Wednesday, June 24, 2015

Grow Old With Some One I Love

Source : gettyimages.com
Awalnya kapan saya tidak ingat, tapi saya jatuh cinta dengan konsep travel dengan megendarai motor. Bukan sekedar naik motor apapun. Tapi motor dengan gaya bobber. Gaya klasik. Dengan ransel dan perlengkapan yang dipack dibelakang.

Jangan tanya kenapa. Tapi selalu menyenangkan membayangkan menyusuri jalanan dengan motor, angin yang berhembus, menikmati pemandangan. Berhenti di pantai atau kaki gunung, kemah, menyalakan api unggun untuk memasak makanan dan menjerang kopi.

Mendokumentasikan perjalanan itu, foto dan catatan. Menikmati kuliner khas atau brewing kopi lokal. Lalu menuliskan naskah dan menjadikan semua itu buku.

Mungkin ada yang penasaran apa itu motor dengan gaya bobber. Secara umum bobber adalah motor minimalis, dengan fender pendek. Penampilan motor sederhana hanya 'berhias' komponen yang utama saja.


Saya dapat gambar di atas dari fotomodifmotor.blogspot, dan persis dengan impian saya. Seandainya saya satu waktu punya kelebihan dana, setelah menyiapkan dana untuk pendidikan anak-anak, dana untuk tabungan bagi istri dan keluarga (saya selalu takut bila meninggal dan meninggalkan keluarga dalam beban, naudzubillahi min dzalik), dana untuk umroh, mungkin saya bisa membangun motor custom begini. Dasarnya thunder 125/250, meskipun tentunya dengan budget terbatas, tak akan jadi seperti itu.

Apakah artinya saya jenuh dengan keluarga lantas saya mau 'keluyuran' lagi seperti dulu? seribu persen tidak. Bagi saya keluarga adalah segalanya. Saya memikirkan perjalanan itu sebagai liburan.
Kalaupun mungkin tidak sampai menjelajah Aceh. Sekedar jalan-jalan dua hari.

Semua impian ini berawal dari keinginan untuk 'Grow Old With Some One I Love', menjadi tua bersama orang yang saya cintai, istri saya. Menikmati hari tua bersama, masih bisa bercanda dan konyol-konyolan berdua.

Mungkin nanti, saat anak-anak sudah besar. Kami, saya dan istri, dua orang tua ubanan, naik motor jalan-jalan. Hanya berdua. Berhenti di tempat kemping (moga-moga saat saya tua nanti tempat kemping seperti di eropa itu sudah ada), mendirikan tenda, masak di api unggun walaupun hanya sekedar mie instan pake telor, ngopi berdua, sambil bernostalgia tentang masa lalu.

Source: huffingtonpost.com
Saya tahu, semua itu punya kemungkinan sama besar antara terjadi atau tidak terjadi. Tapi bermimpi itu menyenangkan. Kita seperti meletakkan suar penanda arah yang ingin kita capai. Tercapai atau tidak itu urusan lain. Mengusahakannya, itu yang utama.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search