Post Ad Area

Post Home Style

Thursday, June 16, 2016

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid. Kata yang menjadi headline di berbagai media asing. Isinya kurang lebih sama, tentang betapa intolerannya Indonesia, dan dianggap  melakukan serangan terhadap pedagang kecil yang berjualan di bulan ramadhan. Membuka laman twitterku yang lama terbengkalai, topik ini juga mencuat.

Pemberitaan dengan label Ramadan Raid, ada yang menuliskan juga Ramadhan Raid. Bagiku adalah pembuktian betapa besarnya islamophobia di dunia. Luar biasa sebuah kejadian di kota Serang, tiba-tiba menjadi 'headline' di berbagai media internasional.

Uniknya lagi. Untuk kesekian kalinya kutemukan ada ketimpangan di media. Yang begitu mudah memberikan label buruk terhadap Islam, bila terjadi satu hal yang bersinggungan dengan umat Islam.

Aku contohkan di sini teman. Judul berita saja. kalau ada kejadian perkosaan, dan pelakunya seorang pemuda yang di KTPnya tertulis beragama Islam, seketika judulnya kurang lebih menjadi Pemuda Muslim memperkosa seorang gadis. Tapi kalau non muslim, nah unsur agamanya hilang, Oknum pemuda pengangguran memperkosa seorang gadis. Untung tidak semua media begitu.

Kita skip saja bagian itu. Karena bagiku, hal yang lebih menarik, adalah ketika gencarnya kritikan terhadap peraturan yang melarang warung makan atau restoran berjualan di siang hari selama ramadhan, tidak disertai kritikan terhadap pelarangan berjualan saat hari minggu yang sudah lama diterapkan di Papua.

Ketua Dewan Adat Kabupaten Paniai, Papua, Jhon Gobai, membenarkan ada pelarangan bagi masyarakat, terutama pedagang yang ada di daerah beribu kota Enarotali itu untuk menghentikan aktivitas berdagang pada hari Minggu. (Media Indonesia)

Kepada Media Indonesia, kemarin, Jhon menuturkan pelarangan tercantum dalam Instruksi Bupati Paniai Hengky Kayame yang terbit tahun lalu. “Rencananya akan dibuat menjadi perda,” sebut Jhon.
Jhon menjelaskan larangan itu bermula dari banyaknya para pedagang asli Papua di sana yang tidak beribadah hari Minggu dan memilih tetap berdagang.
Sebelas dua belas dengan alasan kenapa banyak daerah yang mayoritas muslim menetapkan larangan bagi warung makan atau restoran untuk buka selama siang hari di bulan ramadhan. Untuk tidak memfasilitasi para penganut 'islam ktp atau muslim abal-abal' yang tidak berpuasa, dan menghormati ibadah puasa ramadahan yang juga salah satu dari rukun Islam.

Aku pribadi tidak mendukung perlakuan seperti penyitaan makanan yang dilakukan terhadap bu Saeni. Perempuan yang foto menangisnya beredar kemana-mana. Pemilik warung makan yang dirazia petugas daerah. Tapi disisi lain aku tidak bisa mengatakan bahwa peraturan pelarangan warung makan buka di siang hari itu salah.

Betul memang, iman umat Islam tidak selemah itu, sampai tergoda hanya gara-gara ada warung makan buka. Lagipula, kenyataan yang banyak orang lupakan, toko kelontong, supermarket, mall, tetap buka. Orang masih bisa membeli makanan lalu makan di rumah, kalau dia memang tak mau berpuasa.

Ku contohkan saja di Aceh, kampung halamanku yang sering jadi korban hoax dan berita jelek, yang rata-rata digulirkan oleh mereka yang bahkan belum pernah ke Aceh.

Sejak lama di Aceh sudah diterapkan larangan warung makan dan kerabatnya untuk buka di siang hari. Ingat, di siang hari. Malamnya mereka bebas berjualan sampai sahur. Kenapa dilarang? Ah, seperti kutuliskan tadi, selain menghormati ibdah puasa, sudah tradisi, juga agar tidak memudahkan bagi para penganut 'islam ktp' itu untuk tidak berpuasa dan makan sesukanya. 

Apakah mereka yang mengaku muslim, tapi tidak mau berpuasa itu masih pantas dianggap muslim lalu tak bisa makan? Kenyataannya mereka masih bisa membeli beragam bahan makanan, dan makan di rumahnya. 

Di bagian ini mungkin ada yang akan mengatakan, sia-sia dong. Tidak juga, mereka setidaknya harus berusaha, dan tidak bisa mengabaikan agamanya dengan gampang. Setidaknya mereka tidak dipermudah. Dan dididik untuk menghargai orang lain yang berpuasa. Banyak muslim yang masih menghormati agamanya, tidak seperti mereka.

Lalu bagimana dengan non muslim. Sebelumnya jangan lupakan bahwa supermarket, warung kelontong, masih buka. Di sisi lain, sebenarnya pemerintah memberikan ruang toleransi juga. Banyak warung makan yang tidak membolehkan makan di tempat, tapi masih membuka pintu untuk pembeli yang take away. Meskipun banyak juga pemilik warung yang akan bertanya soal agama apa bila pembelinya terlihat seperti bukan non muslim.Pengusaha rantangan juga tetap memasak dan mengantarkan makanan bagi pelanggan non muslim di siang hari.

Bahkan seorang teman, keturunan cina, mengatakan bulan ramadhan adalah bulan ketika omset kue dagangannya meningkat sampai dua kali lipat. Sudah umum diketahui, bahwa berdagang bahan makanan di Aceh harus memenuhi unsur halal. Dan banyak teman non muslim yang buka usaha makanan, dengan senang hati mengikuti aturan itu, lagi pula pelanggannya rata-rata muslim. Maklum, Aceh mayoritas muslim.

Hal lain yang menarik perhatianku adalah mengenai cerita selanjutnya ibu Saeni.

Aku tersenyum membaca berita bahwa ia akan pergi umroh. Karena kisahnya yang mengetuk hati netizen, ia mendapat donasi dana yang cukup besar. Beritanya bisa dibaca di sini

Entah bagaimana pandanganmu, teman. Kisah ibu Saeni ini bagiku malah bukti bahwa Tuhan itu selalu punya cara untuk menerapkan kebijakan bagi hambaNya.
Bisa jadi itu rezeki atau hukuman dengan jalan tak disangka, lewat jalur memutar melalui peraturan kota Serang, sikap para petugas yang merazia, terbuka jalan untuk ibu Saeni 'memperbaiki' hidupnya.

Atau mungkin cara bagi bangsa ini untuk melihat bahwa ada banyak aspek yang mempengaruhi sebuah kejadian. Bisa jadi apa yang terlihat tak sama dengan yang sebenarnya.

Seperti juga ketika kita kecopetan. Bisa saja itu cara untuk mengeluarkan 'yang tidak baik' dari rejeki kita atau malah hukuman untuk kita. Apapun itu, ini penutup yang menarik untuk kehebohan di media ini.

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh
Source. https://m.tempo.co






4 comments:

  1. Sekarang mulai terkuak satu persatu. Saya juga baca Satpol PP Serang menjalankan Perda. Sikap mrka ambil dagangan bukan anarkis tetapi sebagai barang bukti. Ibu itu diminta ambil kembali pukil 4 sore tetapi tidak diindahkannya.

    ReplyDelete
  2. Begitulah Bai. Twist dalam pemberitaan kadang membingungkan kita. :)

    ReplyDelete
  3. Dunya tibalik kata urang sunda mah, ketika makna intoleransi semakin bias maka yang hak dan yang batil jadi bercampur aduk,

    ReplyDelete
  4. Dan yang menyedihkan, Ihan. Ketika empati orang dijadikan permainan, akan terbentuk rasa kecewa, lalu berujung pada keengganan utk berempati dan sulit mempercayai orang lain.

    Atau memang jangan2 itu misinya. Membentuk generasi yg tdk saling percaya dan terpecah belah.

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search