Post Ad Area

Post Home Style

Showing posts with label Takengon. Show all posts
Showing posts with label Takengon. Show all posts

Friday, June 17, 2016

Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Inginnya menuliskan catatan perjalanan yang memukau. Tapi kenyataannya, perjalanan terjauh yang bisa dilakukan hanyalah sebatas kota sendiri. Perjalanan rutin yang ada adalah rumah, pasar, dan warung kopi.

Jangan ditanyakan seperti apa iri hati ketika membaca blog teman-teman. Hari ini perjalanan ke Borobudur, kemarin menjelajah ke teluk pesisir nan menawan, kemarin dulunya senyum manis di depan gedung opera Sydney yang melegenda. Walaupun sudah lama, setahun dua tahun lalu, teman yang lain menceritakan perjalanannya ke Italy. Pose cantik di depan colosseum, di pusat kota Roma. Senyum cerah saat menaiki gondola di Grand Canal Venesia, setelah sebelumnya selfie di depan Piazza San Marco dan Saint Mark's Basilica.

Sunday, July 5, 2015

Mie Aceh Rasa Nostalgia


Saya tidak ingat kapan mulainya. Tapi rasanya sudah sejak lama saya menjadi seorang mieholic, penyuka mie yang nyaris fanatik. Bahkan saya menganggap sebagai satu kewajiban bila berkunjung ke sebuah tempat untuk mencicipi mie ala daerah itu.

Sebut saja Mie Kocok, mie kuning dengan tauge mentah yang ditambahkan sebelum mie disiram dengan kuah kaldu sapi yang gurih. Di beberapa daerah variasi penyajian mie kocok menambahkan acar bawang merah dan daging sapi yang ditumis dengan bumbu dan dirajang halus. Ketika di Bandung, saya ingat saya membujuk Bang Mawardi untuk menemani saya kabur dari 'pelatihan' untuk pergi mencari sajian mie khas Bandung ini.

Saya juga pernah kena 'marah' oleh ketua panitia pelatihan di Palembang, ketika beliau menjemput ke hotel untuk makan malam di sebuah restoran, saya sudah keluyuran dengan anak-anak panitia acara untuk berburu Mie Celor, mie khas Palembang. Mienya seperti mie

Wednesday, July 1, 2015

Pasar Yang Hilang


Pasar Pagi, Takengon. 2011
Ada banyak 'landmark' di Takengon yang menurut saya keren. Kadang-kadang bukan hal yang mewah atau istimewa. Tapi rasanya sudah menjadi ciri khas Takengon.

Arena Pacuan Kuda Blang Bebangka. Tulisan Gayo Highland di Gunung Bur Gayo, yang mirip dengan tanda Holywoodnya amerika. Tulisan besar itu nangkring di puncak gunung, dan meskipun sekarang sudah ditambahi tulisan baru 'Tanoh Gayo' di depannya, tapi huruf 'D' di tulisan Highland masih hilang entah kemana. Dan banyak lagi lainnya.

Salah satu yang paling istimewa bagi saya adalah Pasar Pagi. Semua teman yang datang ke Takengon, pasti menyempatkan datang belanja sayur mayur ke pasar ini.

Saturday, June 27, 2015

Bye Bye Blackbird 2

Source: pinterest.com
Pagi tadi saya bertekad untuk mencari rumah almarhumah Nana. Kemarin saat shalat Jum'at, saya bertemu teman, Aripin, dengan 'p' bukan 'f'. Dan pertemuan itu memang bukti bahwa tak ada yang namanyakebetulan di dunia ini. Segalanya terjadi dengan tujuan.

Saya teringat Arip tinggal di daerah yang setahu saya memiliki ciri-ciri seperti yang diceritakan Nana dalam postingan di blognya. Dekat danau, ada kebun kopi, dan pohon durian. Tidak terlalu banyak daerah seperti itu di seputaran kota Takengon, setidaknya kalau dikerucutkan dengan ceritanya bahwa dia bisa melihat pasar dari lantai dua rumahnya.

Dan saya menyesal kenapa tidak mencarinya dari dulu. Saya menemukannya hanya dengan dua kali bertanya saja. Pertanyaannya pun sederhana. "Maaf, Ine. Saya mau takziah ke tempat teman. Meninggalnya hari kamis. Baru pindah. Anak gadis."

Tapi saya bersyukur saya mencarinya hari ini. Kalau terlambat satu hari, mungkin tidak akan bertemu dengan Ummi. Saat saya datang, beliau sedang berkemas akan berangkat ke Banda Aceh. Rumah itu akan segera dikosongkan.

Thursday, May 14, 2015

Situ Juga Sama Saya

Aslinya diniatkan untuk status facebook. Tapi setelah dipertimbangkan lagi, akhirnya dijadikan postingan di blog saja. Selain untuk menjaga kesan blog tetap aktif. Tulisan ini mungkin kepanjangan kalau di status fb.

"Orang gayo juga tidak toleran." 

Komentar saya ini langsung disambut dengan emosi oleh seorang kawan. Tadi kami berjumpa setelah lama tak bertemu. Ngopi di warung milik saudaranya di pusat kota Takengon. Amarahnya kontan tersulut. Pernyataan saya tadi ditanggapinya dengan sangat panas. Bahkan mulai membawa soal suku, dan fakta bahwa saya pendatang dari pesisir yang kini menetap di Takengon.

Thursday, March 26, 2015

Takengon, titik persimpangan takdir.

de·cep·tion
dəˈsepSH(ə)n/
noun
noun: deception; plural noun: deceptions
  1. the action of deceiving someone.
    "obtaining property by deception"
    • a thing that deceives.
      "a range of elaborate deceptions"

      synonyms:deceit, deceitfulness, duplicity, double-dealing, fraud, cheating,trickery, chicanery, deviousness, slyness, 
      wiliness, guile, bluff, lying, pretense, treachery; 
      informalcrookedness, monkey business,monkeyshines

***

Sejujurnya, bagi saya pindah ke Takengon adalah keputusan dengan makna ganda. Disatu sisi, itu adalah keputusan paling tepat, karena keluarga memang semestinya bersama, bukan terpisah sana sini dengan berbagai alasan (kecuali memang dalam kondisi yang sangat terpaksa).

Tapi di sisi lain, ini adalah keputusan pengakuan. Ya, saya mengakui sudah kalah, sudah gagal, saya mundur.

Bagi saya, selama bertahun-tahun, Takengon hanyalah kota kecil dengan alam yang indah, tapi sangat tidak terberdayakan. Seharusnya bisa jadi destinasi wisata, tapi tempat wisatanya banyak tidak dikelola dengan baik. Kotanya tidak punya tempat hiburan menarik, dan selepas maghrib, mulai sepi.

Start typing and press Enter to search