Skip to main content

7 Hal Penyebab Unfriend



Unfriend, hal sederhana yang awalnya hanya label untuk salah satu fasilitas di sosial media. Fitur yang disediakan untuk memberikan kesempatan bagi pemilik akun, untuk mempertahankan dan menikmati privasi dalam dunia digital yang sering terlalu luas.

Tapi, jaman berganti. Sosial media berkembang melampaui yang bisa dibayangkan manusia ketika dunia itu pertama kali muncul. Dari semula hanya sebagai sarana memendekkan jarak, sosial media berevolusi menjadi kebutuhan hidup, setidaknya bagi sebagian orang (dan kita mungkin bagian dari mereka, atau setidaknya mulai mengarah ke sana.)

Sosmed sekarang ini hampir menjadi replika sempurna kehidupan di dunia nyata. Hampir segala yang bisa ditemui dalam kehidupan nyata, juga ada di dunia maya ini. Bukan hanya ada, bahkan kadang melebihi. Realita ala dunia digital yang semakin tak jelas batasannya, mengaburkan antara nyata dan ilusi, bahkan menawarkan kehidupan yang melebihi kenyataan. Anonimitas membuat siapa pun bisa menjadi siapa saja.


Dari beragam pernak-pernik dunia digital, unfriend adalah satu kata yang mempengaruhi banyak pengguna sosmed. Bukan hanya mereka yang disebut generasi milenial, bahkan mereka yang gagap dalam bersosmed pun memiliki rasa khusus untuk kata itu, unfriend.

Setidaknya, ada 7 hal yang bisa menjadi sebab tombol unfriend digunakan. Dan pengaruhnya bahkan menembus dunia digital hingga mempengaruhi kehidupan nyata.

1. Status atau postingan.

Entah itu karena perbedaan pendapat pribadi, pandangan politik, pemikiran, maupun hal yang sebenarnya kebebasan pribadi seperti agama, suka maupun tidak suka pada satu hal.

2. Komentar.

Menarik ketika melihat kenyataan, bahwa seringkali postingan berseting publik atau untuk linglar pertemanan memicu unfriend. Terbuai dengan kebebasan berpendapat, banyak yang kemudian menekan tombol itu karena tidal siap dengan komentar yang ternyata berbeda pendapat dengan si pembuat status.

3. Link.

Sebelas dua belas dengan poin no. 1 dan 2. Link yang kita bagikan atau posting di laman sosmed bisa berujung kisruh lalu diputuskan pertemanan.

4. Tag. 

Tag, secara harafiah bisa diartikan ditandai. Teman kita menandai nama kita di akun atau postingan nya seharusnya karena ada keterkaitan antara mereka denga  kita.
Tapi ditag sekarang ini bukan hanya karena itu, sering juga karena ingin menyerang atau memicu konflik. Contohnya, teman yang berbeda pandangan politik nge-tag pada artikel yang menyerang atau menabrak emosi.

5. Kalah debat.

Entah sejak kapan, perdebatan adalah hal rutin di kolom komentar. Sayangnya, banyak yang siap ketika membuat status yang memicu konflik tapi tak siap ketika kalah saat beradu argumen.

6. Toko Online / Network Marketing

Semakin meningkatnya keterikatan dengan sosial media, membuat bisnis yang memberdayakan sosmed juga berkembang.
Dan terkadang tag dari teman yang berbisnis online ataupun yang memprospek untuk network marketing bisa membuat 12 dari  5 sekring kesabaran putus.
Bukan hanya itu, unfriend nya bahkan sering berimbas ke kehidupan nyata (pasti ada disekitar kamu yang mengalami kejadian itu, atau bisa jadi kamu mengalaminya sendiri).

7. Emoticon.

Pernah nonton film the Intern? Pasti ingat salah satu adegan saat ada yang mengatakan bahwa ia sudah meminta maaf dan bahkan mengunakan emoticon berurai airmata untuk menunjuk penyesalannya.

Kenyataannya, emoticon sering salah dipahami. Satu emoticon bisa saja bermakna lain ketika dibaca (dilihat) dalam kondisi berbeda. Hasilnya adalah salah paham, bahkan tak jarang putus pertemanan.



Hanya 7 sebab unfriend di sosmed? Lebih dari 7 sebenarnya. Ada banyak faktor lainnya, seperti jarang aktif, tidak berkomunikasi, hingga daftar pertemanan yang kepenuhan. Terlepas dari apapun penilaian yang mungkin terjadi ketika opsi unfriend digunakan, hal utama yang harus diingat -- tapi sayangnya sering dilupakan -- itu adalah hak pribadi setiap orang. Akun bagi banyak orang seperti rumah ataupun kamarnya. Tidak semua diperkenankan datang, ataupun diterima. Dan tidak peduli seberapa dekatnya kita berteman dengan orang lain, selalu ada ruang pribadi yang sepenuhnya milik dia. Dia yang punya kuasa menentukan siapa yang dibolehkanya untuk berada disitu.

Comments

Popular posts from this blog

Siapakah Permadi Arya Abu Janda Al-Boliwudi

Sebenarnya paling malas menulis hal-hal begini. Rasanya seperti menjadi bagian dari infotainment yang membahas hal-hal tidak penting, semisal nikahan artis ini, artis itu masak telur ceplok di dapur rumahnya, atau liburan gak penting dari dunia artis. Yam hal-hal sejenis itulah. Yang mungkin saja bagi sebagian orang 'dianggap' penting. Hal-hal yang membuat bahkan beberapa seleb kelas dunia menjadi terkenal untuk alasan yang tidak jelas seperti the Kardashian.
Tapi saya penasaran. Siapa sebenarnya Abu Janda ini. Dari mana asalnya. Tidak mungkin dia muncul begitu saja dari antah berantah. Pasti ada jejak 'digital' tentang keberadaannya.

Tsunami dan Dosa Aceh.

Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.

Membuat Watermark dengan Corel Draw

Dipostingan sebelumnya, Cara Mudah Membuat Watermark, yang juga merupakan tutorial pertama di blog saya. Saya mencoba berbagi cara mebuat watermark pada foto, dengan menggunakan Adobe Photoshop. Tidak terlalu sulit sebenarnya, tapi karena saya bukan pakar, jadi kemungkinan malah terkesan lebih susah daripada sebenarnya.

Tapi kadang dalam menjalani hidup, kita perlu menjadi berani untuk melakukan satu hal, meninggalkan zona nyaman kita, dan melangkah ke tahapan yang baru. (Haalaaaaah, bikin tutorial aja pake teori motivasi.)

Karenanya, maka saya sekarang mencoba membuat tutorial membuat Watermark dengan menggunakan Corel Draw. Saya asumsikan anda sudah bisa menggunakan Corel Draw. Kalau belum, maaf ini bukan tutorial 'Dasar-dasar penggunaan Corel Draw', mohon pengertian anda.

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop

Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.