Post Ad Area

Post Home Style

Monday, March 2, 2015

Dulu Kita Bangga

Saya lahir di akhir tahun tujuh puluhan. Tepat dipertengahan tahun 1979. Periode yang istimewa. Karena kami generasi peralihan. Generasi yang sempat merasakan perubahan besar dalam kehidupan. Kami generasi evolusi peradaban. Generasi evolusi gaya hidup. Generasi analog terakhir, dan generasi digital pertama.

Saya sempat merasakan ketika permainan tradisional atau permainan lokal semacam patok lele[1], galah panjang, batalion tin, main godok, dan banyak lagi permainan lainnya, perlahan mulai tergusur dengan permainan generasi baru. Awalnya dari Atari, spica, nintendo, dingdong di pasar, gameboy, hingga ke play station.

Perubahan adalah dunia yang kami generasi awal delapan puluhan rasakan. Hal rutin dalam hidup kami. Ketika berbagai benda baru dan teknologi canggih muncul dan mempengaruhi kehidupan. Hal yang semula keren berubah menjadi ketinggalan zaman. Siklus tanpa henti. Dunia kami adalah dunia yang melompat-lompat.

Dunia Termodifikasi

Source : freewallpaperwide.com 
Saya teringat. Dalam dunia ‘training motivasi’ berlaku aturan ‘dunia yang dikondisikan’. Dunia kecil yang anda masuki, sejak anda mulai melangkahkan kaki ke meja pendaftaran sebelum memasuki ruangan tempat training motivasi dilaksanakan.

Dimulai dengan panitia yang dilatih untuk selalu cerah ceria harum mewangi sepanjang masa. Yang menyambut anda dengan sapaan ramah[1], poster dan banner di dinding dengan kata-kata motivasi yang menguatkan[2]. Hingga mc yang menyambut hadirin dan mengarahkan suasana dengan semangat dan (lagi-lagi) ucapan kalimat terpilih. Jangan lupakan, musik yang menggelegar dan memberi semangat.

Gagal Fokus

source : www.artandesignews.com
Masa-masa sekarang ini, kalimat pendek ‘Gagal Fokus’ adalah salah satu kalimat yang masuk kelompok, sangat populer. One of the most famous word[1] dalam percakapan di dunia maya. Entah itu sebagai hastag atau sekadar bumbu dalam obrolan. Kalimat pendek ini bahkan lebih fenomenal dibanding ‘Cetar Membahana’ atau ‘demi Tuhan’ yang sempat mencetak nama besar dalam ranah percakapan. Yang terbaru adalah 'Disitu kadang saya merasa sedih.' yang agak kepanjangan, sehingga sering terlalu memaksa dijadikan bagian dari percakapan.

Mungkin[2], karena ‘Cetar Membahana’ terlalu lekat dengan seorang artis yang menurut saya sebenarnya cantik, kalau mau mengurangi kuantitas tata riasnya dan fokus pada kualitas. Sedangkan kalimat ‘demi Tuhan’, agak kurang nyaman digunakan. Karena sebagai orang timur, yang berbudaya, beragama, terdidik dan baik akhlaknya, kita semua paham, tidak baik bawa-bawa nama Tuhan sembarangan.

Monday, January 5, 2015

Well, I don't know what to write

source : keribeevis.com
My English was never excellent. But now, it become worst. Never used it for along long time. And I find that I lost a lot. Honestly, its really annoying. Why? simply because i don't like if that 'ability' faded away.

So, I make decision. To keep what still left, I will start to post in English.

I know, it's not a good decision. My English is really horrible. I have 'no good relation' with vocabulary and grammar, and sure enough my post will be a playground for so many unright word.
But, like one of my friend ever said long time ago; You will never find the truth, if you not start your first step of a hundred years journey to find it.

So, here I am. Trying to make some fantastic post, an article that will move the heart of billion people around the globe. Nice dream isn't it?

In reality. I spend almost a hour, stare at a blank white working sheet of office word.

Well, I don't know what to write.

Warnaku Hilang.




Hilang sudah merahku
Sedangkan kuning sudah lama memudar
Hijau yang kemarin gemilang kini kusam
Entah kemana biru
Jingga tak tahu tersimpan dalam saku baju yang mana
Sekarang cuma ada hitam
Dan putih
Itu pun mulai kelabu.

Sunday, October 19, 2014

30 Facts About Me.

Who Am I? LoL, Honestly i am just me. Bukan artis, selebritis atau alim ulama. Seperti naskah saya yang masih terkatung-katung menunggu jawaban dari penerbit, saya|is|me.

Kenapa mendadak menulis '30 Facts About Me'.

Karena membaca tantangan dari si Bos Hijrah, anti mainstream katanya, 10 itu sudah terlalu biasa. Dan ini jadi tantangan menarik, sekaligus menguji seberapa saya mengenal diri sendiri :D

Semula rencananya akan dibagi atas dua bagian. Tapi khawatir dituduh demi meningkatkan trafik blog, jadi akhirnya saya jadikan satu postingan saja. Sejak awal, saya ucapkan terima kasih, karena saya tahu, berat dan membosankan membaca sampai habis. Jadi, ini dia 30 Fakta (tidak penting) tentang saya :

1. Saya anak pertama dari 3 bersaudara, dan satu-satunya yang bukan dosen.

2. Saya sudah menikah, 3 anak 1 istri (jangan dibalik).

http://en.wikipedia.org/wiki/Mie_aceh
3. Saya seorang mieholic yang terbilang fanatik. Saya punya tempat (warung) khusus untuk jenis mie yang ingin saya makan. Mie goreng, mie goreng basah, mie tumis, dan mie rebus, semua punya warung tersendiri. Bahkan saya mengklasifikasikan mie dengan dua kelompok besar, resep klasik dan kontemporer :)

4. Pertama kalinya saya mulai mengenal 'kerja cari uang' adalah karena mainan yang dikenal dengan merknya, Tamiya, mobil balap kecil yang populer gegara film Dash Yonkuro. Kerja di pabrik batu bata selama dua bulan, akhirnya bisa membeli mobil mainan itu.

5. Mini 4WD (Tamiya) saya yang pertama (dan satu-satunya), adalah Devilsome Mantaray. Dan usianya hanya sekitar 30 menit. Melompat dari track, mobil itu melaju ke jalan raya, dan digilas mobil angkutan umum.

Wednesday, April 9, 2014

Dari Kandang Babi hingga Gudang Preman.

Peunayong


Tanpa alasan jelas, saat shalat isya semalam, mendadak saya teringat dulu almarhum Nek Ayah (kakek) saya TR. Said, pernah mengatakan baru pulang dari kandang babi. Cerita yang beliau sampaikan, membekas kuat bahkan ketika SMA, saat bersama teman-teman kami mendirikan majalah sekolah, saya sempat menuliskan artikel mengenai ‘kandang babi’ ini. Sayangnya artikel itu tidak pernah naik cetak, dan saya lalu melupakannya.

Ke Kandang Babi, kalimat ini masih lazim digunakan oleh orang tua yang sempat merasakan masa kanak-kanak jelang kemerdekaan Indonesia, untuk merujuk bila mereka hendak pergi ke wilayah Setui, Banda Aceh. Setidaknya itu masih terdengar sampai saya masuk SMA tahun 1994.

Start typing and press Enter to search