Wednesday, November 23, 2016

Berhenti Saja Untuk Apa Kuliah

graduation

Beberapa waktu kemarin lini masa sosial mediaku bertabur foto-foto ceria. Wajah gembira karena telah menjadi peserta perhelatan istimewa, wisuda. Ragam rona dan gaya tersaji. Wajah sederhana yang mendadak meriah penuh pulasan warna. Atau baju sewaan yang menguras tabungan. Jas, dasi, anggaran khusus untuk jamuan selepas acara. Facebook, twitter, instagram. Semua larut dalam selebrasi euforia kelulusan.

Tapi selepas itu apa? Sebagian dari mereka menemukan dirinya tercenung dalam barisan panjang pencari kerja. Atau duduk termenung di balik meja, ketika sarjana Teknik Pertamanan banting stir menjadi pegawai di usaha Laundry milik Pak Mukidi, yang SMP pun tak tamat.
Di tempat lain, setelah kuliah bertahun-tahun di jurusan Teknologi Panen Hasil Kebun, pemuda harapan bangsa itu termenung merapikan petak-petak tanaman hidroponik, sebagai pegawai bukan pemilik, di kebun hidroponik milik Bunda Hayati, yang drop out di semester ketiganya dari kampus Sekretaris.

Yang lain, pura-pura tak melihat, ketika ternyata sederet dengan teman satu kampus, yang sama-sama melamar kerja jadi pegawai honor kabupaten, dengan syarat utama ijazah SMA.

Fakta ini teman. Bukan rekayasa untuk merendahkan kalian. Terlebih karena aku pun bagian dari kalian. Yang selepas wisuda, menyimpan baik-baik ijazah Sarjana Teknologi Hasil Pertanianku, di salah satu lemari di rumah orang tua. Dan sejujurnya aku tak ingat lagi lemari yang mana.

Aku tahu sakitnya, pahitnya. Walaupun aku menyimpan ijazah itu dengan sepenuh kesadaran, karena dulu, kuliah dan titel sarjana itu adalah berupaya memenuhi harapan orang tua. Lalu berjuang keras mengejar dan mengasah kemampuan dibidang komunikasi dan grafis. Kenyataannya pertanian adalah antah berantah bagiku.

Kita lewati bagian tentang 'aku', itu tak penting.

Yang jadi pertanyaan, kenapa selepas kuliah, tragedi yang kita baca di atas terjadi berulang-ulang? Ku katakan saja pendapatku. Karena memang kita yang merencanakan tragedi itu.

Ya betul, teman. Bukan salah baca. Sebagian besar dari kita memang merencanakan tragedi selepas wisuda itu untuk terjadi.

Aku ceritakan padamu, teman. Dulu ketika aku masih pegang mic, ketika itu aku masih orang yang sering dituduh sebagai motivator, diminta mengisi training di kampus-kampus untuk memberi motivasi kuliah (padahal kuliahku saja S1nya sembilan tahun), sering kutemukan kejadian ini.

Para mahasiswa, dan mahasiswi, yang semestinya cerdas luar biasa karena mereka telah lulus seleksi untuk menyandang gelar siswa yang maha, terdiam saat ditanyakan mau jadi apa selepas kuliah.

Dan wajah mereka semakin kosong ketika kulanjutkan dengan "...dan saya tak mau jawabah teoritis semacam aku kuliah karena ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa."

Pahit memang, tapi itulah sebab musababnya. Yang menjadikan lebih dari setengah wisudawan-wisudawati yang cerdik pandai, terjengkang jungkir balik mencari kerja. Sebagain besar akhirnya memilih bekerja di bidangnya tapi dengan menurunkan kelas, pakai ijazah SMA. Yang lainnya bekerja dibidang berbeda, asalkan ijazah sarjana bisa dipakai. Yang lainnya lagi bekerja di luar bidang dengan gaji sangat kecil, jauh di bawah standarnya.

Kuliah, tapi tak tahu untuk apa. Bahkan tak punya bayangan mau bagaimana selepas kuliah. Tak pernah terpikir, kuliahnya itu bertabur keringat darah dan airmata orang tua. Tak pernah juga menghitung bahwa rata-rata orang tua mengeluarkan biaya sekitar 40'an juta untuk kuliah lima tahun seorang anaknya.

Kalau memang sejak awal kuliah tanpa tujuan jelas, hanya berandai-andai bahwa nanti akan ada peluang, alih-alih memikirkan sejak hari pertama kuliah akan jadi apa lalu berjuang kerja keras yang cerdas banting tulang peras keringat untuk membangun jalannya. Bukankah lebih baik berhenti saja, untuk apa kuliah?

Kalau memang nantinya cukup pasrah untuk kerja jadi pegawai laundry, kenapa tidak sejak awal buka laundry saja. Lalu kerja keras untuk sukseskan usaha itu. Tak butuh titel tinggi-tinggi.

Atau, kuliah dengan rencana dan bidang ilmu yang mendukung usaha laundrynya. ikut beragam pelatihan dan seminar nasional, semisal yang berjudul 'Pengaruh Penyimpangan Derajat Tabung Cuci Terhadap Efektifitas Deformasi Noda Pada Kain Katun'. Sehingga selepas lulus, titelnya itu menjadi legalitas laudry berstandar International. Yang memenuhi segala prinsip keilmuan termutahir dibidang mencuci baju dan deterjen.

Tanpa rencana dan tujuan. Kuliah, hanya akan menjadi sebutan halus untuk pengangguran terselubung. Maka berhenti saja bila hanya sekedar gaya, atau ikut-ikutan. Atau rencanakan dari awal, lalu berjuanglah. Setidaknya tidak akan membuat senyum cerah ayah dan mamak menjadi getir selepas sekian tahun, gegara sang sarjana masih juga terduduk di rumah tanpa daya.

Kalaupun belum berhasil, ayah dan mamak tahu, anaknya adalah pejuang. Sejak hari pertama kuliah.

Selamat, atas wisudanya adik-adik, teman, kawan, rekan sekalian. Selamat berjuang.
  1. Judulnya agak paranoid ya bang, tetapi satu sisi memang benar, jika telah jadi sarjana nggak kreatif sangat susah. Saya sudah merasakan sendiri bagaimana pertarungan di lapangan kerja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, bukan paranoid sih bai.

      Maksudnya lebih ke reminder. Klo kuliah tanpa tujuan, mending ga usah kuliah. Fokus pada memberdayakan dananya utk usaha aja :D

      Delete
  2. Orang kuliah sekarang untuk ngejar jadi PNS, bgitu juga orang tua klu anaknya kuliah harapannya jadi PNS, padahal banyk kerjaan lain yg lebih menyenangkan dri pada menjadi PNS.Salah satunya nge-blog.., hati senang, dapat uang, ilmupun bertambah terus, karena nulis butuh investasi membaca, benar kan!

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search