Skip to main content

Membangun Panggung Untuk Menulis


"Karena aku ingin menyediakan tempat berbeda untuk setiap tulisan." Jawaban yang kuberikan atas pertanyaan mengapa membangun beberapa blog.

Awalnya memang ketika mulai menulis di blog ini, niatnya hanyalah menulis. Semata menulis tanpa pengharapan ini dan itu. Satu blog sebagai tempat menuliskan isi kepala yang sering terasa penuh. 

Pernah terhenti selama hampir dua tahun, diikuti masa-masa 'malas', blog ini akhirnya kembali tersentuh dan mulai cukup rajin diisi setahun belakangan.
Tak ingin menafikan, kuakui ada masa-masa 'gelap'. Ya, seperti yang umum dialami oleh blogger pemula, aku sempat terkontaminasi dengan keinginan mencari uang cepat dari blog.

Hasilnya adalah tumpukan stres yang membuatku muak menulis. Tiba-tiba saja ukuran menulis adalah seberapa tinggi viewer-nya, bagaimana GA, DA, rank Alexa, dan berbagai peringkat lainnya. Pikiranku berputar soal bagaimana membuat judul memikat, semacam "5 Trik Menulis Blog Yang Harus Diketahui, nomor 3 Ternyata Paling Gampang". 

Butuh waktu untuk menyadari bukan itu yang sebenarnya kucari. Saat memahami betapa aku menikmati saat menulis, menyusun kata-kata, merasa puas saat membaca tulisan yang tersaji bukan sekadar deretan kata-kata. Bahagia ketika mendapat pesan dari para senior -- bahkan junior -- yang secara kapasitas ku tahu lebih dulu menyeriusi dunia kata. Saat itulah aku memutuskan berhenti menjadikan blog sebagai tempat mencari uang. Blog harus menjadi pekerjaan yang kunikmati. 
Aku ingin menikmati menulis. Dan untuk itu aku menulis.
Hidupku tak lalu jadi hidup tanpa beban. Tapi menjadi lebih mudah untuk dinikmati.
Aku melihat blog serupa rak buku. Setiap rak, sangat mungkin ditata untuk jenis buku yang sesuai.



Lalu untuk apa membuat beberapa blog cabang? Karena apa yang disajikan tentu akan mempengaruhi siapa yang datang. Aku cukup yakin itu sebabnya dunia blog mengenal istilah niche, tema yang mewarnai dan menjadi arus utama blog yang dipilih. Sisi lainnya, aku tak ingin saat aku menuliskan catatan soal buku, komentar yang muncul adalah politik. 

Pemikiran yang menjadi sebab aku menata blog buku, dan kemarin membuat blog tempatku menuliskan segala hal seputar politik dan negara, selain blog ini, yang memang sengaja kuniatkan sebagai jurnal tempat menuliskan pikirku soal kehidupan, tempatku berjalan menjelajahi dan mendokumentasikan kehidupan. 

Tapi bila ada tanya tentang blog yang masih belum rutin terurus, sejujurnya kuakui, itu perkara yang memang masih harus kuperbaiki.

Comments

  1. Alhamdulillah sudah sadar hahaha

    ReplyDelete
  2. Gak di grup, gak di blog. Tetap aja kejaaam ya, Han.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Siapakah Permadi Arya Abu Janda Al-Boliwudi

Sebenarnya paling malas menulis hal-hal begini. Rasanya seperti menjadi bagian dari infotainment yang membahas hal-hal tidak penting, semisal nikahan artis ini, artis itu masak telur ceplok di dapur rumahnya, atau liburan gak penting dari dunia artis. Yam hal-hal sejenis itulah. Yang mungkin saja bagi sebagian orang 'dianggap' penting. Hal-hal yang membuat bahkan beberapa seleb kelas dunia menjadi terkenal untuk alasan yang tidak jelas seperti the Kardashian.
Tapi saya penasaran. Siapa sebenarnya Abu Janda ini. Dari mana asalnya. Tidak mungkin dia muncul begitu saja dari antah berantah. Pasti ada jejak 'digital' tentang keberadaannya.

Tsunami dan Dosa Aceh.

Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.

Membuat Watermark dengan Corel Draw

Dipostingan sebelumnya, Cara Mudah Membuat Watermark, yang juga merupakan tutorial pertama di blog saya. Saya mencoba berbagi cara mebuat watermark pada foto, dengan menggunakan Adobe Photoshop. Tidak terlalu sulit sebenarnya, tapi karena saya bukan pakar, jadi kemungkinan malah terkesan lebih susah daripada sebenarnya.

Tapi kadang dalam menjalani hidup, kita perlu menjadi berani untuk melakukan satu hal, meninggalkan zona nyaman kita, dan melangkah ke tahapan yang baru. (Haalaaaaah, bikin tutorial aja pake teori motivasi.)

Karenanya, maka saya sekarang mencoba membuat tutorial membuat Watermark dengan menggunakan Corel Draw. Saya asumsikan anda sudah bisa menggunakan Corel Draw. Kalau belum, maaf ini bukan tutorial 'Dasar-dasar penggunaan Corel Draw', mohon pengertian anda.

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop

Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.