Post Ad Area

Post Home Style

Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts

Saturday, April 9, 2016

Sensa. Titik Awal Jalan-Jalan Di Bandung



Di mana enaknya menginap kalau ke Bandung. Pertanyaan sederhana yang berujung pada kebingungan. Kenapa bingung? Karena sebagai penikmat hotel kelas ransel, yang standarnya hanya sekedar 'punya alas tidur yang bersih', jelas menjawab pertanyaan kerabat ini bukanlah perkara mudah.

Bagiku yang termasuk mantan pejalan dengan budget sangat rendah, kenyamanan bukan pilihan utama. Sedangkan bagi kerabatku ini, yang hendak ke Bandung bersama keluarga, kenyamanan mestilah menjadi syarat utama.

Liburan bersama keluarga, seharusnya bukan soal murah atau mahal, tapi mazhabnya adalah nyaman dan menenangkan.


Friday, November 27, 2015

Tarian Kabut Pagi


Saya selalu suka dengan kabut di pagi hari. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata, ketika garis hidup membawa saya menjadi penghuni dataran tinggi Gayo. Jauh tinggi di puncak pegunungan, dikelilingi hutan yang sebagian masih belum pernah terjamah manusia. Sebagian lagi adalah deretan berbagai kebun.

Perkebunan kopi mungkin yang paling dikenal. Tapi masih sangat banyak lainnya. Perkebunan jeruk dengan mitos uniknya, jeruk manis yang secara misterius menjadi asam bila dibawa turun melintasi pegunungan, meninggalkan dataran tinggi. Perkebunan tomat, yang ketika panen berlimpah kadang diacuhkan oleh pemiliknya, karena harga tak seimbang dgn usaha. Dan banyak perkebunan lainnya, sangat banyak.

Tuesday, March 24, 2015

Kabut Pagi

Kota takengon berada di lembah yang dikelilingi barisan melingkar pegunungan dataran tinggi gayo. Selalu menjadi pemandangan yang mengesankan ketika mata yang selama puluhan tahun terbiasa dengan permukaan datar pesisir pantai, memandangi naik turunnya puncak-puncak gunung yang mengelilingi kota.

Pagi Berkabut di pusat kota Takengon
Selain pohon yang hijau memenuhi gunung, ada satu hal lagi yang selalu saya tunggu-tunggu. Kabut pagi.

Mungkin itu pemandangan biasa, bahkan menyebalkan bagi orang yang tinggal disini, terbiasa dengan kabut yang bergulung, terkadang begitu tebalnya sampai sulit mengendarai kendaraan.

Tapi bagi saya, kabut selalu menjadi sesuatu yang memberi sensasi unik.

Wednesday, November 27, 2013

Pesona Unik Ujung Barat Negeri. (Ep. 1)

* Tulisan ini awalnya untuk sebuah lomba, tapi karena keasyikan nulis naskah novel, terlewatlah deadline. Karena panjang, maka di pecah menjadi beberapa episode. Episode 1, 2, dan 3, menceritakan tentang tempat wisata yang 'umum'. Episode 4 dan 5, akan membawamu memasuki daerah yang jarang disebut dalam brosur wisata.

Satu hal yang harus kuakui tentang tanah kelahiranku adalah, tidak akan terlalu dikenal dunia bila tidak terhantam bencana tsunami dahsyat pada desember 2004. Bahkan ketika tsunami menghantam, dunia semula lebih banyak memberitakan bagaimana Thailand terkena gelombang maut yang memporak-porandakan wilayah wisata Phuket yang tersohor itu.

Tapi, dalam hitungan jam, banyaknya korban dan parahnya kehancuran, membuat dunia mendadak mengenal kembali nama Aceh. Provinsi di ujung terbarat Indonesia, negara tropis yang melintang sebagai sabuk di garis katulistiwa. Nah, kawan. Adakah kau perhatikan, kutuliskan kalimat ‘mengenal kembali’, bukan hanya sekedar tahu.

Karena memang provinsi ini dulu adalah sebuah kerajaan besar. Britania yang kini dikenal dengan Inggris, mengakui keberadaannya sebagai nama besar yang harus dihargai dan diwaspadai. Portugis dan Spanyol menghormatinya. Turki yang saat itu adalah salah satu superstate dunia, menjalin kerjasama militer, pendidikan dan dagang. Bahkan aku pernah membaca, kota Salem, Massachusetts, di Amerika sana pernah menjalin kerjasama dagang dengan kerajaan Aceh.

Saturday, November 9, 2013

Mie Kocok dan Kopi ala Alfonso Bialetti di Kenari.

Karena kondisi kaki sudah mulai membaik, walaupun masih sakit bila berdiri terlalu lama, akhirnya kemarin saya bersikeras menemani istri. Perjalanan kemarin lumayan jauh, walaupun belum sejauh perjalanan ke Arul Gele, tempat saya pernah bertemu dengan seorang laki-laki tua bernama pak Nasip. Laki-laki yang merasakan kelahiran negeri ini hingga saat ini. Laki-laki yang punya cerita menarik, serta pernah bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, yang sering dilupakan, Syafruddin Prawiranegara.

Tapi itu lain cerita, nanti di postingan lainnya akan saya ceritakan.

Saya malah ingin bercerita tentang satu tempat makan. Kenari namanya. Warung kayu yang terletak di tengah kota Takengon. Tak jauh dari pasar inpres. Yang saya tahu soal warung ini, hanya bangunan itu milik keluarga Profesor Dr. Alyasak Abu Bakar, seorang akademisi dan ulama, yang juga abang dari dosen pembimbing saat saya kuliah dulu, Dr. Ir. Yusya Abubakar, M.Sc. Pembantu Dekan Bidang Kerjasama/PD-IV di Fakultas Pertanian Unsyiah.

Friday, July 19, 2013

Tirom

Berbicara tentang kuliner Aceh, maka Mie Aceh lah yang paling terkenal. Hingga ke beragam kota besar, makanan 'biasa' ini menjelajah dan mengukuhkan keberadaan dirinya. Tak jarang pula, datang tamu asing atau tamu dari kota lain di luar aceh, yang dengan santai bertanya ketika sedang berada di Aceh. Dimana ada dijual Mie Aceh ya? Padahal semua mie di Aceh sudah pasti Mie Aceh.

Tapi Aceh punya banyak ragam kuliner. Sebut saja seperti Asoekaya, Gule Pliek, Eungkot Paya, Keukarah, Meusekat, Bolu Ikan (lupa nama lokalnya), pisang sale, adee (nah ini lagi populer), dan banyak lagi. Salah satu yang selalu punya nilai istimewa buat saya adalah, Tumeh Tirom atau Tumis Tiram.

Sumber gambar : www.bandaacehtourism.com

Kebetulan tadi pagi saya jalan-jalan ke wilayah Alue Naga. Salah satu tempat dimana banyak orang mencari dan menjual tirom. Tirom mungkin bisa dikategorikan sebagai seafood, tapi kalau mau lebih maksa keakuratannya, sebenarnya lebih tepat dianggap 'Muarafood', hehehe. Karena kerang tirom ini hidupnya menempel di bebatuan yang berada di wilayah muara sungai.

Umumnya para pencari tirom adalah kaum ibu. Mendapatnya tidak terlalu sulit walaupun tidak juga bisa dikatakan mudah.
Berendam dalam air hingga sampai ke dagu, dengan sabar mencungkil lepas kerang yang menempel di batu, satu demi satu. Lalu para pencari tirom ini masih harus 'membuka' cangkang kerang untuk mengeluarkan isinya.

Dulu saya pernah mencoba membuka kerang tirom untuk mengambil isinya. Terkesan mudah ketika dilakukan oleh mereka yang sudah biasa. Menggunakan pisau dengan bentuk melengkung seperti huruf L terbalik, para ibu itu dengan cekatan membuka dan mengeluarkan tirom dari cangkangnya. Hanya butuh sekitar 10 detik.
Tapi lain cerita ketika giliran saya, setelah berkutat dengan si kerang, mendapat beberapa petunjuk kurang praktis, ditemani tawa geli ibu-ibu pencari tirom, plus mendapat bonus luka sayat dari kulit kerang yang tajam minta ampun, saya berhasil mengeluarkan 'sebiji' tirom. Belakangan saya baru sadar, semua ibu-ibu itu pakai sarung tangan.
Saya pura-pura tidak melihat ketika si ibu dengan tidak kentara memisahkan tirom yang saya keluarkan, mungkin karena kena darah, lalu membuangnya ke sungai.

Hasil yang diperoleh dari sekarung besar kerang (masih dengan cangkang) mungkin hanya sekitar satu baskom kecil. Harga jualnya kalau kita beli langsung di tempat pencari tirom, umumnya lebih murah, dan lebih menguntungkan. Menggunakan takaran satu kaleng susu kental manis, tirom dijual dengan harga 10 ribu rupiah per kaleng. Bila sudah ditangan penjual eceran, umumnya tirom dijual sudah dalam bungkus plastik, paling-paling isinya hanya 2/3 kaleng, dengan harga 15 ribu, kalau mau cerewet bisalah dapat 2 bungkus seharga 25 ribu.

Selain tirom, ibu-ibu ini juga menjual ikan asin, kepiting asin (yang ini saya ga pernah tau), dan gurita asin.


Dalam perjalanan pulang, saya melihat ada satu monumen di pinggir jalan, pada plakatnya tertulis "LOKASI PENINGGALAN BENTENG KUTA KAPHE ". Namun tak ada satu benteng pun disekitar situ. Hanya ada kanal pengendali banjir dan aliran utama sungai. Mungkin telah rusak karena terhantam tsunami, atau bisa jadi rusak karena sebab lainnya. Mungkin lain kali kita cari tahu ceritanya.

Thursday, December 27, 2012

Catatan Dari Dataran Tinggi Gayo: 1. Secubit Sisi Lain



Danau Lot Tawar, hal yang umumnya paling diingat, setelah kopi, oleh mereka yang berkunjung ke Takengon, atau dataran tinggi Gayo. Dan memang keduanya adalah ikon daerah yang mayoritas penduduknya suku Gayo. Suku lain yang juga memiliki angka populasi cukup besar adalah Jawa dan Aceh.
Pertama kalinya saya mengunjungi daerah pegunungan ini adalah tahun 1996, saat masih berstatus siswa SMU, dengan rombongan wisata sekolah. Saat itu hal pertama yang saya sadari adalah dinginnya yang luar biasa. Pada tengah hari pun, jaket masih akrab di badan. Bila pagi hari, nafas memutih ketika dihembus, dan asap tipis mengapung dari permukaan air di kamar mandi. Gunung-gunung disekitar kota dan sepanjang jalan lintas Bireun-Takengon, masih sangat padat dengan pepohonan. Saya ingat, kami semua sempat diteriaki oleh sopir bis sewaan yang kami tumpangi, ketika hampir separuh penumpang berpindah kesalah satu sisi bus. Pasalnya sederhana, terkagum-kagum melihat air terjun yang mengepulkan uap ditepi jalan yang kami lalui menuju Takengon air panas terjun.

Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, saya kembali mengunjungi Takengon untuk kedua kalinya. Dan sejak itu secara rutin beberapa bulan sekali kembali ke Takengon. Bolak-balik yang membuat saya tertarik dengan banyak hal yang tak saya dapatkan ketika berkunjung ke Takengon sebagai ‘wisatawan lokal’, sisi lain dari dataran tinggi Gayo.

Sekedar catatan, air panas terjun itu tidak lagi saya temukan dan Takengon tidak sedingin dulu lagi.


Jalan dan Keahlian.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, pembangunan jalan lintas dan jalan utama di kota Takengon berkembang pesat. Setelah melewati tikungan yang berkelok dari Paya Tumpi untuk kemudian memasuki ‘gerbang’ kota Takengon, pemandangan yang menyambut cukup indah. Terutama bila kita memasukinya saat malam hari, atau dini hari bila menggunakan mobil penumpang L300. Barisan lampu jalan dengan tiang yang menjulang dan warna kuning yang eksotis, dipadu dengan dingin dan segarnya udara pegunungan memberi kesan yang dalam. Jalan aspal yang lebar dan mulus itu, mengecil ketika memasuki wilayah pusat kota.
Dan jalan mulus itu ternyata bukan milik semua warga. Begitu berbelok memasuki lorong-lorong, jalan menjadi sempit, penuh lubang. Dibeberapa perkampungan, jalan semen menggantikan jalan aspal. Jalan yang tak jarang sempit dan berliku dengan sudut yang mencengangkan, dibutuhkan manuver dan keahlian tinggi untuk berkendaraan diperkampungan yang rata-rata sangat padat penduduk. Rumah-rumah dengan ukuran yang kecil, dibangun seadanya, tanpa memikirkan secara optimal aspek keamanan, dan tak jarang seolah tumbuh dan berkembang. Karena dari sebuah rumah berlantai satu, lantai duanya bisa dibangun mendadak, dan sedikit menumpang keatap tetangga.Memang beberapa pemukiman terlihat indah, dan lumayan rapi, namun kebanyakan warga menetap diperumahan yang sangat sederhana model begini.
Seolah tantangan manuver masih belum cukup, jalan semen ini tak jarang ditambah lagi dengan kemiringan yang memukau. Kampung Blang Kolak II, salah satunya. Hanya berjarak 10 meter dari jalan raya, berbelok memasuki lorong, jalan semen menanjak sekurangnya 45°, bahkan bisa lebih miring lagi. Mengendarai motor mendaki jalan seperti itu, jelas butuh keahlian. Sekedar tambahan, jalan itu juga berbelok dan berlubang. Jalan model begitu juga bisa ditemukan di Kampung Takengon Barat, Kampung Balee, dan beberapa lainnya.




Bukan Cuma di Hongkong.
Selain terkenal sebagai pusat belanja, tempat dengan gaji tinggi bagi pramuwisma sehingga TKW Indonesia berbondong-bondong dan berjamaah datang, dan salah satu icon trendsetter dunia. Hongkong juga terkenal dengan bangunan yang dibangun tumpang tindih, sehingga tak jarang sambung menyambung, dengan lorong yang naik turun dan rumit, menciptakan labirin wilayah kekuasaan dunia hitam yang bahkan aparat keamanan terlatih pun enggan memasukinya.

Kesampingkan dunia hitam, kesampingkan jumlah lantai yang menjulang ke atas. Pemukiman padat di Takengon pun memiliki kerumitan dan kondisi yang tidak kalah unik. Terletak jauh di belakang bangunan megah di pusat kota, atau di belakang pasar, atau tumbuh memanjang di sepanjang aliran sungai, area perumahan yang rapat terbentuk. Lorong yang sambung dan putus tanpa aturan. Rumah yang kadang hanya berukuran 3x4 meter namun berlantai dua, dibangun berdempetan. Rata-rata berbahan kayu atau triplek. Struktur penopangnya tak jarang seadanya. Saling menopang dengan rumah atau bangunan disebelahnya. Ada juga yang menempel di dinding pagar bangunan lain, gudang atau pagar dari bangunan instansi pemerintah. Beberapa bahkan layak untuk disebut pemukiman domino, karena setiap bangunan, mengandalkan topangan dari bangunan di kiri kanannya, salah sedikit, bisa mengakibatkan kerusakan yang besar. Hati-hati bila berjalan, salah belok, bisa-bisa keluar dari tempat yang jauh dari tujuan awal.

Pemandangan yang jarang ditemukan bila dilihat dari tengah kota. Beberapa karena letaknya di tengah pasar, terhalang dengan pasar yang mengelilinginya. Yang lainnya karena tumbuh di balik deretan bangunan perkantoran. Tapi bila kita coba memutar dari sisi lain kota Takengon, membelok memasuki wilayah Asir-asir, memandang keseberang sungai peusangan yang berhulu dari danau Lut Tawar, barisan perumahan rapat dengan atap seng berkarat akan terlihat jelas.

Bunga-bunga Takengon.
Takengon itu penuh bunga, kata seorang teman. Meskipun saya faham yang dimaksudnya adalah dara-dara cantik dataran tinggi Gayo. Tapi saya setuju karena memang bunga adalah salah satu hal yang menarik pandangan bila berkunjung ke Dataran Tinggi Gayo.
Coba susuri jalanan melintasi Takengon, apakah nanti memutuskan berbelok memutari pinggiran danau Lut Tawar, yang hanya menghabiskan waktu 2 jam dari sisi ke sisi, ataupun terus melintas membelah kota takengon menuju seberang sana ke Bies atau Silih Nara. Bunga dan berbagai tanaman akan menjadi teman di sepanjang jalan.

Kebun Jeruk. Lokasi: Lukup Badak
Yang pasti paling terlihat adalah barisan cemara, tanaman pendatang yang dibawa Belanda dan kini mendominasi lereng-lereng pegunungan disekitar kota. Di belakangnya, memenuhi pegunungan yang lebih tradisional, belum dirambah oleh tanaman pendatang, pohon-pohon hutan tropis menatap pemukiman dibawah mereka, hijau gelap dengan selingan warna yang lebih muda di beberapa tempat, bersisian juga dengan lahan perkebunan masyarakat. Hijau sepanjang tahun. Tak ada musim gugur disini yang memerah dan jingga kan dedaunan. Hanya ketika musim panen tiba, jingganya tomat, merahnya cabai, dan kuningnya jeruk Gayo mewarnai celah-celah hijau.

Morning Glory liar
Di sepanjang jalan,  Bunga Tasbih dan Dahlia menyemarakkan dengan ragam warnanya, kuning terang, merah cerah, merah dengan semburat warna kuning, jingga, ungu dan beragam gradasi warna biru. Bunga Dahlia di Takengon mekar dengan sempurna, lapisan setiap kelopaknya bisa mencapai seukuran jari kanak-kanak. Di beberapa tempat Kembang Kenop kuning dan putih muncul dengan rendah hati. Morning Glory liar sebaliknya dengan penuh keyakinan merambat hampir disemua tempat, pagar kebun, batang pisang dan pohon Petai Cina, bunga ungu tanaman rambat ini mengelayut manja nyaris dimana saja. Diatas mereka, ditepi jalan atau di pinggiran kebun, Brugmania Uaeolens berayun tenang dengan bunga terompet berwarna kuning lembutnya.
Bunga-bunga liar lainnya, tak dikenal namanya, juga semarak disela tanaman kebun, pagar, dan pinggiran saluran air.

Menyusuri kota Takengon dan sekitarnya, ada banyak hal menarik. Sisi lain yang lebih banyak lagi dari sekedar hanya mengunjungi danau Lut Tawar. Beberapa teman memilih mendaki Bur Gayo dan berfoto di Gayo Highland (‘d’ nya terkapar dan belum diperbaiki). Yang lainnya memilih mencoba mengeksplorasi beberapa gua alam, selain hanya berkunjung ke Gua Putri Pukes dan Loyang. Meskipun ada juga yang jauh-jauh datang, untuk mancing di tengah danau.



Bersambung : Catatan Dari Dataran Tinggi Gayo: 2. Secangkir Kopi dan Jelajah Kuliner

Start typing and press Enter to search