Skip to main content

Rahasia Ramadhan Hari Kedelapan


"Baru delapan hari ya." Ucapnya ringan. Tangannya pun dengan lincah memasukkan batang-batang renyah kue bawang, memenuhi plastik berukuran 500 gram. Kata-kata tadi terurai santai. Baru delapan hari. Merujuk pada perjalanan bulan Ramadhan yang memasuki hari Kedelapan.

Kata-kata singkat, sambil lalu, dihiasi senyum ramah di wajah bernuansa Hindustan yang sering ku temui pada mereka yang berasal dari Pidie. Sejak dua bulan lalu aku memang menyempatkan sekali dua dalam sebulan untuk berhenti sejenak di kedai keripik milik perempuan ramah dan suaminya itu.

Baginya hanya kata selintas. Bagiku itu sesuatu yang tak sengaja mengejutkan. Bukan baru delapan hari, tapi ternyata sudah delapan hari. Ramadhan telah memasuki hari Kedelapan.

Tak terasa. Melesat begitu cepat. Hanya tersisa dua puluh dua hari lagi. Lalu Ramadhan berlalu. Setahun setelah itu baru akan hadir lagi. Dan itu bukan kepastian. Karena usia ini aku tak tahu kapan masa berlakunya habis.

Dari lisan dan ucap selintas kakak itu. Allah dengan caraNya yang sering di luar nalar manusia, mengetuk pelan. Tanpa sebab, pikiranku bekerja dengan kesadaran yang tak pernah ku rasakan ada pada diri yang jauh dari taat padaNya. Masih bertumpuk-tumpuk khilaf dan dosaku. Tapi benak ini dituntunNya untuk mendadak tahu diri.

Sudah hari Kedelapan Ramadhan, dan rasanya ibadahku masih sangat jauh dari layak disebut beribadah mengisi bulan istimewa ini. Padahal lagi, ini bulan tempat ibadah itu begitu khusus antara hamba dan Tuhannya. Bulan mesra antara setiap jiwa dengan Allah. Masa yang disiapkanNya untuk kita lebih dekat dibandingkan sebelas bulan lainnya.

Ini hari Kedelapan Ramadhan, dan aku dihantam dengan lembut oleh kenyataan, aku masih gagap dalam mencintaiNya.

Narasi cinta dan kasihNya, Allah curahkan tanpa henti. Yang sekarang semakin jelas kulihat, bahkan saat ketika aku masih jadi hamba yang tak tahu diri sebagai hambaNya.

Kesempatan demi kesempatan dihadirkan Allah tanpa putus, bila ku hitung yang sadar saja, itu termasuk saat aku lalai ataupun acuh. Apalagi yang tak ku sadari. Kesempatan dalam berbagai rupa. Entah itu pikiran yang mendadak jernih, gagasan yang melintas, penguatan saat meusireuk atau rasa beriman yang mendadak kuat. Tak henti dituntunNya. Pun bila terlewat satu kesempatan, dihantarkan lagi kesempatan lainnya.

Allah punya kuasa atas hidupku. Dan akan jadi rahasia yang tak akan pernah ku uraikan dalam terang benderangnya dunia, mengapa hari Kedelapan Ramadhan diberiNya pengingat ini.

Seperti kukatakan, rahasia hari Kedelapan Ramadhan tak akan bisa kuuraikan. Bisa saja tak ada rahasia, hanya hari biasa, ketika Allah memberikan sedikit cahaya ke hati hambaNya yang redup. Atau mungkin juga memang ada nilai istimewa pada hari kedelapan ini. Entahlah.

Dan memang sebaiknya tak perlu ku pertanyakan soal itu. Nikmati saja. Jalani saja. Bersyukur saja. Masih diingatkan, bukan dihabiskan masa berlaku usia yang hanya seukuran detik dalam arloji alam semesta.

Comments

  1. Catatan yang sangat membangun jiwa, Bang. Terima kasih untuk sepucuk sharing yang "berisi".

    ReplyDelete
  2. banyak orang bilang kalau puasa lama kali rasanya, tapi buat Ihan justru rasanya sangat sebentar, menunggu sebulan puasa tak selama bulan-bulan lainnya.....

    ReplyDelete
  3. Sungguh cepat berlalu, tanpa terasa sudah 8 hari berlalu. Aku juga masih belum maksimal dalam melakukan ibadahnya, dan kita tidak pernah tahu apakah kita bisa menyelesaikan Ramadan tahun ini, dan bisa berjumpa di Ramadan tahun depan. Semua menjadi rahasia-Nya.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih remindernya yang menghangatkan jiwa, Bang.

    ReplyDelete
  5. Makasih semuanya, alhamdulillah kalau tulisan ini ada manfaatnya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Siapakah Permadi Arya Abu Janda Al-Boliwudi

Sebenarnya paling malas menulis hal-hal begini. Rasanya seperti menjadi bagian dari infotainment yang membahas hal-hal tidak penting, semisal nikahan artis ini, artis itu masak telur ceplok di dapur rumahnya, atau liburan gak penting dari dunia artis. Yam hal-hal sejenis itulah. Yang mungkin saja bagi sebagian orang 'dianggap' penting. Hal-hal yang membuat bahkan beberapa seleb kelas dunia menjadi terkenal untuk alasan yang tidak jelas seperti the Kardashian.
Tapi saya penasaran. Siapa sebenarnya Abu Janda ini. Dari mana asalnya. Tidak mungkin dia muncul begitu saja dari antah berantah. Pasti ada jejak 'digital' tentang keberadaannya.

Tsunami dan Dosa Aceh.

Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.

Membuat Watermark dengan Corel Draw

Dipostingan sebelumnya, Cara Mudah Membuat Watermark, yang juga merupakan tutorial pertama di blog saya. Saya mencoba berbagi cara mebuat watermark pada foto, dengan menggunakan Adobe Photoshop. Tidak terlalu sulit sebenarnya, tapi karena saya bukan pakar, jadi kemungkinan malah terkesan lebih susah daripada sebenarnya.

Tapi kadang dalam menjalani hidup, kita perlu menjadi berani untuk melakukan satu hal, meninggalkan zona nyaman kita, dan melangkah ke tahapan yang baru. (Haalaaaaah, bikin tutorial aja pake teori motivasi.)

Karenanya, maka saya sekarang mencoba membuat tutorial membuat Watermark dengan menggunakan Corel Draw. Saya asumsikan anda sudah bisa menggunakan Corel Draw. Kalau belum, maaf ini bukan tutorial 'Dasar-dasar penggunaan Corel Draw', mohon pengertian anda.

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop

Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.