Wednesday, June 3, 2015

Terjebak Romantisme L300




Saya punya satu folder khusus berjudul L300. Isinya lagu-lagu slow rock malaysia 80's-90's. Lagu-lagu yang sepertinya sudah menjadi trademark untuk menemani perjalanan dengan mobil angkutan umum antar kabupaten.

Search, Iklim, Slam, Wings, UK's, Exist, Spoon, Lestari, dan banyak lagi. Lagu-lagu yang sekarang sering di olok-olok oleh generasi 2000'an ke atas. Walaupun kenyataannya, banyak kejadian saya temukan adik kecil kita itu ternyata diam-diam bersenandung ketika mendengar lagu-lagu lama ini.

Sebenarnya bukan cuma dari negeri jiran malaysia sih, tapi kalau yg Indonesia ya tidak jauh-jauh dari Nike Ardila, Inka Christie, Dodi Dores, Anie Carera, dkk. Yang tipe lagunya, ya gitu-gitu juga, sebelas dua belas. Slow rock melow dengan nuansa melayu.

Lagu sekarang bisa jadi lebih keren. Afgan, Judika, Vidi, dan banyak lagi. Aransemen musik yang jauh lebih maju, nada yang lebih up to date dengan gaya masa kini, dan berbagai keunggulan lainnya. Tapi seperti orang tua bilang, first you create habits, then habits create you.

Kita manusia hidup dengan aturan, dengan kebiasaan. Dan setelah bertahun-tahun, sulit rasanya melakukan perjalanan dengan L300 kalau lagu yang diputar berbeda. 

Saya sering melakukan perjalanan malam hari. Supaya bisa istirahat di mobil, dan sampai pagi hari bisa langsung beraktifitas. Kalau dulu, saat masih aktif menjadi trainer, ya langsung isi kegiatan. Atau sebelum pindah ke Takengon, sedangkan anak istri menetap di Takengon, perjalanan malam adalah trik untuk mengefektifkan waktu.

Dan soal rasa. Ada rasa tersendiri bagi saya. Mendengarkan lantunan musik bernuansa rock, namun vocalnya mendayu khas melayu. Sensasi yang lembut ketika musik itu dipadu dengan pemandangan malam hari. Lampu jalan yang melintas cepat ketika memasuki wilayah perkotaan atau pemukiman yang lewat dengan cepat di tepi jalan antar kabupaten.

Ada rasa yang khas ketika memandangi dari jendela mobil. Gelap yang tidak sepenuhnya pekat. Samar masih bisa terlihat bentuk pepohonan, kerlip cahaya dari rumah atau kota dikejauhan. Melintasi wilayah pegunungan, dan dari speaker perlahan terdengar petikan gitar mengawali lagu Sekelip Mata Kau Berubah darinya Lestari.

Syahdunya ku rasa di saat ini
Suasana sepi membisu
Tersentuh hatiku dibuai kenangan lalu
Ingin kuluahkan hasrat di hatiku
Sudikah mendengarnya

Sebenarnya engkau masih ku sayang
Biarpun tak dapat bersama
Kau masih kurindu seperti waktu dahulu
Aku mengharap agar engkau mengerti
Curahan rasa ini

...

Ah, walaupun terkesan melow, tapi nyaman. Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya yang 'terjebak' dengan romansa khas ini, romantisme yang muncul akibat kombinasi perjalanan dan alunan slow rock melayu.

Selalu menyenangkan, memandang keluar jendela, atau merebahkan kepala. Ditemani 'Taman Rasyidah Utama' dari Wings, 'Puteri Misteri' Search, atau 'Mencari Alasan'-nya Exist.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search