Post Ad Area

Post Home Style

Tuesday, May 31, 2016

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop



Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.

Tuesday, May 24, 2016

Just doing my best

First of all. Ini pertama kalinya aku membuat post menggunakan ponsel. Sederhana saja, laptop semakin sering mengulah, dan meskipun hanya menggunakan ponsel jadul, aku ingin tetap bisa menuliskan pikiran dalam benak yg sembrawut ini.

Aku bukan blogger aktif. Nilai yg diberikan alexa bagi blogku pun terbilang tinggi (dan dalam dunia blog itu jelek hahaha).Terakhir kalinya aku melihat, sepertinya di angka 6 jutaan menuju 7. Sebenarnya itu tidak jadi soal. Sejak dulu mulai menulis di friendster, kemudian multiply, aku menulis hanya karena ingin menulis. Trafic, rank, payrate, SEO, sampai sekarang masih jadi 'dunia lain' bagiku.

Menginstal blogger apps ini pun semata karena sering ketika aku punya ide membuat tulisan, tapi laptop tak menyala, atau memang aku tak sedang dekat dengan laptop.
Masalahnya, aku penulis bergenre moody, sehingga ketika laptop ditangan, ide tulisan sudah terbang entah kemana. Sedangkan ponsel selalu ada di dekatku. Entah itu di saku atau dalam tas.

Hal yang sedang mengisi pikiranku adalah tentang troll dalam kehidupan. Term yg kugunakan sebagai bentuk adaptif dari istilah Internet Troll. Para pencela yang dikategorikan sebagai predator dlm dunia maya, dalam sosial media.

Yang mengintai di wall sosmed, mencari korban, lalu mencela, meneror, bahkan menyerang. Mereka menghancurkan target dengan mencela, menghina, merendahkan, memprovokasi, dan tak jarang (pada akhirnya) menghancurkan kehidupan targetnya.

Kenyataannya, aku menemukan troll yg nyata, yang hidup.
Aku melihat dengan mata sendiri, bagaimana mereka menjadi perusak.

Mereka dgn cermat menebarkan perpecahan. Menghacurkan usaha orang-orang yg ingin melakukan perubahan. Dengan ringan mengatakan ...

"Yang kamu lakukan itu, sudah pernah kami lakukan. Sia-sia, tak berguna, orang di sini memang bebal, tak bisa kita ubah."

Atau ...

"Kapasitas kamu apa? Dgn keadaan kamu yang cuma akademisnya buruk, apa yg bisa kamu buat. Demi kebaikan kamu, berhenti ajalah, yang ada malu nanti."

Selalu dgn cepat menjatuhkan semangat, dengan cerdas menemukan sepuluh dua puluh keburukan untuk setiap satu hal baik yg ingin dilakukan orang lain. Selalu menemukan cara utk mencela.

Para predator...atau lebih cocok di anggap seperti dementor. Mahluk yg hidup dengan memakan kebahagiaan orang lain, memakan semangat hidup orang lain.

Di kehidupan nyata ini, bukan kisah Harry Potter, tempat para dementor hidup. Bukan dunia yg punya mantra penghasil patronus yang bisa mengusir dementor.

Dalam kehidupan nyata tidak segampang itu.

Hal termudah yang bisa dilakukan di dunia nyata, hanyalah bertahan melakukan yang bisa dilakukann. Just do your best. Berhenti berharap akan ada orang lain yang menyelesaikan. Yakin saja, hanya Tuhan dan diri kita.

Just do your best. Setelah itu berserah saja pada Tuhan.

Thursday, May 19, 2016

Muniru, Sesaat Dalam Pelukan Kehangatan.



Aroma yang membumbung mengangkasa, gemeretak kayu yang berderak dalam pelukan api, dan kehangatan yang mengapung mengisi udara malam di pegunungan Dataran Tinggi Gayo.

Mendekat ke api unggun yang menyala, seolah keluar dari danau yang dingin lalu membenamkan setengah badan dalam kolam porselen berisi air hangat. Ada kenyamanan yang melegakan. Bukan sebatas kenyamanan fisik, tapi melegakan sampai ke dalam jiwa.

Sulit menjelaskannya. Tapi begitulah adanya. Kenyataan yang melingkupi api unggun.

Saturday, April 9, 2016

Sensa. Titik Awal Jalan-Jalan Di Bandung



Di mana enaknya menginap kalau ke Bandung. Pertanyaan sederhana yang berujung pada kebingungan. Kenapa bingung? Karena sebagai penikmat hotel kelas ransel, yang standarnya hanya sekedar 'punya alas tidur yang bersih', jelas menjawab pertanyaan kerabat ini bukanlah perkara mudah.

Bagiku yang termasuk mantan pejalan dengan budget sangat rendah, kenyamanan bukan pilihan utama. Sedangkan bagi kerabatku ini, yang hendak ke Bandung bersama keluarga, kenyamanan mestilah menjadi syarat utama.

Liburan bersama keluarga, seharusnya bukan soal murah atau mahal, tapi mazhabnya adalah nyaman dan menenangkan.


Tuesday, April 5, 2016

Yang Tak Pantas Jadi Blogger



Selemah-lemahnya 'iman' kebloggeran seorang blogger adalah ketika ia hanya mampu menuliskan satu postingan perbulan.

Untuk kesekian kalinya aku mendengar pernyataan sejenis. Sebulan sebelumnya, pernyataan senada menjadi api dalam percakapan di satu grup dunia maya. Berselang hari setelahnya satu tautan link menghantarkan aku memasuki laman seorang blogger senior. Sudah tajam keyboardnya karena sering terasah di kancah dunia persilatan kata. Dan kalimatnya pun seiras. Tajam mengiris.

Kubaca kata demi kata dan tercenung memahaminya. Sungguh sia-sia mereka yang hanya posting sebulan dua bulan sekali. Hanya penggembira yang tak pantas menyebut dirinya blogger.

Wednesday, March 30, 2016

Antara Aku dan Saya






Dalam siklus dua kali purnama, aku larut dalam draft naskah yang betul-betul menyita pikiran. Draft yang begitu menuntut diperhatikan hingga menyita hampir seluruh isi benakku. Draft itu pula yang membuatku memutuskan kembali menjadi aku, dan bukan lagi saya.

Dan seperti semua cerita perantauan, perjalanan pulang itu selalu mengejutkan. Begitu juga perjalanan pulang 'aku' setelah lama bersembunyi dalam bayang-bayang 'saya'. Menyusuri kembali pilihan jalan kata yang sudah penuh gerumbul semak belukar. Pagar diksi yang berkarat dan usang berderit-derit, dan begitu berat untuk dibuka lagi.

Wednesday, March 2, 2016

Maksimalnya Ija Kroeng Di Dataran Tinggi Gayo


Ija Kroeng, bila dialih bahasakan kata bahasa Aceh itu berarti kain sarung. Salah satu produk fashion yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di beberapa belahan dunia.

Lirik saja Srilanka, dan tersenyumlah ketika melihat dari masyarakat yang memanggul sayur mayur, hingga pasukan milisi yang memanggul senapan serbu dan pelontar roket anti tank, berjalan dengan memakai ija kroeng. Di wilayah beraroma melayu, kain sarung juga menjadi busana sehari-hari.

Tapi ketika saya pindah dari pesisir Aceh untuk menetap di Dataran Tinggi Gayo, baru saya tersadar betapa maksimalnya penggunaan kain sarung.

Start typing and press Enter to search