Thursday, April 27, 2017

Berdiri di Tapak Kaki Orang Lain



Dengan cukup beringas, dilontarkannya nama salah satu hewan yang diharamkan dalam Islam, untuk saya.

Saat itu kami berada di ruang dosen. Sekitar tahun 2006, sebelas tahun lalu. Dan sedang di tengah-tengah perdebatan mengenai ospek jurusan.


Sebagai salah satu senior, mahasiswa angkatan pertama, sedang berjuang agar tidak di D.O, dan memburu selesaikan skripsi yang sempat merayakan ulang tahunnya yang kedua. Adik-adik leting meminta saya untuk turut bicara, memuluskan jalan agar kegiatan tahunan itu bisa dibolehkan.

Saya datang, tentu saja. Tapi sebenarnya bimbang. Saya termasuk yang menganggap acara itu bermanfaat dengan syarat tidak dibelokkan jadi ajang plonco anak baru. Tapi disisi lain berseberangan dengan para dosen, saat itu bukan hal ideal. Bukan karena sebagian besar dosen muda adalah kawan seangkatan. (trust me, man. Its hurt). Ingat, kata kuncinya adalah: D.O dan Sidang Skripsi.

Terjebak. Kawan atau skripsi. Jawabannya jelas, skripsi. Tapi bukan berarti mengorbankan kawan. Jalan tengah harus dipikirkan. Dan saat itu, ide yang terbetik kesannya sangat ideal. Terlebih saya yakin dengan wawasan mereka sebagai mahasiswa. Intelektual dan aktivis kampus.

"... jadi apa manfaat kegiatan ini? Ada gunanya? Atau paling cuma kegiatan plonco-plonco aja?"

Pertanyaan yang dipikirkan sebaik mungkin. Tak menunjukkan keberpihakan, tidak bertentangan dengan dosen (yang sangat riskan dengan status terancam D O ini), tapi disaat yang sama memberikan kesempatan panitia dari himpunan mahasiswa untuk menjelaskan tujuan dan manfaat kegiatan mereka.

"Ah, guk-guk lah kau bang." Yang terjadi sebaliknya. Lebih panjang dari yang saya tuliskan, dan lebih berhias nama-nama hewan yang diharamkan tapi tentu saja tidak etis dituliskan. Ini saja sudah diperhalus.

Teman-teman senior yang lain pun terlihat marah, bahkan saya digiring keluar. Seketika seolah menjadi musuh bersama.

Terus terang, saya bukan abang leting yang dekat dengan mereka. Lebih banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk siaran dan backpacker. Tapi saat nyata-nyata diacuhkan berhari-hari setelahnya, itu bukan hal yang menyenangkan. Walaupun hanya satu dua, tidak banyak namun sangat membuat tidak nyaman. Apalagi bila terjadi di tengah keramaian.

Sebelas tahun setelahnya, saya masih terganggu dengan kejadian itu. Bukan pada orangnya, tapi pada fakta bahwa terjadi miskomunikasi itu. Mereka secara akademis jauh lebih cerdas dari saya. Rata-rata IPK mereka 3 ke atas. Tapi hari itu saya kecewa mengapa mereka tidak bisa mengerti maksud saya. Juga kenapa mereka seolah tak peduli bahwa saat itu saya harus memilih dan mengutamakan skripsi yang terancam.

Always put yourself in others' shoes. If you feel that it hurts you, it probably hurts the other person, too.

Selama ini terus terang saya berpikir seperti itu. Kenapa mereka tidak mau menempatkan diri mereka di posisi saya.

Sampai akhir-akhir ini saya berpikir sebaliknya, mungkin saya yang seharusnya menempatkan diri di posisi mereka.

Sering sekali kita memposisikan diri sebagai korban, tanpa mau melihat mungkin orang lain juga di tempat yang sama dengan apa yang yang kita rasakan.

Saya merasa saat itu saya memberi peluang untuk mereka menjelaskan, dengan tidak mengorbankan skripsi saya, tapi bisa jadi komunikasi yang saya anggap benar ternyata salah. Saya tidak tahu bagaimana beban mereka saat itu, bisa jadi ada masalah di HMJ atau problem di rumah, atau masalah hati, atau ini itu dan banyak atau-atau yang lainnya. Who knows? 

Hal yang sama bisa berarti beda, dalam keadaan yang berbeda. Senyum yang berarti menghibur bisa dianggap meremehkan bila suasana hati sedang tidak bersahabat.

Dan setelah dipikir-pikir, ada hal-hal yang memang tidak bisa diselesaikan. Bertahun-tahun saya merasakan pertentangan yang dipicu kejadian itu selalu menggantung dan muncul. Dalam reuni, pertemuan, ada rasa tidak nyaman. Bahkan beberapa dari mereka masih memposisikan saya seakan tidak pantas jadi bagian kelompok alumni, olok-olok yang dengan cepat muncul setiap ada peluang. Mereka memang hanya segelintir, tapi selama ini terasa mengganggu kenyamanan.

Mungkin pengaruh umur, pengalaman, tapi saya mulai berpikir itu hal bodoh. Setelah sekian lama mencoba memperbaiki kesalahpahaman, berhasil tidak berhasil,  seharusnya itu cukup.

Ada hal yang tidak bisa diperbaiki, dan memang harusnya ditinggalkan seperti apa adanya.

Kalau dijadikan sejenis kata-kata bijak, mungkin kalimatnya begini.

Kita terlalu fokus pada satu orang yang membenci kita, sehingga melupakan sembilan puluh sembilan orang lainnya yang baik dengan kita.

Sudah, itu saja. Dan anggap saja ini fiksi.

Start typing and press Enter to search