Post Ad Area

Post Home Style

Showing posts with label coretan. Show all posts
Showing posts with label coretan. Show all posts

Wednesday, October 19, 2016

Little Zap Pengingat Kecil dari Tuhan.



Tak jarang kita menghadapi hal yang sudah sangat sering kita kerjakan. Bidang yang kita punya pengalaman bertahun-tahun di’dalam’nya. Kerjaan yang kita merasa sudah sangat yakin pada kapasitas diri, sehingga benak kita menyiapkan nyaris segala kemungkinan untuk hampir segala skenario. Dan zaaap, Tuhan menegur kita. Mengingatkan betapa kecilnya kita. Betapa lemah dan tak berdayanya mahluk bernama manusia ini dalam perhitungan probabilitas yang melibatkan semesta raya milik Illahi.

Friday, October 7, 2016

Cina Kafir Dan Intolerannya Islam

Old Rusty House

Cina itu kafir, dan  itu karena Islam Intoleran Lagi dan untuk kesekian kalinya kutemukan cerita sejenis itu di laman jejaring sosial. Seorang perempuan yang merasa tersinggung, karena perempuan lain yang kebetulan seorang muslimah menolak bersalaman dengannya. Seketika, ungkapan bernada serupa, yaitu agama Islam adalah agama intoleran bertaburan di kolom komentar.

Friday, September 2, 2016

Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata.

Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata.

Merasa jenuh menulis. Ada banyak yang ingin dituliskan, namun ketika berhadapan dengan laptop -- atau jendela new post di blog -- kata yang sudah bergumpal mendadak kaku mengeras dan macet. Tersangkut dalam pikiran yang tanpa sebab mati suri.

Lain waktu, karena mendengar kisah nan insipratif dari para penulis motivator inspirator karburator, yang mencerahkan hati dan jiwa raga, dengan anjuran indah cerdas mempesona, agar selalu membawa-bawa buku catatan.

Tuliskan saja, kata mereka. Ketika kelebat ide itu melintas, tuliskan. Jangan ditunda-tunda, tumpahkan segala kata demi kata menjadi kalimat. Nasihat indah dan menawan. Tidak sia-sia mereka menempuh pendidikan bertahun-tahun, mengoleksi beragam buku dengan nama penulis yang menyebutkannya saja butuh ilmu atau alamat salah sebut, serta terkilir lidah.

Dan yang terjadi ...

Thursday, August 25, 2016

Masjid Peminta-minta.


Sudah terlalu sering, hingga menjadi biasa. Melintas di depan masjid, ada dua bangku dengan sosok berwajah lelah, satu di ujung sini, yg lain di ujung sana. Menadah tangan meminta helai keping rupiah. Untuk masjid.

Memalukan.

Thursday, June 30, 2016

Gayo Bukan Aceh, Lagi.

Gayo Bukan Aceh

Sudah berbilang kali yang tak mau kuhitung lagi. Kalimat itu muncul lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Lalu pecahlah perdebatan, bersemi lagi saling cela, dan akhirnya bermuara pada aroma kebencian antar suku.

Dan kali ini dipicu postingan pada laman I.G pemeran Jody, karakter imajiner di film layar lebar Filosofi Kopi. Gayo Bukan Aceh.

Monday, June 20, 2016

Tsunami dan Dosa Aceh.



Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah 'lama' beliau mengenai Tsunami yang melanda Aceh, dan pernyataan mengenai sebabnya adalah dosa merata orang Aceh.

Friday, June 17, 2016

Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Ingin Menulis Tapi Bukan Traveler Dengan Perjalanan Hebat

Inginnya menuliskan catatan perjalanan yang memukau. Tapi kenyataannya, perjalanan terjauh yang bisa dilakukan hanyalah sebatas kota sendiri. Perjalanan rutin yang ada adalah rumah, pasar, dan warung kopi.

Jangan ditanyakan seperti apa iri hati ketika membaca blog teman-teman. Hari ini perjalanan ke Borobudur, kemarin menjelajah ke teluk pesisir nan menawan, kemarin dulunya senyum manis di depan gedung opera Sydney yang melegenda. Walaupun sudah lama, setahun dua tahun lalu, teman yang lain menceritakan perjalanannya ke Italy. Pose cantik di depan colosseum, di pusat kota Roma. Senyum cerah saat menaiki gondola di Grand Canal Venesia, setelah sebelumnya selfie di depan Piazza San Marco dan Saint Mark's Basilica.

Thursday, June 16, 2016

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid, Saeni, dan Aceh

Ramadan Raid. Kata yang menjadi headline di berbagai media asing. Isinya kurang lebih sama, tentang betapa intolerannya Indonesia, dan dianggap  melakukan serangan terhadap pedagang kecil yang berjualan di bulan ramadhan. Membuka laman twitterku yang lama terbengkalai, topik ini juga mencuat.

Pemberitaan dengan label Ramadan Raid, ada yang menuliskan juga Ramadhan Raid. Bagiku adalah pembuktian betapa besarnya islamophobia di dunia. Luar biasa sebuah kejadian di kota Serang, tiba-tiba menjadi 'headline' di berbagai media internasional.

Tuesday, June 7, 2016

Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Sekadar Satu Meja Bukan Duduk Bersama

Kami hanya sekadar satu meja, bukannya duduk bersama. Kurang lebih begitu, kalimat yang ku sampaikan untuk menjawab tanya mengapa sebuah 'komunitas' wisata yang aku sering hadiri ajang kumpul-kumpulnya, belum menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Narasi singkat tadi. Juga jawaban untuk tanya lain. Soal mengapa komunitas itu tak kunjung meluncurkan satu program pun.

Dan itu, kalimat tadi, adalah hal yang nyris terlalu sering aku temukan.

Wednesday, June 1, 2016

Dilema Bunda, Syariat Islam, dan Gaya Hidup.



Walaupun tidak terlalu membahana, tapi sejak kemarin aku memperhatikan nama bunda Illiza naik dalam traffic percakapan dunia maya. Sederhana saja, karena bunda nonton bioskop. Hal yang sebenarnya umum dilakukan banyak orang. Tapi jadi satu hal yang 'salah' saat kenyataannya bunda adalah walikota kota Banda Aceh. Sama seperti kota lainnya di Aceh, sampai saat ini bioskop masih menjadi hal yang dilarang.

Bersama pak Sandiaga Uno dan Istri juga pak Sabri Badruddin dan T Iqbal Djohan (anggota DPRK Banda Aceh). Begitu, ku baca di akun instagram bunda. Kalau tak salah dari dua partai nasional keduanya. Melirik keterangan waktu, diunggahnya pagi ini. Kalau mereka memang ikut nonton, nah ini dia. Pahit memang. Sikap yang menyakiti hati rakyat yang dilarang punya bioskop, tapi para pengambil kebijakannya malah bersikap sebaliknya. Ingat ini soal kebijakan dan sikapnya, bukan soal bioskopnya, kawan. Pembuat peraturan itu mestinya orang pertama yang menjalankan aturan.

Tuesday, May 31, 2016

Ketika Bunda Illiza Nonton Bioskop



Bunda Illiza nonton bioskop. Inti dari sepenggal tulisan disebuah media. Link muncul di kotak pesan pada salah satu jejaring sosial media yang kumiliki. Kurenungkan, kutimbang dalam-dalam, ku coba menulusuri hati nurani, dan kuputuskan sedikit mengomentarinya di laman facebook.

Dan tak jauh dari yang ku sangka. Komentar mendukung dan mencela berarak pelan.

Tuesday, May 24, 2016

Just doing my best

First of all. Ini pertama kalinya aku membuat post menggunakan ponsel. Sederhana saja, laptop semakin sering mengulah, dan meskipun hanya menggunakan ponsel jadul, aku ingin tetap bisa menuliskan pikiran dalam benak yg sembrawut ini.

Aku bukan blogger aktif. Nilai yg diberikan alexa bagi blogku pun terbilang tinggi (dan dalam dunia blog itu jelek hahaha).Terakhir kalinya aku melihat, sepertinya di angka 6 jutaan menuju 7. Sebenarnya itu tidak jadi soal. Sejak dulu mulai menulis di friendster, kemudian multiply, aku menulis hanya karena ingin menulis. Trafic, rank, payrate, SEO, sampai sekarang masih jadi 'dunia lain' bagiku.

Menginstal blogger apps ini pun semata karena sering ketika aku punya ide membuat tulisan, tapi laptop tak menyala, atau memang aku tak sedang dekat dengan laptop.
Masalahnya, aku penulis bergenre moody, sehingga ketika laptop ditangan, ide tulisan sudah terbang entah kemana. Sedangkan ponsel selalu ada di dekatku. Entah itu di saku atau dalam tas.

Hal yang sedang mengisi pikiranku adalah tentang troll dalam kehidupan. Term yg kugunakan sebagai bentuk adaptif dari istilah Internet Troll. Para pencela yang dikategorikan sebagai predator dlm dunia maya, dalam sosial media.

Yang mengintai di wall sosmed, mencari korban, lalu mencela, meneror, bahkan menyerang. Mereka menghancurkan target dengan mencela, menghina, merendahkan, memprovokasi, dan tak jarang (pada akhirnya) menghancurkan kehidupan targetnya.

Kenyataannya, aku menemukan troll yg nyata, yang hidup.
Aku melihat dengan mata sendiri, bagaimana mereka menjadi perusak.

Mereka dgn cermat menebarkan perpecahan. Menghacurkan usaha orang-orang yg ingin melakukan perubahan. Dengan ringan mengatakan ...

"Yang kamu lakukan itu, sudah pernah kami lakukan. Sia-sia, tak berguna, orang di sini memang bebal, tak bisa kita ubah."

Atau ...

"Kapasitas kamu apa? Dgn keadaan kamu yang cuma akademisnya buruk, apa yg bisa kamu buat. Demi kebaikan kamu, berhenti ajalah, yang ada malu nanti."

Selalu dgn cepat menjatuhkan semangat, dengan cerdas menemukan sepuluh dua puluh keburukan untuk setiap satu hal baik yg ingin dilakukan orang lain. Selalu menemukan cara utk mencela.

Para predator...atau lebih cocok di anggap seperti dementor. Mahluk yg hidup dengan memakan kebahagiaan orang lain, memakan semangat hidup orang lain.

Di kehidupan nyata ini, bukan kisah Harry Potter, tempat para dementor hidup. Bukan dunia yg punya mantra penghasil patronus yang bisa mengusir dementor.

Dalam kehidupan nyata tidak segampang itu.

Hal termudah yang bisa dilakukan di dunia nyata, hanyalah bertahan melakukan yang bisa dilakukann. Just do your best. Berhenti berharap akan ada orang lain yang menyelesaikan. Yakin saja, hanya Tuhan dan diri kita.

Just do your best. Setelah itu berserah saja pada Tuhan.

Thursday, May 19, 2016

Muniru, Sesaat Dalam Pelukan Kehangatan.



Aroma yang membumbung mengangkasa, gemeretak kayu yang berderak dalam pelukan api, dan kehangatan yang mengapung mengisi udara malam di pegunungan Dataran Tinggi Gayo.

Mendekat ke api unggun yang menyala, seolah keluar dari danau yang dingin lalu membenamkan setengah badan dalam kolam porselen berisi air hangat. Ada kenyamanan yang melegakan. Bukan sebatas kenyamanan fisik, tapi melegakan sampai ke dalam jiwa.

Sulit menjelaskannya. Tapi begitulah adanya. Kenyataan yang melingkupi api unggun.

Tuesday, April 5, 2016

Yang Tak Pantas Jadi Blogger



Selemah-lemahnya 'iman' kebloggeran seorang blogger adalah ketika ia hanya mampu menuliskan satu postingan perbulan.

Untuk kesekian kalinya aku mendengar pernyataan sejenis. Sebulan sebelumnya, pernyataan senada menjadi api dalam percakapan di satu grup dunia maya. Berselang hari setelahnya satu tautan link menghantarkan aku memasuki laman seorang blogger senior. Sudah tajam keyboardnya karena sering terasah di kancah dunia persilatan kata. Dan kalimatnya pun seiras. Tajam mengiris.

Kubaca kata demi kata dan tercenung memahaminya. Sungguh sia-sia mereka yang hanya posting sebulan dua bulan sekali. Hanya penggembira yang tak pantas menyebut dirinya blogger.

Wednesday, March 30, 2016

Antara Aku dan Saya






Dalam siklus dua kali purnama, aku larut dalam draft naskah yang betul-betul menyita pikiran. Draft yang begitu menuntut diperhatikan hingga menyita hampir seluruh isi benakku. Draft itu pula yang membuatku memutuskan kembali menjadi aku, dan bukan lagi saya.

Dan seperti semua cerita perantauan, perjalanan pulang itu selalu mengejutkan. Begitu juga perjalanan pulang 'aku' setelah lama bersembunyi dalam bayang-bayang 'saya'. Menyusuri kembali pilihan jalan kata yang sudah penuh gerumbul semak belukar. Pagar diksi yang berkarat dan usang berderit-derit, dan begitu berat untuk dibuka lagi.

Wednesday, March 2, 2016

Maksimalnya Ija Kroeng Di Dataran Tinggi Gayo


Ija Kroeng, bila dialih bahasakan kata bahasa Aceh itu berarti kain sarung. Salah satu produk fashion yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di beberapa belahan dunia.

Lirik saja Srilanka, dan tersenyumlah ketika melihat dari masyarakat yang memanggul sayur mayur, hingga pasukan milisi yang memanggul senapan serbu dan pelontar roket anti tank, berjalan dengan memakai ija kroeng. Di wilayah beraroma melayu, kain sarung juga menjadi busana sehari-hari.

Tapi ketika saya pindah dari pesisir Aceh untuk menetap di Dataran Tinggi Gayo, baru saya tersadar betapa maksimalnya penggunaan kain sarung.

Tuesday, February 23, 2016

Maaf, Saya Tidak Tahu Saya Gila.


"Berarti dia gila." Komentar ibu itu sambil menggeser duduknya. Berusaha menciptakan jarak. Dan saya hanya bisa tersenyum pasrah. Waktu itu saya sedang diminta jadi pemateri di salah satu kegiatan komunitas. Ibu itu orang kesekian (yang jumlahnya cukup banyak) dengan reaksi sejenis.

Dan itu karena saya menyebutkan satu hal. Saya orang dengan gangguan kejiwaan.

Tuesday, January 26, 2016

Korupsi Itu Dibolehkan



"Korupsi itu dibolehkan. Asalkan dia menggunakannya untuk kebaikan. Dari pada uangnya diambil orang lain lalu nanti digunakan untuk kejahatan, hal yang buruk. Lihatlah Robin Hood. Hasil kejahatannya menjadi kebaikan bagi banyak orang."

Saturday, January 23, 2016

Tak Ada Istimewanya Ridwan Kamil


Semua heboh ntah apa, dengan segala pujian dan sanjung terhadap walikota Bandung. Ridwan Kamil. Yang setiap kedatangannya di berbagai tempat, gempitanya tak kalah dengan kedatangan para selebritas dunia hiburan.

Ketika Ridwan Kamil kemarin ke Banda Aceh, bertebar yang selfie dengan ceria bersama pak walikota. Jauh lebih banyak dari yang selfie dengan ibu Illiza, walikota Banda Aceh. Dan bagi saya itu aneh. Karena saya tak melihat ada yang istimewa dari seorang Ridwan Kamil.

Monday, January 4, 2016

Lembar Kosong Di Layar Laptop


Ada begitu banyak yang ingin saya tuliskan. Pertemuan kemarin dengan seorang rektor sebuah universitas di Sumatera Utara, obrolan santai dengan Mas Gilang yang datang ke dataran tinggi Gayo untuk menulis, perjumpaan tidak sengaja dengan Kang Yayan yang mantan bos saya di satu lembaga kemanusiaan internasional, atau diskusi menarik dengan pak Yustra Iwata tentang presiden Jokowi yang beliau kenal langsung.

Tapi kata-kata justru tertahan dalam pikiran saya. Bercampur dengan empat naskah yang tak bisa saya tinggalkan salah satunya, sehingga dikerjakan berbarengan, dan hasilnya entah kapan akan selesai.

Begitu banyak yang ingin ditulis, tapi disaat yang bersamaan juga bingung hendak menulis apa. Macet, menatap layar putih microsoft word, yang meniru tampilan kertas biasa. Garis kursor berkedip-kedip, di awal halaman yang kosong.

Start typing and press Enter to search