Post Ad Area

Post Home Style

Tuesday, June 30, 2015

5 Hal Yang Harus Disiapkan Saat Nonton di Laptop

Nonton di laptop/PC adalah satu hal yang sudah menjadi bagian keseharian kita. Entah itu mahasiswa, ibu (atau ayah) rumah tangga, profesional, pedagang, dan banyak lagi. Kesibukan yang lumayan tinggi atau justru tidak adanya kesibukan, membuat aktifitas satu ini jadi pilihan praktis.

Tapi pilihan praktis ini bisa jadi masalah lumayan besar kalau tidak dipersiapkan dengan baik. Dari nonton yang terganggu karena hal 'sepele' sampai ke perang dalam rumah tangga.

Ada beberapa hal yang bisa disiapkan. Membuat nonton jadi menyenangkan, masalah pun bisa diminimalkan.

Saturday, June 27, 2015

Bye Bye Blackbird 2

Source: pinterest.com
Pagi tadi saya bertekad untuk mencari rumah almarhumah Nana. Kemarin saat shalat Jum'at, saya bertemu teman, Aripin, dengan 'p' bukan 'f'. Dan pertemuan itu memang bukti bahwa tak ada yang namanyakebetulan di dunia ini. Segalanya terjadi dengan tujuan.

Saya teringat Arip tinggal di daerah yang setahu saya memiliki ciri-ciri seperti yang diceritakan Nana dalam postingan di blognya. Dekat danau, ada kebun kopi, dan pohon durian. Tidak terlalu banyak daerah seperti itu di seputaran kota Takengon, setidaknya kalau dikerucutkan dengan ceritanya bahwa dia bisa melihat pasar dari lantai dua rumahnya.

Dan saya menyesal kenapa tidak mencarinya dari dulu. Saya menemukannya hanya dengan dua kali bertanya saja. Pertanyaannya pun sederhana. "Maaf, Ine. Saya mau takziah ke tempat teman. Meninggalnya hari kamis. Baru pindah. Anak gadis."

Tapi saya bersyukur saya mencarinya hari ini. Kalau terlambat satu hari, mungkin tidak akan bertemu dengan Ummi. Saat saya datang, beliau sedang berkemas akan berangkat ke Banda Aceh. Rumah itu akan segera dikosongkan.

Friday, June 26, 2015

Bye Bye Blackbird


Source: inspiringwallpapers.net

Tulisan ini, diperuntukkan bagi seorang sahabat, yang telah pergi kemarin.

˜˜˜
-o0o-


Kupejamkan mata. Membiarkan semilir dingin angin pegunungan membelai lembut. Berita kepergiannya seperti badai sesaat di musim gugur. Sekilas lalu berlalu, tapi terkejutnya bertahan lama.

Baru beberapa hari kemarin kami berbagi cerita. Nana melukiskan wajah tersenyum ketika mengabarkan sakitnya yang membuat ia lama tak menulis. "Entah hari keberapa, dan untuk kesekian kalinya, laptopku jadi saksi maju mundurnya seorang Nana. Aku menulis, menulis, nulis, nulis lagi, tapi males banget klik publish. Sakit ini menghirup semua semangat."

Aku membuka mata, lalu melirik Wempy yang duduk menjuntaikan kaki di tembok pembatas rumah. "Dia sudah tidak perlu merasakan cemas yang dibawanya setiap hari, Wem."

Wednesday, June 24, 2015

Grow Old With Some One I Love

Source : gettyimages.com
Awalnya kapan saya tidak ingat, tapi saya jatuh cinta dengan konsep travel dengan megendarai motor. Bukan sekedar naik motor apapun. Tapi motor dengan gaya bobber. Gaya klasik. Dengan ransel dan perlengkapan yang dipack dibelakang.

Jangan tanya kenapa. Tapi selalu menyenangkan membayangkan menyusuri jalanan dengan motor, angin yang berhembus, menikmati pemandangan. Berhenti di pantai atau kaki gunung, kemah, menyalakan api unggun untuk memasak makanan dan menjerang kopi.

Mendokumentasikan perjalanan itu, foto dan catatan. Menikmati kuliner khas atau brewing kopi lokal. Lalu menuliskan naskah dan menjadikan semua itu buku.

5 Tempat Yang Ingin Saya Kunjungi Di Indonesia


Ada banyak tempat yang setiap kita ingin kunjungi. Kadang-kadang alasannya tidak realistis, kadang lagi alasannya hanya sesuatu yang sentimental, kadang malah alasannya tidak jelas. 

Kalau dituliskan mungkin bisa puluhan, bisa ratusan malah. Tapi selalu menarik ketika kita coba mempersingkat menjadi 5 atau 7, atau 10. Membuat kita memikirkam kembali alasan dan prioritasnya.

First of all, semuanya adalah tempat liburan. Santai, bukan tempat yang harus dicapai dengan perjuangan fisik yang sulit dan penuh keringat. Ini tempat tujuan berlibur. Semestinya nyantai.

Karena kalau ingin yang butuh kerja keras, saya punya impian juga. Naik motor bergaya Jap Style, travel keliling sabang. Menjelajah pesisir dan wilayah pegunungan Aceh, lalu menulis buku tentang Aceh dan wisatanya. 

Monday, June 22, 2015

7 Hal Iseng Yang Pernah Saya Lakukan Saat Ramadhan

Source: freewallpaper.com

Bukan, saya bukan ingin nulis soal ibadahnya. Karena Puasa itu ibadah paling intim antara hamba dan Allah. Tak ada yang tahu. Begitu rahasia dan mesranya.

Sunday, June 21, 2015

Ada Waktunya Untuk Tutup Telinga Tutup Mata

Ada Waktunya Untuk Tutup Telinga Tutup Mata


Ada satu kenangan. Kejadian lama yang sebenarnya akan indah, bila bisa dilupakan. Tapi begitulah, kita sering melupakan hal-hal yang ingin kita ingat, tapi malah mengingat dengan jelas hal-hal yang ingin kita lupakan.


Saat itu tahun 2000. Tahun pertama di milenium baru. Demam dan isu Y2K sudah hilang, banyak ramalan tentang kiamat ekonomi terbukti hanya hoax. Dan saya sedang menata lagi kehidupan sehari-hari yang masih berputar pada masalah yang itu-itu saja.


Tahun 2000 saya masih menjadi penyiar di satu radio swasta. Mulai sadar bahwa bahwa meskipun saya berteman dengan para penyiar lain, kami sebenarnya hanya saling kenal. Tidak pernah betul-betul dekat. Yang lain, saya sepenuhnya sadar, teman dekat. Saya? kami teman. Saling kenal. Titik, cukup sampai disitu.


Hari itu saya menikmati buka puasa yang tidak menyenangkan. Ditipu mentah-mentah oleh seorang 'teman' di radio, yang meminta saya pergi ke sebuah acara buka puasa bersama di satu hotel. Diberitahukan disaat terakhir, terbirit-birit menuju hotel itu. Tiba tepat beberapa menit sebelum tanda berbuka puasa, hanya untuk menemukan bahwa nama saya tidak termasuk dalam 'undangan' untuk acara berbuka itu.




Akhirnya saya buka puasa dipinggir jalan, Cuma dengan segelas air mineral kemasan, yangs selalu ada dalam ransel saya. Karena sepanjang jalan itu, tidak ada kedai atau toko yang bisa saya temukan.


Disatu sisi, ingin rasanya marah, tapi disisi lain saya sepenuhnya sadar. Ada salah saya disitu. Meskipun saya tahu teman yang kebetulan memiliki jabatan di radio itu, entah karena sebab apa sangat tidak bisa akur dengan saya, tapi ketika dia memberitahukan bahwa saya diundang atas nama radio, saya percaya.


Meskipun saya tahu bahwa dia pasti akan lebih memilih mengirim petugas cleaning service ke pelatihan (dan itu sudah pernah dilakukannya), dibandingkan mengirimkan saya. Tapi jauh dibalik kesal dan marahnya saya karena diperlakukan tidak adil, karena dibenci, saya masih berharap akan mendapat pengakuan dari dia.


Belasan tahun kemudian, sekarang ini saya teringat lagi kejadian itu. Dan diam-diam saya berterima kasih pada teman itu. Setelah kejadian buka puasa yang menyebalkan itu, saya berhenti berharap akan mendapat pengakuan lagi dari dia (sebagai pejabat radio). Saya berhenti berharap akan mendapat kesempatan dikirim dan mendapat dana mengikuti pelatihan di Jakarta, atau kota-kota keren lainnya. Saya mulai mengumpulkan uang dari usaha kecil yang saya punya, dan membiayai diri sendiri untuk ikut pelatihan ini dan itu.


Bahkan saya menutup mata terhadap caci maki dan sindiran yang dia ucapkan soal kualitas siaran saya. Terkadang terang-terangan di depan penyiar junior yang saya mentori, dikesempatan lain secara halus ketika kumpul para penyiar. Saya hanya fokus untuk menjalani siaran saya.


Dan alhamdulillah. Bukan hanya mendapatkan kesempatan dari salah satu lembaga pelatihan untuk menempuh pendidikan dua bulan di luar negeri. Saya juga mendadak menemukan nama saya terpilih sebagai penyiar favorit, dua tahun berturut-turut. Padahal saya tahu, dibanding penyiar cowok lainnya, saya kalah ganteng.


Ternyata ada saatnya memang. Ketika kita perlu fokus mengerjakan apa impian yang ingin kita capai. perlu untuk jadi 'tuli' sehingga kita bisa jalan dengan tenang menapaki impian kita. Dan karena tak terganggu dengan omongan orang-orang yang mencela dan berusaha menjatuhkan kita, kita malah mencapai keberhasilan.

Saturday, June 20, 2015

Di Antara Dua Titik



Ramadhan kali ini dimulai di Banda Aceh. Dan jujur saja, panasnya suhu udara, teriknya matahari, semua hal yang sebenarnya sangat saya rindukan, membuat awal puasa ini jadi lebih 'berasa'.

Sejak akhir 2013 saya memutuskan pindah ke Takengon. Kota yang berada di tengah pegunungan, tinggi jauh dari permukaan laut, dan udaranya dingin. Dua tahun di Takengon, membuat badan saya mulai tidak terbiasa dengan udara panas khas pesisir.

Padahal saya merindukan udara pesisir. Saya merindukan laut dan pantainya. Saya merindukan wilayah yang bahasa pergaulanannya lebih saya pahami. Saya merindukan Banda Aceh dengan segala kurang lebihnya.

Konyolnya. Walaupun saya sudah tidak terbiasa lagi dengan udara panas khas pesisir, saya belum sepenuhnya beradaptasi dengan udara dingin yang menusuk di pengunungan. Setiap pagi di Takengon saya terbangun dengan hidung mampet, sedikit demam, dan kepala yang sakit. Setiap pagi ritual standar setelah shalat subuh dan mengaji, adalah menyesap secangkir kopi panas. Sambil bergelung dalam selimut atau jaket, dengan kain sarung melingkari leher. Semuanya demi menghadapi udara pagi yang kadang dinginnya luar biasa.

Tiga hari ini, kembali menghadapi panasnya pesisir, membuat saya mulai berpikir tentang hidup. Mungkin karena usia sudah 36 tahun, berpikir tentang kualitas hidup dan kualitas saat mati nanti jadi salah satu hal yang mulai rutin saya lakukan. Terlalu cepat? Bisa jadi. Kata orang barat, life begin at 40. Kata Mantri Puteh, hidup seorang laki-laki dimulai ketika disunat.

Berpindah. Hijrah dari Banda Aceh ke Takengon. Dari pesisir ke pegunungan, dari hidup sebagai trainer dan pembicara menjadi ayah rumah tangga (belakangan ditambah dengan dagang kopi Havennoer, dan kembali ngeblog). Perubahan dan perpindahan. Dan semuanya punya cerita yang sama, penyesuaian.

Hidup juga begitu kan.

Kita selalu berusaha jadi lebih baik. Meningkatkan kualitas diri, atau minimal kualitas isi dompet (atau kuantitas?). Kita mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru, kita merubah kebiasaan, kita membangun kebiasaan-kebiasaan baru. Dan kemudian kita nyaman dengan hal baru itu. Kita jadi terbiasa, dan yang baru itu menjadi sesuatu yang normal. Lalu tanpa sadar kita macet dititik itu. Kita nyangkut di zona nyaman.

Dan hidup tiba-tiba menjadi kehilangan daya tariknya. Semua berubah jadi rutinitas.

Mungkin ini sebabnya dulu para ulama suka melakukan perjalanan. Ketika kita melangkah keluar dari zona nyaman kita, tiba-tiba kita dihadapkan dengan perubahan yang mengganggu kestabilan kita. Kita dipaksa untuk kembali siaga dan berdaptasi. Dan saat itu, tanpa kita sadari, kita mengaktifkan kembali naluri kreatif kita. Penyesuaian selalu lekat dengan kreatifitas. Ah, panjang kalau dijelaskan. Tapi intinya, perubahan selalu membawa kita pada sisi kreatif yang baru. Kita melihat hal-hal baru, atau hal-hal lama yang penting dan terlupakan. Antara kita belajar sesuatu yang baru, atau kembali mengingat hal yang lama.

Pulang ke Banda Aceh, kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan lama, tapi serasa baru karena saya sudah terbiasa dengan Takengon. Dan semuanya menjadi berbeda. Seolah saya melihat satu hal yang sudah lama saya punya, tapi dari sudut pandang baru. Dan itu menyenangkan.

Ternyata kita memang butuh untuk sesekali keluar dari zona nyaman kita. Kita perlu berdiri anatra dua titik. Seperti saya yang untuk sesaat berdiri antara Banda Aceh dan Takengon. Saya yang untuk sesaat, bukan orang Banda, bukan juga orang Takengon. Dan saat itu, saya bisa melihat banyak hal, yang selama ini tidak terlihat padahal terpampang jelas.

Thursday, June 18, 2015

Dimulai Dari Nol, Ya.

Source: 961theeagle.com

Ramadhan kali ini lebih berasa. 

Itu deskripsi yang paling pas untuk menggambarkan apa yang saya rasakan. Bukan saja karena ini Ramadhan kedua saya bisa menghabiskan waktu penuh dengan istri dan anak-anak, tapi juga karena kali ini ramadhan dijalani dengan persiapan yang lebih mapan.

Sejak sebelas bulan lalu, sejak ramadhan tahun kemarin, yang berjalan berantakan jauh dari target yang direncanakan, saya mulai dengan coba membangun persiapan. Iya, persiapan untuk ramadhan tahun ini. Bukan secara materil, tapi persiapan yang lebih difokuskan ke orangnya.

Dimulai dengan jujur pada diri sendiri. Coba melihat siapa diri saya, dari sisi yang sejujur-jujurnya. Kalau dijabarkan, mungkin jadi novelet, tapi intinya saya mulai dengan berdamai dengan diri sendiri.
Akan sulit mempersiapkan diri menghadapi ramadhan, yang sebenarnya adalah perang besar antara saya yang ingin jadi lebih baik dan diri saya yang lebih suka menurutkan ajakan pada godaan demi godaan.

Saturday, June 13, 2015

My Movie List : a Thousand Word

Saya pernah menuliskan -- entah dimana -- bahwa berbicara adalah senjata yang mengerikan. Bisa melipat gandakan kebaikan, atau mengamplifikasi kejahatan. Dan sampai hari ini saya masih mempercayainya. 

Buktinya banyak, sangat banyak. Contohnya saja Hitler, bukan bangsa jerman murni, namun mampu mengangkat dirinya menjadi pemimpin tertinggi. Lihat video orasinya di youtube, tanpa paham apa yang dikatakannya, tapi caranya berbicara memang mampu membakar semangat. Indonesia punya Soekarno, yang kehadirannya diakui dunia, dihormati oleh banyak negara, bahkan setelah tiada, kedekatan dengan namanya saja masih memberikan efek yang kuat.

Film ini, saya suka karena membahas mengenai 'berbicara'. Dan pelajaran tentang bagaimana kita melupakan bahwa setiap kata-kata kita itu sebenarnya berharga.

Ceritanya sederhana. Jack Mc Call (Eddie Murphy) adalah seorang agen penerbitan yang sangat egois. Kemampuan berbicaranya yang sangat baik, dan keahliannya untuk membuat lawan bicara tidak sempat menjawab banyak, membuat sering berhasil mendapatkan perjanjian penerbitan buku. Jack mengincar seorang penulis spiritual, Dr. Sinja, seorang guru New Age, yang dianggapnya akan mampu menjadi sumber kesuksesan Jack berikutnya.

Profit, profit dan profit. Jack hanya memfokuskan seluruh kehidupannya untuk mencari keuntungan. Bahkan mengesampingkan perhatian pada orang-orang terdekatnya. Caroline Mc Call, istri Jack, akhirnya menyerah dan memutuskan pergi.

Apakah ceritanya hanya begitu saja? Jelas tidak. Cerita baru dimulai ketika Jack dalam upayanya mendekati Dr. Sinja, berurusan dengan sebatang pohon di kediaman Sinja. Pohon itu ternyata pohon ajaib, dan mendadak berpindah dari kediaman Sinja, lalu muncul di halaman rumah Jack.
Disinilah cerita menjadi menarik. Pohon itu ternyata memiliki hubungan dengan kebiasaan Jack untuk bicara sesukanya. Setiap helai daunnya senilai satu kata. Dan setiap Jack berbicara satu kata, maka satu helai daunnya gugur. Sinja mengatakan bahwa ketika semua daunnya gugur, maka Jack akan mati.

30 Day Ramadhan Blogging Challenge

Ramadhan sebentar lagi. Semoga diizinkan berjumpa dan lulus dari ramadhan kali ini dengan nilai memuaskan.

Setiap ramadhan, saya sama seperti ribuan orang lainnya, membuat catatan soal apa yang ingin dilakukan dalam ramadhan. Dan sama seperti ribuan lainnya, setiap minggu atau bahkan ada yang hanya berselang hari, catatan itu dikurangi. Selalu saja ada hambatan yang membuat target pencapaian terpaksa dikurangi.

Ramadhan ini inginnya menjadi satu awal yang baru. Salah satunya dengan target pencapaian. Saya bertekad ramadhan kali ini, tidak akan mencoret target dengan alasan tak bisa dilakukan, kecuali kalau memang ada uzur syar'i, alasan yang memang dibenarkan dan memang tak bisa ditawar.

Satu hal yang selama ini saya sadar, terlalu banyak ikut pelatihan motivasi yang (sebagian) hanya menjual mimpi --karena ada sebagian yang memang beneran pelatihan yg bagus -- membuat saya menjadi manusia tidak realistis. Menciptakan target tidak terukur, yang seolah dengan kerja keras semata akan tercapai. 

Thursday, June 11, 2015

Kreatif Dari Lahir?

Beberapa hari kemarin, saya berkesempatan jumpa dengan salah satu orang muda paling kreatif di Aceh. Dan itu bukan sekedar memuji karena kenal, tapi prestasinya memang menunjukkan bahwa sebutan itu layak disematkan pada seorang Hijrah Saputra.

Terus terang saya tidak kenal dekat dengan Hijrah, tapi jadi lumayan sering berinteraksi sejak saya belajar nge-blog dan bergabung dengan Gam Inong Blogger, itu pun hanya di media sosial. 

Dalam dunia 'training'pun kelas kami berbeda,Hijrah termasuk trainer dengan bintang, bersinar dan dikenal sampai nasional. Saya sih kelas kampus aja. Bukan merendah, atau merasa rendah diri, ini kan bicara fakta.

Dan kalau boleh jujur, sebenarnya selama ini saya sendiri kebingungan dengan jalan yang ingin saya tempuh. Saya trainer, saya graphic designer, saya nulis, saya jadi reporter, saya (sempat) buka cafe, saya pernah usaha sayur mayur, dagang bakso, burger, sampai roti bakar. Semuanya, sebagian besar malah dijalani sekaligus, hasilnya ya serba tanggung.

Monday, June 8, 2015

My Movie List : Wonderful Radio (K-Movie, 2012)


Dari tidak terlalu banyak K-Movie yang saya tonton, film ini termasuk yang berada dalam daftar Bagus. Wonderful Radio. Mengangkat kisah dunia penyiar radio, film ini jelas punya nilai sentimentil buat saya.

Saya bukan penggila K-Movie, tapi jujur saya akui, saya kagum dengan beberapa film korea. jangan tanyakan rating atau apa film terbaru 2015. Kalau ada film korea yang saya tonton biasanya karena di copy-kan teman. Itu pun bila dari bagian-bagian awalnya saya tidak merasa film itu menarik, dengan cepat film itu masuk ke recycle bin.

Dan selama ini, naluri saya belum mengecewakan saya. Film-film korea yang saya tonton, semuanya layak untuk disimpan dan ditonton beberapa kali.

Friday, June 5, 2015

Tempat Rahasia Peunajoh Aceh dan Pengalaman Baru.



Entah sejak kapan, wisata kuliner di Banda Aceh jadi baku. Kalau makan mie aceh, umumnya Razali atau Mie Simpang Lima. Ngopi, ya di Solong. Sate pasti di Rex Peunayong. Dan banyak lagi tempat makan yang itu dan itu saja.

Dan jujur saja, itu menyebalkan. Saya seperti melihat orang yang kagum dengan sebutir batu giok padahal saat itu dia sedang berdiri di lembah yang sekelilingnya adalah gunung batu perhiasan.
Persis perasaan saya saat mendengar ada teman yang terkagum-kagum dengan pantai di Bali, padahal wilayah pesisir Aceh punya banyak pantai yang tak kalah indah. Atau mendengar teman cerita tentang makan pizza di gerai Pizza Hut ketika ke Kuala Lumpur (cuma itu sih di Banda Aceh juga ada).

Wednesday, June 3, 2015

Terjebak Romantisme L300




Saya punya satu folder khusus berjudul L300. Isinya lagu-lagu slow rock malaysia 80's-90's. Lagu-lagu yang sepertinya sudah menjadi trademark untuk menemani perjalanan dengan mobil angkutan umum antar kabupaten.

Search, Iklim, Slam, Wings, UK's, Exist, Spoon, Lestari, dan banyak lagi. Lagu-lagu yang sekarang sering di olok-olok oleh generasi 2000'an ke atas. Walaupun kenyataannya, banyak kejadian saya temukan adik kecil kita itu ternyata diam-diam bersenandung ketika mendengar lagu-lagu lama ini.

Sebenarnya bukan cuma dari negeri jiran malaysia sih, tapi kalau yg Indonesia ya tidak jauh-jauh dari Nike Ardila, Inka Christie, Dodi Dores, Anie Carera, dkk. Yang tipe lagunya, ya gitu-gitu juga, sebelas dua belas. Slow rock melow dengan nuansa melayu.

Start typing and press Enter to search