Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, November 14, 2013

Selekong Dua Lekong

Tuhan tahu saya bukan pengecut. Dulu saya termasuk orang yang sangat cepat emosi. Agak mudah untuk meledak dan siap untuk pasang badan berkelahi. Walaupun masa SMA saya anak baik di sekolah, tapi malamnya kami sering nongkrong dan tak segan cari keributan. Saat itu adalah masa rebelion, pemberontakan, nunjukin diri kalau kami eksis, ada, walaupun kurang ganteng dan bukan peraih nilai akademis tinggi.

Walaupun jujur juga kalau saya bandelnya rada aneh. Saya tidak suka bandelnya saya itu dengan teman-teman sekolah. Akibatnya saya hidup di dua dunia. Anak kurus ceking yang banyak bicara ngelawak tapi selalu mundur menjauh kalau teman-teman sekolah ngajak bikin ribut. Dan beberapa malam dalam seminggu ketika saya menghilang dari peredaran teman-teman sekolah, buat ngumpul dengan teman-teman nge-gank di satu tempat yang dulunya gudang ‘robur’, sebutan buat bus penumpang dalam kota. Busnya besar, merek mercedes benz, ronsokan empat buah bus itu jadi tempat ngumpul kami. Nanti suatu saat dimasa depan setelah itu (masa lalu kalau dilihat dari waktu sekarang) saya ketemu dengan salah satu dari teman di rongsokan bus. Jimmi, cewek tomboy yang suka ngomong kasar, tapi sebenarnya paling cepat iba dengan penderitaan orang. Jimmi yang mengompori saya saat jumpa di Jakarta, untuk bikin tatto. Pertama dan terakhir. Tatto kecil, yang saya hapus dengan cara menyakitkan pas menjelang menikah.

Tuhan tahu saya bukan pengecut. Meskipun setelah menikah saya masih emosional, tapi jadi teredam setiap kali ingat sekarang saya sudah punya istri, sudah punya anak-anak. Saya punya kewajiban jaga diri, supaya saya tidak menimbulkan beban buat keluarga. Saya wajib jaga diri, supaya saya (insyaallah) ada bersama mereka.

Lalu apa hubungannya dengan lekong. Bahasa ajaib milik para bencong, lady boy, banci salon, apapun istilahnya untuk menyebut mereka para laki-laki yang merasa dirinya adalah wanita?

Hubungannya adalah karena saya menulis tulisan ini, selepas tadi siang harus duduk disebuah ruangan, karena mengantarkan design nama salon. Duduk diam dengan keringat dingin, karena dikelilingi oleh enam orang banci. Saya kerumah itu, rumah seorang teman yang akan membuka salon. Mereka baik. Sangat baik. Tidak terlihat terlalu menyeramkan. Walaupun dengan tangan kekar berotot, pipi dan dagu yang walau ditutupi bedak dengan baik, masih menunjukkan rona hijau bekar bercukur, agak membuat kesan kontras yang menyeramkan. Mereka baik, tidak menutup pintu. Namun sumpah, saya selalu kurang nyaman, bila berada diruangan tertutup dengan yang namanya banci.

Banciphobia, mungkin itu namanya. Dan itu sudah sejak saya kecil. Saya selalu takut melihat laki-laki berpenampilan perempuan itu. Bukan karena membenci mereka, bukan juga karena merendahkan mereka. I don’t know the reason.

Ga nyaman yang sangat besar, sampai ke level menjadi takut. Lalu satu hal terjadi, dan merevolusi pandangan saya tentang mereka. Naik kelas satu tingkat.

Seorang banci yang sebelumnya bermake-up tebal, keluar dari kamar mandi. Wajahnya bersih dari make up. Sambil tersenyum dia mengangguk ke saya, lalu berkata kepada teman-temannya, “..udah kosong tu.”

Teman-temanya tersenyum dan beranjak meninggalkan saya, satu persatu mereka menghilang ke kamar mandi, dan keluar dengan wajah basah, bersih dari make up. Bergantian. Dan dari tempat saya duduk saya lihat mereka menuju ryuang tengah. Mengenakan baju kemeja rapi, kain sarung, bahkan seorang dari mereka mengenakan baju koko. Lalu berdiri dalam barisan, dan shalat berjamaah. Berjamaah seperti seharusnya laki-laki.
Thai Ladyboy -Treechada Petcharat
Saya terdiam, terlepas dari phobia pada mereka, saya kagum.

Saya pernah membaca, dalam buku berjudul ’75 dosa-dosa besar’. Salah satunya adalah laki-laki menyerupai perempuan, atau perempuan yang menyerupai laki-laki. Artinya berpenampilan meniru yang tidak sesuai dengan kodratnya. Tapi terlepas dari itu, mereka shalat. Shalatnya bukan pura-pura menjadi wanita, bermukena. Mereka shalat sebagai layaknya laki-laki.
Saya tidak ingin menghakimi, pengetahuan agama saya terbatas. Biarlah urusan itu Allah saja yang menilainya.Yang jelas, saya belajar lagi. Tidak ada orang yang sempurna baik, atau sempurna tidak baik. Setiap kita punya kurang lebih. Jadi tak ada alasan untuk berfikir kita lebih baik.

Sayangnya, kita masih sering melakukannya.

3 comments:

  1. benar.. tak ada alasan menganggap kita lbh baik...

    ReplyDelete
  2. Sebenarnya bang... saya juga sama takutnya kalau lihat banci. Ada perasaan geli semacam gimana gitu... hiiiiyy...

    btw, menyerupai wanita itu dosa besar kan? semoga dengan shalatnya mereka bisa menjadi hidayah bagi mereka untuk bertaubat :)

    ReplyDelete
  3. laki-laki menyerupai perempuan atau perempuan yang menyerupai laki-laki termasuk dalam dosa-dosa besar, tapi sekarang sangat banyak orang berprilaku seperti itu, wanita bergaya lelaki dianggapn trend. Hmmmmmm.............
    Semoga kita semua terhindar dari dosa-dosa besar

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search