Post Ad Area

Post Home Style

Friday, October 28, 2016

Karena Anti Mainstream Sudah Mainstream

Karena Anti Mainstream Sudah Mainstream

Anti Mainstream. Gaya melawan arus. Jadi berbeda. Pilihan sikap yang dalam satu dekade terakhir ini kulihat semakin banyak dipilih. Sayangnya banyak yang tak paham, maka lahirlah generasi egois yang berlindung dibalik kata saya punya hak untuk berbeda.

Wednesday, October 19, 2016

Little Zap Pengingat Kecil dari Tuhan.



Tak jarang kita menghadapi hal yang sudah sangat sering kita kerjakan. Bidang yang kita punya pengalaman bertahun-tahun di’dalam’nya. Kerjaan yang kita merasa sudah sangat yakin pada kapasitas diri, sehingga benak kita menyiapkan nyaris segala kemungkinan untuk hampir segala skenario. Dan zaaap, Tuhan menegur kita. Mengingatkan betapa kecilnya kita. Betapa lemah dan tak berdayanya mahluk bernama manusia ini dalam perhitungan probabilitas yang melibatkan semesta raya milik Illahi.

Friday, October 7, 2016

Cina Kafir Dan Intolerannya Islam

Old Rusty House

Cina itu kafir, dan  itu karena Islam Intoleran Lagi dan untuk kesekian kalinya kutemukan cerita sejenis itu di laman jejaring sosial. Seorang perempuan yang merasa tersinggung, karena perempuan lain yang kebetulan seorang muslimah menolak bersalaman dengannya. Seketika, ungkapan bernada serupa, yaitu agama Islam adalah agama intoleran bertaburan di kolom komentar.

Friday, September 2, 2016

Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata.

Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata.

Merasa jenuh menulis. Ada banyak yang ingin dituliskan, namun ketika berhadapan dengan laptop -- atau jendela new post di blog -- kata yang sudah bergumpal mendadak kaku mengeras dan macet. Tersangkut dalam pikiran yang tanpa sebab mati suri.

Lain waktu, karena mendengar kisah nan insipratif dari para penulis motivator inspirator karburator, yang mencerahkan hati dan jiwa raga, dengan anjuran indah cerdas mempesona, agar selalu membawa-bawa buku catatan.

Tuliskan saja, kata mereka. Ketika kelebat ide itu melintas, tuliskan. Jangan ditunda-tunda, tumpahkan segala kata demi kata menjadi kalimat. Nasihat indah dan menawan. Tidak sia-sia mereka menempuh pendidikan bertahun-tahun, mengoleksi beragam buku dengan nama penulis yang menyebutkannya saja butuh ilmu atau alamat salah sebut, serta terkilir lidah.

Dan yang terjadi ...

Wednesday, August 31, 2016

Kayla dan Mimpi-mimpi Nana.



Dari sekian banyak pertanyaan yang seharusnya aku ajukan. Tapi aku memilih pertanyaan ini. "Kay, ini siapa? Nana tanpa sebab pernah mengirimkan foto ini, dan seorang teman menunjukkan bahwa itu bukan Nana. Mirip tapi bukan."

Kayla melirik foto itu, aku tidak tahu apakah dia tersenyum di balik cadarnya. Tapi sesaat kemudian Kayla menggelengkan kepalanya. "Itu memang bukan Nana." Ujarnya pelan.

Thursday, August 25, 2016

Masjid Peminta-minta.


Sudah terlalu sering, hingga menjadi biasa. Melintas di depan masjid, ada dua bangku dengan sosok berwajah lelah, satu di ujung sini, yg lain di ujung sana. Menadah tangan meminta helai keping rupiah. Untuk masjid.

Memalukan.

Saturday, August 20, 2016

Karena Jay



Seberapa banyak yang akan menangis kalau aku mati. Pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban sejak beberapa bulan kemarin. Tepatnya sejak penguburan Jay, seratus dua belas hari sembilan jam tiga puluh empat menit lalu.

Saat itu hanya ada pak imam, Fauzi dan Itok yang satu kos dengan Jay, sebelas orang yang tidak aku kenal, tiga pekerja gali kubur, dan Bu Lina, staf kantor tempat Jay bekerja. Lalu aku. Berdiri mengelilingi gundukan tanah yang masih lembab.

Start typing and press Enter to search