Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, June 30, 2016

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Gayo Bukan Aceh

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.
sumber foto. Instagram

Lengkapnya postingan itu berbunyi 'Gayo bukan Aceh ?? Temukan Jawabannya di www.kopikini.com.' Sama sekali bukan pernyataan perihal suku, dan sebenarnya membahas mengenai kopi gayo yang mendunia itu.

Sayangnya, itu kalimat sensitif. Pasti soal kopi akan tergeser. 

Ah, benar saja. Dibagikan ulang oleh beberapa akun. Tanpa menuliskan secara jelas kisah postingan asli, juga tak mau bersusah payah memikirkan kalimat sepenggal itu bisa memicu sentimen suku. Kenyataan pahitnya, teman, itu memang kalimat sakti yang didengungkan dalam percakapan yang sering bernada tidak bersahabat. Antara dua suku yang mendiami sebuah provinsi bernama Aceh.

Yang lebih parah lagi. Banyak mereka yang merasa pintar, tapi sebenarnya tak tahu apapun, ikut berkomentar, sehingga semakin salah kaprah. Seolah belum cukup parah, muncul pula kalangan tak bertata krama yang memang menjadi hama dalam dunia sosial media. Para ahli komentar dengan keahlian bahasa tak beradab, kasar, jorok tak sopan. Kalangan paling hina dan dibenci semua pengguna sosial media.

Aku bersuku Aceh. Lahir dari pasangan yang menurut kisah berasal dari dua wilayah yang tak akur. Aceh Besar dan Pidie. Meskipun kisah itu semestinya patah sejak puluhan tahun. Kedua orang tuaku adalah satu dari sekian banyak pasangan Aceh Besar - Pidie, yang hidup bahagia.

Sejak beberapa tahun lalu aku menetap di Dataran Tinggi Gayo, punya KTP resmi kabupaten. Sehingga resmilah, dikuatkan secara hukum, bahwa aku orang Aceh yang menetap di Tanoh Gayo.
Tertarik mempelajari sejarah, maka bisalah kukatakan.

Suku Gayo memang bukan Suku Aceh.
Aceh telah dihuni manusia sejak zaman Mesolitikum, hal ini dibuktikan dengan keberadaan situs Bukit Kerang yang diklaim sebagai peninggalan zaman tersebut di kabupatenAceh Tamiang. Selain itu pada situs lain yang dinamakan dengan Situs Desa Pangkalan juga telah dilakukan ekskavasi serta berhasil ditemukan artefak peninggalan dari zaman Mesolitikum berupa kapak Sumatralith, fragmen gigi manusia, tulang badak, dan beberapa peralatan sederhana lainnya. Selain di kabupaten Aceh Tamiang, peninggalan kehidupan prasejarah di Aceh juga ditemukan di dataran tinggi Gayo tepatnya di Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang yang terdapat disekitar Danau Laut Tawar. Penemuan situs prasejarah ini mengungkapkan bukti adanya hunian manusia prasejarah yang telah berlangsung disini pada sekitar 7.400 hingga 5.000 tahun yang lalu.
Terdapat juga suku Manteu/Mante, yang merupakan suku asli wilayah Aceh, yang merupakan pemukim asli, jauh sebelum pendatang hadir.
Kenyataan yang banyak dilupakan orang. Provinsi Aceh memiliki banyak suku bangsa asli. Yang terbesar adalah Suku Aceh yang mendiami wilayah pesisir mulai dari Langsa di pesisir timur utara sampai dengan Trumon di pesisir barat selatan. Suku lain nya adalah Suku Gayo, yang mendiami wilayah pegunungan di wilayah tengah Aceh. Selain itu juga dijumpai suku-suku lainnya seperti, Aneuk Jamee di Aceh Selatan, Singkil dan Pakpak di Subulussalam, Singkil dan Alas di Aceh Tenggara, Kluet di Aceh Selatan dan Tamiang di Aceh Tamiang. Di Pulau Simeulue terdapat Suku Sigulai.

'Rasis'nya orang Aceh ke orang Gayo.

Dari sebelum pindah menetap ke Gayo, sampai sudah menetap di Gayo. Berkali-kali juga aku mendengar cerita betapa rasisnya orang Aceh ke orang Gayo. Cerita yang paling mencolok adalah soal bahasa.

"Kalian orang Aceh tidak menghargai kami. Lihat saya kalau bicara, pakai bahasa Aceh dimana-mana, dan ketika kami tak paham, masak kami yang disuruh belajar bahasa Aceh." Begitu kata seorang teman dari Gayo. Menyoal mengenai pengalamannya ketika kuliah di Banda Aceh. Ibu kota provinsi yang kebetulan memang mayoritas dihuni suku Aceh.

Sungguh aku hanya tersenyum saat itu. Seandainya saja dia tahu, alasanku selalu membawa buku dalam tas salah satunya juga masalah bahasa. Aku selalu membawa buku bacaan, sejak lama. Dan kebiasaan itu tetap bertahan ketika aku pindah ke Gayo.

Sederhana saja. Dimana-mana, di wilayah yang mayoritas suku Gayo ini, orangnya berbicara dalam bahasa Gayo, dan aku belum seperti istriku yang sudah paham bahasa Gayo. Jadilah acara kumpul-kumpul seringnya menjadi waktu tersenyum ikut orang tanpa paham apa yang dibicarakan.

Bahkan pernah dalam sebuah kelas mengenai kopi. Ketika itu pematerinya orang Gayo yang ketika tahu aku bukan suku Gayo, dan dengan baik hati menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Sayangnya, ada peserta yang juga (sebenarnya) sering ngopi bersama dan cukup baik pertemanannya denganku, dengan gigih mengarahkan percakapan dalam bahasa Gayo. 

Pemateri mencoba beberapa kali menjawab dengan bahasa Indonesia, tapi tentu tak nyaman, sehingga akhirnya mengalah dan mulai ikut arus. Teman tadi juga beberapa kali bertanya padaku dalam bahasa Gayo, retorika saja karena dia tak pernah menunggu aku menjawab. Faktanya, dia sangat tahu aku tak bisa bahasa Gayo.

Apakah bagiku itu menjadi alasan untuk mengatakan orang Gayo rasis? ah, teman, seribu persen jawabku adalah tidak. Aku sedang berada di Tanoh Gayo, tempat mayoritas sukunya Gayo, dan masyarakatnya juga dominan orang Gayo. Maka wajar bila mereka berbahasa Gayo. Namanya juga sedang di Gayo. Apakah kamu akan mengatakan begitu ketika di Jawa lalu orang bicara bahasa Jawa? Atau bahasa Sunda di Bandung? atau apakah akan marah lalu mengecam ketika pergi ke Inggris, bukan hanya orang sekitar berbahasa Inggris, bukankah kita bahkan di tes untuk bisa berbicara Inggris sampai level tertentu sebelum dinyatakan boleh pergi.

Itu sebab aku selalu membawa buku, untuk dibaca ketika dunia kata dalam percapan disekitarku tak lagi kupahami. Sementara aku sedang belajar bahasa Gayo, selagi belum paham, setidaknya aku bisa menggunakan waktu untuk membaca. Dan aku juga bersyukur, sama seperti di Banda Aceh, di kota Takengon ini pun banyak yang ketika tahu kita tak paham bahasa lokal, dengan baik hati mau beralih ke bahasa Indonesia.

Aku masih bingung dengan kalimat pencurian identitas yang pernah dilontarkan seorang teman. Disebutnya soal kopi Gayo yang dilabeli kopi Aceh, ataupun katanya soal tari Saman yang diklaim oleh Aceh.

Karena setahuku, dalam berbagai even lokal, nasional, maupun internasional. Kopi Gayo selalu berlabel Arabica Gayo. Begitu juga tari Saman.

“Saman” the most popular dance in Aceh and the dance that has become well-known abroad with the name “Thousand hands”. It has its origin from the Alas ethnic group from Gayo plateau central Aceh. Begitu keterangan yang dituliskan di laman Papanidea.

The Saman dance is part of the cultural heritage of the Gayo people of Aceh province in Sumatra. Jelas tertulis di paragraf awal pada situs UNESCO.

Wilayah Kesultanan Aceh, di masa kejayaannya.
sumber. wikipedia
Tari Saman is a traditional Gayonese dance and was created by Sheik Saman in the 14th century (though I have seen sources listing dates from the 13th to the 16th century). Tari means dance in the Gayo language. Saman is obviously taken from Sheik Saman's name. The Gayonese live on the island of Aceh in Indonesia but have their own very distinct culture (and dialect).
Tulis pemilik blog Heissatopia, yang kediamannya sangatlah jauh dari Takengon. Ibu ini menetap di North Carolina, Amerika. Dan dia sepertinya salah paham menyangka Aceh itu adalah pulau.

Mampirlah ke laman milik National Library of Australia, (bisa klik disini), lalu masukkan kata kunci Saman Dance. Akan tampil banyak publikasi, entah itu audio, text, atau video, yang menyebutkan Saman adalah tarian Gayo, di provinsi Aceh. Ya teman, betul. Tak salah baca, Aceh disini adalah provinsi, bukan suku. Sebelumnya bernama Nanggroe Aceh Darussalam, dulunya lagi adalah Daerah Istimewa Aceh, dan jauh sebelumnya bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sebuah federasi yang membentang ke ujung lain Sumatera, hingga ke Malaysia, dan diakui oleh Britania Raya, Kerajaan Portugal, Cina, Ottoman, dan Amerika. Setidaknya begitu yang tercatat dalam sejarah.

Dan data itu akan berubah ketika provinsi ALA terbentuk. Sehingga Tanoh Gayo akan menjadi bagian dari provinsi sendiri, dan biasalah datanya dituliskan sebagai Saman adalah tarian suku Gayo dari Provinsi Leuser Antara. Atau bukan tak mungkin, dengan pertimbangan percepatan pembangunan bisa saja terbentuk Provinsi Gayo.

Masalah politik dan tapal batas ini memang ranah para ahli, bukan aku. Apapun itu, sungguh baik bila berkembang untuk menjadi lebih maju dan berdaya. Dan semoga tak mengulang kesalahan dari sebuah wilayah yang pernah berjanji bila dipegang orang sendiri akan maju. Ternyata memang, angka kemunduran yang maju.

Terlepas dari itu semua, beriringan dengan berbagai upaya memajukan daerah, tak perlulah perpecahan yang di kedepankan. Hal-hal sensitif nan sensasional itu silahkan disimpan saja. Gayo memang bukan Aceh, seperti Sunda bukan Jawa. Dan banyak lainnya. Tapi kita berada di provinsi yang sama. Apakah kalau nama provinsi di ganti lalu beres? Kurasa tidak. Pasti akan ada perbedaan lain yang akan muncul.

Ini wilayah kita tinggali bersama. Di pasar inpres Takengon, berbagai suku berdagang dan belanja bersama. Gayo, Aceh, Padang, Jawa, bahkan Cina, Arab juga ada. Sama-sama berjuang hidup mencari nafkah. Di pasar Aceh, Banda Aceh, pun sama.

Di Tanoh Gayo ini juga kulihat orang muda lintas suku, dengan semangat tinggi mengesampingkan bahwa tak semua mereka bersuku Gayo, tapi semangat membangun daerah ini. Seperti juga di Banda Aceh, yang mengesampingkan suku apa, tapi kerja sama untuk memajukan kota.

Ah, bukan main, tak sadar tulisan ini sudah terlalu panjang. Jadi cukup sampai disini. Sembari urus-urus soal administrasi negara, kita duduk sama saja. Kita kerja bersama, majukan daerah. Janji manis pemerintah negeri sudah terlalu manis, bisa-bisa rakyat terancam diabetes. Hidup sudah cukup parah dan kacau balau dipemerintahan ini, jangan dipersulit lagi. 



Ramadhan hampir selesai, 
belum tentu tahun depan berjumpa lagi.
Amal masih sedikit.
Lalu ketika mati, apa yang akan kita tunjukkan pada Tuhan.

Takengon, 25 Ramadhan 1437 H
30 Juni 2016 M

20 comments:

  1. Yang pasti mereka orang Aceh. Bisa gaduh kalau nanti ada cerita ingin pisah lagi, ingin ada provinsi khusus Gayo. Selama damai masih indah knp mesti diusik.

    ReplyDelete
  2. Aku cinta gayoo. Bundaku lahir di sana, mamiku juga nikah sama orang sana ~ bagiku, Gayo adalah Aceh dan keduanya tanah airku ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya orang aceh yg berkatepe gayo hehehe. Dan yg paling asyik disini ayi, AC 24 jam, gratis. Plus ikan mujair yg segede gaban. :D

      Delete
  3. Orang provinsi Aceh, Bai. Hehehe, itu penting supaya tak ketukar antara suku dan provinsi.

    Pemekaran itu hak, sah aja dicoba. Yg penting setelah mekar ada manfaatnya utk rakyat. Toh masih dalam satu negara.

    ReplyDelete
  4. ketika perbedaan dipermasalahkan..

    Idem bang..mira juga bawa buku klo , buat jaga-jaga kali aja gak ngerti bahasanya. Dulu pernah ngalami pas tinggal sama orang turki dan gak ada yg mau pake bahasa inggris, rasanya muak kali, malas ngumpul2.. by the time.. biar lah.. aku baca buku aja :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, ngerti rasanya kan. Balik ke kitanya aja lagi

      Delete
    2. Hehehe, ngerti rasanya kan. Balik ke kitanya aja lagi

      Delete
  5. Postingan yang menarik bang, memang hal yang sensitif, apalagi kayak hijrah, orang Aceh yang bertampang Jawa, jadi ya harus menikmati dan mensyukuri, tinggal bagaimana kita saling menghargai perbedaan yang sebenarnya rahmad dari Allah 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bagian orang aceh bertampang jawa itu saya ngerti betul gimana rasanya. Pernah dapat bogem pas rusuh referendum, sama oknum provokator yg menebar benci ke suku jawa. T_T

      Delete
  6. Aceh dan Gayo bukan soal suku ini dan itu. Tapi Aceh dan Gayo adalah dua hal yang menjadi bagian dari kebersamaan masyarakat kita disini. Ah, kok jadi pengen ke Takengon lagi ya hehe

    ReplyDelete
  7. Tulisan curhat yang bijaksana.. Sekarang yudi benar2 yakin.. Kalo sayid fadhil is back!! Senang rasanya hikayatbanda tersalip sempurna ����

    ReplyDelete
  8. ACEH
    "Kami aceh bukan gayo tig al di provinsi aceh harus bisa bahasa aceh..........!!"
    Apa pendapat anda?

    GAYO
    "Gayo bukan aceh"
    Benar atau salah pendapat anda?

    Mengapa gayo lebih mauan di bilang orng sumatra di bandi orng aceh?
    Ya jelas gayo mauan di blng orang sumatra di banding Orang aceh, itu semua di karenakan suku aceh klem daerah. Alias nama suku di jadikan nama provinsi.
    Cocok di rasa?
    Ambil 1 contah sumatra utara klok di ganti menjadi provinsi batak. Pasti ujung2 nya KAMI KARO BUKAN BATAK.
    Moga x an paham mksud nya

    ReplyDelete
  9. Hehehe mulai lagi.

    Semua pendapat saya secara umum sudah ada ditulisan di atas. Baca aja.

    ReplyDelete
  10. Jadi mengerti perbedaannya. Tulisannya cerdas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, mohon kritik dan saran. Masih belajar utk menulis yg baik dan bermanfaat :)

      Delete
  11. Orang banyak salah kaprah emang bg ya. Sama seperti suku aneuk jame, mereka juga bukan Aceh. Tapi gayo, aneuk jamee kluet, dll adalah penduduk aceh. Jawa pun yang ber ktp aceh tetaplah penduduk aceh. Mungkin bahasa saja yang harus diperjelas ya. Orang aceh itu artinya suku aceh, penduduk aceh artinya semua org yang berktp aceh

    ReplyDelete
  12. Yang tulis ini Sialan and bodoh, jangan bawa nama suku, gak semua orang aceh itu racist, saya Anak aceh, Istri saya orang Gayo, Banyak Saudara saya orang Gayo, saya cinta setiap suku di aceh, se indonesia, maunya kita berpikir positif, orang gayo dari zaman dulu memang udah ada, orang Gayo punya hati yang mulia, ketika jaman Perang, di jaman T-umar juga cut nyak dhien orang Gayo yang supply makanan, juga ketika banda aceh kena musibah tsunami, Orang Gayo supply makanan n sayur, smg allah menyatukan semua suku, jangan kita terpisah di karnakan segelintir orang yang ber suku aceh atau suku lain yg gak punya gak punya otak, sekali lagi gak semua suku aceh punya pikiran yg sama. Mari Bersatu and berdoa bersama semoga Allah memberkati kita dengan kemuliaan dan unity. Banyak Suku di aceh, kita itu satu propinsi, di medan juga banyak suku, di Padang, Irian Jaya, tetap di pangging orang irian bukan orang dayak, tapi sukunya Dayak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa membaca bang? Kalau bisa, coba diulang baca lagi. Dimananya saya rasis?

      Baca yang bagus deh bang. Kalau belum paham makna tulisan ini, bisa didiskusikan sama yg lebih pintar membacanya.

      Delete
  13. Menurut saya, seharusnya org Gayo harus bisa bhsa Aceh krna Gayo ada di wilayah provinsi aceh,org Aceh TDK harus berbahasa Gayo krna Gayo adlah suku bukan provinsi , namun mereka jgn merasa terasing dgn sukunya,Aceh tetap menerima Gayo merupakan bagian dari aceh,, mohon utk org Gayo TDK mengasingkan diri dari org aceh.. jangan ada dusta diantara kita

    ReplyDelete
  14. Walaupun beda adat dan budaya tapi gayo tetap aceh juga.gayo dan aceh tak pisa di pisahkan. Bagaikan saudara kembar. I love aceh i love gayo. Semoga rahmat allah beserta kita semua wahai bangsa aceh lon sayang. Amin

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search