Post Ad Area

Post Home Style

Saturday, November 9, 2013

Mie Kocok dan Kopi ala Alfonso Bialetti di Kenari.

Karena kondisi kaki sudah mulai membaik, walaupun masih sakit bila berdiri terlalu lama, akhirnya kemarin saya bersikeras menemani istri. Perjalanan kemarin lumayan jauh, walaupun belum sejauh perjalanan ke Arul Gele, tempat saya pernah bertemu dengan seorang laki-laki tua bernama pak Nasip. Laki-laki yang merasakan kelahiran negeri ini hingga saat ini. Laki-laki yang punya cerita menarik, serta pernah bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, yang sering dilupakan, Syafruddin Prawiranegara.

Tapi itu lain cerita, nanti di postingan lainnya akan saya ceritakan.

Saya malah ingin bercerita tentang satu tempat makan. Kenari namanya. Warung kayu yang terletak di tengah kota Takengon. Tak jauh dari pasar inpres. Yang saya tahu soal warung ini, hanya bangunan itu milik keluarga Profesor Dr. Alyasak Abu Bakar, seorang akademisi dan ulama, yang juga abang dari dosen pembimbing saat saya kuliah dulu, Dr. Ir. Yusya Abubakar, M.Sc. Pembantu Dekan Bidang Kerjasama/PD-IV di Fakultas Pertanian Unsyiah.

Thursday, November 7, 2013

Lihat dengan cara berbeda

Hal yang sama namun dialami dengan cara berbeda, rasanya berbeda. Banyak yang sudah mengatakan begitu. Terlalu banyak dan dengan cara yang sangat beragam. Namun tetap saja, mengalami sendiri dan mendengarkan kata-kata orang lain adalah dua hal yang sangat berbeda.

Kecelakaan yang sangat tidak keren, tangga bergeser ketika turun dari pohon delima, Guava (Psidium Guajava). Menghadiahkan luka sayat yang cukup dalam tepat di telapak kaki kiri, melintang hampir setengah telapak dan bersyukur tidak sampai mencederai otot kaki. Dan penanganan awal yang kurang tepat memberikan bonus infeksi yang parah. Kaki yang memang tidak layak menjadi ‘model’ iklan untuk sandal manapun, mendadak cukup potensial bagi iklan layanan masyarakat Dinas Kesehatan, atau mungkin iklan tanaman terong, karena warnanya yang ungu variatif.

Praktis, karena tak bisa berjalan, bahkan berdiri pun sakitnya luar biasa, segalanya harus dilakukan sambil duduk. Dunia tiba-tiba berbeda. Hal-hal sederhana seperti mengambil air ke dapur, pakai sandal, masak mie instant, jongkok, ngambil buku di lemari, ngambil pulpen yang tertinggal di kamar, mendadak jadi pekerjaan yang butuh usaha ekstra.

Mendadak alasan kenapa suster ngesot jadi suka emosi mengganggu orang, jadi sangat masuk akal. Hanya untuk mengambil baju dari lemari plastik yang tidak sampai satu meter setengah tingginya, butuh kerja keras ekstra.

Menghabiskan hari hanya dengan duduk, tidak bisa bekerja mencari nafkah, padahal rejeki masih recehan yang mesti dikejar harian, menambah angka baru pada frustasi meter. Setiap pagi hanya bisa merasa semakin tidak berguna sebagai suami, ketika istri tercinta berangkat kerja menempuh jarak belasan kilometer pulang pergi.

Sadar sepenuhnya sebagai orang yang tetap bekerja, bukan bekerja tetap. Pendapatan itu bukan diperoleh dengan jumlah sama secara rutin. Setidaknya bisa menjadi suami yang bisa mengantarkan istri ke tempat kerja, menjemput anak dari sekolah, belanja. Atau ketika istri harus melaksanakan tugas kantor yang secara rutin mengantarkan surat panggilan sidang, ke berbagai tempat dikota maupun dipelosok, dengan medan yang berupa gunung-gunung, setidaknya bisalah menemaninya. Tapi ketika duduk dengan kaki terjulur saja sudah sakit, jelas tak bisa dilakukan.

Teringat pada naskah novel milik sendiri, yang sedang menunggu jawaban dari penerbit.

... Kalau boleh kukatakan, menurutku ada dua jenis takdir di dunia ini. Satu, takdir manusia yang masih bisa dirubah dengan usaha keras atau melakukan kebodohan terbesar dalam hidup. Ini macam takdir yang sifatnya sesuai dengan perjuangan yang kau lakukan. Model takdir yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada cerita orang kantoran, yang selama belasan tahun meratap dalam shalat, meminta hidup lebih baik, namun setiap pagi berangkat kerja dengan tanpa babibu menerima saja bahwa dirinya yang sarjana hanya kebagian jabatan sebagai pesuruh. Tugasnya tak jauh dari beli kopi, fotokopi, dan kopi paste surat kantor untuk kepala bagian. Lalu suatu hari ditontonnya televisi swasta, ada seorang laki-laki berparas oriental, dengan kepala agak botak, berkacamata, sedang berbicara. Kalimatnya sederhana, kena menancap dan menikam dalam hati si pegawai. Tergerak jiwanya, tersentuh emosinya, terbakar semangat dia. Esoknya datang ke kantor, dicampakkannya sehelai amplop coklat, berisi surat pengunduran diri. Dengan bekal tabungan dimulainya usaha gorengan, dibujuknya kawan yang piawai dalam hal rancang merancang gambar, dan hasilnya spanduk usaha nan menarik. Setahun kemudian, dia lebih kaya dari kepala bagiannya.
Takdir kedua, lain pula aturannya. Sudah ditetapkan Tuhan sejak langit pertama kali dilukiskan. Sudah digariskan sejak fajar pertama terbit melintasi langit bumi. Mutlak hukumnya, tak bisa diganggu gugat, dan tiada peluang tawar menawar apalagi surat menyurat. Biasanya orang akan mengatakan ini takdir yang merekat erat dengan kelahiran dan kematian. Aku termasuk yang menambahkan dalam kelompok takdir ini, ada hal-hal lain yang berkaitan dengan arah hidup manusia. Seperti safety button bagi hamba Tuhan. Titik tengah persimpangan, bukan persimpangannya sendiri. Titik yang mengarahkan manusia pada takdir model pertama, tempat dimana hasil keputusan akan menentukan arah hidup dimasa depan ...

La In Syakartum La Aziidannakum, Jika kamu bersyukur pada nikmat-Ku, maka akan Aku tambah nikmat itu (Q.S. Ibrahim, 7)
Janji Allah, kepada kita hamba-hamba-Nya. Sebenarnya sakit ini juga bisa dipandang sebagai ‘nikmat’. Kesempatan untuk berhenti sejenak, merenungi kehidupan yang sedang berjalan. Safety button yang disiapkan karena sedang akan memulai kehidupan ditempat yang baru. Memulai kembali mencari nafkah, bukan dari nol, bahkan dari minus.

Dan memang, karena tidak bisa bangun, akhirnya hanya bisa membaca, menulis, dan merenungi banyak hal. Ternyata banyak, sangat banyak hal yang ketika ditinjau ulang, masih sangat dibutuhkan perbaikan. Rencana usaha, yang karena modalnya sangat minim ternyata masih punya kesalahan perhitungan, sehingga keuntungan yang maksimal hanya pada kisaran belasan ribu rupiah per hari bisa kehilangan setengahnya bila dilanjutkan tanpa perubahan. Allah sayang kami.

Sejak lama bercita-cita menjadi penulis novel. Meskipun sudah mengirimkan delapan naskah ke penerbit, namun masih belum ada kabar, saya tetap melanjutkan menulis naskah lain. Belajar dari kisah Dan Brown, yang setelah Da Vinci Codenya diterbitkan, tulisan sebelumnya juga mendadak bernilai. Atau Tere Liye, yang namanya mencuat setelah novel Hafalan Shalat Delisa meraih sukses, atau J.K Rowling dengan Harry Potternya, semua berhasil karena fokus meraih impian mereka. Terus menulis, saya katakan pada diri sendiri, lama-lama jatah penolakan pasti habis, dan satu naskah yang tepat akan hadir pada saat yang tepat.

Sakit ini menjadi berkah juga. Bisa menambah lebih dari 100 halaman untuk dua naskah novel yang sedang ditulis, plus menemukan kesalahan data fatal soal ‘kondisi’ kota Prague/Praha. Karena memasukkan satu bangunan yang belum dibangun pada tahun 1972. Allah sayang kami.

Membaca pun jadi lebih meresap. Selama sakit, alhamdulillah jadi waktu belajar juga. Hanum Salsabila Rais, mengajak belajar kembali tentang kemegahan Islam, menjelajahi eropa bersama putri Amien Rais ini dalam ’99 Cahaya Di Langit Eropa’. Belajar banyak ilmu agama, kekayaan pikiran dan penerapan Islam dalam hidup dari Buya Hamka, bersama anaknya, pak Irfan Hamka di buku ‘Ayah’. Mengagumi pelajaran penting dari Frederick Forsyth, soal menampilkan karakter dan membangun deskripsi dengan lembut dalam buku ‘The Day of The Jackal’, bukunya jauh lebih menarik dari filmnya. Walaupun tak menampik, bahwa adaptasi versi filmnya cukup keren, terutama menyaksikan Richard Gere adu acting dengan Bruce Willis. Lagi-lagi kesempatan berharga yang dihadiahkan Allah karena sakit. Allah sayang kami.

Begitulah, hal yang sama ternyata bisa memiliki rasa berbeda.

Walaupun Nick Vujicik, motivator yang tidak punya tangan dan kaki itu bukan seorang muslim, namun saya suka kata-katanya. Just because I don’t undesrtand God’s plans, does not mean he is not with me. Ketika saya tidak bisa memahami rencana Tuhan, bukan berarti Tuhan tidak bersama saya.



Tuhan selalu bersama hambaNya. Tak soal kita mau perduli atau tidak. Allah memberikan yang baik bagi hambaNya. Kadang dalam bentuk yang mungkin kita tidak suka. Dan pada akhirnya, menjadikannya bernilai dan berguna untuk kita adalah pada keputusan kecil kita, menerima dan mensyukurinya, atau menolak membuka hati lalu ujung-ujungnya hanya bisa melihat buruknya saja dan hidup pun jadi terasa lebih menyebalkan.

Wednesday, July 24, 2013

Meriam Karbit


Dulu ada satu kebiasaan khas yang selalu saya lakukan saat ramadhan. Bersama sekumpulan anak remaja tanggung. Saat itu saya masih seusia mereka juga. Belum 17 tahun. Kebiasaan yang sudah menjadi tradisi sejak kami pindah menjadi penghuni wilayah gampong peurada.

Waktu itu, rumah-rumah masih jarang. Pohon jambu di depan rumah masih tegak berdiri. Bila memanjat sampai ke puncaknya, bisa memandang jauh hingga melihat laut diujung pandangan. Masih banyak tanah kosong. Rumah-rumah pun hanya berpagar kawat atau tanaman.

Saat ibu-ibu mulai mengolah daging meugang, kami para anak-anak mulai mengolah menu utama yang akan kami sajikan selama ramadhan. Sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelum ramadhan, dengan mengandalkan semangat gotong royong dan bayangan kemeriahan yang akan kami dapatkan, bergantian membentuk kelompok, kami pun menggotong pipa beton yang biasanya digunakan untuk membuat gorong-gorong atau parit.

Tujuannya adalah sepetak luas tanah berbukit dan berawa-rawa, yang dipenuhi Typha Latifolia, tanaman rawa yang biasa kami sebut dengan Batang Obor atau cukup dengan Obor. Mengarungi rawa dengan air yang kadang sepinggang, berhati-hati menghindari binatang penghuni rawa, hingga akhirnya sampai ke tujuan.
Bukit di tengah-tengah rawa. Bukit kecil setinggi hanya 3 meter.

Pekerjaan belum selesai, kami menggali bagian puncak bukit itu, tidak dalam, hanya sekitar setengah meter. Dibuat sedemian rupa sehingga miring dan dalam disatu sisi saja. Gunanya untuk landasan meletakkan pipa beton tadi. Setelah pipa diletakkan, bentuknya mengingatkan akan meriam rakitan tempo doeloe. 
Dan memang, kami sedang membuat meriam, namanya Meriam Karbit.

Seperti meriam masa lalu, umpan 'bahan peledak'nya dimasukkan dari depan. Karbit sebenarnya termasuk bahan berbahaya, digunakan untuk pembuatan Gas Acetylene (C2H2), yaitu bahan untuk memotong dan mengelas bahan-bahan besi dan baja pada industri perkapalan, pertambangan, karoseri mobil serta industri kecil. Tapi mungkin tidak dianggap terlalu berbahaya. Karena kami dengan mudah bisa membelinya di toko bahan bangunan.

Karbit dimasukkan pada kaleng berisi air, yang sudah diberi tangkai kayu. Penampung karbit itu lalu dimasukkan lagi kedalam meriam, yang kemudian bagian depannya disumbat dengan kain, untuk memampatkan gas yang dihasilkan dalam meriam. Sebuah lubang kecil yang dibuat dibagian belakang meriam juga disumbat kain, untuk mencegah gas yang terbentuk merembet keluar.

Setelah menunggu beberapa detik, agar tekanan gas dalam meriam semakin kuat, yang bertugas menyalakan meriam mengambil obor dengan api menyala. Sambil menghitung agar serentak, kain penyumpal di depan dan belakang ditarik, api didekatkan ke lubang kecil di belakang. BOOOOMMM.

Ledakan membahana keluar, seperti meriam benaran. 

Saat malam ramadhan selepas tarawih, suara ledakan meriam itu sambung menyambung. Bersahut-sahutan antar kampung.  Tak terlalu lama, karena kemudian harus tadarus di meunasah atau mesjid. Kadang juga dinyalakan disore hari. Mengisi waktu menunggu berbuka.

Saat konflik bersenjata di Aceh mulai meningkat, kebiasaan menyalakan meriam karbit ini menghilang. Dentuman ledakan meriam karbit, tak lagi terdengar. Karena suara ledakan saat itu biasanya berarti granat atau tembakan ketika kontak senjata terjadi. Meskipun sekarang perjanjian damai sudah berbilang tahun ditandatangani. Sebahagian mereka yang berperang kini menjadi anggota dewan. Namun dentuman meriam karbit sudah tak terdengar lagi. Entahlah di kampung-kampung, mungkin masih. Namun di kota sudah tak lagi ada.

Memang, meriam karbit bukan permainan tanpa bahaya, malah beresiko tinggi. Api ledakan yang meyembur bisa-bisa menghilangkan rambut atau alis, bahkan bukan tak mungkin menimbulkan luka bakar. Tapi itu permainan kami dulu. Resikonya tidak terlalu dipikirkan saat itu, kegembiraan dan kepuasan yang lebih diharapkan.

Sekarang, suara ledakan meriam karbit sudah diganti petasan mahal. Dunia modern melibas sedikit demi sedikit masa lalu, mengikis hingga terlupakan dan hilang. Anak-anak remaja lebih jago main playstation atau x-box, atau futsal. Tak lagi ada dalam perbendaharan permainan mereka, nama-nama eksotis seperti Patok Lele, Engkrang, Galah Panjang, Alib Batalion Tin, main Godok.

Bukit kecil kami, sudah menjadi halaman asrama haji kota Banda Aceh. Lapangan luas sudah jadi perumahan. Pohon jambu di halaman rumah pun sudah lama mati terkena air tsunami tahun 2004.
Dunia itu, dunia masa lalu. Tapi jujur saja, walaupun sebagian ada yang mengatakan kampungan, bagi saya itu retro. Dalam definisi saya sendiri tentang retro, yaitu jadul tapi keren.

Friday, July 19, 2013

Tirom

Berbicara tentang kuliner Aceh, maka Mie Aceh lah yang paling terkenal. Hingga ke beragam kota besar, makanan 'biasa' ini menjelajah dan mengukuhkan keberadaan dirinya. Tak jarang pula, datang tamu asing atau tamu dari kota lain di luar aceh, yang dengan santai bertanya ketika sedang berada di Aceh. Dimana ada dijual Mie Aceh ya? Padahal semua mie di Aceh sudah pasti Mie Aceh.

Tapi Aceh punya banyak ragam kuliner. Sebut saja seperti Asoekaya, Gule Pliek, Eungkot Paya, Keukarah, Meusekat, Bolu Ikan (lupa nama lokalnya), pisang sale, adee (nah ini lagi populer), dan banyak lagi. Salah satu yang selalu punya nilai istimewa buat saya adalah, Tumeh Tirom atau Tumis Tiram.

Sumber gambar : www.bandaacehtourism.com

Kebetulan tadi pagi saya jalan-jalan ke wilayah Alue Naga. Salah satu tempat dimana banyak orang mencari dan menjual tirom. Tirom mungkin bisa dikategorikan sebagai seafood, tapi kalau mau lebih maksa keakuratannya, sebenarnya lebih tepat dianggap 'Muarafood', hehehe. Karena kerang tirom ini hidupnya menempel di bebatuan yang berada di wilayah muara sungai.

Umumnya para pencari tirom adalah kaum ibu. Mendapatnya tidak terlalu sulit walaupun tidak juga bisa dikatakan mudah.
Berendam dalam air hingga sampai ke dagu, dengan sabar mencungkil lepas kerang yang menempel di batu, satu demi satu. Lalu para pencari tirom ini masih harus 'membuka' cangkang kerang untuk mengeluarkan isinya.

Dulu saya pernah mencoba membuka kerang tirom untuk mengambil isinya. Terkesan mudah ketika dilakukan oleh mereka yang sudah biasa. Menggunakan pisau dengan bentuk melengkung seperti huruf L terbalik, para ibu itu dengan cekatan membuka dan mengeluarkan tirom dari cangkangnya. Hanya butuh sekitar 10 detik.
Tapi lain cerita ketika giliran saya, setelah berkutat dengan si kerang, mendapat beberapa petunjuk kurang praktis, ditemani tawa geli ibu-ibu pencari tirom, plus mendapat bonus luka sayat dari kulit kerang yang tajam minta ampun, saya berhasil mengeluarkan 'sebiji' tirom. Belakangan saya baru sadar, semua ibu-ibu itu pakai sarung tangan.
Saya pura-pura tidak melihat ketika si ibu dengan tidak kentara memisahkan tirom yang saya keluarkan, mungkin karena kena darah, lalu membuangnya ke sungai.

Hasil yang diperoleh dari sekarung besar kerang (masih dengan cangkang) mungkin hanya sekitar satu baskom kecil. Harga jualnya kalau kita beli langsung di tempat pencari tirom, umumnya lebih murah, dan lebih menguntungkan. Menggunakan takaran satu kaleng susu kental manis, tirom dijual dengan harga 10 ribu rupiah per kaleng. Bila sudah ditangan penjual eceran, umumnya tirom dijual sudah dalam bungkus plastik, paling-paling isinya hanya 2/3 kaleng, dengan harga 15 ribu, kalau mau cerewet bisalah dapat 2 bungkus seharga 25 ribu.

Selain tirom, ibu-ibu ini juga menjual ikan asin, kepiting asin (yang ini saya ga pernah tau), dan gurita asin.


Dalam perjalanan pulang, saya melihat ada satu monumen di pinggir jalan, pada plakatnya tertulis "LOKASI PENINGGALAN BENTENG KUTA KAPHE ". Namun tak ada satu benteng pun disekitar situ. Hanya ada kanal pengendali banjir dan aliran utama sungai. Mungkin telah rusak karena terhantam tsunami, atau bisa jadi rusak karena sebab lainnya. Mungkin lain kali kita cari tahu ceritanya.

Wednesday, July 10, 2013

Tarawih Pertama Ramadhan Ini, Kenangan di Kelantan, dan Backing Vokal Yang Tak Kompak


"Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini. “Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,” “Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lantas buat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban. -- Gito Rolies, dalam sebuah artikel di Dakwatuna


Malam tadi tarawih pertama di ramadhan ini. Tak seperti tahun kemarin, hujan turun, seolah ingin mendinginkan hati setiap hamba Illahi, agar menjalanan ramadhan ini dengan keteduhan. Peusijuk*, ujar seorang teman di status FB.

Adat lazim di kampung kelahiran istri, pergi ke mesjid untuk shalat dengan memakai baju kemeja atau koko, dan pasti mengenakan sarung. Tak masalah memang bila mengenakan celana panjang, biasanya juga bila ke mesjid saya bercelana panjang. Tapi rasanya beda kali ini. Ada keinginan untuk tak tampil beda.

Menyambut ramadhan tahun ini, memang dari sejak sya'ban sudah ada rasa yang lain. Semacam impian dan harapan agar ramadhan kali ini lebih berasa. Sudah dua tahun ramadhan seperti kehilangan getarnya. Hanya berjalan melakukan ibadah, melakukan rutinitas seolah hanya menggugurkan kewajiban saja. Walaupun tak diungkapkan, ada perasaan kurang dan kosong.
Ramadhan ini saya ingin lebih menikmatinya. Saya ingin ada perubahan, lebih terasa keimanan dan peningkatan kualitas diri sebagai seorang muslim. Terlebih ketika beberapa minggu lalu membaca kisah hidup  Gito Rolies, rocker yang menutup usia dengan senyum tenang setelah menjalani hari-hari indah sebagai seorang aktivis dakwah. Kalimat perseteruan hati ustadz Gito, membekas dalam hati. Saya menjalani kehidupan sebagai orang yg juga bergiat dalam dakwah, walaupun belum pantas dipanggil ustadz, mencoba hidup jujur, anti korupsi, walaupun hidup jadi pas-pasan dan sering menunduk ketika dikejar hutang usaha yang bangkrut. Saya ingin bahagia juga dalam Islam yang indah ini.

Teringat pada salah satu konsep dalam proses motivasi yang pernah saya pelajari, perubahan itu dimulai dengan memberi rasa yang berbeda. Walau tak sadar banyak wanita yang patah hati menerapkan konsep ini, potong rambut misalnya, atau ganti gaya busana. Saya memilih mencoba berkain sarung, saat tarawih.

Mesjid Al-Sultan Ismail Petra, Kota Bharu, Kelantan, Malaysia
Mengenakan baju koko yang dipakai 5 tahun silam saat menikah, bersarung, walaupun masih mengenakan celana panjang dibaliknya. Dan suara hujan mendadak keras, mengabarkan semakin derasnya. Mendadak saya teringat Kelantan. Tepatnya daerah Kubang Kerian, Kota Bharu, ibu kota Kelantan, Malaysia.
Sudah 13 tahun silam. Berbaju melayu, dengan celana 'pancung' sebetis, memakai kain sarung, yang dilipat di tengahnya, lalu dikaitkan ke ikatan sarung di pinggang. Sekilas seperti versi melayu dari kilt, rok tradisional scotlandia. Berlari menjinjit melintasi kebun rambutan Cikgu Din, Makcik Maryah, memintas jalan menuju  Masjid Al-Sultan Ismail Petra. Juga kebiasaan mencari ayam percik untuk berbuka puasa.

Malam tadi saya seperti mengulang kembali, berlari menuju mesjid, namun kali ini ditambahi dengan bertudung mantel hujan.

Tarawih pertama ramadhan ini lebih berasa. Penampilan yang memang sengaja dikhususkan untuk pergi shalat. Senyum senang (dan sedikit geli) dari istri tercinta, plus tawa anak-anak kami yang tak biasa melihat ayahnya berkain sarung.
Tapi sedikit terganggu kenyamanan saat shalat adalah karena perilaku seorang 'backing vokal'. Seperti lazimnya shalat tarawih di Aceh, tarawih dikerjakan dengan dua rakaat sekali salam. Lalu dilanjutkan lagi dengan repetisi yang sama. Diantaranya, dilantunkan shalawat nabi dan do'a. Dipimpin oleh imam atau oleh tengku (ustadz) yang diberi amanah untuk tugas itu. Jama'ah mengaminkan.
Suasana kusyuk jadi terganggu, karena seorang jama'ah yang mengucapkan Aamiin, selalu kecepatan beberapa detik.

Ah, ibadah memang mesti dengan hati, dengan kesabaran, namun juga karena kita berjama'ah, menyelaraskan dengan yang lainnya juga sama penting.

Hanya tinggal 29 hari lagi, jangan sia-siakan ramadhan ini.

Banda Aceh, 2 Ramadhan 1434 H


* Budaya tradisional Aceh, beberapa teman dari luar Aceh menyebutnya 'tepung tawar'. Budaya ini bagian dari ritual yang masih dipengaruhi oleh konsep budaya Hindu, agama yang berkembang pada zaman sebelum Islammasuk ke Aceh. Umumnya memiliki tujuan untuk simbolisasi, mendamaikan, mendinginkan hati, memberikan harapan kenyamanan.

Tuesday, July 9, 2013

Meugang, seporsi daging sapi perayaan, & realita puasa.

Sejak kemarin, kemarin dan kemarinnya. Kata 'Meugang' menjadi pembicaraan. Sama seperti yang lainnya, saya juga mulai istiqamah mencari rezeki tambahan. Maklum, meski belum memiliki rumah serupa Anang-Ashanti, ingin juga sebagai suami dan ayah, terlebih karena awal ramadhan ini kami sekeluarga bisa berkumpul, plus sebagai anak dan menantu, untuk membawa pulang sekilo dua kilo daging sapi. Untuk dimasak menjadi sop, rendang aceh, atau sie reuboh (masakan khas aceh yg asam pedas menantang).

Konon tradisi Meugang ini sudah berusia ratusan tahun, dimulai pada masa kesultanan Aceh, ketika itu Sultan membagikan daging bagi masyarakatnya, untuk dibawa pulang dan dimasak, dinikmati bersama seluruh anggota keluarga yang kabarnya, saat itu ketika jelang ramadhan bahkan yang merantau bekerja dan belajar ke negeri malaka, mekkah atau madinah, pun pulang.

Saat ini sedikit berbeda, karena tak ada lagi jatah pembagian dari sultan. Sekilo daging harus dibeli sendiri dengan harga yang lumayan mahal. Terlebih saat jelang puasa, harga sedikit meninggi. Maka bagi masyarakat aceh, sekilo daging berda pada kisaran 120-150 ribu adalah hal biasa.

Seporsi daging itu kebahagian, perayaan menyambut bulan suci ramadhan. Kebahagiaan bagi seisi rumah. Harga diri suami dan ayah.Mungkin karena budaya, mungkin karena kebiasaan, tapi memulai puasa tanpa memenuhi tradisi meugang ini memang tak enak. Namun semestinya bukan kewajiban mutlak yang bila tak ada maka tak sah puasanya, tak ada meugang ini dalam rukun puasa.

Kebiasaan memang kuat pengaruhnya. Tak salah bila Lucas Remmerswaal mengatakan "First you make your habits, then your habits make you."

Awalnya kita yang menciptakan kebiasaan, lalu kebiasaan itu mulai menjadi kebenaran yang kita ikuti. Meugang yang awalnya adalah perayaan kebahagiaan saat keluarga berkumpul menikmati makan bersama, merayakan gembira menyambut bulan suci nan penuh berkah, bisa berubah jadi muka cemberut istri tercinta, atau sindiran dari mertua, atau cibiran tetangga.

Serupa dengan realita kecil yang telah menjadi kebiasaan, ketika puasa justru pengeluaran memuncak. Makanan berbuka yang kemudian terbuang sia-sia, karena lapar mata saat membeli bukaan. Yang ternyata tak habis dimakan saat berbuka, tak lagi berselera selepas tarawih.

Puasa selalu digambarkan sebagai area training, sesi pelatihan ulang pola pikir dan perilaku seorang muslim. Ditata kembali, diarahkan kembali, dikonsep kembali. Kembali pada karakter dan sikap semestinya seorang muslim. Yang menjaga bicaranya, menjaga pikirannya, menjaga pandangannya. Tak bermewah-mewah, dan mensyukuri apa yang dimilikinya. Targetnya seperti gambaran yang diungkapkan oleh Ustadz Arifin Ilham.

Dzikir menjadi Kepribadiannya, Allah tujuannya,
Rasulullah SAW teladan dalam Hidupnya,
Dunia ini pun, menjadi Syurga sebelum Syurga sebenarnya,
Bumi menjadi Mesjid baginya.
Rumah, kantor, bahkan hotel sekalipun, menjadi Mushola baginya.
Tempat ia berpijak; Meja kerja, kamar tidur, hamparan sajadah baginya.
Kalau dia berbicara? bicaranya dakwah.
Kalau dia berdiam?diamnya dzikir.
Nafasnya? Tasbih.
Matanya? penuh rahmat Allah, penuh kasih sayang.
Telinganya? Terjaga.
Pikirannya? baik sangka; tidak sinis, tidak pesimis, dan tidak suka memfonis.
Hatinya? Subhanallah..,, diam-diam berdoa, do’anya diam-diam..,
Tangannya? Bersedekah.
Kakinya? Berjihat,,, ia tidak mau melangkah sia-sia.
Kekuatannya? Silaturrahiim.
Kerinduannya? Tegaknya Syari’at Allah.
Kalau memang Hak tujuannya? Maka sabar dan kasih sayang strateginya.
Kesibukannya? Ia hanya asyik memperbaiki dirinya, tidak tertarik mencari kekurangan, apalagi Aib orang lain. 
( Tausiah pembuka pada lagu Opick, Tombo Ati )

Semoga puasa kali ini, kebahagiaan meugang tak terganggu, ketika sekilo daging sapi diganti dengan seekor ayam, atau ditunda dulu menunggu rezeki lebih. Semoga para istri tak mengganggap para suami tak cinta dan tak sayang bila meugang kali ini tak semewah meugang tahun kemarin.

Rayakan kebahagian masih bisa merasakan indahnya kebersamaan, masih bisa menikmati hidup, masih bisa mensyukuri bahwa ramadhan ini masih bisa dirasakan. Rayakan kebahagiaan dengan seporsi semur ayam, atau gulai ikan atau tempe goreng dan sayur asem. Karena meugang adalah perayaan jumpa kembali dengan bulan bertabur berkah, ramadhan.

Yang memulai berpuasa hari ini, dan yang memulainya besok, kita manusia yang jauh dari sempurna, bisa khilaf atau salah. Bila Allah Maha Sempurna mau memaafkan hambaNya, semoga kita tak latah angkuh menilai diri sendiri lebih baik dari yang lain sehingga membuang jauh-jauh kata maaf untuk sesama manusia. Kita bukan jama'ah malaikat, namun juga bukan jama'ah syaitan. 

Mohon maaf lahir dan batin, semoga puasa ini, kita lulus dari ramadhan dengan predikat taqwa.

Tuesday, July 2, 2013

Keping Pengalaman



Sudah sejak lama saya selalu melihat kotak pos itu di persimpangan jalan. Lebih dari setengah sosoknya terbenam dalam taman kecil tak terawat. Hanya terlihat sekitar 20 cm dan 'atapnya' yang mengingatkan pada atap rumah ditahun 50'an. Kotak pos itu masih terbungkus dengan warna jingganya, namun sudah kusam berdebu. Di sudut tikungan, di bawah dua tiang listrik yang berdiri bersisian menyangga gardu yang tinggi terletak diatas sana.

Begitu juga jika saya melintas di depan museum tsunami, tepat di mulut lorong kecil yang tak jauh diseberang gedung museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini, satu menara kecil menjulang. Mungkin sisa gapura, namum jelas bentuknya menunjukkan bahwa benda itu adalah produk dari masa lalu.

Kepingan masa lalu. Itu selalu yang melintas dalam benak saya. Dulu pada masanya mereka pernah berkilau, dikagumi, memiliki fungsi, digunakan, berarti. Tidak teronggok dalam diam dan tak berharga, terlupakan begitu saja.
Hidup ini pun punya banyak 'monumen' seperti itu.

Ketika sedang menikmati seporsi siomay, mendadak muncul kenangan tentang sebuah warung yang sekarang sudah tutup. Berhenti di lampu merah dan ketika melihat kesamping teringat bahwa dulu ada sebuah rumah dengan bentuk khas tak jauh dari situ, yang sekarang sudah menjadi deretan ruko.

Duduk ngopi disebuah kedai lama yang masih bertahan di daerah Lampaseh, tak jauh dari pusat kota Banda Aceh, tak sengaja memperhatikan jalan yang dulu sempit namun sekarang sudah lebar dan teringat, dulu saat malam datang, saat itu masih jalanan sempit, yang sisinya dipenuhi pedagang yang menjajakan dagangannya dengan gerobak, ada gerai mie goreng dan sate padang, yang selalu jadi tempat merayakan berbagai hal penting dan tak penting selepas siaran. Sekarang sudah tak ada lagi, berganti dengan deretan kios kecil yang menjual DVD bajakan sampai sandal bajakan.

Saat-saat ketika kenangan demi kenangan itu muncul, sering sekali adalah saat berharga. Waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, merenungi masa lalu, mencari kegembiraan atau pembelajaran yang ada. Lalu melangkah lagi, dengan semangat baru.

Memang selalu ada dua pilihan ketika kenangan itu muncul, menerimanya dengan gembira atau segera ingin melupakan lagi, karena kenangan sering sekali liar tak bisa dipaksa. sehingga tak jarang yang muncul adalah kenangan yang punya cerita tak enak di dalamnya. Namun hidup ini kan pilihan. Selalu bisa memilih untuk mencari pembelajaran di dalamnya, teguran yang bisa dipakai sebagai pengingat agar tak mengulang kesalahan yang sama.

Selalu ada pelajaran dari pengalaman, dari kenangan. Seperti juga kita belajar bahwa sebaik apapun status facebook yang ditulis, selalu saja ada orang yang bisa membuat status itu jadi berantakan.


Lama tidak menulis di Blog

Start typing and press Enter to search