Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata.

Merasa jenuh menulis. Ada banyak yang ingin dituliskan, namun ketika berhadapan dengan laptop -- atau jendela new post di blog -- kata yang sudah bergumpal mendadak kaku mengeras dan macet. Tersangkut dalam pikiran yang tanpa sebab mati suri.

Lain waktu, karena mendengar kisah nan insipratif dari para penulis motivator inspirator karburator, yang mencerahkan hati dan jiwa raga, dengan anjuran indah cerdas mempesona, agar selalu membawa-bawa buku catatan.

Tuliskan saja, kata mereka. Ketika kelebat ide itu melintas, tuliskan. Jangan ditunda-tunda, tumpahkan segala kata demi kata menjadi kalimat. Nasihat indah dan menawan. Tidak sia-sia mereka menempuh pendidikan bertahun-tahun, mengoleksi beragam buku dengan nama penulis yang menyebutkannya saja butuh ilmu atau alamat salah sebut, serta terkilir lidah.

Dan yang terjadi ...


Dari sekian banyak pertanyaan yang seharusnya aku ajukan. Tapi aku memilih pertanyaan ini. "Kay, ini siapa? Nana tanpa sebab pernah mengirimkan foto ini, dan seorang teman menunjukkan bahwa itu bukan Nana. Mirip tapi bukan."

Kayla melirik foto itu, aku tidak tahu apakah dia tersenyum di balik cadarnya. Tapi sesaat kemudian Kayla menggelengkan kepalanya. "Itu memang bukan Nana." Ujarnya pelan.

Sudah terlalu sering, hingga menjadi biasa. Melintas di depan masjid, ada dua bangku dengan sosok berwajah lelah, satu di ujung sini, yg lain di ujung sana. Menadah tangan meminta helai keping rupiah. Untuk masjid.

Memalukan.


Seberapa banyak yang akan menangis kalau aku mati. Pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban sejak beberapa bulan kemarin. Tepatnya sejak penguburan Jay, seratus dua belas hari sembilan jam tiga puluh empat menit lalu.

Saat itu hanya ada pak imam, Fauzi dan Itok yang satu kos dengan Jay, sebelas orang yang tidak aku kenal, tiga pekerja gali kubur, dan Bu Lina, staf kantor tempat Jay bekerja. Lalu aku. Berdiri mengelilingi gundukan tanah yang masih lembab.
Gayo Bukan Aceh

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.


Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.
Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Inginnya menuliskan catatan perjalanan yang memukau. Tapi kenyataannya, perjalanan terjauh yang bisa dilakukan hanyalah sebatas kota sendiri. Perjalanan rutin yang ada adalah rumah, pasar, dan warung kopi.

Jangan ditanyakan seperti apa iri hati ketika membaca blog teman-teman. Hari ini perjalanan ke Borobudur, kemarin menjelajah ke teluk pesisir nan menawan, kemarin dulunya senyum manis di depan gedung opera Sydney yang melegenda. Walaupun sudah lama, setahun dua tahun lalu, teman yang lain menceritakan perjalanannya ke Italy. Pose cantik di depan colosseum, di pusat kota Roma. Senyum cerah saat menaiki gondola di Grand Canal Venesia, setelah sebelumnya selfie di depan Piazza San Marco dan Saint Mark's Basilica.