Post Ad Area

Post Home Style

Tuesday, March 24, 2015

Kabut Pagi

Kota takengon berada di lembah yang dikelilingi barisan melingkar pegunungan dataran tinggi gayo. Selalu menjadi pemandangan yang mengesankan ketika mata yang selama puluhan tahun terbiasa dengan permukaan datar pesisir pantai, memandangi naik turunnya puncak-puncak gunung yang mengelilingi kota.

Pagi Berkabut di pusat kota Takengon
Selain pohon yang hijau memenuhi gunung, ada satu hal lagi yang selalu saya tunggu-tunggu. Kabut pagi.

Mungkin itu pemandangan biasa, bahkan menyebalkan bagi orang yang tinggal disini, terbiasa dengan kabut yang bergulung, terkadang begitu tebalnya sampai sulit mengendarai kendaraan.

Tapi bagi saya, kabut selalu menjadi sesuatu yang memberi sensasi unik.

Selalu menimbulkan kesan dunia yang berbeda, ketika terbangun di pagi hari, lalu melangkah keluar, dan berdiri di tengah kabut yang putih bergulung. Kabut yang tidak diam tapi bergerak pelan. Sesaat membentuk pola menggulung lalu saat berikutnya mengambang pelan menyebar. 

Rumah dan pohon disekitar yang tersamarkan, membentuk gambaran yang berbeda.
Dan untuk saat-saat yang singkat, dunia ini berubah. Menjadi dunia yang asing.

Saya suka membiarkan imajinasi bergerak bebas. Membayangkan sebuah 'Dunia Pararel' berada dibalik sana. dengan berbagai kemungkinan sejarah alternatif. Dunia yang menjadi inspirasi bagi berbagai karya fiksi luar biasa.

Dari yang konyol-konyolan seperti serial Back to The Future, atau dunia pararel di serial Kamen Rider Decade. Hingga ke karya (fiksi) serius. Sebut saja film/serial Star trek, fringe, faling skies, atau buku seperti the Time Machine-nya H. G. Wells.

Sepenuhnya sadar, itu hanya imajinasi. Sebuah kesempatan untuk membiarkan pikiran lepas menjelajahi dunia khayalan, menemukan ide-ide menarik untuk tulisan.

Kabut pagi selalu menjadi sesuatu yang memberi sensasi unik.   

2 comments:

  1. kok deretannya filmmnya film jadul bang?? :D
    btw, klo yudi ketakengon, kabut ini begitu menyiksa hidung yudi bang hiks..

    ReplyDelete
  2. Hehehe sama sebenarnya Yud, saya juga gak terlalu tahan udara dingin. Maklum base designnya utk udara pesisir. Tapi yang namanya perasaan mau gimana lagi (ampuuun bahasanya).

    Film baru juga banyak, malas aja sebutinnya hahahhaaha

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search