Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, December 27, 2012

Catatan Dari Dataran Tinggi Gayo: 1. Secubit Sisi Lain



Danau Lot Tawar, hal yang umumnya paling diingat, setelah kopi, oleh mereka yang berkunjung ke Takengon, atau dataran tinggi Gayo. Dan memang keduanya adalah ikon daerah yang mayoritas penduduknya suku Gayo. Suku lain yang juga memiliki angka populasi cukup besar adalah Jawa dan Aceh.
Pertama kalinya saya mengunjungi daerah pegunungan ini adalah tahun 1996, saat masih berstatus siswa SMU, dengan rombongan wisata sekolah. Saat itu hal pertama yang saya sadari adalah dinginnya yang luar biasa. Pada tengah hari pun, jaket masih akrab di badan. Bila pagi hari, nafas memutih ketika dihembus, dan asap tipis mengapung dari permukaan air di kamar mandi. Gunung-gunung disekitar kota dan sepanjang jalan lintas Bireun-Takengon, masih sangat padat dengan pepohonan. Saya ingat, kami semua sempat diteriaki oleh sopir bis sewaan yang kami tumpangi, ketika hampir separuh penumpang berpindah kesalah satu sisi bus. Pasalnya sederhana, terkagum-kagum melihat air terjun yang mengepulkan uap ditepi jalan yang kami lalui menuju Takengon air panas terjun.

Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, saya kembali mengunjungi Takengon untuk kedua kalinya. Dan sejak itu secara rutin beberapa bulan sekali kembali ke Takengon. Bolak-balik yang membuat saya tertarik dengan banyak hal yang tak saya dapatkan ketika berkunjung ke Takengon sebagai ‘wisatawan lokal’, sisi lain dari dataran tinggi Gayo.

Sekedar catatan, air panas terjun itu tidak lagi saya temukan dan Takengon tidak sedingin dulu lagi.


Jalan dan Keahlian.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, pembangunan jalan lintas dan jalan utama di kota Takengon berkembang pesat. Setelah melewati tikungan yang berkelok dari Paya Tumpi untuk kemudian memasuki ‘gerbang’ kota Takengon, pemandangan yang menyambut cukup indah. Terutama bila kita memasukinya saat malam hari, atau dini hari bila menggunakan mobil penumpang L300. Barisan lampu jalan dengan tiang yang menjulang dan warna kuning yang eksotis, dipadu dengan dingin dan segarnya udara pegunungan memberi kesan yang dalam. Jalan aspal yang lebar dan mulus itu, mengecil ketika memasuki wilayah pusat kota.
Dan jalan mulus itu ternyata bukan milik semua warga. Begitu berbelok memasuki lorong-lorong, jalan menjadi sempit, penuh lubang. Dibeberapa perkampungan, jalan semen menggantikan jalan aspal. Jalan yang tak jarang sempit dan berliku dengan sudut yang mencengangkan, dibutuhkan manuver dan keahlian tinggi untuk berkendaraan diperkampungan yang rata-rata sangat padat penduduk. Rumah-rumah dengan ukuran yang kecil, dibangun seadanya, tanpa memikirkan secara optimal aspek keamanan, dan tak jarang seolah tumbuh dan berkembang. Karena dari sebuah rumah berlantai satu, lantai duanya bisa dibangun mendadak, dan sedikit menumpang keatap tetangga.Memang beberapa pemukiman terlihat indah, dan lumayan rapi, namun kebanyakan warga menetap diperumahan yang sangat sederhana model begini.
Seolah tantangan manuver masih belum cukup, jalan semen ini tak jarang ditambah lagi dengan kemiringan yang memukau. Kampung Blang Kolak II, salah satunya. Hanya berjarak 10 meter dari jalan raya, berbelok memasuki lorong, jalan semen menanjak sekurangnya 45°, bahkan bisa lebih miring lagi. Mengendarai motor mendaki jalan seperti itu, jelas butuh keahlian. Sekedar tambahan, jalan itu juga berbelok dan berlubang. Jalan model begitu juga bisa ditemukan di Kampung Takengon Barat, Kampung Balee, dan beberapa lainnya.




Bukan Cuma di Hongkong.
Selain terkenal sebagai pusat belanja, tempat dengan gaji tinggi bagi pramuwisma sehingga TKW Indonesia berbondong-bondong dan berjamaah datang, dan salah satu icon trendsetter dunia. Hongkong juga terkenal dengan bangunan yang dibangun tumpang tindih, sehingga tak jarang sambung menyambung, dengan lorong yang naik turun dan rumit, menciptakan labirin wilayah kekuasaan dunia hitam yang bahkan aparat keamanan terlatih pun enggan memasukinya.

Kesampingkan dunia hitam, kesampingkan jumlah lantai yang menjulang ke atas. Pemukiman padat di Takengon pun memiliki kerumitan dan kondisi yang tidak kalah unik. Terletak jauh di belakang bangunan megah di pusat kota, atau di belakang pasar, atau tumbuh memanjang di sepanjang aliran sungai, area perumahan yang rapat terbentuk. Lorong yang sambung dan putus tanpa aturan. Rumah yang kadang hanya berukuran 3x4 meter namun berlantai dua, dibangun berdempetan. Rata-rata berbahan kayu atau triplek. Struktur penopangnya tak jarang seadanya. Saling menopang dengan rumah atau bangunan disebelahnya. Ada juga yang menempel di dinding pagar bangunan lain, gudang atau pagar dari bangunan instansi pemerintah. Beberapa bahkan layak untuk disebut pemukiman domino, karena setiap bangunan, mengandalkan topangan dari bangunan di kiri kanannya, salah sedikit, bisa mengakibatkan kerusakan yang besar. Hati-hati bila berjalan, salah belok, bisa-bisa keluar dari tempat yang jauh dari tujuan awal.

Pemandangan yang jarang ditemukan bila dilihat dari tengah kota. Beberapa karena letaknya di tengah pasar, terhalang dengan pasar yang mengelilinginya. Yang lainnya karena tumbuh di balik deretan bangunan perkantoran. Tapi bila kita coba memutar dari sisi lain kota Takengon, membelok memasuki wilayah Asir-asir, memandang keseberang sungai peusangan yang berhulu dari danau Lut Tawar, barisan perumahan rapat dengan atap seng berkarat akan terlihat jelas.

Bunga-bunga Takengon.
Takengon itu penuh bunga, kata seorang teman. Meskipun saya faham yang dimaksudnya adalah dara-dara cantik dataran tinggi Gayo. Tapi saya setuju karena memang bunga adalah salah satu hal yang menarik pandangan bila berkunjung ke Dataran Tinggi Gayo.
Coba susuri jalanan melintasi Takengon, apakah nanti memutuskan berbelok memutari pinggiran danau Lut Tawar, yang hanya menghabiskan waktu 2 jam dari sisi ke sisi, ataupun terus melintas membelah kota takengon menuju seberang sana ke Bies atau Silih Nara. Bunga dan berbagai tanaman akan menjadi teman di sepanjang jalan.

Kebun Jeruk. Lokasi: Lukup Badak
Yang pasti paling terlihat adalah barisan cemara, tanaman pendatang yang dibawa Belanda dan kini mendominasi lereng-lereng pegunungan disekitar kota. Di belakangnya, memenuhi pegunungan yang lebih tradisional, belum dirambah oleh tanaman pendatang, pohon-pohon hutan tropis menatap pemukiman dibawah mereka, hijau gelap dengan selingan warna yang lebih muda di beberapa tempat, bersisian juga dengan lahan perkebunan masyarakat. Hijau sepanjang tahun. Tak ada musim gugur disini yang memerah dan jingga kan dedaunan. Hanya ketika musim panen tiba, jingganya tomat, merahnya cabai, dan kuningnya jeruk Gayo mewarnai celah-celah hijau.

Morning Glory liar
Di sepanjang jalan,  Bunga Tasbih dan Dahlia menyemarakkan dengan ragam warnanya, kuning terang, merah cerah, merah dengan semburat warna kuning, jingga, ungu dan beragam gradasi warna biru. Bunga Dahlia di Takengon mekar dengan sempurna, lapisan setiap kelopaknya bisa mencapai seukuran jari kanak-kanak. Di beberapa tempat Kembang Kenop kuning dan putih muncul dengan rendah hati. Morning Glory liar sebaliknya dengan penuh keyakinan merambat hampir disemua tempat, pagar kebun, batang pisang dan pohon Petai Cina, bunga ungu tanaman rambat ini mengelayut manja nyaris dimana saja. Diatas mereka, ditepi jalan atau di pinggiran kebun, Brugmania Uaeolens berayun tenang dengan bunga terompet berwarna kuning lembutnya.
Bunga-bunga liar lainnya, tak dikenal namanya, juga semarak disela tanaman kebun, pagar, dan pinggiran saluran air.

Menyusuri kota Takengon dan sekitarnya, ada banyak hal menarik. Sisi lain yang lebih banyak lagi dari sekedar hanya mengunjungi danau Lut Tawar. Beberapa teman memilih mendaki Bur Gayo dan berfoto di Gayo Highland (‘d’ nya terkapar dan belum diperbaiki). Yang lainnya memilih mencoba mengeksplorasi beberapa gua alam, selain hanya berkunjung ke Gua Putri Pukes dan Loyang. Meskipun ada juga yang jauh-jauh datang, untuk mancing di tengah danau.



Bersambung : Catatan Dari Dataran Tinggi Gayo: 2. Secangkir Kopi dan Jelajah Kuliner

Thursday, June 14, 2012

Kita Berharga

image source : gettyimages
" Yang merasa dirinya berharga, silahkan tunjuk langit " Satu permintaan sederhana saya pada peserta training. Dan hanya sembilan orang yang mengancungkan tangan. Realitas yang menyedihkan bagi sebuah bangsa yang besar.


Bukan salah kita ketika enggan menyatakan diri berharga. Sejak belia, kita dipaksa untuk tidak merasa berharga.
Ingatkah, ketika kita masih kanak-kanak, saat dengan ceria dan bahagia, kita menggambar pemandangan dengan imajinasi yang membuat Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni tercengang kagum. Kita melukiskan landscape padang rumput ditepi pantai yang begitu berwarna. Pohon-pohon yang merah dengan dedaunan ungu, rumput berwarna kuning, matahari biru yang tersenyum, awan coklat yang berarak tinggi, gajah bersayap -- sedang menemani harimau yang juga bersayap -- terbang diantara burung merpati. dibawahnya lautan hijau dengan ikan-ikan berwarna pelangi. Dan karya seni luar biasa itu dihempaskan oleh pernyataan beberapa guru, yang kebetulan menjadi guru bukan karena ingin mendidik tapi sekedar mencari nafkah. " Kamu salah nak, pohon itu coklat, daun hijau, bla bla bla bla ... begitu seharusnya."
Kreatifitas dan percaya diri kita dikikis bertahap. Dan hasilnya, bila kita diminta menggambar pemandangan saat mengikuti sebuah training, hasilnya rata-rata hampir sama. Dua gunung, dengan pohon dikaki gunung, jalan raya, dengan sawah di kiri kanannya. tidak lupa awan dan matahari diantara gunung. Entah baru terbit atau akan terbenam.

Dengan berbagai versi, kejadian ini berulang terus. Dimasa kanak-kanak, dimasa remaja, saat menjadi dewasa secara usia. Terus berulang. Tidak lagi hanya melalui obrolan langsung, industri media yang bekerja sama dengan dunia (industri) hiburan dan (industri) kecantikan, mencecar kita dengan standar yang hanya mungkin terpenuhi oleh malaikat.

Para pemuda bertubuh tambun, tidak menarik. Tubuh kekar ala sparta dengan perut sixpack adalah laki-laki sejati. Wanita bermartabat bila tampil nyaris telanjang dengan bentuk tubuh yang mampu membuat laki-laki paling alim pun termimpi-mimpi.
Seorang perempuan berusia 40'an yang setia, penyayang, cerdas, baik hati dan ramah, tidak ada gunanya bila diwajah terdapat sekian angka tanda-tanda penuaan.
Walaupun Santi terlihat manis dengan kulit hitamnya yang eksotis, tapi dunia dipaksa menganggap Santi tidak  menarik karena Santi tidak seputih Sinta.
Anda boleh saja cerdas, namun kalau anda tidak mampu 'nyelip' diantara dua kursi, anda tidak menarik.

Dan banyak lagi, yang intinya anda hanya berharga bila anda seperti standar yang ditentuka sekelompok orang tertentu.

Hidup yang menyebalkan.

Padahal ketika Tuhan menciptakan manusia, tidak pernah ada kata-kataNya " Hai manusia, kuciptakan surga dan dunia bagi mereka yang cantik menurut majalah kecantikan international."
Eksistensi manusia sebaliknya ditegaskan dengan untaian kalimat Illahi yang sederhana ...


  1. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ :  Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. وَالْعَصْرِ : Demi masa.
  3. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ : Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  4. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ : kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Imam Asy-Syafi’I rahimahullah pernah mengatakan "Jikalau semua manusia senantiasa merenungkan samudera makna yang terkandung dalam surah al-ashr ini, maka cukuplah baginya."

Sebuah pernyataan dari seorang yang kekuatan ilmu dan keindahan akhlaknya teruji ini, jelas menunjukkan betapa pentingnya hakikat yang terkandung dalam surah ini, tentunya tanpa mengabaikan pentingnya surah-surah lain di dalam Al-Qur’anul Karim. 


kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Hanya itu standar Illahi tentang manusia yang sejati. Lalu billa Tuhan sudah menetukan aturan seperti itu, mengapa kita berkiblat pada aturan yang sebenarnya hanya mewakili kepentingan bisnis saja?
Kita wajib menjaga kesehatan diri kita, kita wajib berjuang membahagiakan orang yang kita cintai.
Tapi tak perlu menyesali kulit yang hitam, karena bukankah hanya mereka yang berkulit hitam yang mendapat sebutan indah, Hitam Manis. Saya tidak pernah mendengar ada si putih manis.

Soal kerut diwajah, percayalah bunda-bunda sekalian, anak-anak anda mencintai anda apa adanya. Dan bila mengkhawatirkan suami anda, jangan takut, para lelaki sejati membutuhkan kenyamanan, bukan hanya fisik semata. Juga perlu anda ingat, ada banyak kasus rumah tangga yang rusak, justru karena para istri yang terlalu sering nonton sinetron dan gosip artis, kehilangan percaya diri, mulai mencurigai berlebihan, emosional, dan membiarkan diri hidup dalam bayangan sebagai korban, padahal suaminya sebenarnya masih tetp sama seperti dulu, mencintai dan menerima dirinya apa adanya.

Soal langsing, dan bisa lewat diantara dua bangku? gampang itu. Jarangkan lagi jarak diantara dua bangku itu, beres.

Bukan standar fisik yang membuat kita berharga, namun seberapa kebaikan yang akan orang lain rasakan ketika mereka berada bersama kita. Seberapa nyaman ketika mereka berada disekitar kita. Seluruh dunia mungkin mencari kepuasan fisik dan material untuk sejenak.Namun pada akhirnya kenyamanan hati adalah kebutuhan mutlak yang dicari dalam peradapan manapun.

Anda berharga, sangat berharga.
Namun itu tergantung pada seberapa besar anda menghargai diri anda sendiri, terlebih dahulu. 
Karena, orang lain, hanya akan menghargai anda, sesuai anda menghargai diri sendiri.

Tuesday, June 12, 2012

Peran Yang Dipilih

" Saya sudah belajar, bekerja, bahkan melebihi Jobdesk. Tapi tidak ada seorangpun yang menghargai, lihat aja, yang naik pangkat pasti orang yg dekat pada pimpinan."


" Kamu sudah belajar, kamu memilih ga nyontek, ga pake resep. Tapi nilaimu kalah dibanding mereka yang malah pakai cara curang. Saya setuju dengan kamu, kampus ini memang ga beres."


" Kamu tenang aja. Saya akan bantu kamu. Untuk presentasi nanti biar saya yang buatkan. Jangan takut. Yang penting dosen ga tahu kalau tugas presentasi ini saya yang buatkan untuk kamu."


source: wallpaperfor.me
Bisa jadi, komentar diatas adalah hal yang rutin kita dengar, atau bahkan hal yang lazim kita ucapkan. Untuk tulisan ini, asumsikan saja kita yang mengucapkan. Dan memang itu halyang umum terjadi. Karena sangat menyenangkan memang, bila satu hal terjadi tidak seperti yang kita rencanakan -- atau kita harapkan -- kita menimpakan beban masalah pada orang lain. Dalam beberapa kasus lainnya kita 'mendisain' agar kesalahan itu ditimpakan pada orang lain tapi melalui perantaraan orang lainnya lagi, kita mengompori saja. Atau dalam kondisi berbeda, kita menjadikan diri kita sebagai orang yang siap menanggung masalah, namun dengan sengaja menunjukkan bahwa kitalah yang telah membantu. Orang lain harus tahu bahwa kita yang membantu.

Begitulah yang sering kita lakukan setiap harinya, Memilih Peran.

Ya, benar teman. Kita selalu memilih peran kita dalam menjalani kehidupan. dan seringnya kita terjebak pada tiga peran. Menjadikan diri kita sebagai Korban, membentuk diri menjadi Penjahat, atau menampilkan sisi Pahlawan.

status Facebook adik saya, cukup merangkum :
My brother told me, as in a super heroes movie, in general people can be grouped into three; victims, villains, and heroes. The funny thing is most people choose to be the victims. Maybe because blaming someone and waiting to be rescued are easier than admitting that I am wrong and I have to fix all the bad deeds that I have done.

Kita memilih peran, dan ironisnya, kita sering terjebak dalam peran yang kita pilih sendiri.

Usai mengisi materi pada Program Radio, Cermin -- Cerita Malam Senin, di Radio Seulaweut 91 FM Banda Aceh, dengan tema 'Peran Pilihan Kita' , seorang pendengar mengirim SMS : Menjadi Korban atau Penjahat, memang tidak baik, tapi bukankah menjadi Pahlawan adalah suatu kebaikan ?

Saya setuju. Menjadi pahlawan, memang suatu kebaikan. Satu keharusan malah, untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Karena memang kita tak ingin, perjalanan hidup kita hanya tercatat dalam 3 baris saja: Nama | Tempat Tanggal Lahir | Tempat Tanggal Meninggal.

Tapi 'Pahlawan' disini, bukan sosok Pahlawan yang sebenarnya. Bukan membantu yang dilakukannya, malah sebenarnya merugikan. Berpura-pura menjadi Pahlawan, adalah istilah yang lebih tepat. Karena yang sering dilakukan adalah mengambil alih tanggung jawab mereka yang berperan sebagai korban, seolah melindungi dari mereka yang berperan jadi penjahat, atau memberi kesan baik dengan membenarkan pemikiran si korban. Catatan terpenting dari para 'Pahlawan' palsu ini, mereka selalu memfokuskan agar orang lain tahu bahwa mereka sudah membantu. Mereka menuntut agar kepahlawanan mereka diakui.

Merugikan, sangat merugikan. Bagi orang lain, para pahlawan palsu ini hanya akan membuat para pemeran korban semakin merasa dibenarkan dan akhirnya terpuruk dalam kesalahan yang semakin lama semakin menguasai pribadi dan pola fikir si korban. Bagi para penjahat, keinginan untuk menjadi pahlawan itu akan terlihat sebagai jalan mulus, untuk melancarkan aksinya. Para penjahat akan mempergunakan sifat ingin dimuliakan sebagai alat untuk menyerang orang lain.Mereka akan mendisain si korban untuk menyalahkan orang tertentu, lalu dengan sedikit manipulasi akan memancing rasa pahlawan untuk melindungi si korban dari pihak yang dianggap musuh oleh si korban (dan tentu saja si penjahat).
Si pahlawan pada akhirnya akan menemukan dirinya terjebak dan terus terseret dalam konflik orang lain.

Bukan, kawan. Bukan ini pahlawan yang sebenarnya.
Pahlawan yang sebenarnya, akan melakukan yang terbaik, sesuai kemampuannya. Mereka faham kualitas dirinya. mereka tahu kelemahan dan kelebihan dirinya. Mereka melakukan yang terbaik, bukan mengharapkan yang terbaik.
Pahlawan yang sebenarnya, tak mentargetkan pujian orang lain. Mereka sadar bahwa untuk mendapatkan yang terbaik, adalah dengan mengupayakannya. Menyalahkan orang tak akan menjadi penyelesaian. Mereka memperbaiki kualitas diri mereka, lalu mulai melakukan perbaikan pada lingkungan disekitarnya. Mereka mengenali batasan diri mereka, ketika mereka berhadapan dengan batasan kemampuan maka mereka akan mencari solusi lain. Bukan dengan semena-mena mengorbankan diri mereka. Karena mereka sadar, untuk memberikan kebaikan bagi orang lain, maka mereka juga harus dalam keadaan baik.

Panjang penjelasannya, bila terus dilanjutkan.

Tapi satu hal yang sedikit mudah digambarkan, pahlawan sejati, tidak akan mendzalimi dirinya sendiri untuk melakukan kebaikan bagi orang lain. Karena pahlawan sejati, tidak akan meninggalkan beban bagi orang lain, bahkan walaupun untuk kebaikan orang lain.

Nah, siapakah peran kita dipanggung kehidupan ini.
Korban
Penjahat
Pahlawan Imitasi
atau, Pahlawan Sejati.

Monday, June 11, 2012

Malam Minggu


Malam minggu, satu malam sebelum malam kemarin. Langit masih bertopeng awan gelap, angin masih membadai yang menderu dari pesisir Aceh. Menunggangi motor jadi pekerjaan berat, karena kolaborasi menyeimbangkan badan, mengatur laju kecepatan, dan kalibrasi otomatis bungkukan tubuh melengkung diatas jok terhadap gerakan arus angin yang mengila arahnya.

Malam minggu, diperempatan jalan dua gadis mengobral bentuk tubuh, bangga dengan pakaian yang ketat lagi tipis, dan dengan kejudesan dibalut kesan seolah sang ratu mencela dua remaja tanggung yang -- mungkin, sedang dalam masa penyeimbangan hormon -- curi melirik sambil menggoda. Tertunduk dengan muka jengah, malu karena hati terbuai, mungkin disangkanya baju mengundang itu tanda memanggil lawan jenis agar suka, tapi salakan dan hardik yang didapat. Ah, yang satu tak punya malu berbaju tapi telanjang, yang lain tak punya pilihan selain menahan malu karena terpicu hasrat.

Malam minggu, cafe tampilkan kehidupan ala kota besar dengan musik mendentum, orang-orang yang kaya atau yang merasa kaya mengelompok dalam lingkaran penuh cerita. 57 cafe semua penuh sesak, dan 8 mesjid yang ku lewati sepanjang jalan dari rumah ramai dipenuhi malaikat dan segelintir manusia. Dimesjid ke-8, dihalamannnya motor yang lelah kuparkir, menjemput janji jumpa dengan beberapa teman dan seorang guru, malam itu kami bahas tentang bekerja untuk manusia atau bekerja untuk Illahi. Ayat dan hadits berlarian liar dalam kepala, sebahagian besar pasti hilang sepanjang jalan pulang, namun paling tidak ada yg teringat. Lebih baik dari pada tak ada.
Gambar hanya untuk ilustrasi saja
Source : Boston.com

Malam minggu, cafe masih saja ramai. gelak tawa, mobil berjajar. Disebuah lorong seorang anak membantu bapaknya, hari ini barang bekas plastik lumayan banyak. Dipilahnya dengan ceria, besok akan membeli seragam sekolah ujar bapak dan anak itu gembira. Aku duduk, seperti malam-malam lain ketika sebungkus nasi goreng yang kubawa, disantap dua kakak beradik itu dengan ceria. Satu sudah akan berseragam biru putih, satu lagi akan naik kelas lima SD. Kutatap gelas belimbing yang diangsurkan ibu mereka, senyumnya gembira mengiringi tanganku menerima ulurannya. Milo malam ini. Alhamdulillah, artinya ada rejeki lebih mereka, karena kalau tak cukup beras, tak mungkin milo ini ada.

Malam minggu ini, melintas dari satu sudut kota, menuju sudut yang lain. Sepanjang lintasan jalan, yang berhias lampu kuning, putih atau warna-warni dibelakang selusur pegangan jembatan. Sepanjang lintasan jalan, yang dihias garis putih putus-putus, atau dibeberapa tempat, ada bulatan kaca tertanam diwajah aspal memantulkan cahaya lampu kendaraan.

Malam minggu ini, gelak gembira anak si Bapak pengumpul barang bekas yang anti mengemis, yang bergayut dilengan ibunya dengan mata yang mulai mengantuk. Menemani putaran roda menuju hunian tempat berlabuh. Dalam benak, rindu pada istri terkasih dan anak-anak tercinta, menemani malam hingga pagi datang. Rindu yang berlanjut hingga malam lagi, dijeda saat-saat ketika sejenak bercakap dengan perantara teknologi, dijeda ketika sejenak bisa mendengar suara dan celoteh cinta, mereka yang terkasih.

Malam minggu ini, mulai menghitung hari jam menit detik, menunggu saat jumpa.

Malam minggu, ada cerita dalam ribuan warna, karena hidup memang tak lagi hitam putih saja. Meski masih tetap hati yang menentukan, warna apa yang akan kita genggam.

Start typing and press Enter to search