Sudah terlalu sering, hingga menjadi biasa. Melintas di depan masjid, ada dua bangku dengan sosok berwajah lelah, satu di ujung sini, yg lain di ujung sana. Menadah tangan meminta helai keping rupiah. Untuk masjid.

Memalukan.


Seberapa banyak yang akan menangis kalau aku mati. Pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban sejak beberapa bulan kemarin. Tepatnya sejak penguburan Jay, seratus dua belas hari sembilan jam tiga puluh empat menit lalu.

Saat itu hanya ada pak imam, Fauzi dan Itok yang satu kos dengan Jay, sebelas orang yang tidak aku kenal, tiga pekerja gali kubur, dan Bu Lina, staf kantor tempat Jay bekerja. Lalu aku. Berdiri mengelilingi gundukan tanah yang masih lembab.
Gayo Bukan Aceh

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.


Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.
Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Inginnya menuliskan catatan perjalanan yang memukau. Tapi kenyataannya, perjalanan terjauh yang bisa dilakukan hanyalah sebatas kota sendiri. Perjalanan rutin yang ada adalah rumah, pasar, dan warung kopi.

Jangan ditanyakan seperti apa iri hati ketika membaca blog teman-teman. Hari ini perjalanan ke Borobudur, kemarin menjelajah ke teluk pesisir nan menawan, kemarin dulunya senyum manis di depan gedung opera Sydney yang melegenda. Walaupun sudah lama, setahun dua tahun lalu, teman yang lain menceritakan perjalanannya ke Italy. Pose cantik di depan colosseum, di pusat kota Roma. Senyum cerah saat menaiki gondola di Grand Canal Venesia, setelah sebelumnya selfie di depan Piazza San Marco dan Saint Mark's Basilica.
Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid. Kata yang menjadi headline di berbagai media asing. Isinya kurang lebih sama, tentang betapa intolerannya Indonesia, dan dianggap  melakukan serangan terhadap pedagang kecil yang berjualan di bulan ramadhan. Membuka laman twitterku yang lama terbengkalai, topik ini juga mencuat.

Pemberitaan dengan label Ramadan Raid, ada yang menuliskan juga Ramadhan Raid. Bagiku adalah pembuktian betapa besarnya islamophobia di dunia. Luar biasa sebuah kejadian di kota Serang, tiba-tiba menjadi 'headline' di berbagai media internasional.
Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Kami hanya sekadar satu meja, bukannya duduk bersama. Kurang lebih begitu, kalimat yang ku sampaikan untuk menjawab tanya mengapa sebuah 'komunitas' wisata yang aku sering hadiri ajang kumpul-kumpulnya, belum menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Narasi singkat tadi. Juga jawaban untuk tanya lain. Soal mengapa komunitas itu tak kunjung meluncurkan satu program pun.

Dan itu, kalimat tadi, adalah hal yang nyris terlalu sering aku temukan.