Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, April 23, 2015

Protes Mahar Tanda Tak Mampu

"Mahar gadis aceh memang kelewatan." Begitu katanya dengan kesal, membubuhi emoticon marah sebagai penegas kemarahannya. Lalu mulailah berbagai analisis disampaikan tentang betapa indahnya gaya hidup ala eropa, tempatnya menimba ilmu untuk gelar S2-nya. Atau betapa sangat efisiennya gaya pernikahan di amerika yang tidak ribet dengan pesta adat ini itu, dan diatas semuanya, mahar yg tidak merepotkan.

Diskusi tak ilmiah tadi malam dengan seorang teman kembali berujung pada cela dan protes. Awal masalahnya sederhana, ia menilai mahar yang ditetapkan keluarga gadis pujaan hatinya terlalu mahal.

Thursday, March 26, 2015

Takengon, titik persimpangan takdir.

de·cep·tion
dəˈsepSH(ə)n/
noun
noun: deception; plural noun: deceptions
  1. the action of deceiving someone.
    "obtaining property by deception"
    • a thing that deceives.
      "a range of elaborate deceptions"

      synonyms:deceit, deceitfulness, duplicity, double-dealing, fraud, cheating,trickery, chicanery, deviousness, slyness, 
      wiliness, guile, bluff, lying, pretense, treachery; 
      informalcrookedness, monkey business,monkeyshines

***

Sejujurnya, bagi saya pindah ke Takengon adalah keputusan dengan makna ganda. Disatu sisi, itu adalah keputusan paling tepat, karena keluarga memang semestinya bersama, bukan terpisah sana sini dengan berbagai alasan (kecuali memang dalam kondisi yang sangat terpaksa).

Tapi di sisi lain, ini adalah keputusan pengakuan. Ya, saya mengakui sudah kalah, sudah gagal, saya mundur.

Bagi saya, selama bertahun-tahun, Takengon hanyalah kota kecil dengan alam yang indah, tapi sangat tidak terberdayakan. Seharusnya bisa jadi destinasi wisata, tapi tempat wisatanya banyak tidak dikelola dengan baik. Kotanya tidak punya tempat hiburan menarik, dan selepas maghrib, mulai sepi.

Tuesday, March 24, 2015

Kabut Pagi

Kota takengon berada di lembah yang dikelilingi barisan melingkar pegunungan dataran tinggi gayo. Selalu menjadi pemandangan yang mengesankan ketika mata yang selama puluhan tahun terbiasa dengan permukaan datar pesisir pantai, memandangi naik turunnya puncak-puncak gunung yang mengelilingi kota.

Pagi Berkabut di pusat kota Takengon
Selain pohon yang hijau memenuhi gunung, ada satu hal lagi yang selalu saya tunggu-tunggu. Kabut pagi.

Mungkin itu pemandangan biasa, bahkan menyebalkan bagi orang yang tinggal disini, terbiasa dengan kabut yang bergulung, terkadang begitu tebalnya sampai sulit mengendarai kendaraan.

Tapi bagi saya, kabut selalu menjadi sesuatu yang memberi sensasi unik.

Friday, March 20, 2015

Selalu Ada Laut di Ujung Sana


Sejak setahun kemarin, saya memutuskan pindah ke dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Enam tahun menjadi suami dan ayah yang egois, sudah melebihi batas yang saya bisa cari pembenarannya. Istri dan anak-anak menetap di Takengon, dan saya memaksa mengejar mimpi kesuksesan di Banda Aceh. Terselang lima kabupaten dan delapan jam perjalanan.

Selama enam tahun, tumbuh kembangnya kedua gadis kecil saya, terasa seperti menonton pertunjukan sulap. Sebentar mereka masih bayi kecil, berikutnya mereka sudah bisa menegakkan kepala dan berguling, lalu sudah merangkak, dan tiba-tiba mereka sudah berlarian kesana kemari. 

Monday, March 2, 2015

Dulu Kita Bangga

Saya lahir di akhir tahun tujuh puluhan. Tepat dipertengahan tahun 1979. Periode yang istimewa. Karena kami generasi peralihan. Generasi yang sempat merasakan perubahan besar dalam kehidupan. Kami generasi evolusi peradaban. Generasi evolusi gaya hidup. Generasi analog terakhir, dan generasi digital pertama.

Saya sempat merasakan ketika permainan tradisional atau permainan lokal semacam patok lele[1], galah panjang, batalion tin, main godok, dan banyak lagi permainan lainnya, perlahan mulai tergusur dengan permainan generasi baru. Awalnya dari Atari, spica, nintendo, dingdong di pasar, gameboy, hingga ke play station.

Perubahan adalah dunia yang kami generasi awal delapan puluhan rasakan. Hal rutin dalam hidup kami. Ketika berbagai benda baru dan teknologi canggih muncul dan mempengaruhi kehidupan. Hal yang semula keren berubah menjadi ketinggalan zaman. Siklus tanpa henti. Dunia kami adalah dunia yang melompat-lompat.

Dunia Termodifikasi

Source : freewallpaperwide.com 
Saya teringat. Dalam dunia ‘training motivasi’ berlaku aturan ‘dunia yang dikondisikan’. Dunia kecil yang anda masuki, sejak anda mulai melangkahkan kaki ke meja pendaftaran sebelum memasuki ruangan tempat training motivasi dilaksanakan.

Dimulai dengan panitia yang dilatih untuk selalu cerah ceria harum mewangi sepanjang masa. Yang menyambut anda dengan sapaan ramah[1], poster dan banner di dinding dengan kata-kata motivasi yang menguatkan[2]. Hingga mc yang menyambut hadirin dan mengarahkan suasana dengan semangat dan (lagi-lagi) ucapan kalimat terpilih. Jangan lupakan, musik yang menggelegar dan memberi semangat.

Gagal Fokus

source : www.artandesignews.com
Masa-masa sekarang ini, kalimat pendek ‘Gagal Fokus’ adalah salah satu kalimat yang masuk kelompok, sangat populer. One of the most famous word[1] dalam percakapan di dunia maya. Entah itu sebagai hastag atau sekadar bumbu dalam obrolan. Kalimat pendek ini bahkan lebih fenomenal dibanding ‘Cetar Membahana’ atau ‘demi Tuhan’ yang sempat mencetak nama besar dalam ranah percakapan. Yang terbaru adalah 'Disitu kadang saya merasa sedih.' yang agak kepanjangan, sehingga sering terlalu memaksa dijadikan bagian dari percakapan.

Mungkin[2], karena ‘Cetar Membahana’ terlalu lekat dengan seorang artis yang menurut saya sebenarnya cantik, kalau mau mengurangi kuantitas tata riasnya dan fokus pada kualitas. Sedangkan kalimat ‘demi Tuhan’, agak kurang nyaman digunakan. Karena sebagai orang timur, yang berbudaya, beragama, terdidik dan baik akhlaknya, kita semua paham, tidak baik bawa-bawa nama Tuhan sembarangan.

Start typing and press Enter to search