Friday, March 20, 2015

Selalu Ada Laut di Ujung Sana


Sejak setahun kemarin, saya memutuskan pindah ke dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Enam tahun menjadi suami dan ayah yang egois, sudah melebihi batas yang saya bisa cari pembenarannya. Istri dan anak-anak menetap di Takengon, dan saya memaksa mengejar mimpi kesuksesan di Banda Aceh. Terselang lima kabupaten dan delapan jam perjalanan.

Selama enam tahun, tumbuh kembangnya kedua gadis kecil saya, terasa seperti menonton pertunjukan sulap. Sebentar mereka masih bayi kecil, berikutnya mereka sudah bisa menegakkan kepala dan berguling, lalu sudah merangkak, dan tiba-tiba mereka sudah berlarian kesana kemari. 

Suara ceria yang menyapa ketika jam telpon wajib, setiap hari selepas maghrib, hanya itu yang menjaga sosok saya sebagai ayah tidak hilang. Gelak tawa dan manja mereka, senyum rindu dari istri tercinta, selalu terasa ketika saya pulang setiap beberapa bulan sekali. Dan selalu berujung dengan wajah sedih mereka, ketika saya berangkat lagi. Istri yang selalu memaksakan senyum, mendukung saya mengejar mimpi, gadis sulung saya yang menangis diam-diam di kamar setelah mobil angkutan antar kabupaten yang saya naiki bergerak menjauh, dan si tengah yang selalu terkesan tak masalah, namun selalu demam sehari kemudian.

Anak ketiga kami lahir. Saat itu saya mulai mendapat pekerjaan yg berpenghasilan stabil sebagai pegawai kontrak di sebuah dinas pemerintahan. Tapi rasanya selalu ada yang kurang. Tak perduli apapun yang saya katakan untuk menguatkan hati bahwa setelah tabungan cukup kami bisa mulai kembali usaha, dan tinggal bersama secara utuh. tetap saja ada rasa bersalah, tidak nyaman, tidak lengkap.

"Enaklah, kalau ada ayah disini." pelan berujar Istri saya dan si sulung berkomentar. Di jam telpon wajib yang selalu ada selepas maghrib. Dan itu, pernyataan pertama kalinya setelah enam tahun. Saat itu saya tahu, impian yang saya kejar selama ini salah.

Bermimpi ingin membahagiakan keluarga, tapi justru jauh dari keluarga. Jelas sesuatu yang benar secara pemikiran industri kapitalis, namun sangat tidak benar bila dinilai dari hati nurani. Dan saya memutuskan mengikuti hati nurani, karena bila mau jujur, hati nurani selalu mengikuti kebenaran Illahi. Saya mundur dari pekerjaan. Meninggalkan Banda Aceh. Menetap di Takengon.

Sekarang saya adalah seorang ayah rumah tangga full time, part time graphic designer, sometimes trainer. Membuat desain, menulis naskah novel (yang entah kapan terbit), dan beberapa bulan terakhir ini, merintis usaha kopi dengan modal minus.

Hidup jauh dari impiah mewah dan sukses yang saya pernah bayangan. Berbagi tugas dengan istri yang pegawai negeri di salah satu Institusi peradilan, menikmati waktu masak sambil ngobrol dengan istri yang sedang mencuci pakaian. Menyuapi, dan memandikan anak-anak, ganti popok. Mencuci piring karena selalu tak tega menambah beban istri yang pulang kantor dengan lelah tapi masih harus mencuci pakaian lagi (dengan tumpukan pakain kotor yang seolah tak habis-habis.)

Mengubah jam kerja desain ketika anak-anak dan istri sudah tidur. Mencuri waktu saat anak-anak main atau tidur untuk menulis (ngeblog, nulis novel, socmed), dan perubahan rutinitas lainnya.

Lelah, dan tidak mudah. But, honestly, rasanya menyenangkan bersama keluarga. Rasanya lega. Saya sangat bersyukur untuk semua ini. Kesempatan yang dihadiahkan Illahi.

Memang tidak semua orang mendapat kesempatan begini. Kadang sebagian dari kita tak pernah punya pilihan, selain kerja dan jauh dari keluarga. Dan itu adalah kenyataan pahit kehidupan.

Lalu apa hubungannya dengan 'Laut' yang ada dijudul tulisan ini? 

Apakah karena kota Takengon adalah kota di puncak gunung, yang tumbuh di sekitar sebuah danau besar, yang begitu besarnya sampai digelari laut (Danau Lot Tawar) oleh masyarakat dataran tinggi Gayo, dan sering dari jalan kita melihat ujungnya mengarah ke 'Laut' itu?

Bukan, bukan itu.

Saya masih belum bisa menghilangkan kebiasaan pikiran saya yang tumbuh dilingkungan pesisir samudera. Setiap kali membawa kendaraan atau sekedar jalan menaiki tanjakan, yang saya tak bisa melihat ada apa dibaliknya. Dengan langit yang lapang di atasnya, saya selalu bepikir di balik sana adalah lautan.

Dengan ombak yang bergulung, pasir dan pantai, pohon kelapa. Dan airnya yang asin.
Dalam pikiran saya, selalu ada laut di ujung sana.


Bur Bius, Aceh Tengah - Setiap sampai ke jalan ini, 
saya selalu merasa, di ujung sana adalah laut.

  1. Takengon emang tempat yang indah,,berasa tinggal di puncak bogor kalo ada di sana. sayangnya saya baru 1 kali menginjakkan kaki disana selama 2 hari 1 malam. kelak saya akan datang lagi tapi gak tahu kapan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takengon alamnya memah dahsyat, sayangnya kurang diberdayakan

      Delete
  2. abang tinggal di mana disana? di pegasing?
    btw, honestly, abang justru sekarang sudah sukses bang.. jauh dari pemikiran abang tentang kesuksesan itu sendiri.
    kita ini cowok, apalah yang mau di cari?
    jadi ayah? abang udah sukses jadi ayah rumah tangga dan ada waktu yang berluang2 untuk anak.

    jadi suami? ah ini urusan abang ama istri..
    jadi pengusaha? udah kan?
    jadi bos? udah juga kan?
    lalu? peu lom aduen? yudi justru sebenarnya iri sama abang..baru 6 tahun udah bisa sukses segitu hebatnya :)

    ReplyDelete
  3. Sangat menginspirasi tulisannya bang! Keren!

    Btw aslan juga kadang2 berpikir kalau "diujung sana ada laut". Apalagi klw ada pohon-pohon kelapa yang banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mindset pesisir samudera masih kuat, hehehe.

      Delete
  4. Lg cari2 bahan dgn keyword 'REX Peunayong' jumpa blog bg Sayed dan terbawa ke postingan ini. Waktu yg ckup lama bg utk LDR. Luar biasa Kak Hefa.

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search