Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, November 21, 2013

Pintu Ajaib

Tidak banyak harta yang saya miliki. Keluarga tercinta--istri dan anak-anak--adalah harta saya yang paling berharga. Selain mereka, buku adalah kemewahan lain yang saya syukuri. Dan menjadi kebahagiaan ketika melihat anak-anak saya lebih ceria bila dibawa ke toko buku dibanding ke toko mainan.

Kondisi keuangan kadang -- sering malah-- membuat buku menjadi barang sangat mewah, tapi saya bersyukur kepada Allah. Meskipun saya bukan trainer sekelas Mario Teguh, atau Roger Konopasek, cuma orang yang punya kemampuan seadanya sehingga bergelar Trainer Nasi Bungkus, walaupun sekarang kadang jadi trainer nasi kotak, atau trainer kue kotak, gara-gara saya sering ngisi materi yang kadang bayarannya betul-betul unik dan membuat senyum merekah. Tapi selalu ada saja buku yang saya dapatkan. Entah hadiah berupa voucher dari toko buku, atau dari peserta kegiatan, atau malah dalam paket ucapan terima kasih dari panitia.

Pintu Kemana Saja Milik Pribadi, itu nama yang diam-dam saya lekatkan bagi lemari buku yang tak terlalu mewah milik saya. Buku-buku itu adalah pintu portabel yang memberi kesempatan saya untuk mengunjungi berbagai tempat, di dunia nyata maupun fantasi, ataupun berjumpa dengan berbagai tokoh (sekali lagi, nyata maupun fantasi).

Bisa menyusuri uniknya samudra dalam dan petualangan bersama Kapten Nemo, dan kapal selam canggihnya. (Twenty Thousand Leagues Under the Sea, Jules Verne)

Menyusuri sudut-sudut tidak populer amerika, dan terlibat dalam konspirasi balas dendam para dewa yang terlupakan yang tercabut akarnya dari tanah leluluhr ketika arus migrasi membawa mereka ke benua yang ternyata tak seindah ceritanya. (American Gods, Neil Gaiman)

Berjalan bersama Agustinus Wibowo menjelajah berbagai negara, menyaksikan berbagai sisi tersembunyi negara-negara berakhiran 'Stan' yang tidak akan diberitakan media. (Garis Batas, Agustinus Wibowo)

Menikmati diskusi indah bersama para pakar. Mario Teguh dalam Becoming a Star. Rich Dad, Poor Dad nya Robert T. Kiyosaki. You Are What You Believe, Roger Konopasek yang merombak banyak hal dalam pemikiran saya tentang motivasi dan cara berfikir. Menyesap kopi bersama sang guru di Coffee at Luna nya Chuck Martin sambil belajar tentang manajemen dan kepemimpinan sejati, dengan cara sederhana tapi nendang. Atau melihat bagaimana persepsi bisa begitu merubah dunia kita, di The Noticer, tulisan bergaya cerita, tapi sebenarnya pembelajaran dahsyat dari Andi Andrews.

Menyelami dalamnya pemikiran dan kata-kata indah Ustadz Salim. A. Fillah, di beragam bukunya. Dari Nikmatnya Pacaran Sebelum Pernikahan, Gue Never Die, Saksikan Aku Seorang Muslim, hingga Dalam Dekapan Ukhuwah. Tidak lupa buku yang sempat buat ustadz Salim A. Fillah tertawa saat saya minta tanda tangan, Bahagianya Merayakan Cinta, edisi pertama. Tulisan beliau juga kemudian memperkenalkan saya dengan Ustadz Hasan Al Banna, Syaikh Yusuf Qaradhawi, Moh. Iqbal, dan banyak lagi nama lainnya.

Sederhana, tapi semuanya menjadi moment indah. Portable traveling, jalan-jalan menjelajah dunia nyata dan fantasi, menyusuri berbagai hal, belajar dan menikmati waktu privat bersama para ahli, para motivator, para ustadz, para pemikir dahsyat, para pemegang kunci dunia imajinasi.

Pintu ajaib, milik pribadi..

2 comments:

  1. Replies
    1. Alhamdulillah Qie, lumayanlah. Kebetulan kamera terbatas, 2/3 rak lainnya ga bisa difoto hehehehe -_-v

      Delete

Start typing and press Enter to search