Post Ad Area

Post Home Style

Wednesday, July 29, 2015

Dihukum Seumur Hidup Karena Diperkosa

Source. jpost.com


Mengejutkan memang. Kenyataan yang pahit. Seorang wanita muda. Tidak bersalah, dan dengan kejam diperkosa. Tapi hukuman justru jatuh pada korban. Dinyatakan bersalah dan mendapat hukuman seumur hidup.

Kenyataan dengan impian memang sering berbeda. Seperti mimpi hukum yang adil untuk semua, kenyataan berbeda, hukum masih tidak adil. Hukum dunia tentunya, karena hukum Allah terbukti melintasi abad, sebagai hukum yang adil.

Tapi dunia yang kita tinggali menerapkan hukuman yang aneh. Masih membawa impian keadilan di satu sisi. Dan di sisi lain, seorang wanita muda dihukum karena diperkosa.

Tuesday, July 28, 2015

Realita Semu Menghina Aceh

Source. hostcake.com, thedasslereffect.wordpress.com 

Tulisan ini memang terinspirasi oleh sebuah postingan 'heboh' yang ditulis oleh Isna Keumala, seorang 'pemula' di dunia blog. Meskipun saya pikir tulisannya malah lebih bagus dari saya.

Tulisan yang menghadirkan perdebatan dikalangan beberapa netizen. Seperti biasa soal mendukung dan tidak mendukung. Pasalnya sederhana, dalam tulisannya Isna menumpahkan kegeraman melihat perilaku yang mulai berkembang di antara perempuan Aceh. Tidak semua memang, tapi secara umum terlihat mulai banyak yang melakukannya.

Kontra muncul gara-gara Isna menuliskan kalimat yang keras. Ada perempuan Aceh yang lebih murahan dari pelacur.

Saturday, July 25, 2015

Abang Boleh Poligami

Source: mozaik.inilah.com



Mungkin bagi sebagian laki-laki, pernyataan itu adalah sumber kegembiraan, yang bisa jadi alasan buat jungkir balik. Tapi saya termasuk yang sebagian lainnya. Sejak awal berumah tangga, saya punya impian sederhana. Membuktikan bahwa ketika dia, wanita yang saya kagumi menerima pinangan saya, maka akan saya buktikan bahwa pilihannya itu bukanlah satu kesalahan.

Jadi ketika mendengar kata-kata itu, saya terdiam. Apakah saya tak lagi istimewa? sudah bosankah dinda dengan kebersamaan ini? Atau sudah lelah mengarungi rumah tangga bersama sehingga kalimat itu bisa muncul?

"Abang boleh poligami." Istri saya menatap mesra ketika mengucapkannya. Saya terpana. Tapi kok jleb rasanya, bukannya gembira.

Pasti muka saya lebih jelek dari biasanya karena istri mendadak tertawa. Masih tergelak dia menambahkan ucapan yang rupanya belum selesai.

"Tapi ada tiga syarat. Satu, harus yang lebih muda. Dua, harus yang lebih cantik. Tiga, Jangan pulang lagi."

Jujur sejujur jujurnya. Saya malah lega dengan penjelasannya. Saya masih tak ingin dibaginya dengan perempuan lain. Membawa kopi dari dapur saya balik lagi ke meja kecil dekat colokan listrik. Tempat laptop saya yang kondisi baterainya membuat laptop tak boleh jauh dari sumber listrik.

Kami sudah melewati tahap membahas poligami sejak bertahun lalu. Dan saya tahu bahwa istri membolehkan dengan alasan sederhana. Allah saja membolehkan poligami, maka siapa kita manusia ini mengharamkan yang Allah halalkan.

Tapi obrolan kami tidak putus sampai disitu. Diskusi kami masih berlanjut. Kami membahas semua sisi, termasuk fakta bahwa semakin banyak muslimah yang belum menikah pada usia yang sudah semakin matang.

Jumlah perempuan memang lebih banyak dari laki-laki. Ditambah dengan kenyataan yang sering istri lihat di tempat kerjanya. Istri saya bekerja di Mahkamah Syar'iah, pengadilan agama. Dan setiap hari harus berurusan dengan kasus perceraian, KDRT, izin nikah untuk anak di bawah umur, gugatan karena perselingkuhan, masalah warisan, dan banyak lagi.

Kompetisi dalam menikah, maaf sebelumnya karena pakai istilah ini, memang membuat banyak perempuan kebingungan. Perbandingan jumlah membuat lebih banyak lagi perempuan yang belum menikah pada usia matang. Bahkan tak jarang mereka membuka peluang pada siapa saja asalkan baik orangnya, tapi kesempatan masih belum hadir juga.

Kaum feminis-liberal dan kerabatnya, mengangkat isu poligami untuk menunjukkan seolah yang namanya Islam itu sangat tidak melindungi perempuan. Saya malah bingung, banyak dari mereka orang cerdas, kenapa menganggap ikatan pernikahan sebagai sesuatu yang salah. Padahal perempuan juga punya kebutuhan, seperti disayangi, dilindungi, dan juga kebutuhan sexual. Yang kalau terus dipendam, larinya nanti ke hal buruk seperti sex diluar nikah. Kalau itu yang terjadi apa lebih baik bagi perempuan? Aneh logikanya.




Soal poligami ini mencuat lagi. Gara-garanya, film yang diangkat dari novel Asma Nadia, Surga Yang Tak Dirindukan. (Seingat saya dulu novel ini berjudul Istana Kedua).

Meskipun sekilas film ini memberi pemakluman pada pernikahan kedua. Tapi film ini juga sarat dengan kesan perlawanan. Seolah Arini memaklumi pernikahan kedua Pras dengan Mei Rose karena sederet kondisi yang memaksa. Mei Rose yang mualaf, menderita, dan banyak lagi.

Ending yang menggantung malah membuat poligami semakin tersudut. Seolah tidak bisa diberi satu keputusan yang pasti, untuk sesuatu yang sudah pasti. Lagi-lagi poligaminya yang disalahkan, bukan oknum pelakunya.

Mindset yang terbentuk sekarang, adalah lebih baik melajang ketimbang dimadu. Segelintir sih bisa mengesampingkan semua kebutuhan yang sebenarnya memang normal. Tapi banyak yang akhirnya jungkir balik mencari penyaluran, dan tidak sedikit yang berujung pada 'khilaf' atau mengalami gangguan orientasi sexual/perilaku sexual.

Trus, salah siapa?

Saya berpikir yang salah disini adalah paham. Salah paham. Semua kesalahan dalam poligami adalah salah dalam memahami hukumnya. Bukan membela, tapi menegaskan bahwa salah paham menciptakan oknum pelaku yang bermasalah.

Seperti orang yang belajar agama sepotong-sepotong, tapi kemudian mendadak jadi ustadz atau ustadzah. Seperti seorang yang tidak bisa membaca al-Qur'an dengan benar tapi karena mendadak ustadz/ustadzah jadi juri untuk orang lain membaca Qur'an. Kacau jadinya.

Betul dalam Qur'an ada surah an-nisa ayat 3, yang menganjurkan menikahi dua, tiga atau empat. Tapi jangan lupa, di ayat yang sama, juga ada pengingat kalau tidak bisa berlaku adil, maka satu saja.

Yang nyebelin adalah ketika dalil diambil sepotong-sepotong. Giliran haknya di kutip saat bagian kewajiban pura-pura tidak ingat. Poligami itu anjuran, untuk kebaikan dan menjamin hak perempuan. Hak untuk mendapat nafkah lahir batin, hak untuk disayangi secara halal dan dilindungi hukum, hak untuk mendapat jaminan secara agama dan hukum (waris, nafkah, dll).

Melekat juga dalam aturan poligami itu kewajiban, Bukan sekedar suka-suka laki-laki. Aturan yang paling depan, adalah ADIL. Masih banyak lagi aturan lainnya, seperti masalah waktu dan hak setiap istri, masalah nafkah, tidak boleh menikahi perempuan yang bersaudara dalam satu waktu. Soal tempat tinggal yang disunahkan terpisah antara istri-istri. Banyaaaak aturannya, dan berat.

Ada kesepakatan serupa yang menjadi ujung diskusi-diskusi saya dengan istri. Bila satu ketika, keadaan, dan banyak faktor, yang membuat saya tidak lagi bisa berkelit menghindar atau menolak, maka pernikahan kedua itu haruslah untuk kebaikan dan kepentingan yang lebih besar, dan tidak boleh menjadi pemisah diantara kami. Kami sepenuhnya sadar, Allah lebih tahu dari manusia ketika membuat satu aturan, dan implikasi dalam kehidupan. Saya juga paham sepenuhnya, beban berat yang harus dirasakan oleh istri manapun ketika membagi rumah tangga. Seperti juga kami mengerti, pernikahan kedua bukanlah suka ria, namun amanah dan beban tanggung jawab yang lebih berat lagi.

Jujur, bebannya seperti melihat dewa yunani kuno, Atlas, menahan langit di pundaknya.

Thursday, July 23, 2015

Tempat Biasa

Bisa dibilang, ini usaha yang paling melekat dengan nama saya. Beberapa point penting yang mempengaruhi jalan hidup saya juga dimulai di tempat ini.

Warung yang bermimpi jadi cafe. Didesain dengan mimpi idealis. Tempat ngumpul yang menyediakan makanan-minuman kelas mahasiswa, ada section buku/perpustakaan yang boleh dipinjam dan dibaca, plus ruang untuk kegiatan pertemuan sederhana di lantai dua.

Hasilnya, layak disebut 'badai kehidupan'. Disitu saya belajar arti kawan.

Friday, July 17, 2015

Nenek Di Gerbang Mesjid

Sumber. forrerinteriors.com

Nenek itu duduk dengan tenang di gerbang halaman mesjid. Mukenanya sudah agak menguning dimakan usia. Bangku kayu yang didudukinya pun terlihat sama tua dengan dirinya.

Dari barisan jama'ah shalat Ied, saya bisa melihatnya memandang ke arah mesjid. Sesekali saya lihat ia mengedarkan pandangan kesekeliling, lalu kembali memandangi mesjid. Gema suara takbir, dan khutbah shalat Ied terus berkumandang. Saya ingat temanya adalah soal tanggung jawab kepada umat. tanggung jawab yang melekat di pundak kita semua, tak soal kita seorang ulama, atau preman pasar.

Sulit memfokuskan pandangan pada khatib, karena mata ini selalu beralih memandangi nenek di pintu gerbang. Beliau duduk disitu ketika saya baru melangkah masuk ke halaman masjid. Dan ketika khutbah, saya lihat beliau masih duduk di situ. Firasat saya, beliau belum beranjak dari awal.

Wednesday, July 15, 2015

5 Warung Mie Aceh Yang Harus dikunjungi di Banda Aceh


Siapapun yang berkunjung ke Aceh, pasti ingat dengan salah satu kuliner terkenal dari Aceh, Mie Aceh. Dan menemukan mie Aceh yang enak di Banda Aceh, jelas menjadi satu tantangan tersendiri. Bukan karena tak banyak yang menjual, tapi justru karena sangat banyak yang menjualnya.
Nama-nama seperti Mie Simpang Lima, Mie Rajali, atau Mie Lala, adalah nama yang standar dikenal oleh para wisatawan. Tapi sebagai salah satu mieholic, dan warga lokal, saya punya beberapa tempat kesukaan untuk menikmati mie aceh. Ya, anda tidak salah baca, beberapa tempat, bukan satu saja. Masing-masing tempat punya andalan varian olahan mie aceh yang berbeda.

Thursday, July 9, 2015

Membenarkan Perkosaan

Source: apnphotographyschool.com


Aceh, wilayah terbarat Indonesia yang sedang berjuang dengan impian penegakan syariat islam dikejutkan dengan tragedi pemerkosaan dan perampokan di Lhoknga, Aceh Besar. Kejadian tragis yang bermula dari dicegat dan dirampoknya pasangan yang sedang melintasi jalanan sepi. Naas, ketika 4 pelaku memukuli sang laki-laki, seorang lagi dari mereka mengambil kesempatan terhadap sang perempuan.

Fakta menyakitkan adalah, meskipun polisi dengan cepat memburu dan berhasil menangkap salah satu pelaku, dan terus memburu pelaku lainnya, hukum yang berlaku hanya mampu memberikan hukuman diatas lima tahun penjara.

Start typing and press Enter to search