Post Ad Area

Post Home Style

Friday, June 17, 2016

Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Inginnya menuliskan catatan perjalanan yang memukau. Tapi kenyataannya, perjalanan terjauh yang bisa dilakukan hanyalah sebatas kota sendiri. Perjalanan rutin yang ada adalah rumah, pasar, dan warung kopi.

Jangan ditanyakan seperti apa iri hati ketika membaca blog teman-teman. Hari ini perjalanan ke Borobudur, kemarin menjelajah ke teluk pesisir nan menawan, kemarin dulunya senyum manis di depan gedung opera Sydney yang melegenda. Walaupun sudah lama, setahun dua tahun lalu, teman yang lain menceritakan perjalanannya ke Italy. Pose cantik di depan colosseum, di pusat kota Roma. Senyum cerah saat menaiki gondola di Grand Canal Venesia, setelah sebelumnya selfie di depan Piazza San Marco dan Saint Mark's Basilica.

Thursday, June 16, 2016

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid. Kata yang menjadi headline di berbagai media asing. Isinya kurang lebih sama, tentang betapa intolerannya Indonesia, dan dianggap  melakukan serangan terhadap pedagang kecil yang berjualan di bulan ramadhan. Membuka laman twitterku yang lama terbengkalai, topik ini juga mencuat.

Pemberitaan dengan label Ramadan Raid, ada yang menuliskan juga Ramadhan Raid. Bagiku adalah pembuktian betapa besarnya islamophobia di dunia. Luar biasa sebuah kejadian di kota Serang, tiba-tiba menjadi 'headline' di berbagai media internasional.

Tuesday, June 7, 2016

Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Kami hanya sekadar satu meja, bukannya duduk bersama. Kurang lebih begitu, kalimat yang ku sampaikan untuk menjawab tanya mengapa sebuah 'komunitas' wisata yang aku sering hadiri ajang kumpul-kumpulnya, belum menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Narasi singkat tadi. Juga jawaban untuk tanya lain. Soal mengapa komunitas itu tak kunjung meluncurkan satu program pun.

Dan itu, kalimat tadi, adalah hal yang nyris terlalu sering aku temukan.

Wednesday, June 1, 2016

Dilema Bunda, Syariat Islam, dan Gaya Hidup.



Walaupun tidak terlalu membahana, tapi sejak kemarin aku memperhatikan nama bunda Illiza naik dalam traffic percakapan dunia maya. Sederhana saja, karena bunda nonton bioskop. Hal yang sebenarnya umum dilakukan banyak orang. Tapi jadi satu hal yang 'salah' saat kenyataannya bunda adalah walikota kota Banda Aceh. Sama seperti kota lainnya di Aceh, sampai saat ini bioskop masih menjadi hal yang dilarang.

Bersama pak Sandiaga Uno dan Istri juga pak Sabri Badruddin dan T Iqbal Djohan (anggota DPRK Banda Aceh). Begitu, ku baca di akun instagram bunda. Kalau tak salah dari dua partai nasional keduanya. Melirik keterangan waktu, diunggahnya pagi ini. Kalau mereka memang ikut nonton, nah ini dia. Pahit memang. Sikap yang menyakiti hati rakyat yang dilarang punya bioskop, tapi para pengambil kebijakannya malah bersikap sebaliknya. Ingat ini soal kebijakan dan sikapnya, bukan soal bioskopnya, kawan. Pembuat peraturan itu mestinya orang pertama yang menjalankan aturan.

Tuesday, May 31, 2016

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop



Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.

Tuesday, May 24, 2016

Just doing my best

First of all. Ini pertama kalinya aku membuat post menggunakan ponsel. Sederhana saja, laptop semakin sering mengulah, dan meskipun hanya menggunakan ponsel jadul, aku ingin tetap bisa menuliskan pikiran dalam benak yg sembrawut ini.

Aku bukan blogger aktif. Nilai yg diberikan alexa bagi blogku pun terbilang tinggi (dan dalam dunia blog itu jelek hahaha).Terakhir kalinya aku melihat, sepertinya di angka 6 jutaan menuju 7. Sebenarnya itu tidak jadi soal. Sejak dulu mulai menulis di friendster, kemudian multiply, aku menulis hanya karena ingin menulis. Trafic, rank, payrate, SEO, sampai sekarang masih jadi 'dunia lain' bagiku.

Menginstal blogger apps ini pun semata karena sering ketika aku punya ide membuat tulisan, tapi laptop tak menyala, atau memang aku tak sedang dekat dengan laptop.
Masalahnya, aku penulis bergenre moody, sehingga ketika laptop ditangan, ide tulisan sudah terbang entah kemana. Sedangkan ponsel selalu ada di dekatku. Entah itu di saku atau dalam tas.

Hal yang sedang mengisi pikiranku adalah tentang troll dalam kehidupan. Term yg kugunakan sebagai bentuk adaptif dari istilah Internet Troll. Para pencela yang dikategorikan sebagai predator dlm dunia maya, dalam sosial media.

Yang mengintai di wall sosmed, mencari korban, lalu mencela, meneror, bahkan menyerang. Mereka menghancurkan target dengan mencela, menghina, merendahkan, memprovokasi, dan tak jarang (pada akhirnya) menghancurkan kehidupan targetnya.

Kenyataannya, aku menemukan troll yg nyata, yang hidup.
Aku melihat dengan mata sendiri, bagaimana mereka menjadi perusak.

Mereka dgn cermat menebarkan perpecahan. Menghacurkan usaha orang-orang yg ingin melakukan perubahan. Dengan ringan mengatakan ...

"Yang kamu lakukan itu, sudah pernah kami lakukan. Sia-sia, tak berguna, orang di sini memang bebal, tak bisa kita ubah."

Atau ...

"Kapasitas kamu apa? Dgn keadaan kamu yang cuma akademisnya buruk, apa yg bisa kamu buat. Demi kebaikan kamu, berhenti ajalah, yang ada malu nanti."

Selalu dgn cepat menjatuhkan semangat, dengan cerdas menemukan sepuluh dua puluh keburukan untuk setiap satu hal baik yg ingin dilakukan orang lain. Selalu menemukan cara utk mencela.

Para predator...atau lebih cocok di anggap seperti dementor. Mahluk yg hidup dengan memakan kebahagiaan orang lain, memakan semangat hidup orang lain.

Di kehidupan nyata ini, bukan kisah Harry Potter, tempat para dementor hidup. Bukan dunia yg punya mantra penghasil patronus yang bisa mengusir dementor.

Dalam kehidupan nyata tidak segampang itu.

Hal termudah yang bisa dilakukan di dunia nyata, hanyalah bertahan melakukan yang bisa dilakukann. Just do your best. Berhenti berharap akan ada orang lain yang menyelesaikan. Yakin saja, hanya Tuhan dan diri kita.

Just do your best. Setelah itu berserah saja pada Tuhan.

Thursday, May 19, 2016

Muniru, Sesaat Dalam Pelukan Kehangatan.



Aroma yang membumbung mengangkasa, gemeretak kayu yang berderak dalam pelukan api, dan kehangatan yang mengapung mengisi udara malam di pegunungan Dataran Tinggi Gayo.

Mendekat ke api unggun yang menyala, seolah keluar dari danau yang dingin lalu membenamkan setengah badan dalam kolam porselen berisi air hangat. Ada kenyamanan yang melegakan. Bukan sebatas kenyamanan fisik, tapi melegakan sampai ke dalam jiwa.

Sulit menjelaskannya. Tapi begitulah adanya. Kenyataan yang melingkupi api unggun.

Start typing and press Enter to search