Post Ad Area

Post Home Style

Tuesday, June 7, 2016

Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Kami hanya sekadar satu meja, bukannya duduk bersama. Kurang lebih begitu, kalimat yang ku sampaikan untuk menjawab tanya mengapa sebuah 'komunitas' wisata yang aku sering hadiri ajang kumpul-kumpulnya, belum menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Narasi singkat tadi. Juga jawaban untuk tanya lain. Soal mengapa komunitas itu tak kunjung meluncurkan satu program pun.

Dan itu, kalimat tadi, adalah hal yang nyris terlalu sering aku temukan.

Sekumpulan orang yang duduk mengelilingi meja yang sama, tapi tidak bersama. Semua sebenarnya berjalan sendiri, dengan impian sendiri, atau dengan maksud tersendiri yang hanya mereka dan Tuhan yang paham apa itu.

Dulu sekali, sekitar sepuluh tahun lewat. Aku pernah menjadi bagian satu komunitas. Waktu itu setelah tsunami menghancurkan pesisir Aceh, menyisakan duka yang nyaris tak terobati. Yang meskipun gelak tawa tak lama kembali hadir, canda kembali bersemai, tapi di dalam lubuk hati tangis dan sedih itu masih tersimpan.

Komunitas kepenulisan. Tempat aku berjumpa dengan beberapa nama, yang sebagian sudah hilang kabar entah kemana, sebagiannya lagi masih menjadi bagian lingkungan sosialku, dan seorang dari mereka menjadi tambatan hati. Ah teman, itu kisah romantis yang kapan-kapan aku ceritakan.

Tapi dulu, saat itu, dimasa lalu itu. Aku hanya mahluk asing, yang tak kenal dengan banyak mereka. Dan sialnya mereka saling kenal satu sama lain. Semestinya pahit, teman. Tapi ternyata kisah ini bersemi manis.

Tak peduli apa kesibukan, kami berkumpul setiap minggu pagi. Tak soal apakah itu pertemuan rutin kelas menulis, kajian keislaman, atau sekedar ngerujak berbekalkan mangga muda dan garam berkarib cabai rawit. Kami yang yang tak terlalu saling kenal, terikat oleh satu ikatan sederhana, FLP. Forum Lingkar Pena Aceh.

Komunitas yang jadi rumah kedua kami. Yang rasa di dalamnya membuat kami acuh soal keuntungan pribadi. acuh pada kenyataan tak jarang kami harus menguras isi kantong sendiri demi FLP. Acuh soal nama siapa yang kan terangkat. Bagi kami semua untuk kebanggaan bersama, tak ada iri bila pujian diberikan untuk salah satu saja, seperti juga tak ada yang merasa perlu sombong untuk pujian karena tahu diri itu kerja umat. Kami adalah Trois Mousquetaires yang jumlahnya lebih dari sepuluh, dan tetap yakin pada slogan one for all and all for one. Ah, klasik dan romantis, teman.

Tapi kenyataan menggiring kita semua pada dunia yang baru. Lihat saja, ada berapa banyak komunitas yang sekarang muncul lebih cepat dari pada jamur di musim hujan. Lihat ada berapa banyak grup di facebook, atau google plus, yang kita tercebur di dalamnya. Belum lagi macam aplikasi seperti whatsapp, line, telegram, bbm yang menyemak dalam gawai kita, entah itu tablet yang bukan obat sakit kepala, atau ponsel berlabel cerdas yang sering malah membuat kita tak cerdas.

Bertumpuk, banyak memenuhi, grup nyaris tak berbilang, tapi hanya sekedar daftar nama yang berkumpul dalam satu aplikasi atau lebih. Tak jarang yang kita temukan hanya ajang unjuk diri, ajang memanipulasi orang lain untuk kepentingan, atau hanya sekedar ikut tren--saya aktivis.

Aku tahu, perih. Tapi kenyataannya, banyak kita yang terpaksa menerima kebenaran itu, meskipun terhuyung-huyung seperti ketika Sonny Liston terhajar jab Muhammad Ali. Ingin menolak tapi terpaksa melihat kenyataan. Banyak grup, kelompok, komunitas, tak lebih dari sekedar sekumpulan orang yang duduk-duduk cantik, menuliskan segala macam di laman dunia maya.

Tapi diantara mereka ada yang tak banyak itu. Anggota komunitas yang bekerja meski dianggap angin lalu dan dilupakan saat komunitas punya nama, blogger yang menulis dengan keteguhan hati untuk berpegang pada tulisan yang baik tak goyah pada godaan untuk sekedar mendulang rank, penulis yang bertahun-tahun mengirimkan naskah demi naskah berusaha meningkatkan kualitas dalam setiap tulisan meskipun sudah bertahun-tahun tak pernah diterima.

Yang tak banyak itu, Yang memutuskan untuk berusaha memberikan yang terbaik, idealisme yang dibingkai dengan kesabaran. Dan sejarah juga menuliskan, bila kelak keberhasilan mereka raih, bahkan badai dahsyat pun tak membuat mereka goyah. Yang lebih menawan lagi, mereka bahkan tak punya ruang untuk angkuh atau enggan berbagi ilmu.

Lalu aku, dimana aku diantara dua kelompok itu. Jujur kukatakan, aku bagian dari kelompok pertama yang sedang berusaha menyeberang menjadi pewaris kelompok kedua. Manusia yang sedang menata kembali mimpi-mimpinya, setelah selama ini lalai.

Jangan tertawakan itu teman. Percayalah, terlambat lebih baik dari pada tidak pernah sadar diri.

18 comments:

  1. Hmmm.. Blog curhat bang sayid is reborn hahahaha

    ReplyDelete
  2. Hahaha, preet dah. Curhat pula, labelnya.
    Mohon bantuaannya ya yud

    ReplyDelete
  3. Hahaha, preet dah. Curhat pula, labelnya.
    Mohon bantuaannya ya yud

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Ecek-eceknya kami ni blogger, yg tema ngeblognya gaya hidup(ku) hehehe

      Delete
    2. Ecek-eceknya kami ni blogger, yg tema ngeblognya gaya hidup(ku) hehehe

      Delete
  5. Dari judulnya, kebayang dengan orang2 duduk di warkop rame2, masing2 pegang gadget. Hehehe ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, salah satu momen yg narasinya sama. Kami cuma duduk semeja. Sayangnya ini kejadian umum ya.
      Sosmed, mendekatkan yg jauh menjauhkan yg dekat.
      Makasih sudah mampir :)

      Delete
    2. Nah itu dia, salah satu momen yg narasinya sama. Kami cuma duduk semeja. Sayangnya ini kejadian umum ya.
      Sosmed, mendekatkan yg jauh menjauhkan yg dekat.
      Makasih sudah mampir :)

      Delete
  6. Jadi kangen FLP versi sebelum sosmed mendewa seperti sekarang ini ya bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, yup. Sama seperti itu yg saya rasain liza. Ketika ngumpul bareng itu beneran ngumpul.
      Tapi yg paling dikangenin itu dua, liza.
      Semangat menulisnya n mie goreng yg dekat sekret flp di rumah kak mar. Hehehe

      Delete
  7. Walaupun ihan pernah mendaftar di flp (kemudian tak aktif karena faktor x) tapi punya hubungan emosi yang baik dengan beberapa flpers aceh, bahkan dulu pernah ikut buka puasa bareng dilanjutkan dengan menginap di rumah kak mar, manis... sekarang banyak komunitas terbentuk di dunia maya (faktor kecanggihan teknologi juga) sehingga terkadang tak jarang mengabaikan emosi, btw ihan kenal bang fadhil juga lewat flp ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya han, kita terhubung oleh flp, halaaah bahasanya. Hehehe.

      Delete
  8. Tapi..dengan kecanggihan teknologi, kta jadi bisa gabung dan ikut mencapai mimpi meski komunitasnya berbeda lokasi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu saya sepakat ayi, tapi ada faktor emosi, yg sering tdk bs dijembatani oleh gadget T_T

      Delete
  9. Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi informasi utamanya internet adalah seperti pisau bermata dua. Jika tak ahli menggunakannya malah bisa celakai diri.
    Tak dapat dipungkiri pula, banyak komunitas (yang membernya terserak di berbagai lokasi dan negara) yang justru dimudahkan oleh kecanggihan ini. Yup, mendekatkan yg jauh dan menjauhkan yg dekat. Lalu kita bagaimana?
    Yuk, ambil baiknya saja. Saat berkumpul bersama, simpan dulu gadgetnya. *ih, bak peugah cit mangat. Bak peubueet bek tanyong. Hehe.

    Welcome back, Sayed!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya kak. Tergantung tangan yg menggunakan.

      Delete
  10. Bang, Ini Rio sudah datang kerumah abang. mana sirup berhala sama kue bawangnya??

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search