Thursday, January 23, 2014

Jangan Masukkan Anak Dalam Kotak

Saya pernah membaca, dalam komik kungfu boy. Tentang seekor jangkrik (atau kutu?), yang dimasukkan dalam kotak. awalnya ia melompat tinggi, namun setelah beberapa kali terbentur kotak, ia hanya melompat, sebatas tinggi kotak itu. Bahkan setekah ia tidak lagi berada di dalam kotak.

Cerita lainya dari seorang teman, tentang menjinakkan gajah di Thailand. Anak gajah diikat pada sebatang pasak besar, membuat semua usahanya untuk lepas, sia-sia. Secara bertahap kayu pasak kokoh itu digantikan dengan kayu yang lebih kecil hingga akhirnya, ketika si gajah sudah cukup besar, ia tertambat pada sebatang kayu yang sebenarnya dengan mudah bisa dipatahkannya. namun si gajak tidak melakukannya. Setiap kali tali yang mengikat kakinya terasa tertahan, ia langsung berhenti. Benaknya mengingat tentang usahanya yg sia-sia untuk lepas. Tanpa menyadari bahwa kayu pasak itu sekarang tak lebih hanya sebatang kayu kecil.

Begitu juga dengan anak. Tanpa sadar kita menjadikan mereka hidup dalam kotak pembatas. Kotak pembatas itu dengan tanpa sadar beriman pada ajaran yg mengatakan bahwa potensi setiap anak hanya terbatas pada satu kemampuan saja.

Tes sidik jari, mengatakan anak kita cocoknya menjadi manajer. Maka kita mulai menutup mata pada potensi lain, fokus dan mengarahkannya menjadi manajer. Ayah bunda dengan alasan demi kebikan anak, merancang program yang mendukungnya untuk jadi manajer.
Kita mengaminkan ketika hasil tes multiple inteligence/kecerdasan majemuk yang mengatakan anak kita berada pada satu dari 8 kecerdasan (belakangan Howard Gardner pencetus teori ini menambahkan jadi sembilan kecerdasan). Maka mulailah dengan tujuan mempertajam potensi kecerdasannya itu dengan mengarahkan pada bidang tertentu saja.

The theory of multiple intelligences is a taxonomy of intelligence that differentiates it into specific (primarily sensory) "modalities", rather than seeing intelligence as dominated by a single general ability. This model was proposed by Howard Gardner in his 1983 book Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Gardner articulated seven criteria for a behavior to be considered an intelligence. These were that the intelligences showed: potential for brain isolation by brain damage, place in evolutionary history, presence of core operations, susceptibility to encoding (symbolic expression), a distinct developmental progression, the existence of savants, prodigies and other exceptional people, and support from experimental psychology andpsychometric findings.
Gardner chose eight abilities that he held to meet these criteria: 
musical–rhythmic, visual–spatial, verbal–linguistic, logical–mathematical, bodily–kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, and naturalistic. He later suggested that existential and moral intelligence may also be worthy of inclusion. Although the distinction between intelligences has been set out in great detail, Gardner opposes the idea of labeling learners to a specific intelligence. Each individual possesses a unique blend of all the intelligences. Gardner firmly maintains that his theory of multiple intelligences should "empower learners", not restrict them to one modality of learning.
http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_multiple_intelligences


Ironis, ketika melihat orang tua, dengan alasan demi kebaikan anak, tanpa sadar memasukkan anaknya dalam kotak. Potensi anak yang semstinya berkembang, tumbuh, dieksplorasi, malah di bonsai.
Tidak jarang, malah orang tua memaksakan impiannya yg tidak kesampaian pada anak, atau memaksakan meraih satu prestasi di bidang yang membuat 'nilai sosial' meningkat. Tanpa perduli apakah anak benar suka atau tidak.

Padahal Gardner sendiri berpendapat beda. "Each individual possesses a unique blend of all the intelligences." -- Setiap individu terdiri dari kombinasi unik berbagai kecerdasan.
Setiap kita memang memiliki beragam kecerdasan, yang ada dan terbentuk dalam diri kita.
Buang kotak pembatas itu. Biarkan anak mengeskplorasi potensi dan kecerdasan yang ada dalam dirinya, tugas kita sebagai orang tua adalah mendukung. Bukan memaksa mereka menjadi duplikat impian masa kecil kita, atau alat status sosial.

Berhentilah percaya pada mitos tidak jelas soal 'batasan' itu.

Sidik jari begini begitu untuk tipe pekerjaan/potensi/kecerdasan tertentu, saya tidak percaya. Sidik jari memang spesifik, setiap orang memiliki sidik jari khusus, yang tidak akan sama dengan manusia manapun lainnya di dunia, lalu bagaimana sesuatu yang pasti berbeda--tidak akan sama--antar manusia manapun bisa diarahkan pada hal-hal yang tertentu yang sama dengan kelompok-kelompok manusia tertentu.
Atau mitos Melankolis, Sanguin, Korelis, dan Plegmatis. Sama, saya juga tidak percaya itu. Pernah percaya, sampai kemudian sadar, beberapa kali iseng tes 'kepribadian' hasilnya beda2. Ada pengaruh rupanya, kondisi emosi dan tes itu. Juga menjadi pembuktian bahwa keempatnya ada dalam diri kita. Kitalah yang mengarahkannya, tidak bisa dipisahkan menjadi salah satu sebagai dominan. Masing-masing muncul pada kondisi berbeda.

Setiap anak, adalah ilmuwan, pilot, cheft, musisi, animator, seniman, aktor, smurf atau kamen rider. Mereka punya milyaran potensi, mereka semestinya tumbuh berkembang, bukan tumbuh terkekang.

Start typing and press Enter to search