Post Ad Area

Post Home Style

Saturday, March 8, 2014

Menikmati Waktu Untuk Sendiri: 1

Ketika Saya berada dipuncak kesuksesan dulu dengan sebuah Café, restoran Ikan Bakar, desain studio, Training Centre, dan bisnis sayur dan buah-buahan segar, saya tak pernah merasakan kekurangan teman. Selalu ada banyak orang yang bersedia menemani ketika saya melaksanakan rutinitas ngopi, minum kopi, setiap harinya.

Namun bersamaan dengan hilangnya penghasilan yang bisa dibagikan, satu per satu teman yang biasa menemani saya pun menghilang.

Saya kesulitan mendapatkan bantuan untuk memulai kembali usaha. Tiba-tiba saja banyak teman yang awalnya membantu bisnis saya dulu, atau dengan semangat menawarkan untuk menjadi rekan usaha, merubah kesepakatan dengan menyebut bantuan itu sebagai hutang yang harus segera dilunasi. Dan diatas segalanya, Saya merasa sangat malu pada istri dan anak-anak.


Sejak tahun kemarin, saya bangun setiap pagi dengan perasaan yang tak nyaman. Menemukan rumah kosong, istri saya yang memang seorang pegawai negeri telah berangkat bekerja. Tidakbisa tidak, saya merasa sangat rendah ketika menyadari bahwa kini tulang punggung keluarga adalah istri saya. Ketiga anak kami, memang sangat gembira karena ayah ada dirumah. Tapi saya tak bisa menikmati kehidupan seperti sekarang. Pikiran saya selalu dipenuhi dengan bagaimana mencari pekerjaan, segera melunasi hutang, dan memulihkan status diri sebagai kepala keluarga.

Karenanya setiap pagi, saya mengenakan pakaian rapi dan mulai mencari pekerjaan. Meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengan anak-anak, sebelum berangkat dalam misi mencari pekerjaan, yang sayang nya semakin lama semakin terasa berat. Kehidupan seolah berkompromi dengan nasib buruk. Mencari pekerjaan berubah dari sebuah tujuan menjadi tempat dimana saya semakin lama semakin kehilangan kepercayaan diri. Penolakan demi penolakan adalah hal rutin setiap hari.

“ Maaf bang, usia anda diatas batas maksimal pegawai baru kami. “ Kata pemilik supermarket yang dulu saya 'bantu'.

“ Kemampuan anda memang baik, anda berpengalaman dan memiliki kualitas yang sangat baik. Kami merasa kami menghina kemampuan anda bila menerima anda untuk posisi yang sangat rendah di lembaga kami “ Jawab Manajer HRD dari NGO’s[1] yang sebelumnya adalah teman dekat saya. Penolakan yang sangat halus, namun membuat saya semakin merasa ditinggalkan oleh teman-teman.

“ Kami tahu kemampuan anda sebagai seorang trainer memang luar biasa. Dan saat ketika anda beberapa kali menjadi pembicara di kampus kami, adalah salah satu saat yang paling mencerahkan. Seandainya saja saya bisa membantu anda, namun anda tahu, bahwa institusi kami hanya diperkenankan menerima tenaga pengajar dengan latar belakang akademis sesuai bidang ilmunya. Saya akan mencoba mencari jalannya, untuk sementara saya harap anda bersabar dulu.” Dekan Fakultas di Universitas tempat saya sering diminta menjadi pembicara, menyalami dengan senyum ramah penuh janji, sambil menyelipkan sehelai amplop disaku kemeja saya.

Berbulan-bulan setelah itu, Saya masih tidak punya pekerjaan tetap. Istri saya memang tidak mengeluh, bahkan terus menyemangati saya. Liza membelikan beberapa helai kemeja dan dasi, membantu merancang lembaran biodata yang mengesankan, menemani dan mengantarkan saya pada beberapa wawancara kerja. Namun semua itu hanya membuat saya merasa lebih rendah diri.

Saya berhenti membaca dan membeli buku motivasi. Jujur saja, saya mulai kehilangan rasa percaya pada semua motivasi itu. Kehidupannya tidak menjadi lebih baik. Saya mulai menjauh dari pergaulan.

Mencegah kemungkinan dari bertambahnya penghinaan dari teman-teman, saya memilih menghindari mereka. Saya masih melakukan rutinitas minum kopi. Namun kini saya mengunjungi kedai kopi yang lain dari yang biasa saya kunjungi bersama teman-teman dulu.

Bahkan pada satu titik, saya sengaja berpakaian rapi setiap pagi, bersikap seolah saya masih mengikuti saran untuk mencari pekerjaan. Berangkat pagi dan pulang sore harinya. Namun sebenarnya saya menghabiskan waktu dengan duduk melamun di kedai kopi atau tidur di meja paling belakang di Perpustakaan Umum. Bukannya tidak ada tawaran pekerjaaan, namun selalu ada masalah dengan kewajiban 'sogok'. Atau tawaran membuat kegiatan dengan pihak Pemerintah, tapi lagi-lagi ada setoran wajib.

Panik dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat itu saya teringat dengan ‘berhenti sejenak’. Tidak ada apapun lagi yang bisa saya lakukan. Pada dasarnya memang saya tidak punya pilihan lain saat itu selain berhenti, pikiran pun sudah sangat jenuh, hingga tidak satu idepun muncul. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Kebetulan ada seorang teman yang mengajak saya ke satu kedai kopi, saya menerimanya.

Dua hari kemudian, saya sedang duduk di satu kedai kopi milik abang dari teman saya. Namanya Umar. Dosen disebuah lembaga pendidikan swasta, yang mencintai kopi dan mewujudkannya dalam bentuk kedai kopi. Teman saya yang mengajak saya, sedang sibuk dengan pertemuan bisnis disitu.

Bang Umar meletakkan secangkir kopi di hadapan saya.

“Disangrai tadi pagi, dari biji kopi terbaik, diseduh dengan suhu yang tepat.“ Bang Umar mengatakan itu semua dengan senyum cerah, yang entah mengapa membuat saya justru tak suka. Saya merasa Bang Umar seperti mentertawakan saya.

Mungkin pemikiran itu tergambar jelas diwajah saya, karena Bang Umar mengangkat alisnya, lalu dengan senyum ramah yang tak hilang ia berkata “ Berhenti berfikir yang tidak-tidak, dan nikmati kopimu. Abang akan memberi kamu waktu untuk sendiri. Dan sementara kamu sedang menikmati waktu sendiri coba perhatikan semua yang bisa kamu lihat, jangan hanya yang besar, megah dan menarik. Dan kalau bisa, berhentilah sejenak, dari memikirkan masalah kamu. Sebentar saja.”

Saya menunduk, sedikit merasa bersalah. Lalu memutuskan mengangguk. Hal yang disarankan Bang Umar bukan hal yang sulit untuk dilakukan, dan setidaknya itu akan membuat Bang Umar menjauh.

(Bersambung : kesini )

[1] Non Government Organization / Lembaga Swadaya Masyarakat, LSM

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search