Skip to main content

Waktu & Hati, Sebentuk Investasi


" Haduh, maaf aja lah bang, paling nanti dihitung gratis lagi, alasannya orang dalam."
" Suruh orang lain aja lah bang, bukan ga mau bantu desain, capek aja kalo untuk kita selalu mau murah."
" Maaf bang, sekarang saya ga ngisi lagi di kampus, tarifnya ga sesuai. "




Sumber: Gettyimages, Free Royalty Images

Kurang lebih, begitu jawaban yang sejak empat hari terakhir ini rajin saya dapatkan. Jawaban dari teman-teman, yang dihubungi untuk mempersiapkan sebuah kegiatan bagi kalangan muda di kampus.
Dari yang menolak untuk membuatkan desain spanduk, hingga yang enggan berpartisipasi sebagai pembicara. Dan semua mengajukan alasan yang sewarna, minimnya penghargaan materi.

Ironis memang, karena sebahagian besar dari teman-teman ini adalah mereka yang pada masanya dulu, adalah orang-orang yang begitu bersemangat untuk melakukan perbaikan dikalangan muda.
Namun tuntutan kebutuhan memang sering membuat kita terpatahkan.


Saya tidak menyalahkan, tidak memungkiri bahwa, uang lelah yang 'pantas' tentu membuat kita lebih mudah untuk merasa bersemangat dalam berbuat.
Mengutip ucapan seorang teman, " Uang memang bukan segalanya, namun uang sangat berperan dalam meningkatkan keikhlasan."
Ucapan yang ngaco bila diterjemahkan secara harafiah. Namun tak bisa ditolak, ucapan itu benar.

Teman, satu hal yang kita sering lupa, bahwa semua kemampuan kita, diberikan Allah dengan tujuan. untuk menjadi bagian dari mereka yang saling tolong menolong, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Dan tentunya dipertanggungjawabkan kepada-Nya, kelak.

Memang melelahkan, dan sangat sering kita rasakan, bila berkaitan dengan 'teman' maka sering anggarannya mengalami penyusutan yang sangat laju. Tak jarang kita tertawa getir, ketika menyadari bahwa untuk kegiatan yang sama, 'teman' mendapatkan bukti pembayaran dengan angka nol yang terjatuh, sehingga jumlah nolnya sering terpaut satu dua dengan milik orang lain.

Tak salah hingga seorang teman, mengatakan dengan emosi tinggi, bahwa sudah waktunya untuk menetapkan tarif, menentukan biaya, membangun standar kompensasi agar impas dan setara. Silahkan saja, saya dukung, dan memang itu perlu.

Dan penting bagi 'teman' yang menjadi panitia, atau penyelenggara, untuk lebih mau mengerti, bahwa setiap orang memiliki kebutuhan hidup

Namun agar tak lena, baiknya kita juga ingat, bahwa bila kita tak bergelimang harta, Waktu & Hati, adalah sebuah investasi indah yang bisa kita sediakan.
Waktu untuk berkontribusi meski seadanya, dan Hati yang terus belajar untuk ikhlas berbuat. Bila memang tuntutan perut dan hidup harus dipenuhi, maka dengan hati lapang mohonkan pengertian bahwa sebelum bisa berbagi, ada kewajiban yang harus kita penuhi pada keluarga, atau diri kita.
Dengan hati lapang pula, terima saja bila ternyata bukan pengertian yang kita terima. Karena dengan 5 menit kita investasikan waktu, untuk mendengar segala keluh, caci dan hina, mungkin kita telah membantu 'teman' kita mengurangi beban dikepalanya.

Teman, ini hanya tulisan, yang sebenarnya saya tuliskan untuk menegur diri. Agar lebih bersabar, tak cepat terhanyut emosi. Tulisan yang terinspirasi tentang kesabaran Rasulullah dalam menghadapi beragam uji disekitarnya. Dan ternyata memang benar, hati yang lapang membuat fikiran tenang. Dan fikiran yang tenang akan selalu memberi kita peluang untuk melihat sisi kehidupan yang bisa kita syukuri.

Dan bila kita bersyukur, bukankah Allah telah mengatakan ...

"Lain syakartum laazidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi lasyadid"

Jika kamu bersyukur akan nikmat yang Aku berikan kepada-Mu, niscaya akan Aku tambah nikmat tersebut kepadamu, namun jika kamu kufur akan nikmat-Ku, ingatlah bahwa azab-Ku sangat pedih.

Comments

Popular posts from this blog

Tsunami dan Dosa Aceh.

Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.

Membuat Watermark dengan Corel Draw

Dipostingan sebelumnya, Cara Mudah Membuat Watermark, yang juga merupakan tutorial pertama di blog saya. Saya mencoba berbagi cara mebuat watermark pada foto, dengan menggunakan Adobe Photoshop. Tidak terlalu sulit sebenarnya, tapi karena saya bukan pakar, jadi kemungkinan malah terkesan lebih susah daripada sebenarnya.

Tapi kadang dalam menjalani hidup, kita perlu menjadi berani untuk melakukan satu hal, meninggalkan zona nyaman kita, dan melangkah ke tahapan yang baru. (Haalaaaaah, bikin tutorial aja pake teori motivasi.)

Karenanya, maka saya sekarang mencoba membuat tutorial membuat Watermark dengan menggunakan Corel Draw. Saya asumsikan anda sudah bisa menggunakan Corel Draw. Kalau belum, maaf ini bukan tutorial 'Dasar-dasar penggunaan Corel Draw', mohon pengertian anda.

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.

Siapakah Permadi Arya Abu Janda Al-Boliwudi

Sebenarnya paling malas menulis hal-hal begini. Rasanya seperti menjadi bagian dari infotainment yang membahas hal-hal tidak penting, semisal nikahan artis ini, artis itu masak telur ceplok di dapur rumahnya, atau liburan gak penting dari dunia artis. Yam hal-hal sejenis itulah. Yang mungkin saja bagi sebagian orang 'dianggap' penting. Hal-hal yang membuat bahkan beberapa seleb kelas dunia menjadi terkenal untuk alasan yang tidak jelas seperti the Kardashian.
Tapi saya penasaran. Siapa sebenarnya Abu Janda ini. Dari mana asalnya. Tidak mungkin dia muncul begitu saja dari antah berantah. Pasti ada jejak 'digital' tentang keberadaannya.

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop

Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.