Friday, May 29, 2020

Jendela Rumah Kita


Awal 90'an ada serial tv, Jendela Rumah Kita. Bintangnya WD. Moechtar, Dede Yusuf, Desi Ratnasari, dkk. Pagi tadi, saat memandangi langit dari jendela, saya teringat serial itu.

Sekarang Dede Yusuf dan Desi Ratnasari sudah bukan artis lagi, mereka sekarang politisi.

Bukannya teringat jalan cerita, tetiba terpikir. Kita semua punya jendela di rumah kita. Bahkan mungkin jendelanya di cat dengan warna yang sama, bentuknya sama, ukurannya pun sama. Tapi yang kita lihat, sangat mungkin berbeda.

Sama seperti jendela. Cara kita melihat hal yang sama dalam kehidupan, bisa jadi berbeda. Bukan sekedar karena orang yang melihat berbeda. Tapi kita sendiri, melihat hal yang sama, di waktu berbeda, akan merasakan hal yang berbeda.

Tiga tahun lalu, pemandangan di depan jendela kami adalah pagar yang sepenuhnya dirambati Labu Siam, Jipang kalau kata orang Gayo. Tak ada apa-apa antara jendela ke pagar.

Sekarang, sebatang pohon alpukat setinggi tiga meter tumbuh diantaranya. Ada Sirih Kampung merambat di batangnya. Dan antara pohon Alpukat dengan pagar, ada sebatang Jambu (Guava) yang tumbuh dengan cerita unik. Ditanam sekian lama, batangnya tak mau berdaun. Lalu satu hari saya cabut, ternyata akarnya tumbuh dengan baik. Ditanam kembali, dan sejak saat itu daunnya mulai bermunculan.

Seiras dengan catatan perjalanan kehidupan sebagian dari kita. Seiring waktu, berbagai hal yang terjadi, pengalaman baik dan buruk, seperti bibit-bibit yang tumbuh.Ada yang tumbuh jadi filter, ada yang berfungsi menahan hembusan badai, ada yang semula terasa menghalangi pandangan tapi ternyata hanya meminta kita untuk mendekat agar bisa melihat lebih baik. Kita belajar melihat dengan sudut pandang yang berbeda.

Tidak semua dari kita memilih melihat dengan cara begitu. Ada yang memilih menebang semua yang tumbuh, karena tidak ingin yang tampak dari jendelanya berubah. Bisa saja berarti dua hal. Satu, istilahnya terjebak dengan satu sudut pandang atau zona amannya sendiri. Dua, secara analisa, dia merasa tak perlu ada perubahan di depan jendelanya.

Yang lain memilih membiarkan segalanya tumbuh tanpa memilah. Maka setelah sekian tahun, semuanya tertutupi. Tak bisa melihat apapun, bahkan cahaya matahari terhalang menerangi ruangan.

Apapun itu, sebenarnya pilihan ada di kita. Memilih dengan mempertimbangkan berbagai hal, memilih dengan analisa. Tidak selamanya berarti buruk, hanya karena ada yang mengatakan pilihan itu salah. 

Beda pendapat, beda cara menjalani satu hal yang benar, itu hal biasa. Hanya saja ada orang-orang yang ingin memaksakan jalannya sendiri. Lupa jalan kebaikan itu punya banyak jalur. Faktanya, yang namanya kebenaran itu, selalu bisa dirasakan oleh hati. Yang benar tetap akan terasa beda dengan pembenaran. Dan Tuhan menciptakan hati memang untuk kita yang mau merenungi.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search