Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, November 28, 2013

Long and Winding Road

The long and winding road, That leads to your door
Will never disappear, I've seen that road before
It always leads me here, Lead me to your door.

The wild and windy night, That the rain washed away
Has left a pool of tears, Crying for the day.
Why leave me standing here?

(The Long And Winding Road - The Beatles)


Teman baik, yg mendampingi sampai mid. 2013
- rest in pieces peace mate.
(source: doc.pribadi)
Hal yang tersulit dalam memulai sebuah cerita, bukanlah persoalan ide atau gagasan. Namun menuliskan kalimat pertamanya. Apa lagi bila itu adalah sebuah kisah nyata. Entah sejak kapan, namun jauh di dalam jiwa kita, selalu tertanam keinginan untuk terlihat baik, terlihat bagus, terlihat mengesankan.

Begitulah yang saya rasakan ketika di suatu sore, hujan gerimis di luar sana telah menjadi lebat, dan saya masih duduk menatap layar laptop. Ada ribuan cerita yang ingin dituliskan. Ada sangat banyak kenangan yang ingin dicatatkan. Namun selama lebih dari sekian belas menit, saya hanya menatap sepotong garis kecil yang berkedip, di lembaran kertas digital yang disajikan lembar kerja word ver. 1997-2003. Lembaran yang meniru tampilan sehelai kertas, putih polos tanpa untaian kata dipermukaannya.

Serenade - Pot The Elegane Of Pachelbel, mengalun dari software pemutar musik. Mengiringi begitu banyak kata dan kalimat yang berputar didalam benak. Begitu banyaknya sehingga tak tahu yang mana yang akan dituliskan.

Akhirnya laptop itu saya tutup, setelah mengetikkan kalimat-kalimat dalam paragraf diatas, sekedar agar layar tak kosong. Di save, dan ternyata sekarang berguna untuk membuka tulisan ini.

*

Saya selalu membayangkan, ketika suatu saat berhasil meraih semua impian-impian besar itu, maka saya akan menulis sebuah buku. Buku yang menceritakan tentang keberhasilan, tentang ketangguhan, tentang daya juang yang luar biasa. Namun kenyataannya sejak saya mulai memimpikan itu sambil menyesap kopi panas di lantai tiga hotel peking di Pulau Penang, Malaysia tahun 1999, hingga hari ini yang sudah empat belas tahun kemudian, impian itu masih belum juga bisa saya jadikan nyata.

Bukannya tidak ada kisah. Hanya saja saya belum berhasil sebesar yang saya impikan. Seperti impian menjadi trainer. Alih-alih mewujudkan impian menjadi trainer besar sekaliber Anthony Robin, saya hanya seorang pembicara regional yang jauh dari terkenal. Selain beberapa kali berbicara di acara kaliber nasional dan diundang ke beberapa provinsi/kampus di provinsi lain. Saya hanya berputar di kota kecil tempat saya lahir, kota kecil yang bermimpi jadi kota besar, Banda Aceh.

Terlebih ketika berhadapan dengan idealisme untuk menegakkan hidup bersih, bebas dari korupsi. Puluhan kegiatan per tahun yang harus ditolak karena selalu bertabrakan dengan idealisme.

Mudah? Tidak mudah. Sangat sulit, karena kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Memang kalau boleh jujur, saya sudah pernah merasakan tahap awal perjalan karir menjadi pembicara yang terlihat cukup menjanjikan. Tapi tahap awal itu berhenti hanya sampai di situ. Tidak mau kompromi soal 'rekayasa' dana, maka tidak ada dukungan dana. Titik.

Ada saatnya ingin menyerah, ada saatnya ingin kompromi. Toh yang lain, bahkan ustdaz-ustadz ada yang memberikan fatwa membolehkan dengan alasan kebaikan. Ada yang mengatakan itu seperti ghanimah, walaupun tak masuk dalam logika saya, bagaimana bisa rekayasa dana dianggap setara harta rampasan perang. Atau ada yg lain yang mengatakan, ambil saja, setidaknya kita menggunakannya untuk kebaikan, mereka menggunakan untuk keburukan. Namun selalu saja, perasaan ada yang salah membuat tidak nyaman. Tidak tenang. Tidak bahagia malah.

Tapi perasaan selalu terombang ambing. Terlebih ketika tabungan habis. Mengais rezeki serabutan. Godaan itu selalu muncul lagi. Dalam bentuk tawaran yang datang dari teman dan entah siapa yang mendadak menghubungi. Selalu menggiurkan melihat angka yg ditawarkan. Asalkan mau berhemat, dana 'bagi hasil' itu cukup untuk hidup tenang selama setahun. Bisa bayar sisa hutang usaha yang bangkrut dulu. Dan menjadi modal usaha baru.

Dan selalu saja, saat itu ada yang mengingatkan.

Seperti kemarin, jawaban untuk sebuah pertanyaan yang diajukan berbulan silam, mendadak muncul. Karena Ustadz yang ditanya baru melihat ada pertanyaan belum terjawab.


  • Tuesday
  • 11/26, 7:59pm



    Wa'alaykumussalam, sorry baru kebaca nih, terselip, hindari yg haram,, tetap komit dg yg halal, meski ada banyak masalah, ini cobaan aja kok, barakallahu fiik . Wassalamu'alaikum.



Walaupun jawabannya terkesan gaul, beliau seorang ustadz yang memiliki pengetahuan sangat baik dan saat ini berdakwah di Amerika.

Dan seolah menguatkan, semalam, Fatiya, putri sulung saya yang sedang makan biskuit, mendadak mendekat sambil menunjukkan kemasan biskuit. Tangannya menunjukkan logo halal dikemasan biskuit, "Ayah, harus ada logo halalnya. Klo tidak ada, tidak boleh kan?"

Faheema, dengan semangat mengambil biskuit lain dan menunjukkan bahwa disitu juga ada logo halal.

Pingin nangis, begitu mudahnya hati ini goyah. Dan ternyata begitu dekatnya kasih sayang Allah. Seketika, tiga, bukan hanya satu. Tapi tiga pengingat datang. Sungguh cintaNya ga pernah bikin patah hati.

Wednesday, November 27, 2013

Pesona Unik Ujung Barat Negeri. (Ep. 1)

* Tulisan ini awalnya untuk sebuah lomba, tapi karena keasyikan nulis naskah novel, terlewatlah deadline. Karena panjang, maka di pecah menjadi beberapa episode. Episode 1, 2, dan 3, menceritakan tentang tempat wisata yang 'umum'. Episode 4 dan 5, akan membawamu memasuki daerah yang jarang disebut dalam brosur wisata.

Satu hal yang harus kuakui tentang tanah kelahiranku adalah, tidak akan terlalu dikenal dunia bila tidak terhantam bencana tsunami dahsyat pada desember 2004. Bahkan ketika tsunami menghantam, dunia semula lebih banyak memberitakan bagaimana Thailand terkena gelombang maut yang memporak-porandakan wilayah wisata Phuket yang tersohor itu.

Tapi, dalam hitungan jam, banyaknya korban dan parahnya kehancuran, membuat dunia mendadak mengenal kembali nama Aceh. Provinsi di ujung terbarat Indonesia, negara tropis yang melintang sebagai sabuk di garis katulistiwa. Nah, kawan. Adakah kau perhatikan, kutuliskan kalimat ‘mengenal kembali’, bukan hanya sekedar tahu.

Karena memang provinsi ini dulu adalah sebuah kerajaan besar. Britania yang kini dikenal dengan Inggris, mengakui keberadaannya sebagai nama besar yang harus dihargai dan diwaspadai. Portugis dan Spanyol menghormatinya. Turki yang saat itu adalah salah satu superstate dunia, menjalin kerjasama militer, pendidikan dan dagang. Bahkan aku pernah membaca, kota Salem, Massachusetts, di Amerika sana pernah menjalin kerjasama dagang dengan kerajaan Aceh.

Monday, November 25, 2013

Singham, Tsubasa, Ipin Upin, dan Putri Yang Tertukar.


Semalam, saya dan istri menonton film india. Bioskop kecil kami adalah laptop masa perjuangan dengan suara yang tdk bisa terlalu mengelegar. Selain karena kapasitas speaker bawaan yg memang masih termasuk zuhud, juga karena rumah kontrakan kami dengan tetangga agak sedikit terlalu mudah berbagi suara. Jadi demi kenyamanan dan hubungan baik antara sesama kontraktor, saling mengertilah.

Film yang kami tonton adalah Singham (2011). Film aksi Bollywood ini sebenarnya remake film blockbuster Tamil, judulnya Singam. Singham secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai Lion/Singa. Merujuk pada lambang tiga ekor singa yang ada pada seragam polisi India. Ceritanya mengenai seorang polisi 'super jujur' Bajirao Singham (Ajay Devghan), yang berhadapan dengan penjahat super culas dan kejam yang mencalonkan diri jadi menteri. Filmnya memang didesain sangat berlebihan. Aksinya sengaja dibuat-buat konyol dan over dalam banyak hal. Gaya naik motor yang norak, pukulan yang membuat penjahat terbang jungkir balik, belum lagi aksinya yang sengaja sok keren. Walaupun belum mampu menandingi 'berlebihannya' Shaolin Soccer & Kung Fu Hustle Stephen Chow.

Bukan filmnya yang menarik. Tapi konsepnya. Bagaimana menggunakan film untuk mengkritik pemerintahan India yang korup dan polisi yang sudah bercitra kotor, atau memberikan impian bahwa masih akan ada kebaikan dan seorang pahlawan jujur yang akan menghadapi kondisi korup itu. Menawarkan harapan. Atau membuka wawasan.

Film lainnya yang mengangkat kritik sosial juga cukup banyak, seperti Tare Zamen Par dan 3 idiot (Aamir Khan), atau Chak De India dan My Name is Khan (Sharukh Khan). Kalau di Tare Zamen Par, Aamir Khan mengkritik ketidak pahaman guru pada anak Disleksia dan cara mendidik anak yang salah. Maka di 3 Idiot, kritikannya terfokus pada sistem perkuliahan yang terpaku pada teori, tanpa peduli hasil dan pemahaman lapangan. Chak De India mengangkat nasionalisme dan mempopulerkan tim hockey wanita, Sedangkan My Name is Khan, mengangkat tema tolong menolong umat manusia dan pernyataan tegas -- I Am a Muslim, and I'm not a terrorist.

Saya jadi teringat dengan Jepang. Pada tahun 1981 seorang komikus, Yoichi Takahashi, menciptakan karakter Tsubasa Oozora, yang menjadi tokoh utama dalam manga Captain Tsubasa. Kisah tentang Tsubasa dan teman-temannya yang mendirikan klub sepak bola. Serial aslinya tampil di  Shueisha's Weekly Shōnen Jump comic book magazine, dari tahun 1981 hingga 1988. Kemudian dilanjutkan dalam beberapa seri khusus, Captain Tsubasa: World Youth Saga (1994-1997), Road to 2002 (2001-2004), dan yang terakhir Captain Tsubasa: Kaigai Gekito Hen En La Liga (2010-2012). Manga ini sendiri ternyata menjadi latar belakang dari berkembangnya sepak bola Jepang. Banyak pemain berbakat di Jepang menveritakan bagaimana Tsubasa menjadi alasan mereka tertarik pada sepak bola. Ada banyak manga lainnya juga memberi pengaruh di berbagai bidang, ekonomi, olahraga lainnya, desain, dan terutama nasionalisme.

Dari Malaysia, kita mengenal karakter dua bocah konyol Upin dan Ipin. Bila kita perhatikan, ceritanya memang baik dalam hal pendidikan anak, namun disisi lain coba lihat lagi, mereka mengangkat kehidupan kampung di Malaysia. Tentang interaksi sosial, budaya, dan kebanggaan pada negara mereka.
Mereka memberdayakan media, untuk melakukan 'cuci otak' menanamkan konsep dan wawasan bagi penonton. Konsep yang baik, nasionalisme, semangat. Membangun arah impian yang menguntungkan dan meningkatkan potensi. Walaupun tidak semua film india, jepang, atau malaysia, seperti itu. Tapi ada, dan berpengaruh. Jepang masuk piala dunia, Malaysia nasionalisme meningkat.

Bagaimana Indonesia?

Kita memang punya Alenia. Alenia Pictures adalah sebuah rumah produksi asal Indonesia yang didirikan oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Film perdana mereka, Denias, Senandung di Atas Awan, berhasil menembus persaingan di film Indonesia pada tahun 2008 untuk mewakili Indonesia dalam Film Terbaik Berbahasa Asing di ajang Piala Oscar. Film lainnya dari Alenia juga keren dan berkualitas: King (2009), tentang anak yang suka main bulu tangkis, Tanah Air Beta (2010), Serdadu Kumbang (2011), Di Timur Matahari (2012), dan Leher Angsa (2013). Temanya beragam, tapi terpusat pada kecintaan pada tanah air, Nasionalisme, dan kekuatan berbuat baik bagi sesama.
Ada juga Sang Pencerah, Laskar Pelangi (dan lanjutannya), 5 Cm, KCB, dan beberapa lainnya. Tapi masalahnya, selain sedikit film berkualitas itu, masyarakat Indonesia di bombardir dengan sampah media.

Gosip, gosip, dan gosip. Atau Sinetron seperti Putri Yang Tertukar, Anugerah, dll. Banyak sinetron yang tidak memiliki nilai edukasi, malah mengajarkan pergaulan bebas atau kemaruk (maaf bingung menterjemahkan ke bahasa indonesia, mungkin kurang lebih tergila-gila) dengan gaya J-Pop atau K-Pop. Seolah belum cukup parah, sinetron anak dibumbui dengan kekerasan, mistik atau hal-hal yang sama sekali tidak mendidik. Ditambah lagi media kita yang semakin bangga dengan konsep 'Bad News is a Good News'. Berita buruk adalah berita yang mantap untuk ditayangkan.

Hasilnya lihatlah kondisi bangsa yang besar ini. Masyarakat kehilangan batasan moral. Angka kejahatan meningkat. Nasionalisme kandas sampai ke level lebih bangga dengan negara lain ketimbang negara sendiri. Presiden dan pejabat sibuk curhat ke rakyat tanpa wibawa, ulama jadi artis, artis jadi bandit.

Ntahlah, tapi mudah-mudahan ke depan ada perubahan. Masih berharap kita bisa belajar dari nilai baik di negara lain. Jangan sampai kita semua menjadi Amr ibn Luhay, Tokoh dari masa sebelum Rasulullah yang nyaris terlupakan dalam sejarah, yang untungnya, syaikh Muhammad ibn 'Abdul Wahhaab mengangkat kembali profilnya dalam buku beliau, Mukhtashar Siraatir Rasuul. Sang Perantara, yang berniat membawa kemoderenan ke Mekah, namun perjalanannya ke Syam -- seperti cerita kaum liberal yang merasa dapat pencerahan setelah kuliah ke luar negeri, padahal tak paham -- hanya membawa pulang konsep berhala dan kemunduran.

Kepingan Kenangan, Komik Dari Masa Lalu.


Dulu, komik adalah hal menarik. Bukan komik jepang, manga. Tapi komik barat, banyak yg menyimpan kenangan tersendiri. Grafisnya pun unik. Berbeda dengan tampilan manga, komik barat cenderung mengusung konsep gambar 'realistis'.

Yang paling mengesankan ada dua ..

TRIGAN



Trigan adalah serial yang sangat menarik dan berkesan futuristik dengan menggambarkan aneka kecanggihan teknologi masa depan.

Lucunya pakaian yang dikenakan kaisar Trigo mengadopsi seragam tentara Romawi kuno lengkap dengan sayap jubah merah berhiaskan coin coin besar dan topi kipasnya. Don Lawrence sang ilustrator komik sangat pandai menggambarkan setiap ekspresi tokoh cerita dan situasinya serta kecanggihan teknologi dalam cerita dengan gaya naturalis surealis dan futuristik. Banyak orang senang dengan jalan cerita dan gaya ilustrasinya. Namun sayangnya komik yang bagus ini belum ada cetak ulangnya.

lalu .. STROM



Storm menceritakan perjalanan Astronot Storm yang pesawat antariksanya tersedot sebuah pusaran badai merah ruang angkasa. Ketika mendarat di bumi, kenyataan yang dihadapinya benar-benar mencekam. Lautan yang begitu luas telah mengering. Samudera telah lenyap. Peradaban diganti dengan peradaban baru semi primitif. Peradaban berbeda, musuh yang berbeda dan masalah-masalah rumit yang harus dipecahkan merupakan tantangan tersendiri bagi Storm, yang dalam petualangannya ditemani oleh seorang gadis cantik, Si Rambut merah .

terus, ada juga komik yg membuat saya dulu selalu menanti-nati terbitnya majalah Bobo, yaitu

Kisah Pak Janggut :)



Pak Janggut merupakan salah satu tokoh favorit anak-anak. Sama dengan tokoh Doraemon yang memiliki kantong ajaib, Pak Janggut juga memiliki kantong ajaib yang dipikulnya dan lebih dikenal dengan nama buntelan ajaib. Buntelan tersebut mempunyai kekuatan yang hampir sama dengan kantong ajaib Doraemon, Buntelan Ajaib mampu mengeluarkan apapun yang diperlukan oleh Pak Janggut pada saat yang tepat. Buntelan ini memang terkadang tidak mengeluarkan apapun, dengan ini Pak Janggut hanya bisa mengandalkan kebijaksanaannya untuk mengatasi masalah yang terjadi. Bila Buntelan tersebut jatuh ke tangan orang yang jahat, biasanya akan mengeluarkan benda yang menyakiti orang tersebut (seperti kepiting, jebakan tikus dll).

mendahului pak Janggut ..adalah komik Deni si Manusia Ikan.

Deni Manusia Ikan (judul asli: "Fishboy: Denizen of the Deep") adalah komik hitam putih yang diterbitkan pertama kali di buku Buster antara 1968 dan 1975, ditulis oleh Scott Goodall dan digambar oleh John Stokes dan lain-lain. Tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki yang, sejak bayi terdampar di sebuah pulau terpencil, dan bermutasi sehingga memiliki insang dan bisa bernapas di bawah air (bahkan kalau di darat terlalu lama bisa mati) dan bisa berbicara dengan makhluk-makhluk air. Ia juga memiliki tangan kaki berselaput, sehingga dapat berenang dengan cepat.



Tujuan hidupnya adalah mencari orangtuanya, seorang profesor Geologi, dan karena orang tuanya keliling dunia maka Deni pun mencarinya keliling dunia dengan BERENANG. Cerita dimulai dari Afrika, Timur-tengah, Ingris, Kanada, Mexico, Australia, Indonesia (Karimun Jawa), Kepulauan Pasific, India. dan sampai ke Ingris lagi. Yang keren adalah penggambaran karakter dari masing-masing negara bisa mewakili wajah mereka, orang India yang berwajah India, orang Mexiko ya berwajah meksiko.

Album Deni Manusia Ikan ini termasuk komik langka karena sudah dicetak ulang oleh penerbitnya.



dan akhirnya komik favorit sepanjang masa (bagi saya)..

SMURF



Smurf merupakan tokoh kartun ciptaan kartunis Pierre Culliford yang lebih dikenal dengan nama Peyo. Pertama kali muncul pada 1958 di majalah komik terbitan Belgia, Le Journal de Spirou. Sejak awal kemunculannya, Smurf memang sudah bermacam-macam. Sebanyak 101 karakter muncul, kendati hanya ada satu yang berjenis kelamin wanita.

Keunikan inilah yang membuat mereka langsung mendunia. Smurf berkisah mengenai petualangan Papa Smurf dan teman-teman Smurf yang lebih muda. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari penyihir manusia bernama Gargamel dan kucingnya, Azrael. Makhluk yang doyan makan daun sarsaparila ini tinggal di rumah jamur, berbentuk dan seukuran jamur bagi manusia. Terkadang, beberapa kata dalam pembicaraan mereka sulit dimengerti, sebab digantikan dengan kata 'smurf'.

selain komik2 di atas ada juga komik lainnya seperti
YALEK



Johan dan Pirlouit



Arad dan Maya



dan masih banyak lagi..

Asterix & Obelix, Agen Polisi 212, Steven Sterk (anak kecil super kuat yg jadi lemah kalau pilek), Rantanplan, Spirou, Tintin. Dan banyaaaaaaaaaak lagi.
Fuiiiiih, komik2 keren dengan pesan moral yg bagus. Pada kemana ya? ah jadi kangen :)

Friday, November 22, 2013

Mestinya Bukan Scary Poster

Semalam kami membawa Fatiya ke dokter, terpicu alergi mengakibatkan luka di telinganya. Sambil duduk menunggu panggilan untuk diperiksa, saya memperhatikan sekeliling. 
source: zazzle.com

Jleb, langsung perasaan jadi tidak nyaman. Mendadak cemas dan jadi nyeri tanpa sebab. Pasalnya, disekeliling ruang tunggu bertaburan poster yang menunjukkan luka infeksi yang memburuk pada anak, poster bertulisan IMUNISASI dengan berbagai anak dalam kondisi yang sakit dan menggenaskan -- juga mencemaskan--dengan wajah yang kuyu dan pucat, poster yang menunjukkan kondisi tubuh anak dengan gembung penyakit ntah apa. Dan banyak lagi poster-poster lain yang layak untuk dijuluki Scary Poster.

Saya tidak mengerti. Mungkin dokter ingin mengingatkan orang tua apa saja resiko penyakit yang mungkin terjadi pada anaknya. Tapi rasanya bukan begitu pilihan bijak untuk mendekorasi ruang tunggu, tempat sekumpulan orang tua datang dengan berbagai perasaan cemas, sambil membawa buah hatinya tercinta. Bahkan orang tua yang datang hanya untuk sekedar check up kesehatan anak pun akan merasa cemas. 

Saya membayangkan, alangkah membahagiakan bagi orang tua yang datang dengan perasaan campur aduk, ketika duduk diruang tunggu yang bernuansa ceria. Dengan warna yang membuat gembira, boneka dan berbagai pajangan yang mewarnai ruangan agar menenangkan bagi anak, dan juga orang tua. Perawat yang ramah dan mengerti psikologi anak. 

Come on, jangan bilang soal dana. Para dokter anak itu punya penghasilan yang besar dari praktek swasta begini. Seperti kata iklan, "Buat anak kok coba-coba.". Tidak ada orang tua yang memilih coba yang murahan tidak jelas buat pengobatan anak. Mahal pun jadi yang penting jelas terjamin.

Mestinya bukan Scary Poster yang menghiasi ruang tunggu. Tapi poster-poster yang ceria dan membuat anak gembira, dan orang tua terhibur. Dokter itu bukan hanya soal 'memancing' pembeli obat. Dokter itu mengobati hati dan fisik.

Thursday, November 21, 2013

Pintu Ajaib

Tidak banyak harta yang saya miliki. Keluarga tercinta--istri dan anak-anak--adalah harta saya yang paling berharga. Selain mereka, buku adalah kemewahan lain yang saya syukuri. Dan menjadi kebahagiaan ketika melihat anak-anak saya lebih ceria bila dibawa ke toko buku dibanding ke toko mainan.

Kondisi keuangan kadang -- sering malah-- membuat buku menjadi barang sangat mewah, tapi saya bersyukur kepada Allah. Meskipun saya bukan trainer sekelas Mario Teguh, atau Roger Konopasek, cuma orang yang punya kemampuan seadanya sehingga bergelar Trainer Nasi Bungkus, walaupun sekarang kadang jadi trainer nasi kotak, atau trainer kue kotak, gara-gara saya sering ngisi materi yang kadang bayarannya betul-betul unik dan membuat senyum merekah. Tapi selalu ada saja buku yang saya dapatkan. Entah hadiah berupa voucher dari toko buku, atau dari peserta kegiatan, atau malah dalam paket ucapan terima kasih dari panitia.

Pintu Kemana Saja Milik Pribadi, itu nama yang diam-dam saya lekatkan bagi lemari buku yang tak terlalu mewah milik saya. Buku-buku itu adalah pintu portabel yang memberi kesempatan saya untuk mengunjungi berbagai tempat, di dunia nyata maupun fantasi, ataupun berjumpa dengan berbagai tokoh (sekali lagi, nyata maupun fantasi).

Bisa menyusuri uniknya samudra dalam dan petualangan bersama Kapten Nemo, dan kapal selam canggihnya. (Twenty Thousand Leagues Under the Sea, Jules Verne)

Menyusuri sudut-sudut tidak populer amerika, dan terlibat dalam konspirasi balas dendam para dewa yang terlupakan yang tercabut akarnya dari tanah leluluhr ketika arus migrasi membawa mereka ke benua yang ternyata tak seindah ceritanya. (American Gods, Neil Gaiman)

Berjalan bersama Agustinus Wibowo menjelajah berbagai negara, menyaksikan berbagai sisi tersembunyi negara-negara berakhiran 'Stan' yang tidak akan diberitakan media. (Garis Batas, Agustinus Wibowo)

Menikmati diskusi indah bersama para pakar. Mario Teguh dalam Becoming a Star. Rich Dad, Poor Dad nya Robert T. Kiyosaki. You Are What You Believe, Roger Konopasek yang merombak banyak hal dalam pemikiran saya tentang motivasi dan cara berfikir. Menyesap kopi bersama sang guru di Coffee at Luna nya Chuck Martin sambil belajar tentang manajemen dan kepemimpinan sejati, dengan cara sederhana tapi nendang. Atau melihat bagaimana persepsi bisa begitu merubah dunia kita, di The Noticer, tulisan bergaya cerita, tapi sebenarnya pembelajaran dahsyat dari Andi Andrews.

Menyelami dalamnya pemikiran dan kata-kata indah Ustadz Salim. A. Fillah, di beragam bukunya. Dari Nikmatnya Pacaran Sebelum Pernikahan, Gue Never Die, Saksikan Aku Seorang Muslim, hingga Dalam Dekapan Ukhuwah. Tidak lupa buku yang sempat buat ustadz Salim A. Fillah tertawa saat saya minta tanda tangan, Bahagianya Merayakan Cinta, edisi pertama. Tulisan beliau juga kemudian memperkenalkan saya dengan Ustadz Hasan Al Banna, Syaikh Yusuf Qaradhawi, Moh. Iqbal, dan banyak lagi nama lainnya.

Sederhana, tapi semuanya menjadi moment indah. Portable traveling, jalan-jalan menjelajah dunia nyata dan fantasi, menyusuri berbagai hal, belajar dan menikmati waktu privat bersama para ahli, para motivator, para ustadz, para pemikir dahsyat, para pemegang kunci dunia imajinasi.

Pintu ajaib, milik pribadi..

Wednesday, November 20, 2013

Hoegeng


Mantan Presiden RI, K.H.Abdurahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa, di Indonesia ini hanya ada Tiga Polisi Jujur. Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Hoegeng.

Hoegeng, saya merasa banyak yg tidak kenal lagi dengan sosok yg pernah menjabat sebagai Kapolri dan Sekretaris kabinet Republik Indonesia ke-2 ini. Dan jujur saja, saya pun tak akan tertarik mencari tahu apa itu (siapa itu) Hoegeng, sampai ayah saya mengatakan, ini polisi paling jujur yang pernah ada di Indonesia.

Dan membaca kisah Hoegeng, pejabat yang kejujuran dan anti korupsinya terbukti. Saya tak bisa tidak, menjadi kagum, bahkan terinspirasi, terutama melihat dedikasi dan kesungguhannya pada jabatan, amanah rakyat, dan ketegasan untuk hidup bersih. Bayangkan, saat menjadi pejabat, bahkan anak-anaknya menjual kue asongan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, pak Hoegeng sendiri bahkan pernah terpaksa menjual sepatu miliknya untuk memenuhi kebutuhan rumah. Pak Hoegeng juga selalu menolak grativikasi atau menolak menggunakan fasilitas negara untuk kebutuhan pribadi. Hingga pensiun pak Hoegeng tidak punya tabungan, hanya mewariskan pensiunnya yang tak seberapa, yang diambil oleh istrinya setiap bulan.

Dilahirkan dari keluarga amtenaar atau pejabat pemerintah hindia belanda, Hoegeng Iman Santoso jelas berada dalam barisan priyayi. Namun sejak kecil Hoegeng tak perduli soal kelas dalam masyarakat, ia berteman dengan siapa saja. Panjang jika ingin membaca biografi umum Hoegeng, namun fokus tulisan saya ini pada beberapa kisah nyata kehidupan jujur yang membuatnya melegenda.

Bagi yang ingin membaca biografinya silahkan klik disini.

Ada berbagai kisah kejujuran dan --sekali lagi -- dedikasi untuk hidup bersih dari Pak Hoegeng. Pria multi bakat ini, pernah menjadi pemain drama radio, bisa karikatur dan jago bermain musik. Namun saat ia menjadi pejabat negara, Kepala Jawatan Imigrasi, ketika itu istrinya memiliki usaha toko bunga, Hoegeng meminta agar toko itu ditutup, karena tak ingin nanti toko bunganya jadi tempat banyak relasi membeli bunga, sehingga mempengaruhi kenyamanan ketika Hoegeng berkerja. Merry, istrinya sepakat, dan dengan sukarela menutup toko itu.

Dikesempatan lain, seorang anaknya suatu ketika ingin menjadi tentara. Ada surat ijin orang tua yang harus ditanda tangani sebelum mengembalikan formulir. Hoegeng tak mau menandatangani, akibatnya anaknya marah besar karena menganggap sang ayah tidak mendukung cita-citanya. Hoegeng menjelaskan kepada anaknya, "Walaupun itu surat ijin orang tua, namun tanda tangan ayah, akan menjadi alasan untuk memudahkan menjadi taruna."
Memang bagaimanapun saat itu, tanda tangan Hoegeng jelas akan menjadi 'jalur khusus' bagi anaknya. Hoegeng saat itu menjabat sebagai Kapolri.

Hoegeng memang terkenal tegas dan jujur. Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).
Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yg diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng bertindak. Kita tidak gentar menghadapi orangorang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng dalam bukunya, Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan.

Kasus lainnya yg menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Begitu berkuasanya si penjamin, hingga kejaksaan mem'peti es'kan.(maaf masih bingung cara tulis memetieskan atau mempetieskan, atau gimana) Tapi, Hoegeng tak gentar. Ketika kasus berikutnya terungkap, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan. Kasus ini diduga melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI.

Kasus ini juga diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Presiden Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Hoegeng sempat ditawari untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi. Hoegeng menerima pemberhentian dirinya secara mendadak itu dengan tanpa ribut-ribut.

Ketika dipensiunkan, Hoegeng kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam. Kata-kata itulah yang terus dipegangnya hingga akhir hayatnya.

Masa pensiun bagi banyak pejabat adalah masa menyenangkan, karena ada banyak kekayaan yang diperoleh selama masa tugas yang bisa dinikmati. Tapi itu tidak berlaku bagi Hoegeng yg anti disogok. Pria yg pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini, pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Bukan hanya sekedar mobil dinas, Hoegeng bahkan mengembalikan perengkat Handy Talkie, dan berbagai barang yang merupakan milik/inventaris negara.

Belakangan, atas parakarsa Kapolri setelahnya Komisaris Jenderal Polisi Drs. Moh. Hasan, Hoegeng mendapatkan rumah. Rumah yang kemudian menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian, di dem sesuai dengan peraturan yang berlaku. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yg kemudian menjadi satu-satunya mobil yg ia miliki. Pengabdian yg penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Bahkan pernah setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yg masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri.

“Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.

Aditya, salah seorang putra Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Hobi yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga.  Karena pensiunnya sampai dengan tahun 2001, hanya sebesar Rp. 10.000. Dalam acara Kick Andy, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000. Pada 14 Juli 2004, Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia yang ke 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya.



Thursday, November 14, 2013

Selekong Dua Lekong

Tuhan tahu saya bukan pengecut. Dulu saya termasuk orang yang sangat cepat emosi. Agak mudah untuk meledak dan siap untuk pasang badan berkelahi. Walaupun masa SMA saya anak baik di sekolah, tapi malamnya kami sering nongkrong dan tak segan cari keributan. Saat itu adalah masa rebelion, pemberontakan, nunjukin diri kalau kami eksis, ada, walaupun kurang ganteng dan bukan peraih nilai akademis tinggi.

Walaupun jujur juga kalau saya bandelnya rada aneh. Saya tidak suka bandelnya saya itu dengan teman-teman sekolah. Akibatnya saya hidup di dua dunia. Anak kurus ceking yang banyak bicara ngelawak tapi selalu mundur menjauh kalau teman-teman sekolah ngajak bikin ribut. Dan beberapa malam dalam seminggu ketika saya menghilang dari peredaran teman-teman sekolah, buat ngumpul dengan teman-teman nge-gank di satu tempat yang dulunya gudang ‘robur’, sebutan buat bus penumpang dalam kota. Busnya besar, merek mercedes benz, ronsokan empat buah bus itu jadi tempat ngumpul kami. Nanti suatu saat dimasa depan setelah itu (masa lalu kalau dilihat dari waktu sekarang) saya ketemu dengan salah satu dari teman di rongsokan bus. Jimmi, cewek tomboy yang suka ngomong kasar, tapi sebenarnya paling cepat iba dengan penderitaan orang. Jimmi yang mengompori saya saat jumpa di Jakarta, untuk bikin tatto. Pertama dan terakhir. Tatto kecil, yang saya hapus dengan cara menyakitkan pas menjelang menikah.

Tuhan tahu saya bukan pengecut. Meskipun setelah menikah saya masih emosional, tapi jadi teredam setiap kali ingat sekarang saya sudah punya istri, sudah punya anak-anak. Saya punya kewajiban jaga diri, supaya saya tidak menimbulkan beban buat keluarga. Saya wajib jaga diri, supaya saya (insyaallah) ada bersama mereka.

Lalu apa hubungannya dengan lekong. Bahasa ajaib milik para bencong, lady boy, banci salon, apapun istilahnya untuk menyebut mereka para laki-laki yang merasa dirinya adalah wanita?

Hubungannya adalah karena saya menulis tulisan ini, selepas tadi siang harus duduk disebuah ruangan, karena mengantarkan design nama salon. Duduk diam dengan keringat dingin, karena dikelilingi oleh enam orang banci. Saya kerumah itu, rumah seorang teman yang akan membuka salon. Mereka baik. Sangat baik. Tidak terlihat terlalu menyeramkan. Walaupun dengan tangan kekar berotot, pipi dan dagu yang walau ditutupi bedak dengan baik, masih menunjukkan rona hijau bekar bercukur, agak membuat kesan kontras yang menyeramkan. Mereka baik, tidak menutup pintu. Namun sumpah, saya selalu kurang nyaman, bila berada diruangan tertutup dengan yang namanya banci.

Banciphobia, mungkin itu namanya. Dan itu sudah sejak saya kecil. Saya selalu takut melihat laki-laki berpenampilan perempuan itu. Bukan karena membenci mereka, bukan juga karena merendahkan mereka. I don’t know the reason.

Ga nyaman yang sangat besar, sampai ke level menjadi takut. Lalu satu hal terjadi, dan merevolusi pandangan saya tentang mereka. Naik kelas satu tingkat.

Seorang banci yang sebelumnya bermake-up tebal, keluar dari kamar mandi. Wajahnya bersih dari make up. Sambil tersenyum dia mengangguk ke saya, lalu berkata kepada teman-temannya, “..udah kosong tu.”

Teman-temanya tersenyum dan beranjak meninggalkan saya, satu persatu mereka menghilang ke kamar mandi, dan keluar dengan wajah basah, bersih dari make up. Bergantian. Dan dari tempat saya duduk saya lihat mereka menuju ryuang tengah. Mengenakan baju kemeja rapi, kain sarung, bahkan seorang dari mereka mengenakan baju koko. Lalu berdiri dalam barisan, dan shalat berjamaah. Berjamaah seperti seharusnya laki-laki.
Thai Ladyboy -Treechada Petcharat
Saya terdiam, terlepas dari phobia pada mereka, saya kagum.

Saya pernah membaca, dalam buku berjudul ’75 dosa-dosa besar’. Salah satunya adalah laki-laki menyerupai perempuan, atau perempuan yang menyerupai laki-laki. Artinya berpenampilan meniru yang tidak sesuai dengan kodratnya. Tapi terlepas dari itu, mereka shalat. Shalatnya bukan pura-pura menjadi wanita, bermukena. Mereka shalat sebagai layaknya laki-laki.
Saya tidak ingin menghakimi, pengetahuan agama saya terbatas. Biarlah urusan itu Allah saja yang menilainya.Yang jelas, saya belajar lagi. Tidak ada orang yang sempurna baik, atau sempurna tidak baik. Setiap kita punya kurang lebih. Jadi tak ada alasan untuk berfikir kita lebih baik.

Sayangnya, kita masih sering melakukannya.

Wednesday, November 13, 2013

Officially Waras

Bangunan itu memiliki desain yang bagus, setidaknya tampak depannya. Bahkan katanya selepas tsunami 2004, banyak perbaikan yang dilakukan, sehingga lebih manusiawi dan layak. Dibagian depannya tertulis dengan huruf tegas dari logam, Rumah Sakit Jiwa.

Surat Izin Mengemudi yang telah lama tak sadarkan diri, (sejak 2011) dan baru saya sadari itu beberapa waktu lalu membuat saya harus mengurus perpanjangan SIM secepatnya.

Setelah menimbang berbagai pilihan dana yang sangat terbatas, akhirnya saya meraih pisau meletakkan di leher celengan ayam plastik, Bismillah.Memastikan sesuai aturan saat menyembelih, akhirnya celengan ayam itu memberikan bantuan terakhirnya. Dengan senyum ikhlas dia menuntaskan tugasnya.

Di Rumah Sakit Jiwa, saya tidak bisa tidak merasa agak bingung. duduk dalam baris panjang di depan ruang poliklinik, bercampur baur dengan pasien, calon pasien, atau keluarga dan petugas jadi agak membingungkan. Ingin memulai percakapan dengan orang di samping saya pun jadi ragu, pasienkah? atau keluarga pengantar?

Terlebih pengalam kemarin siang masih membekas.

Ceritanya, kemarin siang saya pergi ke RSJ ini juga. Di depan ruang admnistrasi yang kosong, saya berdiri bingung tidak tahu hendak bertanya kepada siapa. Pos satpam pun kosong. Lalu seorang pemuda yang sedang sibuk membaca sesuatu dihandphonenya masuk. Melihat saya berdiri bingung, pemuda berpakaian rapi itu mendekat. Bajunya kemeja rapi lengan panjang, dengan celana kain dan sepatu. Sambil tersenyum ramah ia mendekat dan menyapa, "Maaf pak, ada yang bisa dibantu?"
Saya menjelaskan bahwa saya ingin membuat surat keterangan sehat jiwa sebagai salah satu syarat perpanjangan SIM. Dia tersenyum, meminta saya menunggu sebentar, lalu mengetuk pintu ruangan lain, seorang gadis dengan baju dokter keluar, sejenak mereka berbicara lalu anak muda itu pergi.

Gadis itu mendekat, dokter koas ternyata. Setelah mendengar penjelasan saya ia menganjurkan saya kembali keesokan hari. Memang saat itu sudah agak sore. Saat saya hendak keluar, si dokter koas itu mendadak bertanya.
" Maaf, pak. Tadi bicara apa saja dengan yang manggil saya."
" Nggak banyak, cuma bilang saya mau urus surat. Kenapa ?"
" Abang itu pasien disini, pak." ujarnya sambil tersenyum.

Gara-gara kejadian itu, saya akhirnya memilih diam saja selama menunggu. Tak lama saya dipanggil. Setelah mengikuti ujian tertulis dan 'ngobrol' dengan psikolog, sehelai surat diserahkan.

Dengan terharu saya membacanya, tercetak dengan font Times News Roman, 12 pt, spasi satu setengah.
Telah diperiksa kesehatannya dengan menggunakan General Health Quistioner (GHQ), tidak ada tanda gejala gangguan jiwa, fungsi mental dalam batas normal (sehat jiwa).
Akhirnya setelah 34 tahun, dan sangat yakin bahwa saya tidak gila. Saya secara resmi dinyatakan dalam satu dokumen resmi negara dan telah melalui pembuktian ilmiah. I am officially waras.


Saturday, November 9, 2013

Mie Kocok dan Kopi ala Alfonso Bialetti di Kenari.

Karena kondisi kaki sudah mulai membaik, walaupun masih sakit bila berdiri terlalu lama, akhirnya kemarin saya bersikeras menemani istri. Perjalanan kemarin lumayan jauh, walaupun belum sejauh perjalanan ke Arul Gele, tempat saya pernah bertemu dengan seorang laki-laki tua bernama pak Nasip. Laki-laki yang merasakan kelahiran negeri ini hingga saat ini. Laki-laki yang punya cerita menarik, serta pernah bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, yang sering dilupakan, Syafruddin Prawiranegara.

Tapi itu lain cerita, nanti di postingan lainnya akan saya ceritakan.

Saya malah ingin bercerita tentang satu tempat makan. Kenari namanya. Warung kayu yang terletak di tengah kota Takengon. Tak jauh dari pasar inpres. Yang saya tahu soal warung ini, hanya bangunan itu milik keluarga Profesor Dr. Alyasak Abu Bakar, seorang akademisi dan ulama, yang juga abang dari dosen pembimbing saat saya kuliah dulu, Dr. Ir. Yusya Abubakar, M.Sc. Pembantu Dekan Bidang Kerjasama/PD-IV di Fakultas Pertanian Unsyiah.

Thursday, November 7, 2013

Lihat dengan cara berbeda

Hal yang sama namun dialami dengan cara berbeda, rasanya berbeda. Banyak yang sudah mengatakan begitu. Terlalu banyak dan dengan cara yang sangat beragam. Namun tetap saja, mengalami sendiri dan mendengarkan kata-kata orang lain adalah dua hal yang sangat berbeda.

Kecelakaan yang sangat tidak keren, tangga bergeser ketika turun dari pohon delima, Guava (Psidium Guajava). Menghadiahkan luka sayat yang cukup dalam tepat di telapak kaki kiri, melintang hampir setengah telapak dan bersyukur tidak sampai mencederai otot kaki. Dan penanganan awal yang kurang tepat memberikan bonus infeksi yang parah. Kaki yang memang tidak layak menjadi ‘model’ iklan untuk sandal manapun, mendadak cukup potensial bagi iklan layanan masyarakat Dinas Kesehatan, atau mungkin iklan tanaman terong, karena warnanya yang ungu variatif.

Praktis, karena tak bisa berjalan, bahkan berdiri pun sakitnya luar biasa, segalanya harus dilakukan sambil duduk. Dunia tiba-tiba berbeda. Hal-hal sederhana seperti mengambil air ke dapur, pakai sandal, masak mie instant, jongkok, ngambil buku di lemari, ngambil pulpen yang tertinggal di kamar, mendadak jadi pekerjaan yang butuh usaha ekstra.

Mendadak alasan kenapa suster ngesot jadi suka emosi mengganggu orang, jadi sangat masuk akal. Hanya untuk mengambil baju dari lemari plastik yang tidak sampai satu meter setengah tingginya, butuh kerja keras ekstra.

Menghabiskan hari hanya dengan duduk, tidak bisa bekerja mencari nafkah, padahal rejeki masih recehan yang mesti dikejar harian, menambah angka baru pada frustasi meter. Setiap pagi hanya bisa merasa semakin tidak berguna sebagai suami, ketika istri tercinta berangkat kerja menempuh jarak belasan kilometer pulang pergi.

Sadar sepenuhnya sebagai orang yang tetap bekerja, bukan bekerja tetap. Pendapatan itu bukan diperoleh dengan jumlah sama secara rutin. Setidaknya bisa menjadi suami yang bisa mengantarkan istri ke tempat kerja, menjemput anak dari sekolah, belanja. Atau ketika istri harus melaksanakan tugas kantor yang secara rutin mengantarkan surat panggilan sidang, ke berbagai tempat dikota maupun dipelosok, dengan medan yang berupa gunung-gunung, setidaknya bisalah menemaninya. Tapi ketika duduk dengan kaki terjulur saja sudah sakit, jelas tak bisa dilakukan.

Teringat pada naskah novel milik sendiri, yang sedang menunggu jawaban dari penerbit.

... Kalau boleh kukatakan, menurutku ada dua jenis takdir di dunia ini. Satu, takdir manusia yang masih bisa dirubah dengan usaha keras atau melakukan kebodohan terbesar dalam hidup. Ini macam takdir yang sifatnya sesuai dengan perjuangan yang kau lakukan. Model takdir yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada cerita orang kantoran, yang selama belasan tahun meratap dalam shalat, meminta hidup lebih baik, namun setiap pagi berangkat kerja dengan tanpa babibu menerima saja bahwa dirinya yang sarjana hanya kebagian jabatan sebagai pesuruh. Tugasnya tak jauh dari beli kopi, fotokopi, dan kopi paste surat kantor untuk kepala bagian. Lalu suatu hari ditontonnya televisi swasta, ada seorang laki-laki berparas oriental, dengan kepala agak botak, berkacamata, sedang berbicara. Kalimatnya sederhana, kena menancap dan menikam dalam hati si pegawai. Tergerak jiwanya, tersentuh emosinya, terbakar semangat dia. Esoknya datang ke kantor, dicampakkannya sehelai amplop coklat, berisi surat pengunduran diri. Dengan bekal tabungan dimulainya usaha gorengan, dibujuknya kawan yang piawai dalam hal rancang merancang gambar, dan hasilnya spanduk usaha nan menarik. Setahun kemudian, dia lebih kaya dari kepala bagiannya.
Takdir kedua, lain pula aturannya. Sudah ditetapkan Tuhan sejak langit pertama kali dilukiskan. Sudah digariskan sejak fajar pertama terbit melintasi langit bumi. Mutlak hukumnya, tak bisa diganggu gugat, dan tiada peluang tawar menawar apalagi surat menyurat. Biasanya orang akan mengatakan ini takdir yang merekat erat dengan kelahiran dan kematian. Aku termasuk yang menambahkan dalam kelompok takdir ini, ada hal-hal lain yang berkaitan dengan arah hidup manusia. Seperti safety button bagi hamba Tuhan. Titik tengah persimpangan, bukan persimpangannya sendiri. Titik yang mengarahkan manusia pada takdir model pertama, tempat dimana hasil keputusan akan menentukan arah hidup dimasa depan ...

La In Syakartum La Aziidannakum, Jika kamu bersyukur pada nikmat-Ku, maka akan Aku tambah nikmat itu (Q.S. Ibrahim, 7)
Janji Allah, kepada kita hamba-hamba-Nya. Sebenarnya sakit ini juga bisa dipandang sebagai ‘nikmat’. Kesempatan untuk berhenti sejenak, merenungi kehidupan yang sedang berjalan. Safety button yang disiapkan karena sedang akan memulai kehidupan ditempat yang baru. Memulai kembali mencari nafkah, bukan dari nol, bahkan dari minus.

Dan memang, karena tidak bisa bangun, akhirnya hanya bisa membaca, menulis, dan merenungi banyak hal. Ternyata banyak, sangat banyak hal yang ketika ditinjau ulang, masih sangat dibutuhkan perbaikan. Rencana usaha, yang karena modalnya sangat minim ternyata masih punya kesalahan perhitungan, sehingga keuntungan yang maksimal hanya pada kisaran belasan ribu rupiah per hari bisa kehilangan setengahnya bila dilanjutkan tanpa perubahan. Allah sayang kami.

Sejak lama bercita-cita menjadi penulis novel. Meskipun sudah mengirimkan delapan naskah ke penerbit, namun masih belum ada kabar, saya tetap melanjutkan menulis naskah lain. Belajar dari kisah Dan Brown, yang setelah Da Vinci Codenya diterbitkan, tulisan sebelumnya juga mendadak bernilai. Atau Tere Liye, yang namanya mencuat setelah novel Hafalan Shalat Delisa meraih sukses, atau J.K Rowling dengan Harry Potternya, semua berhasil karena fokus meraih impian mereka. Terus menulis, saya katakan pada diri sendiri, lama-lama jatah penolakan pasti habis, dan satu naskah yang tepat akan hadir pada saat yang tepat.

Sakit ini menjadi berkah juga. Bisa menambah lebih dari 100 halaman untuk dua naskah novel yang sedang ditulis, plus menemukan kesalahan data fatal soal ‘kondisi’ kota Prague/Praha. Karena memasukkan satu bangunan yang belum dibangun pada tahun 1972. Allah sayang kami.

Membaca pun jadi lebih meresap. Selama sakit, alhamdulillah jadi waktu belajar juga. Hanum Salsabila Rais, mengajak belajar kembali tentang kemegahan Islam, menjelajahi eropa bersama putri Amien Rais ini dalam ’99 Cahaya Di Langit Eropa’. Belajar banyak ilmu agama, kekayaan pikiran dan penerapan Islam dalam hidup dari Buya Hamka, bersama anaknya, pak Irfan Hamka di buku ‘Ayah’. Mengagumi pelajaran penting dari Frederick Forsyth, soal menampilkan karakter dan membangun deskripsi dengan lembut dalam buku ‘The Day of The Jackal’, bukunya jauh lebih menarik dari filmnya. Walaupun tak menampik, bahwa adaptasi versi filmnya cukup keren, terutama menyaksikan Richard Gere adu acting dengan Bruce Willis. Lagi-lagi kesempatan berharga yang dihadiahkan Allah karena sakit. Allah sayang kami.

Begitulah, hal yang sama ternyata bisa memiliki rasa berbeda.

Walaupun Nick Vujicik, motivator yang tidak punya tangan dan kaki itu bukan seorang muslim, namun saya suka kata-katanya. Just because I don’t undesrtand God’s plans, does not mean he is not with me. Ketika saya tidak bisa memahami rencana Tuhan, bukan berarti Tuhan tidak bersama saya.



Tuhan selalu bersama hambaNya. Tak soal kita mau perduli atau tidak. Allah memberikan yang baik bagi hambaNya. Kadang dalam bentuk yang mungkin kita tidak suka. Dan pada akhirnya, menjadikannya bernilai dan berguna untuk kita adalah pada keputusan kecil kita, menerima dan mensyukurinya, atau menolak membuka hati lalu ujung-ujungnya hanya bisa melihat buruknya saja dan hidup pun jadi terasa lebih menyebalkan.

Start typing and press Enter to search