Tuesday, December 13, 2016

Apa salahnya kalau berbikini di Aceh

bikini aceh


Apa salahnya kalau berbikini di Aceh. Kalimat yang menjadi awal obrolan sederhana antara saya dengan Kim. Setelah sempat bercakap-cakap mengenai perjalanannya selama empat hari menjelajah tepian danau Lut Tawar.
Kimberly, blasteran Vietnam dan Belanda. Mengaku sekian tahun menetap di ibukota negara ini, dan itu menjelaskan mengapa bahasa Indonesianya sangat lancar. Pulang ke kampung halamannya beberapa tahun lalu, Kim memutuskan akan menjelajahi beberapa kota di negara ini setamat kuliahnya.

Setelah Lombok, Bali, Bandung, perjalannyanya berpindah ke Sumatera. Danau Toba yang pertama, lalu Sabang, dan sekarang Dataran Tinggi Gayo.

Yang menemani Kim di Gayo, ternyata Nani, kawan saya saat kuliah dulu. Itu juga yang menjadi sebab kami akhirnya duduk semeja di Datu Coffee, tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.

Awalnya obrolan basa basi kesana kemari. Dari tempat-tempat di sekeliling danau, sedikit membahas mengenai bunga yang fotonya ditunjukkan Kim -- sedang bermekaran di tebing -- dan saya mengenalinya sebagai bunga yang sering disebut sebagai Sakura Gayo, sedikit obrolan soal kopi dan dimana bisa membelinya. Lalu obrolan jadi seru ketika kami membahas Pho Bo.

Kim sepertinya cukup terkejut. Jauh di pegunungan Gayo, ada bapak tiga anak satu istri yang tahu mengenai makanan khas Vietnam itu. Terlebih ketika kami ternyata membahas makanan yang sama dengan versi berbeda. Yang saya tahu ternyata Pho Bo yang menurut Kim bergaya selatan Vietnam. Semacam mieso dengan daging sapi, kuah kaldu, yang disajikan bersama piring pendamping berlimpah dengan daun-daun herba dan berbagai macam sayuran plus tauge. Kim yang orang Vietnam malah lebih mengenal Pho Bo itu betul-betul seperti mieso di sini. Disajikan dalam satu mangkok sudah sepaket dengan irisan daging sapi, kuah kaldu, sedikit sayur. Udah satu mangkok itu saja.

Lalu obrolan mulai lebih lancar, dan pertanyaan tadi tercetus. "Apa salahnya kalau aku berbikini di Aceh?"

Belajar dari pengalaman, saya memutuskan untuk menjawab jujur apa adanya. Agak panjang percakapannya. Tapi intinya saya menjelaskan mengenai Aceh sebagai sebuah provinsi yang sedang berjuang untuk menerapkan kembali peraturan bernafaskan Islam.

Seperti dugaaan saya, ketika dijelaskan begitulah peraturan masyarakat di sini. Gadis itu tersenyum, mengangguk dan mengatakan bisa menerima. Nani yang menemani mendadak menceritakan mengenai pengalamannya yang pernah membawa sekelompok turis asal Eropa, terutama bagian ketika seorang perempuan dalam rombongan itu marah dan mengomentari betapa 'terbelakang' dan 'sangat intoleran'nya Aceh. Dan itu hanya karena ia ingin berbikini ketika berjalan-jalan mengelilingi Sabang seperti di saat mereka di Kuta, Bali.

Iseng, saya bertanya pendapat Kim. Dan jawabannya mengejutkan.

"Sebagian orang terutama kulit putih memang belum bisa melepaskan diri dari pikiran bahwa selain jenis mereka, adalah manusia kelas rendah. Dan budaya serta kebiasaan mereka harus bisa diterima di tempat lain, kalau tidak maka tempat lain itu dianggap tidak berbudaya."

Kim menceritakan mengenai ayahnya yang ketika mereka pulang ke Belanda, dianggap eksentrik --dan oleh sebagian lainnya dinilai aneh -- hanya karena berkain sarung saat musim panas.

Saya sependapat dengan Kim. Beberapa kali berhadapan dengan turis asing yang menganggap bahwa adanya hambatan pada kebiasaan mereka seperti minum alkohol dan gaya berbusana membuat mereka menilai rendah Aceh. Hanya beberapa memang, yang bisa menerima dan enjoy dengan kondisi di sini lebih banyak sih.

Mengingatkan saya tentang sebuah tulisan dulu, tentang berpikiran terbuka. Tulisan tentang sebagian orang yang menganggap dirinya berpikiran terbuka, dan meminta orang lain memaklumi dan menerima dirinya yang berbeda, dan menilai itu sebagai bentuk berpikiran terbukanya orang lain. Tapi konyolnya mereka lupa, berpikiran terbuka itu arinya juga mereka harus bisa menerima ketika orang lain tidak begitu.

Mungkin pengaruh sejarah budaya dan peradaban ya. Efek dari kisah selama berabad-abad ketika orang kulit putih menganggap diri mereka sebagai pemimpin dunia.

Yang menarik adalah ketika sebagian orang, bahkan mereka yang jelas-jelas lahir dan besar di Aceh, mendadak menyuarakan hal-hal semacam kebebasan berbikini di pantai sebagai bentuk kemajuan dan toleransi.

Yang terpikir oleh saya hanyalah dua hal. Satu, hasil dari pemikiran yang miskin pemahaman budayanya sendiri sebagi orang Aceh, dan  pikiran yang tak punya pegangan itu terprogram ulang oleh 'agen' doktrinisasi budaya populer barat: film, konten media, majalah, hiburan dll. Sehingga meyakini kalau budaya sebelah sana lebih keren.

Dua, tren untuk menjadi 'pemberontak'. Lima tahun terakhir ini, mau tak mau kita memang melihat, ada semacam aliran pemikiran dalam pergaulan generasi usia 15-35 tahun. Rentangnya panjang memang, tapi trennya sama. Melawan arus itu keren.

Dan memang, dalam diri kita ada sisi nakal yang selalu berusaha untuk melawan. Saya tak tahu namanya apa. Tapi kita semua punya sisi itu. Bagian dari diri kita yang kadang-kadang menuntut untuk jadi nakal, bandel, melawan. Anti anturan yang berlaku, dan tak jarang itu hanya sekedar untuk menunjukkan kita tidak lemah. Sehingga ikut aturan pun kadang pakai melawan dulu, lalu patuh dengan catatan. Saya bisa saja melawan, tapi kali ini saya mengalah. Kurang lebih seperti itu.

Mungkin begitu juga dengan Berbikini di Aceh. Sebenarnya bukan berbikininya yang ingin dicapai. Tapi memberontaknya. Banyak dari turis, atau kita sendiri, berlibur sebagai waktu untuk lari dari tekanan pekerjaan, pendidikan, pergaulan. Pergi ke tempat yang jauh dari habitat yang biasanya. Ke daerah baru dimana kita untuk sesaat bukan staf bawahan pak anu, bukan mahasiswa yang sedang jungkir balik dengan perbaikan dan revisi dari dosen, bukan warga kampung yang selalu kebagian disuruh-suruh oleh mantan pejabat yang baru pensiun. Tempat dimana bisa lepas dari ikatan.

Sensasi melawan aturan, atau minimal mencela aturan, atau kesempatan untuk menjadi 'tangguh'. Ya, saya terpikir, ini mungkin soal sensasi saja. For once in a life time (semoga betul begitu tulisannya) bisa melawan arus, bisa tidak diatur-atur orang lain.

Ya, mungkin itu.

Entah kebetulan, atau mungkin kami memang memikirkan hal yang sama, Kim mendadak berkomentar. "Atau bisa jadi hanya karena tidak bisa menghargai aturan di tempat orang. Orang yang hanya hidup dan tahu dunianya sendiri."

Bisa jadi, Kim. Mungkin alasannya hanya itu.


  1. Tulisan yg bagus! Pemahaman pada arti keterbukaan, toleransi, dan penghargaan atas perbedaan antara orang barat dan timur berbeda. Harus ada dialog yg intens agar terjadi kesepahaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. :) Begitulah menurut saya, mas. Toleransi adalah menghargai dan memahami, serta mampu menentukan batas2nya. Bukan campur aduk dan kehilangan identitas.

      Terima kasih, sudah berkenan mampir.

      Delete
  2. Pada dasarnya kita sendiri yang membangun batas. Padahal kita sendiri yang harus mengatasi masalh tersebut. Contohnya, orang pakai pakaian ketat yang disalahkan orang tersebut tetapi napsu kita ada disalahkan tidak? Kita jangan lihat jika tdak sanggup tahan napsu atau memang kita yang cuma mikir itu saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, jadi intinya jagalah hati, gitu kan?

      Delete
  3. Kembali ke pepatah lama, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung..,! :D

    ReplyDelete
  4. Jangan sampai dimana bumi dipijak, tetep aja langitnya punya gue hehehe.

    ReplyDelete
  5. "Sebagian orang terutama kulit putih memang belum bisa melepaskan diri dari pikiran bahwa selain jenis mereka, adalah manusia kelas rendah. Dan budaya serta kebiasaan mereka harus bisa diterima di tempat lain, kalau tidak maka tempat lain itu dianggap tidak berbudaya."

    Ucapan Kim ini benar-benar mengingatkan saya lagi tentang persepsi diri orang kulit putih.

    Terima kasih sudah berbagi cerita

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search