Skip to main content

Celana Cingkrang Jamaah Kami.


Sejak setahun terakhir, saya lebih nyaman dengan celana cingkrang, sebutan umum untuk celana yang lebar, ngegantung di atas mata kaki.


Model celana begini jadi pilihan karena banyak sebab. Ikut sunnah salah satu faktor utamanya. Faktor lainnya karena kenyamanan untuk bergerak. Dengan ukuran yang tidak mencekik seperti celana pinsil yang dianggap keren oleh sebagian kalangan, celana cingkrang lebih memudahkan buat saya bergerak.

Sejujurnya, celana begini model sudah semakin banyak diminati. Dari versi original yang komprang, sampai versi  lebih gaul yang muncul ketika semakin banyak seleb seperti Teuku Wisnu mulai menekuni agama lebih dalam.

Uniknya, saya sering disapa dan ditanyai dengan pertanyaan yang berbeda redaksional tapi maknanya tak jauh beda "Sekarang udah gabung ke jama'ah Salafi ya? Tabligh ya?"

Label, branding, karakter identitas berbusana yang sebenarnya milik semua muslim kenapa mendadak jadi ekslusif milik kelompok tertentu. Seolah siapapun yang bercelana cingkrang itu mesti Salafi (pada beberapa kasus ditanyai soal Jama'ah Tabligh)

Ah, soal definisi Salafi saya tidak mau perdebatkan. Ini istilah percakapan umum yang sering kita dengar. Kalau sudah berjubah panjang, gamis, cingkrang pasti Salafi atau Tabligh.

Memang, saya akui saya setahun belakangan ini semakin merasa perlu mendalami agama lagi. Salah satu perubahan yang terbetik dari proses belajar itu ya soal cingkrang. Tapi juga tidak selalu berarti celana yang memang di atas mata kaki, banyak juga berupa jeans yang di gulung/lipat. Ada masanya saat shalat bergamis, tapi lain waktu polo shirt biasa, toh tidak melanggar aturan syar'i.

Tapi begitulah, terkadang mengkelompokkan satu dua (atau banyak) hal sebagai milik ekslusif kelompok tertentu menjadi hal yang semakin jamak kita temukan, atau bahkan tanpa sadar kita lakukan.

"Di jama'ah kami... " kata seorang teman dalam percakapan yang membuat saya memaksakan senyum. Semakin miris dengan semakin terpecahnya umat Islam. Senyum getir, yang berkurang getirnya, menjadi lebih nyaman ketika disaat lain melihat foto yang menampilkan beberapa ustadz (yang saya tahu memiliki perbedaan) namun tersenyum bersama dalam satu foto. Lebih teduh lagi saat menemukan itu bukan semata foto pencitraan.

Toh kenyataan yang tak banyak dibahas, meski label dan dress code dianggap kelompok tertentu, tidak lantas mempermudah interaksi dalam kehidupan. Senyum dan menyapa selepas shalat berjama'ah, atau ketika berpapasan di pasar -- dengan mereka yang bercingkrang dan gamis -- kadang di jawab canggung atau ragu.

Tak menyalahkan, kita hidup di jaman penuh tipu daya dan kecurigaan. Kebaikan sering berbuah masalah dengan sesama manusia. Jadi teringat ucapan seorang ustadz saat mendengar curhat senada tulisan ini.

Belajarlah pada ulama yang dikenali dan diakui. Lalu beragama dan beribadahlah karena Allah. Ridha-Nya yang penting, yang paling utama, dibanding hati manusia yang sering mudah terbolak-balik.

Comments

Popular posts from this blog

Siapakah Permadi Arya Abu Janda Al-Boliwudi

Sebenarnya paling malas menulis hal-hal begini. Rasanya seperti menjadi bagian dari infotainment yang membahas hal-hal tidak penting, semisal nikahan artis ini, artis itu masak telur ceplok di dapur rumahnya, atau liburan gak penting dari dunia artis. Yam hal-hal sejenis itulah. Yang mungkin saja bagi sebagian orang 'dianggap' penting. Hal-hal yang membuat bahkan beberapa seleb kelas dunia menjadi terkenal untuk alasan yang tidak jelas seperti the Kardashian.
Tapi saya penasaran. Siapa sebenarnya Abu Janda ini. Dari mana asalnya. Tidak mungkin dia muncul begitu saja dari antah berantah. Pasti ada jejak 'digital' tentang keberadaannya.

Tsunami dan Dosa Aceh.

Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.

Membuat Watermark dengan Corel Draw

Dipostingan sebelumnya, Cara Mudah Membuat Watermark, yang juga merupakan tutorial pertama di blog saya. Saya mencoba berbagi cara mebuat watermark pada foto, dengan menggunakan Adobe Photoshop. Tidak terlalu sulit sebenarnya, tapi karena saya bukan pakar, jadi kemungkinan malah terkesan lebih susah daripada sebenarnya.

Tapi kadang dalam menjalani hidup, kita perlu menjadi berani untuk melakukan satu hal, meninggalkan zona nyaman kita, dan melangkah ke tahapan yang baru. (Haalaaaaah, bikin tutorial aja pake teori motivasi.)

Karenanya, maka saya sekarang mencoba membuat tutorial membuat Watermark dengan menggunakan Corel Draw. Saya asumsikan anda sudah bisa menggunakan Corel Draw. Kalau belum, maaf ini bukan tutorial 'Dasar-dasar penggunaan Corel Draw', mohon pengertian anda.

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop

Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.