Post Ad Area

Post Home Style

Saturday, September 17, 2011

Roti Manis Untuk Ully

Saya berdiri di depan rumah dengan bingung. Jujur saja tidak tahu harus melakukan apa. Di halaman rumah air masih menggenang, mobil kami terjungkat bagian belakangnya, membenamkan kap mesin ke dalam air.

Saya masih belum pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tadi pagi  banjir tiba-tiba menerjang wilayah tempat tinggal kami sekeluarga. Semua porak-poranda. Bukan hanya wilayah kampung kami, tapi sepertinya hampir seluruh kota banda Aceh hancur. Ini banjir apa sebenarnya? Rasanya tidak pernah terbayangkan sama sekali akan ada kehancuran seperti ini.

Menjala Angin Dibatas Pasir



Semestinya perih, namun matanya kering dari tetes air mata. Tak ada rasa terluka ataupun sakit yang mengoyak hati. Hanya sepi, berbungkus hampa. Kakinya tegak menopang tubuh, menatap batas langit, tak ada gurat kelu. Wajahnya membeku dalam sepi.

Di kaki langit, ada samar garis putih ombak mendekat. Tak lama deburnya menyapa bibir pantai, lalu sunyi. Ia berpaling menatap wajah yang sedari tadi menemaninya menyesap sunyi

" .. tak ada amarah. Aku pun tak inginkan marah itu. Sungguh! Tugasku usai baginya, karena sedih telah berlalu, gundah tlah pupus, tangis tlah reda. Aku hanyalah kertas usang tempat mengurat duka, bila suka datang maka tugasku usai sudah."

Kompromi

"... sekarang bukan masanya untuk sok idealis. Ambil aja dananya. Nanti soal fee buat kami, kan wajar itu, kami sudah bantu uruskan proposal. Laporannya kita atur aja. Itu dana nanti dipakai untuk hal yang baik. " Ujar seorang teman sambil mengusap sebutir keringat, di dahinya, tepat disamping dua tanda menghitam.

Friday, September 16, 2011

Yang Diam Dalam Cinta



Teman, ada banyak mereka disekeliling kita.
Orang-orang yang diam dalam cinta, mereka yang mencintai tanpa pamrih.
Mereka yang bahagia karena memberikan yang terbaik, meski sering terlupakan
Mereka yang tak jarang tak dihargai.

Mereka, bisa jadi adalah guru mengaji di balai pengajian dipelosok kampung.
Tak sering disapa tunjangan pemerintah, bergaji seperlunya sesuai keikhlasan orang tua.

Mereka, bisa jadi adalah guru Taman Kanak-kanak ataupun Pendidikan Anak Usia Dini
Tersenyum penuh cinta merawat buah hati kita, keponakan kita, adik kita.
Tak mengeluh ketika bajunya terkena coretan, tertumpahi sirup, pun ketika menemani ke kamar mandi.

Waktu & Hati, Sebentuk Investasi


" Haduh, maaf aja lah bang, paling nanti dihitung gratis lagi, alasannya orang dalam."
" Suruh orang lain aja lah bang, bukan ga mau bantu desain, capek aja kalo untuk kita selalu mau murah."
" Maaf bang, sekarang saya ga ngisi lagi di kampus, tarifnya ga sesuai. "




Sumber: Gettyimages, Free Royalty Images

Kurang lebih, begitu jawaban yang sejak empat hari terakhir ini rajin saya dapatkan. Jawaban dari teman-teman, yang dihubungi untuk mempersiapkan sebuah kegiatan bagi kalangan muda di kampus.
Dari yang menolak untuk membuatkan desain spanduk, hingga yang enggan berpartisipasi sebagai pembicara. Dan semua mengajukan alasan yang sewarna, minimnya penghargaan materi.

Ironis memang, karena sebahagian besar dari teman-teman ini adalah mereka yang pada masanya dulu, adalah orang-orang yang begitu bersemangat untuk melakukan perbaikan dikalangan muda.
Namun tuntutan kebutuhan memang sering membuat kita terpatahkan.

Thursday, September 15, 2011

Pasir Kaca


Pasir Kaca, mungkin dia dari kaca di langit, yang remuk kala menghempas hamparan bumi.
Atau mungkin bejana olahan silika yang milyaran hari silam milik para raksasa penghuni dunia.
Hanya alam yang tahu dan ia tak berminat menjawab tanya tak berfaedah ini.
Pasir Kaca kunamakan sosok kecil yang berkilau dibibir pantai, ataupun dipunggung pegunungan.
Berbinar disapa matahari tak tentu apakah pagi, siang, ataupun malam ketika rembulan meneruskan pantulan raja siang yang meletup ditengah jagad raya kita, dipinggiran semesta.
Menemukan cemerlang mungilnya yang berpendar, ditengah desir ombak, atau semilir angin, adalah sela dan jeda sejenak.
Mengalihkan ruang fikir yang jenuh, yang penuh oleh semerbak masakan tak mampu terbeli, lembut tenunan, dan beras putih tanpa batu.
Ruang fikir yang kumuh karena penuh oleh tagihan listrik membengkak, televisi yang semakin pudar warnanya, dan agama yang kian mengabur.
Sejenak, kawan, hanya sejenak. Kilau bening itu mengatakan harapan.
Masih ada jiwa-jiwa yang bersih, yang percaya bahwa halal haram tak bisa dipelintir.
Jiwa yang percaya, bahwa kasih sayang Tuhan jauh lebih besar dari pada penistaan manusia.
Jiwa yang beriman kepada Tuhan, bukan pada keputusan rapat para pemimpin.
Jiwa kita, itu kawan, jiwamu dan aku.
Rompal dan menggerigi terkikis tuntutan perut dan mulut, namun masih bisa diperbaiki.
Karena kita diajari, surga dan neraka adalah pilihan, dan kita memilih yang terbaik.

Banda Aceh, 15 September 2011

Saturday, February 19, 2011

Memilih ...



Teman, berbuat kebaikan pasti butuh biaya. meski sedikit berilah penghargaan :)

Tidak semua yg mau berbuat itu mapan hidupnya, tak jarang mereka harus mengecap penghinaan, dicela, dikejar2 hutang, namun dgn segala keterbatasan mereka masih ingin berbuat.

Mereka tak bisa jadi PNS, karena sadar investasi mereka hanyalah waktu yg luas, sehingga bisa diminta 'ngisi' kegiatan kapan saja.

Mereka terikat dgn tanggung jawab kata-kata pada orang lain, sehingga berjuang mencari rezeki yg halal, dan itu sulit, karena bahkan banyak yg membungkus dirinya dengan islam, mulai menghalalkan segala cara demi mendapat dana.

Mereka takut mengambil rezeki yg dibalut dengan sumber meragukan, apalagi yang dengan enteng beralasan "Kalo tidak kita ambil, orang lain yg ambil. Ingat, pada kita ini adalah untuk kebaikan, pada orang lain ini akan menjadi biaya kemudharatan."

Start typing and press Enter to search