangan, atas parakarsa Kapolri setelahnya Komisaris Jenderal Polisi Drs. Moh. Hasan, Hoegeng mendapatkan rumah. Rumah yang kemudian menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian, di dem sesuai dengan peraturan yang berlaku. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yg kemudian menjadi satu-satunya mobil yg ia miliki. Pengabdian yg penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Bahkan pernah setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yg masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri.

“Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.

Aditya, salah seorang putra Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Hobi yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga.  Karena pensiunnya sampai dengan tahun 2001, hanya sebesar Rp. 10.000. Dalam acara Kick Andy, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000. Pada 14 Juli 2004, Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia yang ke 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya.



Saturday, February 19, 2011

Memilih ...



Teman, berbuat kebaikan pasti butuh biaya. meski sedikit berilah penghargaan :)

Tidak semua yg mau berbuat itu mapan hidupnya, tak jarang mereka harus mengecap penghinaan, dicela, dikejar2 hutang, namun dgn segala keterbatasan mereka masih ingin berbuat.

Mereka tak bisa jadi PNS, karena sadar investasi mereka hanyalah waktu yg luas, sehingga bisa diminta 'ngisi' kegiatan kapan saja.

Mereka terikat dgn tanggung jawab kata-kata pada orang lain, sehingga berjuang mencari rezeki yg halal, dan itu sulit, karena bahkan banyak yg membungkus dirinya dengan islam, mulai menghalalkan segala cara demi mendapat dana.

Mereka takut mengambil rezeki yg dibalut dengan sumber meragukan, apalagi yang dengan enteng beralasan "Kalo tidak kita ambil, orang lain yg ambil. Ingat, pada kita ini adalah untuk kebaikan, pada orang lain ini akan menjadi biaya kemudharatan."

Start typing and press Enter to search