Post Ad Area

Post Home Style

Saturday, March 8, 2014

Menikmati Waktu Untuk Sendiri: 2 (Tamat)

Setelah Bang Umar pergi. Saya mulai mencoba melakukan apa yang dianjurkan Bang Umar. Pertama-tama tentu saja menyesap kopinya. Aroma kopi yang benar-benar harum membuat perasaan sedikit lebih nyaman. Pahit, tanpa gula. Lalu saya melihat keluar jendela.

Semula yang tampak hanyalah area perbelanjaan di Peunayong dengan barisan pembeli yang tampak sangat gembira. Saya memperhatikan lampu-lampu yang berkelap-kelip, beragam barang mewah di etalase, pembeli-pembeli yang sepertinya berasal dari kalangan berada, mobil mewah di tempat parkir.


Coba perhatikan yang bisa kamu lihat, jangan hanya yang besar, megah, dan menarik. Kata-kata Bang Umar mendadak melintas. Saya merasa Bang Umar agak memberi penekanan pada kata-kata PERHATIKAN.

Perhatikan, pikir saya. Bukan hanya melihat, namun perhatikan. Dan semua yang bisa anda lihat. Saya mulai mencoba benar-benar memperhatikan, semuanya. Namun itu nyaris mustahil memperhatikan, benar-benar melihat dan mengamati, semua hal yang melintas dan tampak di depan saya sekaligus. Saya merasa itu nyaris mendekati mustahil dan gila.

Tidak mungkin memperhatikan semuanya secara bersamaan. Semuanya bergarak, memiliki warna yang berbeda, kecapatan dan arah yang kadang berlawanan. Ada banyak hal yang dengan cepat membuat perhatian saya teralih dari satu hal ke hal lainnya.

Atau bisa jadi, Bang Umar sengaja meminta saya untuk memperhatikan semua hal secara bersamaan justru untuk menunjukkan bahwa saya tidak akan bisa melakukan hal itu. Saya harus fokus pada satu hal bila saya ingin memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Saya teringat Munawar teman saya, dan adik bang Umar pernah mengatakan, abangnya itu pernah ditawari menjadi trainer di perusahaan miliki seorang pembicara dan motivator kelas Asia. Tapi dia menolaknya.

Saya mulai mencoba mencari satu hal yang bisa diperhatikan dengan serius. Warna cangkir menarik perhatian saya selama sekian detik. saya baru menyadari cangkir itu berwarna sangat mencolok, kuning terang.

Dan ketika Saya memandang keluar jendela, mendadak pandangan saya terfokus pada seorang wanita yang mengenakan baju kuning. Saya mulai memperhatikan gerak gerik wanita itu. Semula wanita itu terlihat sebagaimana layaknya gambaran orang yang sangat sukses. Penampilan yang trendy, busana yang berkelas. Duduk di bangku besi berukir dengan beberapa orang teman disekitanya. Semua terlihat sukses dan mapan. Namun semakin diperhatikan lebih dalam, saya mulai menyadari wanita berbaju kuning itu dan setiap temannya memiliki ekspresi yang berbeda. Walau terlihat mapan, namun wajah si baju kuning ini tidak secerah teman-temannya. Berkali-kali ia mengecek handphonenya. Seolah ada sesuatu yang penting yang mengganggu fikirannya. Gerak tubuh dan tangannya juga gelisah.

Sebuah gerakan dibelakang wanita itu menarik perhatian saya. Seorang pria dengan penampilan yang jelas menunjukkan ia berada dikalangan berada, sedang berdiri dengan gelisah. Beberapa kantong belanja, salah sutunya berwarna kuning cerah. Rata-rata penuh dengan barang, dan berlabel nama beberapa butik terkenal, memenuhi lengannya. Lalu seorang wanita mendekat, dengan ceria,dan wajah si pria menjadi keruh ketika melihat 5 atau 6 kantung belanja, yang sesak dengan barang ditangan wanita itu.

“ Melihat sesuatu yang berbeda ? “ Suara bang Umar yang ceria dan ramah membuat saya terkejut. Entah sejak kapan bang Umar sudah duduk dihadapan saya.

“ Ya, begitulah.” Saya tersenyum, lalu menatap ke luar jendela “ Pada awalnya, saya hanya melihat betapa mewahnya toko di depan itu. Dan memang itu jauh lebih mudah. Dengan segala warna warni, poster yang besar, lampu.

“Lalu saya teringat anjuran anda, untuk mencoba memperhatikan, bukan hanya melihat, tapi memperhatikan semuanya. Dan saat saya mencoba melakukannya. Saya sadar anda menjebak saya. Mengamati semua hal secara bersamaan adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Ketika saya memperhatikan semua sekaligus, saya justru semakin tak mampu memperhatikan satu hal pun. Semua muncul secara sangat cepat, dan saya teralih dari satu hal ke lain dengan lebih cepat.”

“Dan kamu mulai mencoba menfokuskan pada satu hal saja, benar begitu?“ bang Umar tersenyum lebar ketika saya mengangguk. “Wah, belajar cepat rupanya.“

Saya tak mampu menahan senyum. Sebuah pujian ternyata begitu berharga, ketika diberikan pada saat yang tepat. Dulu mungkin saya tidak akan menganggap ucapan bang Umar itu sebagai hal berharga, kini saya sadar bahwa ada banyak hal yang saya anggap kecil ternyata sesuatu yang penting.

“Lalu kamu mulai memperhatikan satu hal, dan ketika melakukannya, kamu mulai menemukan berbagai hal kecil yang selama ini luput dari perhatian kamu, betul begitu ?“ Bang Umar mencondongkan badan dengan ekspresi yang mengingatkan saya pada pesulap ditelevisi, lalu dengan nada misterius melanjutkan “Katakan pada saya, mengapa kamu memperhatikan hal yang berwarna kuning, di luar sana ?“

Saya menatap Bang Umar dengan terkejut. Bagaimana mungkin dia tahu saya memperhatikan wanita yang mengenakan baju berwarna kuning itu.

Bang Umar tertawa geli melihat ekspresi bingung saya. “Tidak perlu merasa heran begitu. Baiklah, sebelum saya menjelaskan mengapa saya tahu, saya ingin meminta kamu melakukan sesuatu.”

Ketika melihat saya mengangguk setuju, bang Umar melanjutkan. “Coba kamu hitung ada berapa meja di ruangan ini, saya beri kamu waktu 5 detik.”

Saya dengan cepat menghitung, bahkan agak menjulurkan leher supaya memiliki wilayah pandangan yang lebih lebar.

“Nah, sudah 5 detik, sudah menghitung? Baiklah, saya yakin kamu punya ingatan yang cukup kuat. Kalau begitu sebutkan ada berapa orang yang duduk disekitar kita, pada meja yang kamu hitung tadi.”

Saya memandang bang Umar dengan bingung. Bukankah tadi bang Umar meminta menghitung jumlah meja, lalu mengapa pertanyaanya justru pada jumlah orang.

“Kamu melihat mereka, pada saat menghitung jumlah meja. Namun karena foku pada saat itu adalah jumlah meja, maka kamu tidak memperhatikan jumlah orangnya.

Begitulah cara fikiran kita bekerja. Kita hanya akan melihat hal yang ingin kita lihat. Dan walaupun hal lainnya terlihat jelas, ketika kamu fokus hanya pada hal tertentu maka selain hal itu kamu tidak akan menganggapnya ada. Kamu tahu mereka ada, tapi kamu tidak menganggap mereka ada.”

Bang Umar mengeser cangkir kopi saya, tepat ke depan saya.

“Saya tahu kamu memperhatikan hal berwarna kuning, karena saya sengaja mengajak untuk duduk di sini, di meja ini, dengan bangku berwarna kuning, cangkir kuning, bahkan kalau kamu perhatikan dinding di bagian ini pun berwarna kuning.

"Ketika kamu sadar bahwa tak mungkin mengamati semua hal secara bersamaan, tanpa kamu sadari kamu mulai mencari titik fokus. Kamu sebenarnya sudah melihat semua warna kuning ini, sehingga pada saat itu otak kamu dibanjiri dengan kata kunci ‘Kuning’.”

Saya mau tidak mau tertawa. Penjelasan Bang Umar begitu sederhana dan masuk akal. Saya melihat sekeliling, dan memang benar warna kuning mendominasi segala sesuatu di sekitar meja kami.

“Begitu juga saat kamu menilai diri kamu Bila dalam pikiran kamu memasukkan kata kunci yang erat dengan ‘Saya sudah gagal’ dengan cepat yang akan kamu dapat adalah kata-kata yang membenarkan bahwa kamu sudah gagal. Misalnya, saya pecundang, saya tidak berharga, saya kalah, saya tidak akan berhasil lagi.

"Ketika kamu memperkenalkan diri tadi, kamu mengatakan dengan nada penuh kekalahan, pengangguran. Dan kamu jelas sudah sangat mempercayainya. Sehingga tidak bisa melihat hal lain.”

Dalam perjalanan pulang saya merenungi percakapannya dengan bang Umar. Ada satu pelajaran berharga yang saya dapat. Manusia hanya akan melihat hal yang ingin dilihatnya.

Saya menyadari itu lah hal yang saya lakukan selama ini, memfokuskan pada betapa banyak masalah yang dimilikinya. Maka hanya masalah yang saya temukan. Padahal bisa jadi ada hal-hal lain yang baik yang terjadi disekeliling.

Begitu juga dengan mencari pekerjaan. Saya hanya mencari pekerjaan yang masih berada di zona nyaman saya. Yang masih selevel dengan status saya saat masih ‘sukses’ dulu. Padahal kalau memang ingin mencari pekerjaan, seharusnya fokusnya pada pekerjaan apa saja dulu, yang penting halal.

Berhenti sejenak, ternyata memang membuka pikiran. Dengan syarat harus jujur, pada diri sendiri. Dan tentu saja, berbaik sangka.

Sekarang saya menetap di Takengon. Pekerjaan apa saja bagi saya ispossible, menjadi tukang becak, buatkan desain buat teman (pasarnya tdk potensial di sini, tapi bolehlah selagi mencari sedikit uang untuk memulai kembali toko desain online), bekerja apa saja asal halal.

Meskipun recehan, tapi rejeki itu ada. Tidak banyak, susah, namun tetap bisa untuk mempertahankan janji untuk hidup dengan rejeki halal.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search