Manusia sedang menuju kepunahan. Apakah nanti karena kiamat memang tiba, atau mungkin kita sendiri yang memastikan kehancuran kita, umat manusia dari muka bumi.

Semalam saya melihat tayangan Years Of Living Dangerously di National Geographic. Episode di mana bintang Hollywood Jack Black menelusuri dampak perubahan iklim di Miami, Florida. Black bertemu dengan banyak pejuang lingkungan, termasuk diantaranya Delaney Reynolds, gadis berusia 16 tahun climate activist dari Florida.

Saya hidup di sebuah negara bagian dimana gubernur kami menyangkal dampak perubahan iklim, pejabat kami menyangkal perubahan iklim ini akibat ulah manusia. - Delaney Reynolds


graduation

Beberapa waktu kemarin lini masa sosial mediaku bertabur foto-foto ceria. Wajah gembira karena telah menjadi peserta perhelatan istimewa, wisuda. Ragam rona dan gaya tersaji. Wajah sederhana yang mendadak meriah penuh pulasan warna. Atau baju sewaan yang menguras tabungan. Jas, dasi, anggaran khusus untuk jamuan selepas acara. Facebook, twitter, instagram. Semua larut dalam selebrasi euforia kelulusan.

Tapi selepas itu apa? Sebagian dari mereka menemukan dirinya tercenung dalam barisan panjang pencari kerja. Atau duduk termenung di balik meja, ketika sarjana Teknik Pertamanan banting stir menjadi pegawai di usaha Laundry milik Pak Mukidi, yang SMP pun tak tamat.
Karena Anti Mainstream Sudah Mainstream

Anti Mainstream. Gaya melawan arus. Jadi berbeda. Pilihan sikap yang dalam satu dekade terakhir ini kulihat semakin banyak dipilih. Sayangnya banyak yang tak paham, maka lahirlah generasi egois yang berlindung dibalik kata saya punya hak untuk berbeda.


Tak jarang kita menghadapi hal yang sudah sangat sering kita kerjakan. Bidang yang kita punya pengalaman bertahun-tahun di’dalam’nya. Kerjaan yang kita merasa sudah sangat yakin pada kapasitas diri, sehingga benak kita menyiapkan nyaris segala kemungkinan untuk hampir segala skenario. Dan zaaap, Tuhan menegur kita. Mengingatkan betapa kecilnya kita. Betapa lemah dan tak berdayanya mahluk bernama manusia ini dalam perhitungan probabilitas yang melibatkan semesta raya milik Illahi.
Old Rusty House

Cina itu kafir, dan  itu karena Islam Intoleran Lagi dan untuk kesekian kalinya kutemukan cerita sejenis itu di laman jejaring sosial. Seorang perempuan yang merasa tersinggung, karena perempuan lain yang kebetulan seorang muslimah menolak bersalaman dengannya. Seketika, ungkapan bernada serupa, yaitu agama Islam adalah agama intoleran bertaburan di kolom komentar.

Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata.

Merasa jenuh menulis. Ada banyak yang ingin dituliskan, namun ketika berhadapan dengan laptop -- atau jendela new post di blog -- kata yang sudah bergumpal mendadak kaku mengeras dan macet. Tersangkut dalam pikiran yang tanpa sebab mati suri.

Lain waktu, karena mendengar kisah nan insipratif dari para penulis motivator inspirator karburator, yang mencerahkan hati dan jiwa raga, dengan anjuran indah cerdas mempesona, agar selalu membawa-bawa buku catatan.

Tuliskan saja, kata mereka. Ketika kelebat ide itu melintas, tuliskan. Jangan ditunda-tunda, tumpahkan segala kata demi kata menjadi kalimat. Nasihat indah dan menawan. Tidak sia-sia mereka menempuh pendidikan bertahun-tahun, mengoleksi beragam buku dengan nama penulis yang menyebutkannya saja butuh ilmu atau alamat salah sebut, serta terkilir lidah.

Dan yang terjadi ...


Dari sekian banyak pertanyaan yang seharusnya aku ajukan. Tapi aku memilih pertanyaan ini. "Kay, ini siapa? Nana tanpa sebab pernah mengirimkan foto ini, dan seorang teman menunjukkan bahwa itu bukan Nana. Mirip tapi bukan."

Kayla melirik foto itu, aku tidak tahu apakah dia tersenyum di balik cadarnya. Tapi sesaat kemudian Kayla menggelengkan kepalanya. "Itu memang bukan Nana." Ujarnya pelan.