Friday, February 4, 2011

Lahirnya Trainer Nasi Bungkus

Menjadi seorang 'Trainer' tidak pernah ada dalam GBIH (Garis-garis Besar Impian Hidup) saya. Hanya kebetulan yang mengantarkan saya berkenalan dengan dunia bicara.
Namun seiring putaran sebelas tahun (sejak thn.1998), garis nasip selalu melengkung mempertemukan saya dengan 'Dunia Bicara'. Awalnya menjadi penyiar radio, sedikit meningkat kemudian sebagai script writer, lalu menjadi HRD, dan akhirnya sebagai Station Manager :). Lalu berkenalan pula dengan dunia MLM, dimana saya semakin terpesona dengan kekuatan presentasi.
Sebelum itu memang sejak 2001 saya sudah cukup sering diminta mengisi 'materi' yang waktu itu masih campur aduk, motivasi, manajemen diri, organisasi, dan macam-macam (bahkan termasuk mengenai pernikahan!! saya belum menikah saat itu, dan sampai hari ini masih belum berhasil mengingat siapa yg meminta saya jadi pemateri) Semakin sering menjadi pemateri, semakin sering pula berinteraksi dengan buku2 motivasi, dan sejenisnya. Hal yang semakin membuka wawasan dan tentu saja menggelitik ketertarikan pada dunia 'Training.'
Hingga akhirnya tahun 2006, dengan modal optimis dan idealisme jadilah berdiri sebuah komunitas, La Tahzan Community. Jadi juga akhirnya secara resmi saya jadi trainer :)
Hahaha, tanpa sertifikat ini itu, modal berbagi dan keinginan berbagi (Idealisme Tinggi Mode: On)
Banyak pengalamanm yang menarik dan lucu. Dan salah satunya menjadi 'ide untuk nama blog ini'.
Waktu itu saya sedang menikmati hari kosong tanpa kegiatan. Bangun pagi (setelah perpanjangan waktu ba'da melaksanakan shalat subuh) jam 9 pagi. Bengong, belum mandi, bau naga. Lalu tiba-tiba HP berbunyi membawa panggilan S.O.S dari seorang guru, teman waktu kuliah, yang panik karena Trainer yg diundang mendadak batal hadir, karena ada rapat pejabat daerah (kebetulan trainernya juga pejabat daerah).
Dan, waktu untuk melaksanakan training hanya tinggal 20 menit lagi. Pilihan yg tersedia cuma 1 (dari teman saya itu), "Bantu, atau ga' usah kenal lagi."
Tak punya pilihan, berangkatlah saya.
10 menit, mandi koboi, ngopi sambil lari, sepotong bakwan. 10 menit ngebut dijalan. Memang terlambat sih, 7 menit dari waktu yang ditentukan. Mengisi dengan materi (tanpa persiapan), nekat memang. Tapi bersyukur juga, ternyata kebiasan membaca sangat membantu.
Konyolnya, dipertengahan acara mendadak 'trainer yg batal' itu muncul. Jadilah panitia kebingungan karena katanya dia di hubungi oleh salah seorang guru. Trainingnya memang disekolah, untuk guru, dan di panitiai oleh guru. Akhirnya diambil jalan tengah, setengah sesi di isi beliau.
Tidak profesional memang, tapi namanya juga 'Training Seadanya" hehe. Panitia dan penyelenggara memang bukan dari kalangan profesional. Hanya modal ingin belajar saja.
Nah, bukan hanya itu saja ternyata, usai training, eh terjadi konflik dengan 'beliau' masalah standar biaya, secara tidak ada kontrak tapi kesepakatan lisan saja, jadilah kacau. Akhirnya saya mengalah dengan meminta panitia membayar beliau saja. Tapi panitia yg merasa tidak nyaman, bersikukuh ingin membayar. Sebagai jalan tengah, saya ambil satu nasi bungkus.
" Ini saja deh, kebetulan saya tadi tidak sempat sarapan."
Nah, ceritanya stop disini, kejadian selanjutnya cuma basa basi yang basi betul.
Singkat cerita, seminggu kemudian saya sedang belanja disebuah supermarket (ehmm saya tinggal diBanda Aceh, ga' ada Mall). Tiba-tiba seorang muslimah berjilbab lebar menyapa saya.
" Aslm, ini pak Fadhil kan? yang Trainer Nasi Bungkus kemarin itu kan "
Dhuuoooooooooonngggg!! (efek bunyi gong)
Trainer Nasi Bungkus? Awalnya saya bengong, tapi setelah itu tanpa bisa saya tahan tawa saya meledak.

Hehehe, begitulah istilah itu muncul. Mungkin sebahagian orang akan menganggap itu penghinaan, tapi saya suka, itu panggilan unik. Dan bagi saya, realistis. Saya memang bukan Tung Desem Waringin, Andri Wongso, Reza M. Syarief, ataupun Ari Ginanjar Agustian. Dan jelas bukan Anthony Robin :) Saya memang pernah dibayar jutaan rupiah, namun juga tak jarang hanya permintaan tolong, yang dikompensasi dengan 'uang pulsa' setara 4-8 nasi bungkus(tergantung lauknya hehehe). Jadi biarlah, panggilan ini menarik sekaligus pengingat. Saya bukan manusia sempurna, berasal dari bawah. Ilmu yang saya punya hanya titipan Allah, yg kelak penggunaannya harus dipertangung jawabkan.

Jadi izinkan saya memperkenalkan pada hadirin sekalian..
Kita sambut TRAINER kita!!
Seorang Ayah, mencintai istri dan anak-anaknya.
Lulus dari Fakultas Pertanian, namun berkiprah dibidang 'Berbicara'
a Communication Development Trainer.
Sang Trainer Nasi Bungkus!!!

Note:
Whahahahahahahahahahahahahahahaha
Saya beneran ketawa ngakak waktu menuliskannya :)
But, senang bisa berkenalan denganmu, kawan.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search