Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, November 28, 2013

Long and Winding Road

The long and winding road, That leads to your door
Will never disappear, I've seen that road before
It always leads me here, Lead me to your door.

The wild and windy night, That the rain washed away
Has left a pool of tears, Crying for the day.
Why leave me standing here?

(The Long And Winding Road - The Beatles)


Teman baik, yg mendampingi sampai mid. 2013
- rest in pieces peace mate.
(source: doc.pribadi)
Hal yang tersulit dalam memulai sebuah cerita, bukanlah persoalan ide atau gagasan. Namun menuliskan kalimat pertamanya. Apa lagi bila itu adalah sebuah kisah nyata. Entah sejak kapan, namun jauh di dalam jiwa kita, selalu tertanam keinginan untuk terlihat baik, terlihat bagus, terlihat mengesankan.

Begitulah yang saya rasakan ketika di suatu sore, hujan gerimis di luar sana telah menjadi lebat, dan saya masih duduk menatap layar laptop. Ada ribuan cerita yang ingin dituliskan. Ada sangat banyak kenangan yang ingin dicatatkan. Namun selama lebih dari sekian belas menit, saya hanya menatap sepotong garis kecil yang berkedip, di lembaran kertas digital yang disajikan lembar kerja word ver. 1997-2003. Lembaran yang meniru tampilan sehelai kertas, putih polos tanpa untaian kata dipermukaannya.

Serenade - Pot The Elegane Of Pachelbel, mengalun dari software pemutar musik. Mengiringi begitu banyak kata dan kalimat yang berputar didalam benak. Begitu banyaknya sehingga tak tahu yang mana yang akan dituliskan.

Akhirnya laptop itu saya tutup, setelah mengetikkan kalimat-kalimat dalam paragraf diatas, sekedar agar layar tak kosong. Di save, dan ternyata sekarang berguna untuk membuka tulisan ini.

*

Saya selalu membayangkan, ketika suatu saat berhasil meraih semua impian-impian besar itu, maka saya akan menulis sebuah buku. Buku yang menceritakan tentang keberhasilan, tentang ketangguhan, tentang daya juang yang luar biasa. Namun kenyataannya sejak saya mulai memimpikan itu sambil menyesap kopi panas di lantai tiga hotel peking di Pulau Penang, Malaysia tahun 1999, hingga hari ini yang sudah empat belas tahun kemudian, impian itu masih belum juga bisa saya jadikan nyata.

Bukannya tidak ada kisah. Hanya saja saya belum berhasil sebesar yang saya impikan. Seperti impian menjadi trainer. Alih-alih mewujudkan impian menjadi trainer besar sekaliber Anthony Robin, saya hanya seorang pembicara regional yang jauh dari terkenal. Selain beberapa kali berbicara di acara kaliber nasional dan diundang ke beberapa provinsi/kampus di provinsi lain. Saya hanya berputar di kota kecil tempat saya lahir, kota kecil yang bermimpi jadi kota besar, Banda Aceh.

Terlebih ketika berhadapan dengan idealisme untuk menegakkan hidup bersih, bebas dari korupsi. Puluhan kegiatan per tahun yang harus ditolak karena selalu bertabrakan dengan idealisme.

Mudah? Tidak mudah. Sangat sulit, karena kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Memang kalau boleh jujur, saya sudah pernah merasakan tahap awal perjalan karir menjadi pembicara yang terlihat cukup menjanjikan. Tapi tahap awal itu berhenti hanya sampai di situ. Tidak mau kompromi soal 'rekayasa' dana, maka tidak ada dukungan dana. Titik.

Ada saatnya ingin menyerah, ada saatnya ingin kompromi. Toh yang lain, bahkan ustdaz-ustadz ada yang memberikan fatwa membolehkan dengan alasan kebaikan. Ada yang mengatakan itu seperti ghanimah, walaupun tak masuk dalam logika saya, bagaimana bisa rekayasa dana dianggap setara harta rampasan perang. Atau ada yg lain yang mengatakan, ambil saja, setidaknya kita menggunakannya untuk kebaikan, mereka menggunakan untuk keburukan. Namun selalu saja, perasaan ada yang salah membuat tidak nyaman. Tidak tenang. Tidak bahagia malah.

Tapi perasaan selalu terombang ambing. Terlebih ketika tabungan habis. Mengais rezeki serabutan. Godaan itu selalu muncul lagi. Dalam bentuk tawaran yang datang dari teman dan entah siapa yang mendadak menghubungi. Selalu menggiurkan melihat angka yg ditawarkan. Asalkan mau berhemat, dana 'bagi hasil' itu cukup untuk hidup tenang selama setahun. Bisa bayar sisa hutang usaha yang bangkrut dulu. Dan menjadi modal usaha baru.

Dan selalu saja, saat itu ada yang mengingatkan.

Seperti kemarin, jawaban untuk sebuah pertanyaan yang diajukan berbulan silam, mendadak muncul. Karena Ustadz yang ditanya baru melihat ada pertanyaan belum terjawab.


  • Tuesday
  • 11/26, 7:59pm



    Wa'alaykumussalam, sorry baru kebaca nih, terselip, hindari yg haram,, tetap komit dg yg halal, meski ada banyak masalah, ini cobaan aja kok, barakallahu fiik . Wassalamu'alaikum.



Walaupun jawabannya terkesan gaul, beliau seorang ustadz yang memiliki pengetahuan sangat baik dan saat ini berdakwah di Amerika.

Dan seolah menguatkan, semalam, Fatiya, putri sulung saya yang sedang makan biskuit, mendadak mendekat sambil menunjukkan kemasan biskuit. Tangannya menunjukkan logo halal dikemasan biskuit, "Ayah, harus ada logo halalnya. Klo tidak ada, tidak boleh kan?"

Faheema, dengan semangat mengambil biskuit lain dan menunjukkan bahwa disitu juga ada logo halal.

Pingin nangis, begitu mudahnya hati ini goyah. Dan ternyata begitu dekatnya kasih sayang Allah. Seketika, tiga, bukan hanya satu. Tapi tiga pengingat datang. Sungguh cintaNya ga pernah bikin patah hati.

2 comments:

  1. hahaha, bahasanya puitis banget. tapi nama bolgnya kok trainer nasi bungkus sih?

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search