Post Ad Area

Post Home Style

Friday, February 7, 2014

BASB

Kali ini postingannya singkat saja. Tidak seperti postingan-postingan saya sebelumnya, yang biasanya ... singkat juga sih. Ah, garing. Saya memang bukan pelawak berbakat, apa boleh buat.

BASB. Apa itu? Sebelumnya pernah tercetus ide menamai komunitas blogger ini dengan Blogger Aceh Baca Buku, tapi batal karena singkatannya terlalu dewasa dan terkesan jorok, BAB(B). Kemudian terfikir juga nama lain Blogger Suka Buku, BSB. Tapi batal, karena selain ga orisinil, juga kami tdk punya tampang boys band, kecuali Eqie, ibu muda yang sedang kuliah di Thailand ini memang yang paling ganteng diantara kita berempat.
Malam itu, rapat ga resmi kami cuma pakai chat FB. Ferhat yang menjadi penggagas ide, Ihan, Eqie, dan saya.

Akhirnya setelah melalui perdebatan seadanya, dan lambatnya koneksi internet. Kami sepakat menamai komunitas ini Blogger Aceh Suka Buku, BASB.

Komunitas blogger yang misi resminya adalah mencoba berpartisipasi dengan agak aktif, dalam rangka menegakkan keadilan sosial bagi sekelompok rakyat Indonesia, menciptakan perdamaian dunia, dan meningkatkan taraf harga diri serta rating blog masing-masing di dalam data search engine.

Misi tidak resminya, meningkatkan minat baca dikalangan masyarakat blogger di Aceh.

Aturannya sederhana saja, punya blog khusus buku, bikin review buku minimal satu kali sebulan di blog itu. Saya sendiri sih mikirnya bisa lebih luas lagi, tidak cuma tulisan tentang buku, tapi bisa juga tentang si penulisnya, bagaimana buku itu mempengaruhi atau pandangan pribadi kita tentang buku itu, cerita menarik mengenai buku itu, kisah latar belakan buku, atau latar belakang kenapa punya buku itu. Dan banyak lagi, yang bisa diolah dari 'buku'.

Itu aja yg mau saya tulis.

Berminat? mau ikutan, klik DISINI, atau gambar di kanan atas bertuliskan I Am Member of Blogger Aceh Suka Buku.

TTFN, Thaaa Thaaaa For Now.

Wednesday, January 29, 2014

Kontradiksi Doa


a
[ kon·tra·dik·si n pertentangan antara dua hal yang sangat berlawanan atau bertentangan ]
Definisi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia
a



Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh | Indonesia
Kontradiksi, atau bisa juga dikatakan saja bertolak belakang secara mutlak.

Ketika dalam banyak sesi motivasi, para moti-vator meneriakkan doa dengan menggelegar, katanya agar mengguncang semesta. Atau ajaran dan ajakan tersembunyi yang di sisipkan dalam film “Bila bersungguh-sungguh pada impianmu, maka alam akan membuka jalan.”

Justru sebaliknya apa yang kami diajari dulu. Tuhan sebenarnya meminta berdoa dengan kelembutan hati, sikap, kata, dan penundukan jiwa.

Tuhan yang akan membuka kesempatan, bukan semesta, bukan alam.

Tuhan lebih tinggi dari itu semua.

Lemah lembut saja dalam berdoa, santun dalam pilihan kata, sembunyikan dari hadapan mahluk lain, dan jangan mendikte Tuhan.

Ketika meminta, Tuhan maha mendengar. Tuhan Maha Mengetahui. Tuhan tidak tuli, tak perlu berteriak dan sesumbar dalam doa. Tuhan bahkan lebih tahu apa yang kita butuh, bahkan sampai niat paling tersembunyi dalam hati.

Tuhan tahu dan mendengar.

Lemah lembutlah dalam berdoa, karena hati yang diberi tenaga dengan teriakan arogan hanya akan membawa sombong.

Saya selalu berpikir dan merenungi betapa indah dan filosofis makna bersepi-sepi dengan Tuhan ketika berdoa. Adalah bukti betapa Tuhan tahu dan selalu tahu.

Berteriak dan unjuk tenaga ketika berdoa tidak lebih dari unjuk kesombongan di hadapan manusia.

Kesombongan yang akan memberikan tenaga untuk egois. Jadi ketika Tuhan menunda atau menunggu waktu yang tepat, kita yang sesumbar ketika berdoa dihadapan orang lain, kita jadi malu pada orang lain. Karena seolah Tuhan tak mendengar pinta kita.

Malu dan egois yang membuat segala urusan, jadi soal harga diri kita di depan orang lain. Tuhan kita bukan lagi Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan kita tiba-tiba berubah, menjadi penilaian orang lain, pendapat orang lain, apa kata orang lain.

Ketika ingin meneguhkan diri kita, dalam meraih cita dan impian, tidak bisa tidak, mesti bersandar pada kekuatan terkuat, pemilik segalanya. Perubahan menjadi ‘Saya’, individu yang akan menjadi bagian dari kehidupan, saya yang bisa tegas bilang saya is me, saya adalah saya, bukan dia atau mereka. Adalah perubahan yang tidak mudah. Karena saya is me, adalah keikhlasan, kepasrahan, menerima diri kita yang diciptakan Tuhan dengan segala kekurangan yang ada. Memang tidak sempurna.

Tapi kekurangan itu tidak akan dijadikan penghambat, karena ketika ikhlas, maka fokusnya pada sisi sebaliknya, menggunakan apa kelebihan yang ada.

Bila bersandar hanya pada diri sendiri, mana sanggup. Selalu ada saja hambatan yang menantang kekuatan kita. Butuh penopang, penyangga, yang Maha Kuat.

Bila bersungguh-sungguh pada impianmu, maka memintalah kepada Tuhan. Lalu bekerja keraslah, tunjukkan, pantaskan diri untuk mendapat yang diminta.

Meminta kepada Tuhan dengan santun, lembut, dan bersunyi-sunyi tanpa pamer kemegahan doa di depan orang lain, hanya ada kita dan Tuhan. Adalah satu lagi tanda cinta Tuhan untuk kita.

Itu urusan pribadi banget antara kita dan Tuhan. Sehingga kalau ditunda atau diberi jawaban lain, tidak akan ada kesombongan yang terluka atau perlu dijaga di depan orang lain.

Pada akhirnya, memperbaiki diri, jadi ‘Saya’ yang bisa bangga dengan dirinya sendiri, selalu soal memperbaiki hubungan dengan Tuhan.

Monday, January 27, 2014

Bukan Tom Cruise Yang Menentukan.

Source: Gettyimages.com
Karena Shanti tidak seputih Shinta, maka Shanti tidak dianggap cantik. Terus, yang namanya perempuan itu, mesti mulus mukanya seperti porselen, dan solusinya adalah pakai krim yang harganya lumayan murah, tapi ajaib, bisa menghilangkan sembilan belas tanda penuaan. Seolah belum cukup ribet hidup yang harus dijalani, masih ada lagi aturan ditambahkan, bahwa kalau anda perempuan, punya tubuh bukan seperti gitar spanyol, dan tidak bisa nyelip diantara dua kursi, maka anda tidak layak berbahagia.

Ternyata kalimat yang sering dikatakan oleh pemimpin kita, waktu pidato hari kemerdekaan, bahwa kita sudah merdeka, itu salah. Kita masih dijajah, dengan lebih kejam. Karena kita diajari, dipaksa, diracuni pikirannya, bahwa kita tidak akan sempurna hidupnya dan dijamin gak bahagia kalau gak ikut apa kata iklan dan majalah mode.

Begitulah.

Pada akhirnya, ribuan kata kunci yang muncul dari segala hal disekeliling kita membentuk kita menjadi manusia yang kehilangan kebanggaan pada dirinya sendiri.

Ketika terbangun dipagi hari, kita tanpa sadar mengeluh meyadari bahwa, pantulan kita dicermin jauh sekali dari kesan mirip dengan Tom Cruise.

Seolah menjadi sempurna dan bahagia adalah ketika kita bisa mendekati mereka yang dikenal sebagai selebritis. Seolah mereka adalah panutan kebahagian dunia yang juga penjamin akhirat.

Kita lupa dengan pernyataan dari Tuhan. Tuhan yang menciptakan kita, dan segala yang ada di alam raya ini. Manusia diciptakan sebagai pemimpin, diciptakan sebagai penguasa, dan sebagai keunggulan utama, kita diberikan ilmu.

Ilmu, bukan penampilan.

Dengan takjub saya membaca Animal Farm, buku luar biasa karya George Orwel. Penulis yang membuat dunia terkagum-kagum ketika semua yang dituliskannya dalam novel lainnya, 1984, ternyata menjadi kenyataan. Padahal novel itu ditulis tahun 1949.

Mayor, seekor babi, dalam novel satir Animal Farm, memberikan orasi politik pada sesama hewan ternak penghuni peternakan. “Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengkonsumsi tanpa memproduksi.”

Sinisme yang sebenarnya beneran, fakta itu, bukan rekayasa. Kita memang mahluk yang rapuh, sangat rapuh. Kita tidak punya kekuatan seperti kuda dan gajah, atau cakar tajam singa, atau kamuflase ala bunglon dan gurita.

Tapi lihatlah manusia menguasai dunia. Dan itu dengan ilmu, dengan pengetahuan, bukan karena gimana menariknya kita.

Saya is Me. Harusnya begitu setiap individu hidup di muka bumi ini menyatakan siapa dirinya.

Saya adalah saya, tidak perduli pada betapa tidak sempurnanya saya, saya tahu saya berharga. Tidak ada kebetulan dalam alam semesta yang diciptakan Tuhan.

Bukan, ini bukan menjadi sombong, ini menghargai diri sendiri. Ini menerima kenyataan. Ini kejujuran.

Menghargai itu adalah menerima kenyataan, dan mencari sisi paling menyenangkan dari segala kondisi.

Memangnya kenapa kalau Shanti tidak seputih Shinta. Oke Shanti kulitnya hitam, pernah dengar putih manis? Tidak kan. Yang ada hitam manis.

Memangnya kenapa kalau ada kerut diwajah, terlihat lebih tua. Bila pasangan kita mencintai kita dengan tulus, tidak akan ada yang berkurang saat bertambah usia.

Tidak bisa lewat, nyelip, diantara dua kursi seperti iklan tentang bentuk tubuh ideal seorang wanita di televisi? Kenapa tidak kursinya saja yang dijauhkan, dilebarkan jaraknya, lebih mudah kan.

Jelek? Oke cukup sampai disitu. Bukan jelek, tapi kurang ganteng. Berbicara tentang menghargai diri, salah satunya adalah tidak menggelari diri sendiri dengan gelar yang rendah.

Berbeda dengan kecil dan besar yang relatif sifatnya. Jelek itu mutlak merendahkan diri sendiri. Fakta bahwa kita tidak semenarik Tom Cruise, bukan berrti bisa dijadikan pembenaran untuk menghina diri sendiri.

Kurang ganteng, itu pilihan sebutan yang lebih bermartabat. Jujur, tidak berbohong, namun juga bukan merendahkan.

Berubah menjadi lebih baik, dimulai dari hal yang sangat sederhana, perspektif atau sudut pandang, terutama dalam menilai diri sendiri.

Saya tidak dilahirkan kedunia untuk menjadi pecundang. Walaupun saya ditakdirkan untuk menjadi seseorang dengan kemampuan dibidang sederhana, tapi saya akan menjadi yang terbaik dibidang itu, atau setidaknya mati dalam keadaan berjuang untuk menjadi yang terbaik.

Friday, January 24, 2014

Membangun, bukan menemukan.

"You are what you believe, seriously. Kamu itu adalah apa yang kamu percaya, beneran, ga bohong. Tuhan tidak akan merubah nasip suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya. Itu janji Tuhan dalam Al-Quran. "

Source : Gettyimages (RF)

Selalu terasa mudah ketika saya membaca buku motivasi, atau menonton tayangan motivasi di televisi. Hanya dalam hitungan sekian menit, seolah tubuh dan pikiran dibanjiri energi tanpa batas. Lalu setelah beberapa belas menit, semangat itu mulai menurun. Masalah yang tadi terlihat sudah mengecil, perlahan-lahan mulai mebesar lagi. Sehingga akhirnya dalam hitungan jam, semua kembali seperti semula. Dan yang saya lakukan adalah mencari buku motivasi lagi, mengunduh video motivasi dari youtube, atau menunggu tayangan motivasi lagi di televisi.

Kalau kondisi sebelum dan sesudah menonton atau membaca -- bisa juga mendengar, karena sekarang banyak audio book -- motivasi itu bisa diumpamakan, saya merasa itu seperti menikmati secangkir kopi. Ketika cafein membanjiri pembuluh darah rasanya semangat dan energi meningkat. Lalu ketika dosis cafein mulai berkurang dalam darah, perlahan-lahan kita kembali merasa kurang bersemangat, kurang segar, kurang bertenaga.

Jujur saja, itu yang selama bertahun-tahun saya rasakan. Dan selalu ‘jawaban’ yang terpikirkan adalah saya belum punya cukup motivasi, masih kurang wawasan. Saya kembali berburu buku baru, materi baru. Bahkan rela menyisihkan penghasilan yang tidak seberapa untuk mengikuti training motivasi dengan harga sangat mahal, berhutang kalau perlu.

Mengapa? Karena ketika membaca buku-buku motivasi itu, saya juga membaca bagian testimoni. Pernyataan yang berasal dari peserta yang hidupnya berubah karena mengikuti pelatihan yang luar biasa dari si penulis buku itu.

Dan hasilnya, tidak seperti yang diharapkan.

Lalu apakah salah mengikuti pelatihan motivasi, atau membaca buku motivasi, atau menonton tayangan motivasi? Sepenuhnya tidak salah. Hanya saja ada yang salah rasanya ketika kita menggantungkan harapan akan menjadi pribadi yang lebih baik, atau akan menjadi orang yang lebih tangguh, pada orang lain.

Di meja kedai kopi kembali ada penegasan saya dapatkan. Seorang teman yang saya tahu juga orang yang roda kehidupannya sedang macet pada posisi susah, siang itu hadir dengan senyum yang lebih ceria. Kebetulan memang, keempat sisi meja itu diisi oleh kami yang mencoba sejenak melupakan susahnya hidup dengan menikmati secangkir kopi pahit tanpa gula, agar pahitnya kopi membuat hidup seolah kurang pahit.

Melihat senyum, semangat, dan nada bicara yang gembira. Kami hanya memikirkan satu hal. Teman ini telah menemukan jalan, dan kami harus mendapatkan cerita tentang jalan itu. Bayangan dalam pikiran kami kemungkinan besar sama. Satu buku yang sangat inspiratif, atau ada sebuah film yang menggugah dan menguatkan, atau bisa jadi pelatihan yang luar biasa dahsyat menggubah dan menggugah.

“Tidak ada buku, film atau pelatihan. Saya cuma berhenti mengharapkan orang lain. Sekarang hanya ada saya dan Tuhan” Jawabannya jauh dari yang kami bayangkan. Lalu ketika teman itu mulai menjelaskan semuanya jadi masuk akal.

Berhenti mengharapkan orang lain. Bukan berarti tidak percaya lagi kepada orang-orang disekitar kita, tapi merubah sudut pandang. Tidak lagi berfikir bahwa perubahan itu hanya mungkin terjadi dari orang lain. Membaca buku, menonton tayangan motivasi, mengikuti pelatihan motivasi, sejujurnya adalah pernyataan, bahwa kita sudah percaya diri kita tidak baik. Kita menyatakan bahwa seorang yang lebih baik diluar sana akan bisa membuat kita menjadi lebih baik.

Ketika semua sudah kita lakukan, dan tidak ada perubahan, kita mulai mencari yang kita anggap yang lebih baik dari orang baik sebelumnya. Lalu ketika kembali tidak berhasil, kita mengulangi cara yang sama dengan mencari sosok yang baru lagi.

Kita lupa, semua itu akan sia-sia, bila kita sendiri tidak percaya kita bisa.

Sebagus apapun yang dikatakan, yang diajarkan, yang disampaikan kepada kita, semuanya akan terpental dari pikiran kita bila kita sendiri tidak mempercayai kita bisa. Buku motivasi, tayangan dan pengalaman orang lain itu memang sangat berguna, karena itu nikmat Tuhan. Kita tidak perlu bersusah payah mengalami kehidupan si penulis buku yang selama puluhan tahun menderita, kita cukup membaca bukunya, paling lama satu bulan, dan pelajaran hidup itu kita dapatkan.

Tapi itu semua tak berguna bila kita tidak yakin kalau kita punya kemampuan untuk menjadi lebih baik. Awalnya mesti diri kita dulu. Semuanya berawal dari diri kita dulu. Karena semuanya memang ditentukan oleh diri kita.

Membaca buku motivasi atau menonton tayangan motivasi, atau mengikuti pelatihan motivasi itu menambah informasi, nambah masukan data di kepala. Tapi itu seperti menanam bibit, sedangkan kita tidak punya tanah, tidak ada kebun. Tanamnya di atas apa? Tidak akan ada yang tumbuh.

"Life isn't about finding yourself. Life is about creating yourself, kata George Bernard Shaw. Hidup ini bukan menemukan diri kita, tapi soal membangun diri kita. Pada kenyataannya memang tidak ada yang perlu menemukan diri, karena memang kita tidak pernah hilang." 

Life isn't about finding yourself. Life is about creating yourself, kata George Bernard Shaw. Hidup ini bukan menemukan diri kita, tapi soal membangun diri kita. Pada kenyataannya memang tidak ada yang perlu menemukan diri, karena memang kita tidak pernah hilang. Kalau semua menjadi lebih buruk, pola fikir kita jadi lebih buruk, sikap kita jadi lebih buruk, itu karena kita memang membangun diri kita jadi lebih buruk. Kita kumpulkan alasan yang ada untuk membenarkan bahwa kita memang tidak baik, kita tidak berkualitas. Lalu lama kelamaan kita jadi percaya bahwa kita memang buruk. Karena kita percaya kita jadi buruk, ketika kita mau melakukan apapun, sudah dengan pikiran bahwa tidak akan berhasil. Kita melakukannya dengan setengah hati, tidak lagi bersungguh-sungguh, hasilnya besar kemungkinan seperti yang kita yakini itu, buruk.

Berhenti mengharapkan orang lain. Sekarang saatnya kita mengharapkan diri sendiri. Kita menjadikan diri kita sebagai pemeran utama. Tokoh utama. Kitalah inti cerita. Kita menyakini ini cerita bukan tentang orang, ini cerita tentang kita. Sehebat apapun orang lain, kita yang punya kuasa pada diri kita. Mau berubah? Kita yang menentukan sendiri.

You are what you believe, seriously. Kamu itu adalah apa yang kamu percaya, beneran, ga bohong. Tuhan tidak akan merubah nasip suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya. Itu janji Tuhan dalam Al-Quran.

Artinya sangat sederhana. Sebelum mengharapkan orang lain membantu kita untuk jadi lebih baik, kita sendiri yang mesti mengusahakan jadi lebih baik. Tuhan tidak menciptakan kita untuk menderita, maka setelah kita berjuang keras, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Thursday, January 23, 2014

Jangan Masukkan Anak Dalam Kotak

Saya pernah membaca, dalam komik kungfu boy. Tentang seekor jangkrik (atau kutu?), yang dimasukkan dalam kotak. awalnya ia melompat tinggi, namun setelah beberapa kali terbentur kotak, ia hanya melompat, sebatas tinggi kotak itu. Bahkan setekah ia tidak lagi berada di dalam kotak.

Cerita lainya dari seorang teman, tentang menjinakkan gajah di Thailand. Anak gajah diikat pada sebatang pasak besar, membuat semua usahanya untuk lepas, sia-sia. Secara bertahap kayu pasak kokoh itu digantikan dengan kayu yang lebih kecil hingga akhirnya, ketika si gajah sudah cukup besar, ia tertambat pada sebatang kayu yang sebenarnya dengan mudah bisa dipatahkannya. namun si gajak tidak melakukannya. Setiap kali tali yang mengikat kakinya terasa tertahan, ia langsung berhenti. Benaknya mengingat tentang usahanya yg sia-sia untuk lepas. Tanpa menyadari bahwa kayu pasak itu sekarang tak lebih hanya sebatang kayu kecil.

Begitu juga dengan anak. Tanpa sadar kita menjadikan mereka hidup dalam kotak pembatas. Kotak pembatas itu dengan tanpa sadar beriman pada ajaran yg mengatakan bahwa potensi setiap anak hanya terbatas pada satu kemampuan saja.

Tes sidik jari, mengatakan anak kita cocoknya menjadi manajer. Maka kita mulai menutup mata pada potensi lain, fokus dan mengarahkannya menjadi manajer. Ayah bunda dengan alasan demi kebikan anak, merancang program yang mendukungnya untuk jadi manajer.
Kita mengaminkan ketika hasil tes multiple inteligence/kecerdasan majemuk yang mengatakan anak kita berada pada satu dari 8 kecerdasan (belakangan Howard Gardner pencetus teori ini menambahkan jadi sembilan kecerdasan). Maka mulailah dengan tujuan mempertajam potensi kecerdasannya itu dengan mengarahkan pada bidang tertentu saja.

The theory of multiple intelligences is a taxonomy of intelligence that differentiates it into specific (primarily sensory) "modalities", rather than seeing intelligence as dominated by a single general ability. This model was proposed by Howard Gardner in his 1983 book Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Gardner articulated seven criteria for a behavior to be considered an intelligence. These were that the intelligences showed: potential for brain isolation by brain damage, place in evolutionary history, presence of core operations, susceptibility to encoding (symbolic expression), a distinct developmental progression, the existence of savants, prodigies and other exceptional people, and support from experimental psychology andpsychometric findings.
Gardner chose eight abilities that he held to meet these criteria: 
musical–rhythmic, visual–spatial, verbal–linguistic, logical–mathematical, bodily–kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, and naturalistic. He later suggested that existential and moral intelligence may also be worthy of inclusion. Although the distinction between intelligences has been set out in great detail, Gardner opposes the idea of labeling learners to a specific intelligence. Each individual possesses a unique blend of all the intelligences. Gardner firmly maintains that his theory of multiple intelligences should "empower learners", not restrict them to one modality of learning.
http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_multiple_intelligences


Ironis, ketika melihat orang tua, dengan alasan demi kebaikan anak, tanpa sadar memasukkan anaknya dalam kotak. Potensi anak yang semstinya berkembang, tumbuh, dieksplorasi, malah di bonsai.
Tidak jarang, malah orang tua memaksakan impiannya yg tidak kesampaian pada anak, atau memaksakan meraih satu prestasi di bidang yang membuat 'nilai sosial' meningkat. Tanpa perduli apakah anak benar suka atau tidak.

Padahal Gardner sendiri berpendapat beda. "Each individual possesses a unique blend of all the intelligences." -- Setiap individu terdiri dari kombinasi unik berbagai kecerdasan.
Setiap kita memang memiliki beragam kecerdasan, yang ada dan terbentuk dalam diri kita.
Buang kotak pembatas itu. Biarkan anak mengeskplorasi potensi dan kecerdasan yang ada dalam dirinya, tugas kita sebagai orang tua adalah mendukung. Bukan memaksa mereka menjadi duplikat impian masa kecil kita, atau alat status sosial.

Berhentilah percaya pada mitos tidak jelas soal 'batasan' itu.

Sidik jari begini begitu untuk tipe pekerjaan/potensi/kecerdasan tertentu, saya tidak percaya. Sidik jari memang spesifik, setiap orang memiliki sidik jari khusus, yang tidak akan sama dengan manusia manapun lainnya di dunia, lalu bagaimana sesuatu yang pasti berbeda--tidak akan sama--antar manusia manapun bisa diarahkan pada hal-hal yang tertentu yang sama dengan kelompok-kelompok manusia tertentu.
Atau mitos Melankolis, Sanguin, Korelis, dan Plegmatis. Sama, saya juga tidak percaya itu. Pernah percaya, sampai kemudian sadar, beberapa kali iseng tes 'kepribadian' hasilnya beda2. Ada pengaruh rupanya, kondisi emosi dan tes itu. Juga menjadi pembuktian bahwa keempatnya ada dalam diri kita. Kitalah yang mengarahkannya, tidak bisa dipisahkan menjadi salah satu sebagai dominan. Masing-masing muncul pada kondisi berbeda.

Setiap anak, adalah ilmuwan, pilot, cheft, musisi, animator, seniman, aktor, smurf atau kamen rider. Mereka punya milyaran potensi, mereka semestinya tumbuh berkembang, bukan tumbuh terkekang.

Tuesday, January 21, 2014

Carpe diem, quam minimum credula postero


a
" Ada momen ketika saya ingin menggugat Tuhan. Ingin bertanya, Tuhan, saya tidak korupsi, namun usaha saya jatuh karena rekan yang korupsi. Tuhan, saya tidak mencuri hak orang, tapi kenapa hak saya dicuri orang, dan dia sukses. Tuhan, saya hidup jujur, dan lihatlah, kejujuran saya digunakan orang lain untuk mencurangi. Tuhan, saya berusaha baik, dan sekarang saya punya hutang ratusan juta. Apa ini keadilan Tuhan? "
a

Saya selalu berharap akan bisa menuliskan sebuah buku yang menceritakan rangkaian perjalanan, dari belum sukses hingga kemudian berhasil meraih kesuksesan. Terus terang saja, impian itu muncul gara-gara sering membaca buku-buku bermodel begitu. Dari buku-buku karangan Zig Ziglar, Napoleon Hill, Anthony Robin, Andy Andrews, Oprah Winfrey, Billy PS Liem, dan banyak lagi. Lalu ketika di Indonesia mulai juga muncul trend buku-buku ‘How to’ dan buku motivasi, seperti tulisannya Andrie Wongso, Abdullah Gymnastiar, Mario Teguh, Tung Desem Waringin, Krisnamurti, Hermawan Kertajasa, James Gwee, Merry Riana, Ippho Santosa, saya juga membacanya. Dan semua menanamkan impian yang sama, tulis buku yang keren setelah sukses dan jadi sumber inspirasi.

Nyatanya sejak saat itu saya malah sering betul ‘gagal’. Kalau mengambil istilah teman baik saya, Lo tu ya ahli banget dibidang ‘fail’ . Hampir sebelas tahun sejak mulai punya mimpi itu, tapi ceritanya beda. Setelah sempat mencicipi sekitar tiga tahun yang layak dilabeli sukses, punya cafe, restoran ikan bakar, lembaga pelatihan dan usaha produk pertanian, mulai berani nyicil rumah, dan berniat beli mobil, semuanya jatuh dalam hitungan bulan. 

Sebelas tahun perjalanan, menjalani dengan penuh keteguhan semua yang diajarkan oleh para inspirator dan motivator, yakin betul bahwa belajar dari para ahli itu akan menjamin kehidupan seperti mereka, dan hasilnya, saya malah terjatuh dalam rentetan kegagalan. Salah mereka? Jelas tidak. Saya hanya merasa ternyata selama ini saya terlalu mengandalkan mereka untuk menjadi kompas hidup saya.

Ada momen ketika saya ingin menggugat Tuhan. Ingin bertanya, Tuhan, saya tidak korupsi, namun usaha saya jatuh karena rekan yang korupsi. Tuhan, saya tidak mencuri hak orang, tapi kenapa hak saya dicuri orang, dan dia sukses. Tuhan, saya hidup jujur, dan lihatlah, kejujuran saya digunakan orang lain untuk mencurangi. Tuhan, saya berusaha baik, dan sekarang saya punya hutang ratusan juta. Apa ini keadilan Tuhan?

Dan tidak ada jawaban. Roda kehidupan masih macet, patah sumbu dengan bagian yang bertuliskan nama saya tepat nyangkut di bawah. Dan lima tahun kemudian jawaban itu muncul, bukan dari para motivator kelas dunia, tapi dari seorang laki-laki berparas gersang.

Cek Baka namanya, nama panggilan dari nama lengkapnya, Abu Bakar Usman. Tak main-main memang, dua nama sahabat Rasulullah di rekatkan pada laki-laki dengan wajah sangar, namun sangat lembut dalam bercakap.

Hari itu, setelah sekian lama dompet ditalak tiga oleh kartu ATM, dan lama tak pernah melihat uang pecahan di atas dua puluh ribu. Kabar tentang sebuah kedai kecil di sudut kota yang menyajikan kopi enak dengan harga sangat ramah membuat saya datang, dan bertemu untuk pertama kalinya dengan Cek Baka.


Sangat mengenal seluruh pelanggan yang datang ke kedai kayu itu, Ia tahu saya pendatang baru. Secangkir kopi hitam panas dengan takaran gula yang pas, tak menghilangkan pahitnya kopi, namun juga tak membuat kemanisan. Obrolan santai tak tentu arah menghantarkan satu kalimat bijak.

“ Kadang Tuhan sudah menyiapkan kebaikan yang kita minta, tapi bukan seperti yang kita harap. Diletakkan tepat di depan kita, tanpa ribut-ribut, menunggu kita sadar bahwa yang kita minta ada di depan mata.”

Kopi itu jadi madu.

Setelah sekian lama, bukan dari Mario Teguh, Oprah Winfrey, Napoleon Hill, atau Krisnamurti. Seorang laki-laki biasa, yang membuka kembali hati, mengingatkan dan tanpa disadarinya, melapangkan hati.

Kata-kata sederhana itu membuka banyak hal dalam otak yang sempat buntu. Benar sekali, tak bisa dibantah. Tuhan tidak menciptakan hambaNya untuk menderita. Menderita itu pilihan yang kita ambil sendiri. Sama seperti bahagia itu adalah pilihan kita sendiri juga.

Hidup selalu berada antara dua pilihan. Susah atau senang. Menderita atau bahagia. Menyesali atau menikmati. Tidak ada hidup yang selalu baik sempurna tanpa kekurangan. 

Kebaikan yang saya minta, kesuksesan yang saya harapkan, keinginan untuk bisa berbagi inspirasi, sebenarnya sudah saya miliki. Semua kegagalan itu adalah pelajaran berharga, pengalaman mahal yang tidak semua orang punya.

Oke, saya banyak betul gagal. Ahli kecil-kecilan dalam soal gagal, sedikit paham karena keseringan merasakan itu. Walaupun tidak sehebat pengalaman para orang sukses kelas dunia. 

Oke saya belum mapan secara financial, masih punya hutang, but i’m survive. Saya bisa bertahan. Saya punya pengalaman bertahan, dan itu sesuatu yang berharga.

Tuhan telah menjawab permintaan saya, sejak bertahun lalu. Dan saya menghabiskan sekian tahun untuk menolak melihatnya, yang diletakkan dengan bersahaja di depan mata.

Cek Baka, dengan pola fikir yang tidak mau membuat hidup rumit, mengingatkan pada sebuah frasa terkenal, carpe diem. 

Carpe diem, adalah sebuah frasa dalam bahasa Latin yang artinya adalah: "Petiklah hari." Kata bijak yang diucapkan oleh Quintus Horatius Flaccus (8 Desember 65 SM - 27 November 8 SM), atau lebih dikenal sebagai Horatius, seorang penyair terkenal di Kekaisaran Romawi. Kalimat lengkapnya adalah: "carpe diem, quam minimum credula postero" yang berarti: "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok."

Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok, dengan begitu kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang diberikan secara optimal.

Yang saya miliki memang bukan kesuksesan materi. Saya masih jauh dari keberadaan seperti seorang teman, yang menjadi inspirator bisnis karena keberhasilannya mendirikan sebuah usaha ayam goreng lokal yang kini jadi nasional dan mulai merambah ke Malaysia dan Philipina.

Teman itu sering mengatakan berfikirlah kita besar, jangan menilai diri kita kecil, nanti hanya akan menjadi orang kecil seumur hidup. Saya setuju.

Namun saya keberatan bila kita menganggap ‘kecil’ itu tidak berharga. Banyak hal yang kecil namun bernilai besar. Karena sebenarnya hidup ini bukan selalu soal jadi besar. Tapi soal jadi optimal. Yang kecil namun diberdayakan, akan menghasilkan kekuatan dahsyat.

Hal kecil yang kita punya, bila diasah, diolah, dilatih, dikembangkan. Akan menjadi hal kecil yang tajam, terlatih, potensial dan berkembang. Satu hal kecil yang dibingkai dengan banyak hal kecil, akan jadi sesuatu yang besar, dan kuat.

Ah, kita sering lupa hal ini. Padahal sejak kita masih di sekolah dasar, sudah nyaris bosan kita dengar kata guru kita, tentang batu yang dilubangi tetesan air hujan. Bertahun-tahun tetes air jatuh ditempat yang sama diatas batu, hingga akhirnya batu itu berlubang. Tetes air yang kecil, namun terus berjuang, dan akhirnya meraih satu keberhasilan.

Monday, January 20, 2014

It's better being crazy, rather than being poor and unhappy.

BiG IDEA - Source: Gettyimages.com
Gila.

Ketika pertama kali naskah buku yang sedang saya tulis, saya tunjukkan kepada dua orang pembaca awal, saya mendapatkan koment di atas dari orang pertama.

Bagaimana mungkin seorang yang (menurut teman saya itu) belum sesukses Steve Jobs atau minimal Suparno, teman kami juga, yang punya bisnis ayam penyet kaliber nasional, dan mulai membuka gerai di Philipina dan Malaysia, berani-beraninya menulis buku tentang hidup.

Bukan hanya soal hidup, bahkan soal bahagia menjalani hidup. Terlalu. Berlebihan. Nekat. Gak Pantes. Karena tema begini semestinya hanya layak ditulis oleh filsuf cerdik pandai cendekia nan bijak, atau orang kaya yang hidupnya memang penuh dengan kesuksesan dan kebahagiaan.

Yup, for me. It's better being crazy, rather than being poor and unhappy. Lebih baik dibilang gila, ketimbang udah miskin ditambah lagi tidak bahagia.

Kecewa? agak sih. Tapi saya tidak marah dengan teman yang satu ini. Dia memang laki-laki mainstream, yang tidak akan menentang arus dalam menjalani hidup. Dia seorang laki-laki yang memaknai bahagia dengan caranya sendiri, dan punya garis hidup yang sudah diyakininya dengan jelas sejak kami masih kuliah. Lahir, sekolah, kuliah, tamat dengan nilai tinggi, jadi pegawai negeri, menikah, punya anak, mati.

Teman kedua, adalah orang yang pernah menuliskan sms ke saya, ketika seluruh usaha yang saya punya bertumbangan karena ditipu teman bisnis, dan ditipu lagi oleh marketing sebuah bank swasta.

“Mess up with your life, and it will refeal who is your friend, and who’s not.”

Ketika hidup jadi berantakan, itu akan membuka identitas sejati, mana yang beneran teman, mana yang bukan.

Teman ini yang dengan sangat giat selalu ngajak saya ngopi, melanjutkan kebiasaan kami dulu sebelum saya bangkrut, bahkan ketika tahu saya mencari cara menghindari ajakannya karena merasa terlalu sering ditraktir, sementara untuk balas traktir belum mampu, ia dengan kreatif datang dengan kopi dalam bungkus plastik yang cukup buat diminum berlima. Sikap yang membuat saya semakin semangat kerja apa saja asal halal, bukan hanya untuk menghidupi keluarga, tapi juga demi menghentikan traktirannya, dan membuktikan saya bisa juga mentraktir kembali.

Tanpa disadarinya, dia mengajarkan tentang pilihan hidup, menjadi bahagia atau tidak bahagia.

Saat membaca naskah itu, dia tersenyum lama, sebelum akhirnya tertawa gembira. Dan komentar selanjutnya lagi-lagi sebuah street wisdom yang indah.

“Bagus, dan menarik. Kenapa? Karena kalau buku ini dituliskan oleh orang yang sudah sukses, pasti isinya hanya tentang gimana hebatnya mereka menjalani ujian hidup, bagian susahnya ditulis seperlunya saja, yang penting bisa mendongkrak nilai suksesnya. Sedangkan kalau yang nulis buku ini orang susah melarat menderita sejak lahir, jujur saja, mereka memang orang-orang yang sangat kuat. Daya juang mereka tidak akan mampu kita ikuti, karena kita ini orang kelas rata-rata, yang seumur hidupnya, tidak pernah menjalani ujian terlalu berat.

Buku ini bukunya manusia kelas rata-rata, yang hidupnya jadi terasa sulit karena tiba-tiba saja jatuh ke dasar. Ini seperti anak kota, yang tiba-tiba kesasar di hutan saat pulang kampung. Dengan kemampuan bertahan seadanya mencoba mencari selamat. Hal yang dianggap berat oleh anak kota, bisa jadi bagi anak kampung adalah hal biasa.”

Dua teman, dua penilaian. Dan jujur saja, saya memilih teman yang lebih menghargai. Bukan soal dipuji atau tidak, tak terlalu berpengaruh bagi saya. Usahanya untuk menghargai itu yang utama. Teman yang menghargai apa yang kita lakukan, bukan selalu memuji. Mereka memberi semangat untuk kita. Ada saatnya ketika mereka menjadi tukang kritik paling keras bagi kita, tapi mereka juga siap memberi dukungan ketika kita membutuhkannya.

Menuliskan buku ini sendiri, adalah bagian dari menikmati hidup. Karena kalau bicara menikmati hidup adalah dengan cara terus melakukan sesuatu. Selalu mencoba mengambil sisi baik dari hidup ini.

Dan saya dengan senang hati, mencoba mencatatkan nilai baik dalam hidup ini, dengan cara apapun. Blog, FB, Twitter, Google +, dan sekarang terus mencoba menulis buku. Soal apakan nanti diterbitkan oleh penulis major yang saya targetkan, tercapai atau tidak, itu tidak kan jadi masalah.

Ini soal menikmati hidup, menjadi hidup.

Bukan hanya sekedar masih bernyawa, dan bernafas.

Start typing and press Enter to search