Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, December 27, 2012

Catatan Dari Dataran Tinggi Gayo: 1. Secubit Sisi Lain



Danau Lot Tawar, hal yang umumnya paling diingat, setelah kopi, oleh mereka yang berkunjung ke Takengon, atau dataran tinggi Gayo. Dan memang keduanya adalah ikon daerah yang mayoritas penduduknya suku Gayo. Suku lain yang juga memiliki angka populasi cukup besar adalah Jawa dan Aceh.
Pertama kalinya saya mengunjungi daerah pegunungan ini adalah tahun 1996, saat masih berstatus siswa SMU, dengan rombongan wisata sekolah. Saat itu hal pertama yang saya sadari adalah dinginnya yang luar biasa. Pada tengah hari pun, jaket masih akrab di badan. Bila pagi hari, nafas memutih ketika dihembus, dan asap tipis mengapung dari permukaan air di kamar mandi. Gunung-gunung disekitar kota dan sepanjang jalan lintas Bireun-Takengon, masih sangat padat dengan pepohonan. Saya ingat, kami semua sempat diteriaki oleh sopir bis sewaan yang kami tumpangi, ketika hampir separuh penumpang berpindah kesalah satu sisi bus. Pasalnya sederhana, terkagum-kagum melihat air terjun yang mengepulkan uap ditepi jalan yang kami lalui menuju Takengon air panas terjun.

Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, saya kembali mengunjungi Takengon untuk kedua kalinya. Dan sejak itu secara rutin beberapa bulan sekali kembali ke Takengon. Bolak-balik yang membuat saya tertarik dengan banyak hal yang tak saya dapatkan ketika berkunjung ke Takengon sebagai ‘wisatawan lokal’, sisi lain dari dataran tinggi Gayo.

Sekedar catatan, air panas terjun itu tidak lagi saya temukan dan Takengon tidak sedingin dulu lagi.


Jalan dan Keahlian.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, pembangunan jalan lintas dan jalan utama di kota Takengon berkembang pesat. Setelah melewati tikungan yang berkelok dari Paya Tumpi untuk kemudian memasuki ‘gerbang’ kota Takengon, pemandangan yang menyambut cukup indah. Terutama bila kita memasukinya saat malam hari, atau dini hari bila menggunakan mobil penumpang L300. Barisan lampu jalan dengan tiang yang menjulang dan warna kuning yang eksotis, dipadu dengan dingin dan segarnya udara pegunungan memberi kesan yang dalam. Jalan aspal yang lebar dan mulus itu, mengecil ketika memasuki wilayah pusat kota.
Dan jalan mulus itu ternyata bukan milik semua warga. Begitu berbelok memasuki lorong-lorong, jalan menjadi sempit, penuh lubang. Dibeberapa perkampungan, jalan semen menggantikan jalan aspal. Jalan yang tak jarang sempit dan berliku dengan sudut yang mencengangkan, dibutuhkan manuver dan keahlian tinggi untuk berkendaraan diperkampungan yang rata-rata sangat padat penduduk. Rumah-rumah dengan ukuran yang kecil, dibangun seadanya, tanpa memikirkan secara optimal aspek keamanan, dan tak jarang seolah tumbuh dan berkembang. Karena dari sebuah rumah berlantai satu, lantai duanya bisa dibangun mendadak, dan sedikit menumpang keatap tetangga.Memang beberapa pemukiman terlihat indah, dan lumayan rapi, namun kebanyakan warga menetap diperumahan yang sangat sederhana model begini.
Seolah tantangan manuver masih belum cukup, jalan semen ini tak jarang ditambah lagi dengan kemiringan yang memukau. Kampung Blang Kolak II, salah satunya. Hanya berjarak 10 meter dari jalan raya, berbelok memasuki lorong, jalan semen menanjak sekurangnya 45°, bahkan bisa lebih miring lagi. Mengendarai motor mendaki jalan seperti itu, jelas butuh keahlian. Sekedar tambahan, jalan itu juga berbelok dan berlubang. Jalan model begitu juga bisa ditemukan di Kampung Takengon Barat, Kampung Balee, dan beberapa lainnya.




Bukan Cuma di Hongkong.
Selain terkenal sebagai pusat belanja, tempat dengan gaji tinggi bagi pramuwisma sehingga TKW Indonesia berbondong-bondong dan berjamaah datang, dan salah satu icon trendsetter dunia. Hongkong juga terkenal dengan bangunan yang dibangun tumpang tindih, sehingga tak jarang sambung menyambung, dengan lorong yang naik turun dan rumit, menciptakan labirin wilayah kekuasaan dunia hitam yang bahkan aparat keamanan terlatih pun enggan memasukinya.

Kesampingkan dunia hitam, kesampingkan jumlah lantai yang menjulang ke atas. Pemukiman padat di Takengon pun memiliki kerumitan dan kondisi yang tidak kalah unik. Terletak jauh di belakang bangunan megah di pusat kota, atau di belakang pasar, atau tumbuh memanjang di sepanjang aliran sungai, area perumahan yang rapat terbentuk. Lorong yang sambung dan putus tanpa aturan. Rumah yang kadang hanya berukuran 3x4 meter namun berlantai dua, dibangun berdempetan. Rata-rata berbahan kayu atau triplek. Struktur penopangnya tak jarang seadanya. Saling menopang dengan rumah atau bangunan disebelahnya. Ada juga yang menempel di dinding pagar bangunan lain, gudang atau pagar dari bangunan instansi pemerintah. Beberapa bahkan layak untuk disebut pemukiman domino, karena setiap bangunan, mengandalkan topangan dari bangunan di kiri kanannya, salah sedikit, bisa mengakibatkan kerusakan yang besar. Hati-hati bila berjalan, salah belok, bisa-bisa keluar dari tempat yang jauh dari tujuan awal.

Pemandangan yang jarang ditemukan bila dilihat dari tengah kota. Beberapa karena letaknya di tengah pasar, terhalang dengan pasar yang mengelilinginya. Yang lainnya karena tumbuh di balik deretan bangunan perkantoran. Tapi bila kita coba memutar dari sisi lain kota Takengon, membelok memasuki wilayah Asir-asir, memandang keseberang sungai peusangan yang berhulu dari danau Lut Tawar, barisan perumahan rapat dengan atap seng berkarat akan terlihat jelas.

Bunga-bunga Takengon.
Takengon itu penuh bunga, kata seorang teman. Meskipun saya faham yang dimaksudnya adalah dara-dara cantik dataran tinggi Gayo. Tapi saya setuju karena memang bunga adalah salah satu hal yang menarik pandangan bila berkunjung ke Dataran Tinggi Gayo.
Coba susuri jalanan melintasi Takengon, apakah nanti memutuskan berbelok memutari pinggiran danau Lut Tawar, yang hanya menghabiskan waktu 2 jam dari sisi ke sisi, ataupun terus melintas membelah kota takengon menuju seberang sana ke Bies atau Silih Nara. Bunga dan berbagai tanaman akan menjadi teman di sepanjang jalan.

Kebun Jeruk. Lokasi: Lukup Badak
Yang pasti paling terlihat adalah barisan cemara, tanaman pendatang yang dibawa Belanda dan kini mendominasi lereng-lereng pegunungan disekitar kota. Di belakangnya, memenuhi pegunungan yang lebih tradisional, belum dirambah oleh tanaman pendatang, pohon-pohon hutan tropis menatap pemukiman dibawah mereka, hijau gelap dengan selingan warna yang lebih muda di beberapa tempat, bersisian juga dengan lahan perkebunan masyarakat. Hijau sepanjang tahun. Tak ada musim gugur disini yang memerah dan jingga kan dedaunan. Hanya ketika musim panen tiba, jingganya tomat, merahnya cabai, dan kuningnya jeruk Gayo mewarnai celah-celah hijau.

Morning Glory liar
Di sepanjang jalan,  Bunga Tasbih dan Dahlia menyemarakkan dengan ragam warnanya, kuning terang, merah cerah, merah dengan semburat warna kuning, jingga, ungu dan beragam gradasi warna biru. Bunga Dahlia di Takengon mekar dengan sempurna, lapisan setiap kelopaknya bisa mencapai seukuran jari kanak-kanak. Di beberapa tempat Kembang Kenop kuning dan putih muncul dengan rendah hati. Morning Glory liar sebaliknya dengan penuh keyakinan merambat hampir disemua tempat, pagar kebun, batang pisang dan pohon Petai Cina, bunga ungu tanaman rambat ini mengelayut manja nyaris dimana saja. Diatas mereka, ditepi jalan atau di pinggiran kebun, Brugmania Uaeolens berayun tenang dengan bunga terompet berwarna kuning lembutnya.
Bunga-bunga liar lainnya, tak dikenal namanya, juga semarak disela tanaman kebun, pagar, dan pinggiran saluran air.

Menyusuri kota Takengon dan sekitarnya, ada banyak hal menarik. Sisi lain yang lebih banyak lagi dari sekedar hanya mengunjungi danau Lut Tawar. Beberapa teman memilih mendaki Bur Gayo dan berfoto di Gayo Highland (‘d’ nya terkapar dan belum diperbaiki). Yang lainnya memilih mencoba mengeksplorasi beberapa gua alam, selain hanya berkunjung ke Gua Putri Pukes dan Loyang. Meskipun ada juga yang jauh-jauh datang, untuk mancing di tengah danau.



Bersambung : Catatan Dari Dataran Tinggi Gayo: 2. Secangkir Kopi dan Jelajah Kuliner

1 comment:

  1. he?? bang sayed punya kok?? mutar2 cari jalan cerita tentang takengon, nyasarnya ke rumah bang sayed. minta kopi bang satu :D

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search