Post Ad Area

Post Home Style

Wednesday, July 24, 2013

Meriam Karbit


Dulu ada satu kebiasaan khas yang selalu saya lakukan saat ramadhan. Bersama sekumpulan anak remaja tanggung. Saat itu saya masih seusia mereka juga. Belum 17 tahun. Kebiasaan yang sudah menjadi tradisi sejak kami pindah menjadi penghuni wilayah gampong peurada.

Waktu itu, rumah-rumah masih jarang. Pohon jambu di depan rumah masih tegak berdiri. Bila memanjat sampai ke puncaknya, bisa memandang jauh hingga melihat laut diujung pandangan. Masih banyak tanah kosong. Rumah-rumah pun hanya berpagar kawat atau tanaman.

Saat ibu-ibu mulai mengolah daging meugang, kami para anak-anak mulai mengolah menu utama yang akan kami sajikan selama ramadhan. Sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelum ramadhan, dengan mengandalkan semangat gotong royong dan bayangan kemeriahan yang akan kami dapatkan, bergantian membentuk kelompok, kami pun menggotong pipa beton yang biasanya digunakan untuk membuat gorong-gorong atau parit.

Tujuannya adalah sepetak luas tanah berbukit dan berawa-rawa, yang dipenuhi Typha Latifolia, tanaman rawa yang biasa kami sebut dengan Batang Obor atau cukup dengan Obor. Mengarungi rawa dengan air yang kadang sepinggang, berhati-hati menghindari binatang penghuni rawa, hingga akhirnya sampai ke tujuan.
Bukit di tengah-tengah rawa. Bukit kecil setinggi hanya 3 meter.

Pekerjaan belum selesai, kami menggali bagian puncak bukit itu, tidak dalam, hanya sekitar setengah meter. Dibuat sedemian rupa sehingga miring dan dalam disatu sisi saja. Gunanya untuk landasan meletakkan pipa beton tadi. Setelah pipa diletakkan, bentuknya mengingatkan akan meriam rakitan tempo doeloe. 
Dan memang, kami sedang membuat meriam, namanya Meriam Karbit.

Seperti meriam masa lalu, umpan 'bahan peledak'nya dimasukkan dari depan. Karbit sebenarnya termasuk bahan berbahaya, digunakan untuk pembuatan Gas Acetylene (C2H2), yaitu bahan untuk memotong dan mengelas bahan-bahan besi dan baja pada industri perkapalan, pertambangan, karoseri mobil serta industri kecil. Tapi mungkin tidak dianggap terlalu berbahaya. Karena kami dengan mudah bisa membelinya di toko bahan bangunan.

Karbit dimasukkan pada kaleng berisi air, yang sudah diberi tangkai kayu. Penampung karbit itu lalu dimasukkan lagi kedalam meriam, yang kemudian bagian depannya disumbat dengan kain, untuk memampatkan gas yang dihasilkan dalam meriam. Sebuah lubang kecil yang dibuat dibagian belakang meriam juga disumbat kain, untuk mencegah gas yang terbentuk merembet keluar.

Setelah menunggu beberapa detik, agar tekanan gas dalam meriam semakin kuat, yang bertugas menyalakan meriam mengambil obor dengan api menyala. Sambil menghitung agar serentak, kain penyumpal di depan dan belakang ditarik, api didekatkan ke lubang kecil di belakang. BOOOOMMM.

Ledakan membahana keluar, seperti meriam benaran. 

Saat malam ramadhan selepas tarawih, suara ledakan meriam itu sambung menyambung. Bersahut-sahutan antar kampung.  Tak terlalu lama, karena kemudian harus tadarus di meunasah atau mesjid. Kadang juga dinyalakan disore hari. Mengisi waktu menunggu berbuka.

Saat konflik bersenjata di Aceh mulai meningkat, kebiasaan menyalakan meriam karbit ini menghilang. Dentuman ledakan meriam karbit, tak lagi terdengar. Karena suara ledakan saat itu biasanya berarti granat atau tembakan ketika kontak senjata terjadi. Meskipun sekarang perjanjian damai sudah berbilang tahun ditandatangani. Sebahagian mereka yang berperang kini menjadi anggota dewan. Namun dentuman meriam karbit sudah tak terdengar lagi. Entahlah di kampung-kampung, mungkin masih. Namun di kota sudah tak lagi ada.

Memang, meriam karbit bukan permainan tanpa bahaya, malah beresiko tinggi. Api ledakan yang meyembur bisa-bisa menghilangkan rambut atau alis, bahkan bukan tak mungkin menimbulkan luka bakar. Tapi itu permainan kami dulu. Resikonya tidak terlalu dipikirkan saat itu, kegembiraan dan kepuasan yang lebih diharapkan.

Sekarang, suara ledakan meriam karbit sudah diganti petasan mahal. Dunia modern melibas sedikit demi sedikit masa lalu, mengikis hingga terlupakan dan hilang. Anak-anak remaja lebih jago main playstation atau x-box, atau futsal. Tak lagi ada dalam perbendaharan permainan mereka, nama-nama eksotis seperti Patok Lele, Engkrang, Galah Panjang, Alib Batalion Tin, main Godok.

Bukit kecil kami, sudah menjadi halaman asrama haji kota Banda Aceh. Lapangan luas sudah jadi perumahan. Pohon jambu di halaman rumah pun sudah lama mati terkena air tsunami tahun 2004.
Dunia itu, dunia masa lalu. Tapi jujur saja, walaupun sebagian ada yang mengatakan kampungan, bagi saya itu retro. Dalam definisi saya sendiri tentang retro, yaitu jadul tapi keren.

Friday, July 19, 2013

Tirom

Berbicara tentang kuliner Aceh, maka Mie Aceh lah yang paling terkenal. Hingga ke beragam kota besar, makanan 'biasa' ini menjelajah dan mengukuhkan keberadaan dirinya. Tak jarang pula, datang tamu asing atau tamu dari kota lain di luar aceh, yang dengan santai bertanya ketika sedang berada di Aceh. Dimana ada dijual Mie Aceh ya? Padahal semua mie di Aceh sudah pasti Mie Aceh.

Tapi Aceh punya banyak ragam kuliner. Sebut saja seperti Asoekaya, Gule Pliek, Eungkot Paya, Keukarah, Meusekat, Bolu Ikan (lupa nama lokalnya), pisang sale, adee (nah ini lagi populer), dan banyak lagi. Salah satu yang selalu punya nilai istimewa buat saya adalah, Tumeh Tirom atau Tumis Tiram.

Sumber gambar : www.bandaacehtourism.com

Kebetulan tadi pagi saya jalan-jalan ke wilayah Alue Naga. Salah satu tempat dimana banyak orang mencari dan menjual tirom. Tirom mungkin bisa dikategorikan sebagai seafood, tapi kalau mau lebih maksa keakuratannya, sebenarnya lebih tepat dianggap 'Muarafood', hehehe. Karena kerang tirom ini hidupnya menempel di bebatuan yang berada di wilayah muara sungai.

Umumnya para pencari tirom adalah kaum ibu. Mendapatnya tidak terlalu sulit walaupun tidak juga bisa dikatakan mudah.
Berendam dalam air hingga sampai ke dagu, dengan sabar mencungkil lepas kerang yang menempel di batu, satu demi satu. Lalu para pencari tirom ini masih harus 'membuka' cangkang kerang untuk mengeluarkan isinya.

Dulu saya pernah mencoba membuka kerang tirom untuk mengambil isinya. Terkesan mudah ketika dilakukan oleh mereka yang sudah biasa. Menggunakan pisau dengan bentuk melengkung seperti huruf L terbalik, para ibu itu dengan cekatan membuka dan mengeluarkan tirom dari cangkangnya. Hanya butuh sekitar 10 detik.
Tapi lain cerita ketika giliran saya, setelah berkutat dengan si kerang, mendapat beberapa petunjuk kurang praktis, ditemani tawa geli ibu-ibu pencari tirom, plus mendapat bonus luka sayat dari kulit kerang yang tajam minta ampun, saya berhasil mengeluarkan 'sebiji' tirom. Belakangan saya baru sadar, semua ibu-ibu itu pakai sarung tangan.
Saya pura-pura tidak melihat ketika si ibu dengan tidak kentara memisahkan tirom yang saya keluarkan, mungkin karena kena darah, lalu membuangnya ke sungai.

Hasil yang diperoleh dari sekarung besar kerang (masih dengan cangkang) mungkin hanya sekitar satu baskom kecil. Harga jualnya kalau kita beli langsung di tempat pencari tirom, umumnya lebih murah, dan lebih menguntungkan. Menggunakan takaran satu kaleng susu kental manis, tirom dijual dengan harga 10 ribu rupiah per kaleng. Bila sudah ditangan penjual eceran, umumnya tirom dijual sudah dalam bungkus plastik, paling-paling isinya hanya 2/3 kaleng, dengan harga 15 ribu, kalau mau cerewet bisalah dapat 2 bungkus seharga 25 ribu.

Selain tirom, ibu-ibu ini juga menjual ikan asin, kepiting asin (yang ini saya ga pernah tau), dan gurita asin.


Dalam perjalanan pulang, saya melihat ada satu monumen di pinggir jalan, pada plakatnya tertulis "LOKASI PENINGGALAN BENTENG KUTA KAPHE ". Namun tak ada satu benteng pun disekitar situ. Hanya ada kanal pengendali banjir dan aliran utama sungai. Mungkin telah rusak karena terhantam tsunami, atau bisa jadi rusak karena sebab lainnya. Mungkin lain kali kita cari tahu ceritanya.

Wednesday, July 10, 2013

Tarawih Pertama Ramadhan Ini, Kenangan di Kelantan, dan Backing Vokal Yang Tak Kompak


"Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini. “Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,” “Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lantas buat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban. -- Gito Rolies, dalam sebuah artikel di Dakwatuna


Malam tadi tarawih pertama di ramadhan ini. Tak seperti tahun kemarin, hujan turun, seolah ingin mendinginkan hati setiap hamba Illahi, agar menjalanan ramadhan ini dengan keteduhan. Peusijuk*, ujar seorang teman di status FB.

Adat lazim di kampung kelahiran istri, pergi ke mesjid untuk shalat dengan memakai baju kemeja atau koko, dan pasti mengenakan sarung. Tak masalah memang bila mengenakan celana panjang, biasanya juga bila ke mesjid saya bercelana panjang. Tapi rasanya beda kali ini. Ada keinginan untuk tak tampil beda.

Menyambut ramadhan tahun ini, memang dari sejak sya'ban sudah ada rasa yang lain. Semacam impian dan harapan agar ramadhan kali ini lebih berasa. Sudah dua tahun ramadhan seperti kehilangan getarnya. Hanya berjalan melakukan ibadah, melakukan rutinitas seolah hanya menggugurkan kewajiban saja. Walaupun tak diungkapkan, ada perasaan kurang dan kosong.
Ramadhan ini saya ingin lebih menikmatinya. Saya ingin ada perubahan, lebih terasa keimanan dan peningkatan kualitas diri sebagai seorang muslim. Terlebih ketika beberapa minggu lalu membaca kisah hidup  Gito Rolies, rocker yang menutup usia dengan senyum tenang setelah menjalani hari-hari indah sebagai seorang aktivis dakwah. Kalimat perseteruan hati ustadz Gito, membekas dalam hati. Saya menjalani kehidupan sebagai orang yg juga bergiat dalam dakwah, walaupun belum pantas dipanggil ustadz, mencoba hidup jujur, anti korupsi, walaupun hidup jadi pas-pasan dan sering menunduk ketika dikejar hutang usaha yang bangkrut. Saya ingin bahagia juga dalam Islam yang indah ini.

Teringat pada salah satu konsep dalam proses motivasi yang pernah saya pelajari, perubahan itu dimulai dengan memberi rasa yang berbeda. Walau tak sadar banyak wanita yang patah hati menerapkan konsep ini, potong rambut misalnya, atau ganti gaya busana. Saya memilih mencoba berkain sarung, saat tarawih.

Mesjid Al-Sultan Ismail Petra, Kota Bharu, Kelantan, Malaysia
Mengenakan baju koko yang dipakai 5 tahun silam saat menikah, bersarung, walaupun masih mengenakan celana panjang dibaliknya. Dan suara hujan mendadak keras, mengabarkan semakin derasnya. Mendadak saya teringat Kelantan. Tepatnya daerah Kubang Kerian, Kota Bharu, ibu kota Kelantan, Malaysia.
Sudah 13 tahun silam. Berbaju melayu, dengan celana 'pancung' sebetis, memakai kain sarung, yang dilipat di tengahnya, lalu dikaitkan ke ikatan sarung di pinggang. Sekilas seperti versi melayu dari kilt, rok tradisional scotlandia. Berlari menjinjit melintasi kebun rambutan Cikgu Din, Makcik Maryah, memintas jalan menuju  Masjid Al-Sultan Ismail Petra. Juga kebiasaan mencari ayam percik untuk berbuka puasa.

Malam tadi saya seperti mengulang kembali, berlari menuju mesjid, namun kali ini ditambahi dengan bertudung mantel hujan.

Tarawih pertama ramadhan ini lebih berasa. Penampilan yang memang sengaja dikhususkan untuk pergi shalat. Senyum senang (dan sedikit geli) dari istri tercinta, plus tawa anak-anak kami yang tak biasa melihat ayahnya berkain sarung.
Tapi sedikit terganggu kenyamanan saat shalat adalah karena perilaku seorang 'backing vokal'. Seperti lazimnya shalat tarawih di Aceh, tarawih dikerjakan dengan dua rakaat sekali salam. Lalu dilanjutkan lagi dengan repetisi yang sama. Diantaranya, dilantunkan shalawat nabi dan do'a. Dipimpin oleh imam atau oleh tengku (ustadz) yang diberi amanah untuk tugas itu. Jama'ah mengaminkan.
Suasana kusyuk jadi terganggu, karena seorang jama'ah yang mengucapkan Aamiin, selalu kecepatan beberapa detik.

Ah, ibadah memang mesti dengan hati, dengan kesabaran, namun juga karena kita berjama'ah, menyelaraskan dengan yang lainnya juga sama penting.

Hanya tinggal 29 hari lagi, jangan sia-siakan ramadhan ini.

Banda Aceh, 2 Ramadhan 1434 H


* Budaya tradisional Aceh, beberapa teman dari luar Aceh menyebutnya 'tepung tawar'. Budaya ini bagian dari ritual yang masih dipengaruhi oleh konsep budaya Hindu, agama yang berkembang pada zaman sebelum Islammasuk ke Aceh. Umumnya memiliki tujuan untuk simbolisasi, mendamaikan, mendinginkan hati, memberikan harapan kenyamanan.

Tuesday, July 9, 2013

Meugang, seporsi daging sapi perayaan, & realita puasa.

Sejak kemarin, kemarin dan kemarinnya. Kata 'Meugang' menjadi pembicaraan. Sama seperti yang lainnya, saya juga mulai istiqamah mencari rezeki tambahan. Maklum, meski belum memiliki rumah serupa Anang-Ashanti, ingin juga sebagai suami dan ayah, terlebih karena awal ramadhan ini kami sekeluarga bisa berkumpul, plus sebagai anak dan menantu, untuk membawa pulang sekilo dua kilo daging sapi. Untuk dimasak menjadi sop, rendang aceh, atau sie reuboh (masakan khas aceh yg asam pedas menantang).

Konon tradisi Meugang ini sudah berusia ratusan tahun, dimulai pada masa kesultanan Aceh, ketika itu Sultan membagikan daging bagi masyarakatnya, untuk dibawa pulang dan dimasak, dinikmati bersama seluruh anggota keluarga yang kabarnya, saat itu ketika jelang ramadhan bahkan yang merantau bekerja dan belajar ke negeri malaka, mekkah atau madinah, pun pulang.

Saat ini sedikit berbeda, karena tak ada lagi jatah pembagian dari sultan. Sekilo daging harus dibeli sendiri dengan harga yang lumayan mahal. Terlebih saat jelang puasa, harga sedikit meninggi. Maka bagi masyarakat aceh, sekilo daging berda pada kisaran 120-150 ribu adalah hal biasa.

Seporsi daging itu kebahagian, perayaan menyambut bulan suci ramadhan. Kebahagiaan bagi seisi rumah. Harga diri suami dan ayah.Mungkin karena budaya, mungkin karena kebiasaan, tapi memulai puasa tanpa memenuhi tradisi meugang ini memang tak enak. Namun semestinya bukan kewajiban mutlak yang bila tak ada maka tak sah puasanya, tak ada meugang ini dalam rukun puasa.

Kebiasaan memang kuat pengaruhnya. Tak salah bila Lucas Remmerswaal mengatakan "First you make your habits, then your habits make you."

Awalnya kita yang menciptakan kebiasaan, lalu kebiasaan itu mulai menjadi kebenaran yang kita ikuti. Meugang yang awalnya adalah perayaan kebahagiaan saat keluarga berkumpul menikmati makan bersama, merayakan gembira menyambut bulan suci nan penuh berkah, bisa berubah jadi muka cemberut istri tercinta, atau sindiran dari mertua, atau cibiran tetangga.

Serupa dengan realita kecil yang telah menjadi kebiasaan, ketika puasa justru pengeluaran memuncak. Makanan berbuka yang kemudian terbuang sia-sia, karena lapar mata saat membeli bukaan. Yang ternyata tak habis dimakan saat berbuka, tak lagi berselera selepas tarawih.

Puasa selalu digambarkan sebagai area training, sesi pelatihan ulang pola pikir dan perilaku seorang muslim. Ditata kembali, diarahkan kembali, dikonsep kembali. Kembali pada karakter dan sikap semestinya seorang muslim. Yang menjaga bicaranya, menjaga pikirannya, menjaga pandangannya. Tak bermewah-mewah, dan mensyukuri apa yang dimilikinya. Targetnya seperti gambaran yang diungkapkan oleh Ustadz Arifin Ilham.

Dzikir menjadi Kepribadiannya, Allah tujuannya,
Rasulullah SAW teladan dalam Hidupnya,
Dunia ini pun, menjadi Syurga sebelum Syurga sebenarnya,
Bumi menjadi Mesjid baginya.
Rumah, kantor, bahkan hotel sekalipun, menjadi Mushola baginya.
Tempat ia berpijak; Meja kerja, kamar tidur, hamparan sajadah baginya.
Kalau dia berbicara? bicaranya dakwah.
Kalau dia berdiam?diamnya dzikir.
Nafasnya? Tasbih.
Matanya? penuh rahmat Allah, penuh kasih sayang.
Telinganya? Terjaga.
Pikirannya? baik sangka; tidak sinis, tidak pesimis, dan tidak suka memfonis.
Hatinya? Subhanallah..,, diam-diam berdoa, do’anya diam-diam..,
Tangannya? Bersedekah.
Kakinya? Berjihat,,, ia tidak mau melangkah sia-sia.
Kekuatannya? Silaturrahiim.
Kerinduannya? Tegaknya Syari’at Allah.
Kalau memang Hak tujuannya? Maka sabar dan kasih sayang strateginya.
Kesibukannya? Ia hanya asyik memperbaiki dirinya, tidak tertarik mencari kekurangan, apalagi Aib orang lain. 
( Tausiah pembuka pada lagu Opick, Tombo Ati )

Semoga puasa kali ini, kebahagiaan meugang tak terganggu, ketika sekilo daging sapi diganti dengan seekor ayam, atau ditunda dulu menunggu rezeki lebih. Semoga para istri tak mengganggap para suami tak cinta dan tak sayang bila meugang kali ini tak semewah meugang tahun kemarin.

Rayakan kebahagian masih bisa merasakan indahnya kebersamaan, masih bisa menikmati hidup, masih bisa mensyukuri bahwa ramadhan ini masih bisa dirasakan. Rayakan kebahagiaan dengan seporsi semur ayam, atau gulai ikan atau tempe goreng dan sayur asem. Karena meugang adalah perayaan jumpa kembali dengan bulan bertabur berkah, ramadhan.

Yang memulai berpuasa hari ini, dan yang memulainya besok, kita manusia yang jauh dari sempurna, bisa khilaf atau salah. Bila Allah Maha Sempurna mau memaafkan hambaNya, semoga kita tak latah angkuh menilai diri sendiri lebih baik dari yang lain sehingga membuang jauh-jauh kata maaf untuk sesama manusia. Kita bukan jama'ah malaikat, namun juga bukan jama'ah syaitan. 

Mohon maaf lahir dan batin, semoga puasa ini, kita lulus dari ramadhan dengan predikat taqwa.

Tuesday, July 2, 2013

Keping Pengalaman



Sudah sejak lama saya selalu melihat kotak pos itu di persimpangan jalan. Lebih dari setengah sosoknya terbenam dalam taman kecil tak terawat. Hanya terlihat sekitar 20 cm dan 'atapnya' yang mengingatkan pada atap rumah ditahun 50'an. Kotak pos itu masih terbungkus dengan warna jingganya, namun sudah kusam berdebu. Di sudut tikungan, di bawah dua tiang listrik yang berdiri bersisian menyangga gardu yang tinggi terletak diatas sana.

Begitu juga jika saya melintas di depan museum tsunami, tepat di mulut lorong kecil yang tak jauh diseberang gedung museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini, satu menara kecil menjulang. Mungkin sisa gapura, namum jelas bentuknya menunjukkan bahwa benda itu adalah produk dari masa lalu.

Kepingan masa lalu. Itu selalu yang melintas dalam benak saya. Dulu pada masanya mereka pernah berkilau, dikagumi, memiliki fungsi, digunakan, berarti. Tidak teronggok dalam diam dan tak berharga, terlupakan begitu saja.
Hidup ini pun punya banyak 'monumen' seperti itu.

Ketika sedang menikmati seporsi siomay, mendadak muncul kenangan tentang sebuah warung yang sekarang sudah tutup. Berhenti di lampu merah dan ketika melihat kesamping teringat bahwa dulu ada sebuah rumah dengan bentuk khas tak jauh dari situ, yang sekarang sudah menjadi deretan ruko.

Duduk ngopi disebuah kedai lama yang masih bertahan di daerah Lampaseh, tak jauh dari pusat kota Banda Aceh, tak sengaja memperhatikan jalan yang dulu sempit namun sekarang sudah lebar dan teringat, dulu saat malam datang, saat itu masih jalanan sempit, yang sisinya dipenuhi pedagang yang menjajakan dagangannya dengan gerobak, ada gerai mie goreng dan sate padang, yang selalu jadi tempat merayakan berbagai hal penting dan tak penting selepas siaran. Sekarang sudah tak ada lagi, berganti dengan deretan kios kecil yang menjual DVD bajakan sampai sandal bajakan.

Saat-saat ketika kenangan demi kenangan itu muncul, sering sekali adalah saat berharga. Waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, merenungi masa lalu, mencari kegembiraan atau pembelajaran yang ada. Lalu melangkah lagi, dengan semangat baru.

Memang selalu ada dua pilihan ketika kenangan itu muncul, menerimanya dengan gembira atau segera ingin melupakan lagi, karena kenangan sering sekali liar tak bisa dipaksa. sehingga tak jarang yang muncul adalah kenangan yang punya cerita tak enak di dalamnya. Namun hidup ini kan pilihan. Selalu bisa memilih untuk mencari pembelajaran di dalamnya, teguran yang bisa dipakai sebagai pengingat agar tak mengulang kesalahan yang sama.

Selalu ada pelajaran dari pengalaman, dari kenangan. Seperti juga kita belajar bahwa sebaik apapun status facebook yang ditulis, selalu saja ada orang yang bisa membuat status itu jadi berantakan.


Lama tidak menulis di Blog

Wednesday, February 6, 2013

Menanamkan Data Dalam Ingatan

Dukung No.3 ya, ujar seorang teman ketika mensosialisasikan target partainya untuk meraih 3 besar di 2014 nanti. Dilain kesempatan melalui pesan singkat, juga tertulis kalimat yang kurang lebih sama, dukung No.3 ya.

Ketika mempelajari Public Speaking, salah satu hal pertama yang diingatkan adalah cara menanamkan data dalam ingatan pendengar. Dibagi atas lima metode dasar yaitu; 1. Efek awal yang kuat, 2. Pengulangan, 3. Cara yang tidak biasa, 4. Keterlibatan pribadi, dan 5. Efek akhir yang kuat.

Banyak yang tidak menyadari bahwa cara paling efektif untuk menanamkan data dalam ingatan pendengar/pembaca adalah dengan melakukan pengulangan kata kunci secara rutin.
Salah satu iklan televisi/atau radio yang paling saya benci adalah iklan obat batuk. Iklannya sangat singkat, hanya beberapa detik, dan intinya hanya mengucapkan kata "... kalau batuk di komix aja." Namun iklan itu di ulang sampai tiga kali berurutan.

Akibatnya sampai hari ini kalimat iklan yang populer di periode awal kebangkitan TV swasta di Indonesia, sekitar awal 90'an itu masih tertanam di otak saya.

Seperti juga kebiasaan masyarakat Aceh, yang menyebut motor merek manapun dengan Honda, dan kebingungan pendatang di Aceh, ketika mendengar istilah kereta sebagai salah satu pengganti sebutan motor, karena mungkin di daerah asalnya, mereka menggunakan istilah kereta untuk menyebut kereta api.

Semua itu adalah hasil dari proses pengulangan kata kunci dalam rentang waktu yang panjang. Berbagai contoh dapat kita temukan, Indomie untuk mie instant, Rinso untuk detergen, Odol dan Pepsodent untuk pasta gigi, Kijang untuk toyota, dan banyak lagi.

Source: dallasnews.com
No.3, sebuah angka sederhana dan biasa. Namun saya jadi membayangkan, bila terus diulang dan diulang maka akan tertanam 'pilih No.3' dan bayangkan hasilnya bila dalam pemilu ternyata partai itu mendapat nomor urut 4. Pemilih yang sudah tertanam dalam ingatan bawah sadarnya pilih nomor tiga, bisa jadi akan salah memilih.

Pilihan raya di Aceh sudah pernah membuktikan ketika sebuah partai baru mendapat perolehan suara yang cukup besar. Ketika itu pemilihan pertama setelah runtuhnya orde baru, dan pemilihan terakhir yang diikuti Timor Timur (sekarang Timor Leste). Tahun 1999, 48 partai bertarung.
Partai Krisna, Kristen Nasional Indonesia, berlogo pohon cemara dengan latar kuning dan no urut 2, mendapat suara (walau tidak banyak) dibeberapa wilayah di Aceh, yang masyarakatnya nyaris 100% beragama Islam. Hal unik ini terjadi karena dalam bawah sadar masyarakat masih terbiasa memilih no.2. Tentunya pengaruh 'dianjurkan' untuk memilih golkar selama bertahun-tahun. maklum juga, sebelum itu, hanya ada PPP, Golkar dan PDI.

Menanamkan data, namun salah, hasilnya akan cukup menarik :)

Saya mengirimkan sms untuk teman yang meminta dukungan itu, "Sukses 3 besar." bukan no.3.

Thursday, January 31, 2013

the Facebook Swindler


Apakah Anda pernah mendengar tentang Harry Houdini? Nah, dia tidak seperti pesulap saat ini yang hanya tertarik pada peringkat dalam tayangan televisi. Dia adalah seniman. Dia bisa membuat gajah hilang di tengah sebuah teater penuh dengan orang, dan apakah Anda tahu bagaimana dia melakukan itu? Pengalihan Persepsi, apa yang dilihat mata dan didengar telinga, akan percayai oleh pikiran.
(Gabriel, diperankan oleh Jhon Travolta, dalam Film Swordfish, 2001)


Swordfish, film yang dimeriahkan oleh Jhon Travolta, Hugh Jackman, dan Hale Berry, mungkin bukan film 'hacker' yang terbaik soal unsur realita datanya. Tapi konsep pengalihan persepsi dalam film ini menarik untuk dicermati.

"Apa yang dilihat mata dan didengar telinga, akan dipercaya oleh pikiran." kata Gabriel, karakter antagonis yang diperankan Travolta. Dan itu adalah realita dalam kehidupan. 

Meskipun ungkapan don't judge a book, by its cover, sudah sering disampaikan, kecenderungan untuk menilai berdasarkan apa yang terlihat itu sangat besar. kita bisa dengan cepat merasa simpati pada orang yang terlihat ramah, tidak mengancam, dan menarik. atau sebaliknya, dengan cepat menurunkan tameng ketika lawan bicara kita adalah seorang yang terasa mengancam.

Sejak media jejaring sosial mengalami kebangkitan pasca munculnya Facebook, angka kejahatan dengan menggunakan jejaring sosial juga meningkat. sudah sering kita baca, tentang seorang gadis yang menghilang, lari dari rumah, atau orang yang tertipu menyalurkan dana pada seseorang yang baru dikenalnya di Facebook. Pada kasus yang berbeda, seorang laki-laki memutuskan meninggalkan istrinya setelah 'kopi darat' dengan teman Twitternya. kasus lain yang hampir serupa, seorang istri di singapore kedapatan selingkuh dan menuntut cerai karena merasa bahwa tambatan hati yang sebenarnya adalah teman wanitanya, yang menjadi tempat curhat onlinenya di Facebook. 

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah tayangan televisi, Asian Swindlers. Kisah tentang para penipu yang begitu luar biasa, bahkan seorang dari mereka, Huang Cao-kang, berhasil menipu beberapa nama besar di Taiwan, termasuk mantan presiden Taiwan. Tayangan unik ini juga menjabarkan bagaimana para swindlers ini meraih kesuksesannya. sebuah wawasan dahsyat tentang perilaku manusia dan pola pikir.

Semua keberhasilan itu adalah sebuah kemampuan pengalihan persepsi, sehingga mampu meraih kepercayaan targetnya.

Dalam dunia jejaring sosial, dan dunia maya, ada satu hal yang sebenarnya sering kita lupakan. Bahwa di dunia maya, daya tarik terbesarnya selain luasnya jaringan, adalah kesempatan untuk menjadi pribadi berbeda.

Seorang yang berpenampilan tidak menarik, bisa mencitrakan dirinya sebaliknya. Dengan cara yang sangat sederhana, mengupload foto profil diri atau mengisi album foto onlinenya dengan sosok yang menarik. Sebegitu sederhananya.

Anonymitas (semoga saya ga salah tulis ) adalah sesuatu yang ditawarkan di dunia maya. Anda selalu punya kesempatan untuk menjadi orang lain.

Usai menyaksikan tayangan Asian Swindlers itu, saya mulai tertarik melihat-lihat laman jejaring sosial, terutama Facebook. Tentunya dengan menggunakan sedikit 'ilmu' dari tayangan itu. Dan saya mendapat beberapa hal menarik.

Para Facebook Swindlers ini, terutama yang bukan 'ahli', ternyata bisa dikenali. Meskipun agak sulit, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pegangan:

1. Mereka cenderung tidak memiliki foto dengan kehidupan sosial yang nyata. Rata-rata foto yang mereka upload adalah foto seseorang, biasanya akan diakui sebagai dirinya, tidak jarang foto yang sama diupload terus menerus dgn beberapa variasi. Foto yang melibatkan orang lain atau menunjukkan atifitas sosial, atau kehidupan sehari2, sangat terbatas atau tidak ada. 
Ini berbeda dengan orang yang tertutup. Orang yang tertutup, masih memiliki bukti aktifitas kehidupan nyata, namun hanya memberikan akses pada orang tertentu saja.

2. Sering mengupload foto tempat atau benda yang mengesankan kesuksesan, namun jarang terdapat keberadaan mereka di dalam foto, karena salah satu target mereka adalah mendapatkan perhatian dari orang lain yang mereka incar. Kesan sukses membuat mereka tidak dicurigai sehingga mereka bisa masuk dalam kehidupan pribadi orang yang mereka incar dengan aman.

3. Biasanya suka menambahkan data tentang tempat pendidikan yang berkelas, namun tidak memiliki teman atau jaringan yang sesuai dengan data itu. Misalnya, mencantumkan U.I - Univ. Indonesia, angkatan sekian sebagai data. Namun tidak ada teman yg berasal dari angkatan itu, atau dari universitas itu, kalaupun ada satu dua orang, biasanya tidak ada percakapan atau bertukar informasi soal  teman atau event dimasa lalu ataupun sekarang, temu alumni misalnya, atau kejadian dikampus.

4. Mencantumkan tempat kerja yg hebat. Namun lagi-lagi tidak terdapat jaringan, teman, atau rekan yang bekerja ditempat yang sama, kalaupun ada umumnya terlihat seperti direkayasa, atau akun yang dibuat sendiri, terlihat dari minimnya aktifitas dan teman.

5. Tidak ada foto, atau tag dari almamater, dan tempat kerja.

6. Terkadang untuk menciptakan kesan sukses, mereka memberi kesan sedang bekerja atau menempuh pendidikan di luar negeri, malaysia, singapore, atau eropa. Namun 'ajaibnya' tidak ada satupun teman yang berkomentar atau berbicara dengan bahasa negara itu.

7. Umumnya akan dengan sangat cepat, tanpa terlalu membuka diri tentang identitas mereka, paling-paling hanya memberikan nomor telepon (yang sangat mudah untuk diperoleh saat ini), mereka akan melakukan pendekatan yang biasanya berdasarkan simpati/empati. Misalnya menyatakan cinta, atau menjadi pahlawan yang siap mendukung, selalu membenarkan. Jangan lupa, modusnya adalah memenangkan perhatian.

... begitulah kurang lebih.

Source. Getty Images
Dunia maya, memang bukan dunia nyata, sehingga banyak hal yang tidak bisa terjadi di dunia nyata, berpeluang muncul disini. Bagaimanapun, bukan berarti dunia maya adalah sesuatu harus dihindari. Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, memiliki banyak nilai positif.

Saya membuktikannya sendiri. Ketika gempa beberapa waktu lalu terjadi di Aceh, informasi mengenai gempa beredar jauh lebih cepat di jejaring sosial. Ketika New York lumpuh akibat hantaman badai beberapa waktu lalu pun, seorang petugas media dari salah satu kantor pemadam kebakaran mengatakan bahwa penggunaan twitter sebagai sarana komunikasi sangat membantu. terlebih ketika saat itu jaringan groundline seperti telpon terganggu (atau tingginya panggilan ke 911, nomor darurat di U.S, membuat jaringan tak berfungsi).

Seperti sebuah pistol, jejaring sosial memiliki manfaat atau bahaya, ditentukan oleh penggunanya, dan tujuan penggunaannya.

Satu fakta yang sering enggan diakui, sebenarnya para Online Swindlers ini, berhasil adalah karena kurangnya empati atau komunikasi dan dukungan bagi orang-orang disekitar kita. Manusia semakin individual, tak perduli lagi pada tetangga, kerabat atau temannya. Sehingga ketika seseorang jatuh, dan membutuhkan dukungan, namun ia tak menemukannya, maka ia akan mencari di jejaring sosial. Saat itulah mereka rentan dengan tipuan.
Suka tidak suka, jargon yang sering diungkapkan mengenai media jejaring sosial, seperti Facebok, 'Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.' adalah kenyataan. Saya sering melihat beberapa orang yang duduk semeja di cafe atau kedai kopi, namun sibuk dengan laman/akun jejaring sosial mereka. Malah pernah saya menyaksikan ada yang mengetahui bahwa temannya, yang duduk disebelahnya sedang sakit, ketika ia membuka laman Facebook. Ironis.



Semoga salam dan ukhuwah terajut kembali dengan manis. :)

Start typing and press Enter to search